Sebening Ayna 

Sebuah ulasan Novel Best Seller Bidadari Bermata Bening karya Habiburrahman El Shirazy.

Seperti Fathimah, semasa santrinya, Ayna menjadi khadimah Bu Nyai di pesantren. Bangun di saat yang lain masih terlelap demi menyiapkan sahur atau sarapan santriwati. Pergi berbelanja kebutuhan dapur hingga kebutuhan pribadi Bu Nyai. Kadang Ayna juga mengajak cucu Bu Nyai agar mau mengerjakan tugas sekolahnya dengan senang hati. Hingga sesekali menggantikan Kang Bardi mencuci pakaian Gus Afif, putra kedua Bu Nyai yang diam-diam Ayna kagumi. 

Seperti Aisyah, meskipun memegang amanah sebagai khadimah, di akhir masa sekolahnya, Ayna mendapat nilai UN tertinggi bidang IPS se-Provinsi Jawa Tengah, dan tertinggi nomor sepuluh tingkat nasional. Tidak berakhir di situ, selulus pesantren, hidup Ayna penuh ujian dan cobaan. Ujian keluarga, cinta, harta, seakan ombak yang terus bergantian menerpa pijakan Ayna. Tapi cara pandang dan keyakinanannya akan takdir Allah begitu menguat menambah kejelitaannya. 

Seperti Asiyah, menjaga kesucian adalah hal yang paling utama bagi Ayna. Pernikahannya (bisa dikatakan secara paksa) dengan Yoyok tidak kemudian meruntuhkan kemuliaan Ayna. Bagaimana bisa, seorang gadis jelita lulusan terbaik pesantren menikah dengan putra salah satu orang terkaya di Kabupaten Grobogan, sekaligus biangnya kemungkaran di Purwodadi? Begitu pandangan tetangga-tetangga Ayna. Namun Ayna punya cara tersendiri melaluinya. Bukankah doa-doa Asiyah terabadikan dalam Al Quran meskipun ia seorang istri Fir’aun? 

Seperti Khadijah, ujian demi ujian yang Ayna hadapi mengantarkan ia kepada Bu Rosidah, Direktur perusahaan ternama di Bogor. Perusahaan yang bergerak di bidang pelayanan kebugaran dan kesehatan, memiliki dua puluh lima cabang di sepuluh kota besar Indonesia. Ayna meneguk ilmu dan pengalaman bisnis langsung dari mata airnya. Hingga Ayna berhasil mendirikian perusahaan roti dan rumah peduli anak jalanan yang dinamai Bayt Ibnu Sabil. 

Jika di Ayat-Ayat Cinta penulis menciptakan tokoh ideal laki-laki bernama Fahri, maka di Bidadari Bermata Bening kita temui sosok muslimah ideal dalam diri Ayna. Keempat perempuan mulia yang Nabi sabdakan kelak menjadi sebaik penghuni Surga. 

Sebaik-baik wanita penduduk surga adalah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad dan Asiyah istri Fir’aun.” (HR Ahmad)

Yang sempurna dari kaum lelaki sangatlah banyak, tetapi yang sempurna dari kaum wanita hanyalah Maryam binti Imran, Asiyah binti muzahim, Khadijah binti khuwailid dan Fatimah binti Muhammad. Sedangkan keutamaan Aisyah atas seluruh wanita adalah seperti keutamaan tsarid (roti yang diremukkan dan direndam dalam kuah) atas segala makanan yang ada.” (HR Bukhari)

Saya tidak berhobi membaca novel. Namun di satu kesempatan, saya merasa butuh mengkaji ulang bagaimana wanita-wanita mulia bisa meneguhkan hatinya dari berbagai cobaan. Penjagaan hati yang merapuh, kemanfaatan yang memudar, kejelitaan etika yang mengeruh, membuat pribadi ini tenggelam dari cahaya kesholihahan. Dan benar, terkadang cerita fiksi menjadi satu cara yang ampuh tuk menggambarkan fakta. Realita yang sebetulnya bernafas lama di kehidupan kita. Tapi diri sering tidak sadar karena menganggapnya hal biasa. 

Ditambah, novel ini saya dapatkan secara gratis, alhamdulillah 😁

Bidadari Bermata Bening tidak hanya menjadi motivasi, tapi penulis juga mampu memasukkan beberapa hukum-hukum fiqh dengan apik dalam alur ceritanya. Seperti contoh siapa yang berhak menjadi wali dalam pernikahan, bagaimana muamalah dengan kerabat yang bertentangan, dan yang terpenting, bagaimana meneguhkan penjagaan dan hati yang saling mencintai. 

Semoga keberkahan melimpah bagi penulis Bidadari Bermata Bening, pembaca, pihak-pihak yang terlibat dalam penerbitan dan pendistribusian, serta siapa pun yang mau mengambil ibroh darinya. Juga untuk segenap sholihaat di mana pun berada, semoga kita menjadi Bidadari dunia dan Surga. 

Advertisements

Berawal dari DND

EditTepatnya tahun 2014 silam, seorang pemuda selulus SMA baru saja menginjakkan langkah juangnya di kehidupan nyata. Ya, kehidupan yang tantangannya tak habis-habis. Kehidupan dengan cobaan yang tak sesederhana masa belajarnya di pesantren dulu. 

Kata Ibu, ketahuilah Nak, hakikatnya kamu belum lulus. Ujian sesungguhnya ada di kehidupan luar sana. Keluarlah. Merantaulah. Teguk terus ilmu-ilmu-Nya. Amalkan apa-apa yang kamu dapat.

Namun tidak semudah itu. Entah (mungkin ini yang dimaksud ibu ujian sesungguhnya) cita-cita yang dulu sempat terangkai kala itu pudar tak berkabar. Energi kehambaan pada Allah juga kian meluruh sedikit demi sedikit. Padahal sering kali dosen mengingatkan, untuk apa kuliah di jurusan syariah jika tidak berjuang menegakkannya? Ngapain jauh-jauh ke ibukota kalau tujuannya cuma mencari gelar? Kalian mendapat ilmu secara gratis (red. beasiswa), maka bagikan ilmu-ilmu itu dengan gratis pula. 

Dakwah. Menjadi satu kata yang menyibukkan pikiran si pemuda kala itu. Dia ingin berdakwah. Dia ingin berkontribusi lebih untuk perbaikan umat ini. Dia ingin belajar banyak tentang perjuangan-perjuangan mukmin terdahulu. Dia ingin menjadi satu rantai dari rantai kebermanfaatan. Dia ingin menjadi penggenggam tongkat estafet pengabdian untuk agama ini.

Maka berawal dari DND, ia belajar bahwa kekuatan dakwah terletak pada kebersamaan dan kesatuan. Sebab apa? Dengan saling bergandeng ia tak mudah jatuh karena kerikil-kerikil tantangan yang acap kali membuat ragu ‘tuk melangkah. Dengan saling berangkulan tugas dakwah ‘kan terasa lebih ringan. 

Dan boleh saja disampaikan, dari DND pemuda itu bertemu sahabat-sahabat yang menyejukkan. Kehadirannya memberi semangat, kepergiannya meninggalkan rindu. Berkumpulnya membawa manfaat, berpisahnya merajutkan doa-doa. 

Maka berawal dari DND, ia mengerti bahwa dakwah beragam cara kerjanya. Bahwa Allah titipkan amanah sesuai kemampuan hamba-hamba-Nya. Si pemuda yang miliki kebiasaan menulis, mulai terlatih ‘tuk menyampaikan gagasan-gagasan melalui rangkaian katanya.

Atau kawan yang lain dengan kecakapan bicaranya, sering kali kemudian diminta mengisi acara sana-sini. Tak tertinggal dengan siapa pun dan keahlian apa pun yang dimiliki, bermula dari DND ia menemukan, percaya dan lebih yakin akan kemampuan dirinya. 

Maka berawal dari DND, pemuda itu memahami bahwa dakwah hakikatnya perbaikan diri sendiri. Bagaimana sebuah teko mampu memenuhi secangkir gelas jika tak ada isinya? Apa yang mau disampaikan jika hati dan pikiran kosong dari keihsanan dan pengetahuan? 

Bermula dari DND, ia terus belajar dan belajar. Belajar bagaimana menjadi dai yang dirindu umat. Menjadi dai yang memahami, bukan menghakimi. Dai yang menuntun, bukan menuntut. Dai yang menyampaikan hikmah, bukan pembawa masalah. Dai yang tak merasa bejasa, namun kerjanya nyata. Dai yang berpegang teguh bahwa Rasulullah tak menyuruh kita menyelesaikan tugas dakwah ini, tapi Rasulullah mengajak untuk syahid di jalannya. Dengan begitu, ia siapkan regenerasi agar kiranya ada tangan-tangan tangguh yang siap menerima estafet amal mulia ini. 

Maka siapakah gerangan?

Pemuda itu termenung. Baru di sini ia menyadari. Apa-apa yang ia pelajari dan pahami dari DND, adalah apa-apa yang pernah disampaikan sebelumnya. Maklumat itu bukan sesuatu yang baru. Hanya saja, ia merasa lebih hidup dari sebelumnya. 

Salam santun. 🙂 

Note:

1. DND adalah singkatan dari Dauroh Nukhbatid Du’aat yang diselenggarakan LDK Al Fatih LIPIA setiap semesternya

2. Coretan lawas yang ditulis setahun silam, dalam masa penantian cetak buku di gambar (Sekokoh Kata Ukhuwah) karya DNDR. 

Buku yang lahir dari persaudaraan, dirawat dengan kepercayaan, hingga tiba masa purnanya, ia tumbuh bersama kekokohan

Ada Titipan di Setiap Rezeki Kita 

Seorang Ayah dianugerahi gaji bulanan sebesar 30 juta. Profesinya sebagai asisten manajer salah satu kapal wisata memberikannya kesempatan tuk menghidupkan istri dan anaknya dengan baik. Penghasilan yang ia dapat lebih dari cukup.

Tapi sayang ia mengira gaji besar itu untuk dia seorang. Dia yang lelah bekerja keras, dia juga yang berhak menghabiskan uangnya untuk apa saja. Lupa, bahwa di belakangnya ada tanggung jawab menafkahi istri dan anak-anak. Tega, menempatkan hatinya pada kesenangan lain dan meninggalkan keluarga.

Mahaadil Allah, sesungguhnya hukuman-hukuman di dunia ini bukan sama sekali menandakan Tuhan jahat. Tapi sebaliknya, Mahasayang Ia pada hamba-hamba-Nya yang baik, bahkan mengangkat batas antara doa dan pengabulannya jika mereka yang baik tersakiti. Bukankah seorang guru tidak diam saja melihat murid yang mengganggu temannya? 


“Pantaskah Kami memperlakukan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi? Atau pantaskah Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang jahat?”
(QS. Shad: 28)

Maka tak lama setelah menjauh-hindari keluarganya, Ayah tersebut kehilangan pekerjaan. Kandas semua harta. Enyah semua rasa bangga. Tertambah beban batin yang tak lagi terakui oleh keluarga. Hasil gaji yang ia dapatkan habis tuk bersenang-senang. 

Ada titipan di setiap rezeki kita. Bagi seorang ayah atau suami, jelas sudah Allah lebihkan ia atas keluarganya, “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita. Oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) di atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka telah menafkahkan harta mereka.” (QS. Annisa: 34)

“Memberi nafkah kepada keluarga merupakan perkara yang wajib atas suami,” jelas Ibnu Hajar Al Asqolani, “sehingga ia bisa memberikan sedekah kepada orang lain setelah mencukupi nafkah keluarganya.” 

Ada titipan di setiap rezeki kita. Mungkin bersama uang sangu yang kita dapat dari orang tua atau beasiswa, ada rezeki adik-adik pemulung di stasiun kota. Mungkin bersama uang hadiah juara atau hasil usaha, ada rezeki oleh-oleh untuk keluarga dan donasi korban kemanusiaan dunia. Seberapa pun uang yang sampai di tangan kita, mungkin ada sebagian persennya tuk kita bagikan kepada sesama. 

Dari sini juga kita lebih menyadari esensi rezeki, bahwa ia tak hanya merupa uang, tapi juga keringanan berbagi dengan rasa lapang. Bukan sekadar berjumlah rupiah, tapi juga kegigihan tuk senantiasa bersedekah. 

Iman, waktu luang, saudara sholihin-sholihaat, pasangan dan anak yang qonitin-qonitaat, nikmat sehat, semua, adalah rezeki yang tak kan pernah bisa terhitung. Maka menyalurkan sebagiannya merupa syukur yang indah. 

“Dan terhadap nikmat Rabb-Mu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur)” 

(QS. Adh Dhuha: 11)

Apa yang Allah Inginkan di Balik Takdirku?

Detik-detik penantian kabar kelulusan terus berjalan. Entah melalui lembaran kertas yang akan ditempel di mading kampus atau melalui web aktif Penerimaan Mahasiswa Baru. Sebagaimana waktu yang terus beranjak, seperti itu pula harapan dan doa yang kian menanjak, berebut menaiki langit pinta Allah kabulkan suara-suara hatinya.

Waktu pengumuman itu tiba. Kusimak satu persatu jejeran nama dan nomor pendaftaran yang memanjang, serta tak lupa menahan degup dada yang semakin takut. Terus, terus mencari di urutan mana namaku tertera. Belum apa-apa, aku sudah ingin menangis, bagaimana jika namaku tidak ada? Apa yang harus kusiapkan jika namaku tertera? Pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa kujawab selain dengan dzikir, berharap Allah berikan yang terbaik.

Allah, namaku ada! Ya Allah, aku lolos!

Sujud panjang kulabuhkan mensyukuri ketetapan ini. Begitu haru, sedemikian Allah sayangi diri ini yang masih lalai berdoa dan berusaha? Sedemikian Allah pahami pengorbanan demi pengorbanan mencapai cita-cita ini. Sedemikian Allah mudahkan, menyelipkan satu dari beribu nama tuk hadapi takdir selanjutnya. Di antara teman-teman yang belum diizinkan Allah melanjutkan perjuangan di LIPIA, apa yang Allah inginkan di balik takdirku bersama LIPIA?

Bukankah ini menjadi awal perjuangan? Ujian sesungguhnya bukan terletak pada tes masuk-tidaknya di sini. Tapi bagaimana aku melalui hari-hari kuliah nanti. Takut sesungguhnya bukan pada takut masuk atau tidaknya di LIPIA, tapi pada takut ketika ilmu-ilmu yang didapati nanti tak sanggup aku amalkan. Rasa senang-bahagia sejatinya bukan pada lulusnya aku di LIPIA, tapi ketika bagaimana takdir ini semakin mengantarkanku cinta kepada Allah dan perjuangan di atas jalan-Nya.

Allah, namaku tidak ada …
Ya Allah, aku tidak lulus di LIPIA …

Aku menangis. Sakit, sakit sekali mendiamkan jerit hati yang tak kunjung usai. Seketika terbayang segala upaya yang telah kuperjuangkan. Mengapa? Apa yang salah dari doa dan usahaku? Bagaimana kukabarkan orang tua, wali, guru-guru dan teman-teman yang begitu mendukungku menuntut ilmu di LIPIA?

Azan dzuhur memanggil. Seakan mengajak diri ini tuk mengadukan semua rasa kepada Allah. Aku memulai takbir, mengingat Mahabesarnya Allah, tak mungkin Ia biarkan hamba yang kerdil ini menangis seorang diri. Aku tundukkan rukuk, mengingat Mahamulianya Allah dengan segala ketentuan-ketentuan dari-Nya. Lalu aku memanjangkan sujud, menyadari betapa Allah ada dan dekat, menjadi tempat terpercaya menumpahkan tangis yang belum habis.

Apa yang Allah inginkan di balik takdirku ini? Ya Allah, kesedihan sesungguhnya adalah ketika aku berputus asa dari rahmat-Mu, maka jauhkanlah. Kegundahan sebenarnya adalah di saat aku menyesali segenap upaya yang lalu-lalu, maka hilangkanlah.

Bukankah ini kesempatan menjadi mukmin sejati? Ketika iman mampu ridho akan ketetapan meski tak sesuai harapan? Apabila diberi kelapangan, ia bersyukur. Dan apabila diuji kesempitan, ia bersabar. Allah, ini begitu mudah terbayang namun masih sulit diperjuangkan, maka bimbinglah.

***

Tulisan ini saya dedikasikan bersama segenap panitia Try Out KAMMI-LDK, sebagai ucapan doa, baarokallahu fiikum kepada teman-teman yang lulus ke tahap ujian selanjutnya. Perjuangan belum berakhir. Tetap optimis dan terus kuatkan doa. Semoga dimudahkan.

Juga mengajak teman-teman yang namanya belum lulus, jangan putus semangat. Allah punya cara indah mengabulkan harapan-harapan hamba-Nya. Seperti kata salah satu dosen LIPIA, “LIPIA memang bagus, tapi bukan satu-satunya tempat menimba ilmu dan beramal sholih.

Banyak ladang dakwah yang menanti uluran tangan kita di mana pun berada. Yang terpenting bukan di mana kita belajar, tapi bagaimana kita belajar.

Pun ini bukan sebatas soal nama/status mahasiswa atau bukan. Tapi tentang bagaimana peran kita untuk Islam. Seperti pemuda Ashabul Kahfi yang tak disebut satu per satu namanya, tapi kekokohannya menjaga iman terabadikan dalam Al Qur’an. Juga seperti Asiyah, perempuan yang tidak dijelaskan siapa namanya, tapi kesabaran serta doanya meminta rumah di surga tercatat indah menutup surat Tahrim.

Maha baik Allah dengan segala ketetapan-Nya. Maha baik Allah dengan segala kemurahan-pertolongan-Nya. Maha baik Allah dengan segala bimbingan-Nya. Maha baik Allah yang menyediakan kejutan demi kejutan terbaik bagi hamba-hamba-Nya.

Barokallahu fiikum jamii’an 🙂
|| Jakarta, 13 Sept 2017

Menuju 72 Tahun Kemerdekaan Indonesia: Refleksi Kita dan Harapan Pejuang Terdahulu 

Hari itu, pertanyaan Dokter Radjiman mengenai landasan filosofis negara sebelum kemerdekaannya ini membuat diam anggota BPUPKI yang hadir. Menurut kesaksian Bung Hatta dalam buku Politik dan Islam karya Buya Syafii, mereka tidak mau menjawab sebab khawatir akan mengundang perpecahan dan memakan waktu lama. Selain khawatir, rasanya juga bukan hal yang mudah berfilsafat dalam kondisi yang mendesak tersebut. 

Namun berbeda dengan beberapa tokoh lainnya, masih menurut kesaksian Bung Hatta, yang siap menjawab pertanyaan dr. Radjiman hanya Soekarno dan Muhammad Yamin dari golongan Nasionalis, serta Ki Bagus Hadikusumo dari Muhammadiyah yang mewakili golongan Islam. Bung Karno dan M. Yamin mengajukan Lima Prinsip Dasar, sedang Ki Bagus Hadikusumo mengajukan Islam sebagai landasan Indonesia. 

Berawal dari dua pemikiran yang berbeda ini, BPUPKI membentuk panitia guna memusyawarahkan landasan tersebut. Kesembilan yang tergabung tak lain adalah Soekarno, Mohammad Hatta, M. Yamin, Wahid Hasyim, Agus Salim, Abdul Kahar Muzakir, Achmad Subardjo, Abikusno dan A.A Maramis. Setelah melalui permusyawarahan, tepatnya pada tanggal 22 Juni 1945 lahirlah sintesis atau paduan dari kedua usulan tersebut, yakni Piagam Jakarta. 

Dalam Piagam Jakarta, Pancasila diterima sebagai dasar negara. Namun urutan silanya berganti. Pada tanggal 1 Juni 1945 Soekarno menyampaikan lima asas bangsa Indonesia dengan urutan: (1) Kebangsaan Indonesia, (2) Perikemanusiaan, (3) Mufakat atau Demokrasi, (4) Kesejahteraan Sosial, (5) Ketuhanan yang Maha Esa. Kemudian oleh panitia sembilan diubah menjadi lima sila yang kini lebih kita kenal sebagai Pancasila, dengan tambahan di sila pertama, Ketuhanan yang Maha Esa dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya.

Sampai di sini, kita mencoba menarik hikmah dari sejarah di atas. Bagaimana kira-kira jika kita yang berada di posisi tokoh-tokoh tersebut? Mendapati dua perbedaan pikir yang kemudian dirumuskan agar menjadi selaras. Bagi saya pribadi pekerjaan ini bukan pekerjaan orang-orang biasa. Di dalamnya ada sekumpulan cita-cita plus jiwa-jiwa besar akan negara ini. Tokoh-tokoh yang mampu menyampingkan ego untuk kebaikan bersama, tokoh-tokoh cerdas yang mengajarkan kita bagaimana beragama dan bernegara menjadi paduan yang kuat tuk lebih memajukan Indonesia.

Kemudian kita kenal dengan sejarah terhapusnya tujuh kata Piagam Jakarta, yaitu terhapusnya kalimat “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya” pada sila pertama. Saya belum mendalami betul kronologi sejarahnya, hanya saja mari kita menilik bagaimana akhirnya kemerdekaan Indonesia disahkan dengan diawali pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. 

Entah pertolongan apa lagi yang Allah berikan kepada pejuang terdahulu, hingga lahir diksi yang membuat kita bertanya-tanya, siapa yang merumuskan pembukaan UUD kita ini? Mengatasnamakan Allah sebagai berkat pertama atas merdekanya negara Indonesia. Kita tentu mengenali kalimat pembukaan “Atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”. Tapi mungkin selama ini kita tidak betul-betul memahami, bahwa sejatinya inilah harapan tokoh-tokoh terdahulu untuk Indonesia. Negara yang bebas dan diberkati Allah. 

Tidak cukup di pembukaan UUD, ketika kita melihat kembali perubahan lima asas bangsa Indonesia menjadi Pancasila kini, lalu muncul lagi di benak-benak kita pertanyaan, bagaimana para tokoh merumuskan dasar negara menjadi lebih baik dan penuh makna dalam waktu begitu terbatas? Melahirkan kata hikmah, adil, beradab, yang bila kita kupas tuntas maknanya mungkin berlembar-lembar pelajaran yang akan kita dapat.

Adalah Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi yang telah menulis artikel mengenai kata-kata ajaib tersebut. “Maka ‘Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan’ menggambarkan nilai sebuah sistem yang dikusai oleh semangat hikmat,” jelas beliau, “artinya sistem kenegaraan Indonesia harus berada di tangan orang-orang yang hakim. Yaitu orang yang berilmu hikmah, yang pasti tahu kebenaran yang berkata benar; yang tahu dan berani memutuskan yang salah itu salah dan yang benar itu benar; yang tahu meletakkan segala sesuatu pada tempatnya; tidak akan pernah meletakkan kepentingan dirinya diatas kepentingan rakyat atau umat, tidak meletakkan perbuatan dosa atau maksiat dalam dirinya yang fitri dan seterusnya.” 

Tidak berpanjang mengenai diksi-diksi yang dipilih para tokoh di detik-detik kemerdekaan, kini saatnya kita merenung, mungkin banyak yang telah dikorbankan pejuang terdahulu hingga Allah memberikan hidayah-Nya melindungi bangsa dan agama ini. Mungkin hati-hati pendahulu tak lepas dari mengingat Allah sehingga Ia buka urusan demi urusan sampai kenikmatannya bisa kita rasakan sekarang. Lalu bagaimana kita? Apa yang tengah kita pikirkan, lakukan, perjuangkan untuk Indonesia lebih baik lagi? Apakah lantas bingung menyikapi sistem negara yang belum banyak sesuai harapan? Putus asa akan hutang-hutang yang semakin meninggi? Lalu menyerah dari peduli,  berbuat baik dan berprestasi hanya sebab aturan negara yang dipandang bukan urusan agama? 

Dr. Adian Husaini mengingatkan, bukankah justru di masa penjajahan lahir ulama-ulama pejuang mukhlis dari penjuru pesantren? Bukankah justru di masa penjajahan, api tauhid dalam dada umat muslim yang berkobar melawan kolonial? Bukankah justru di masa penjajahan, hati-hati besar bangsa Indonesia berpadu merangkul perbedaan dalam semangat satu, manusiakan Indonesia, adilkan Indonesia? Bukankah justru di masa genting tak berdayanya Indonesia, masih ada harapan-harapan tulus tuk generasi masa depan dari tokoh-tokoh kita terdahulu?

Maka apa yang tengah terjadi di negara ini, tetapkan yakin ada masa di mana Allah menguji orang dan bangsa yang Ia cinta. Ya, yang masih terdapat di dalamnya orang-orang yang senantiasa saling menasihati pada kebaikan dan terus menginsafi diri. Estafet harapan ini tak boleh terhenti. Lakukan apa yang bisa kita kerjakan. Manfaatkan peluang-peluang yang telah diperjuangkan tokoh-tokoh hanif terdahulu.

“Indonesia memang bukan negara agama, tapi Indonesia adalah negara orang yang beragama. Karenanya, keimanan merupakan unsur penting membangun negeri ini.” (KH. Zainuddin MZ)

Wallahu A’lam bis showab.

|| Jakarta, 16 Agustus 2017

​The Marriage Proposal: Tips to Make the Decision Easier 

Dalam perjalanan menuju halal, kita temukan laki-laki cenderung menjemput dan perempuan menerima. Tapi keduanya tak lepas dari satu keharusan, yaitu memilih. Bagaimana seorang laki-laki bisa mantap menentukan gadis sebagai pilihannya, pun bagaimana sebagai perempuan meraba rasa “sakan” untuk menerima atau menolak. Tentu bukan pilihan yang mudah. Setidaknya ada beberapa kiat bagaimana membuat keputusan itu mudah, semoga. 

1. Pahami Niat dan Ber-istikharahlah 

Pintalah dalam keadaan sadar, tulus, dan serius. Maksudnya seperti apa? Ketika kita melihat diri telah siap, maka kita dalam keadaan sadar meminta Allah tuk hadirkan seseorang. Bukan karena bosan hidup atau hendak lari dari sebuah permasalahan. Sejatinya kita sadar, kita siap akan amanah-amanah lebih besar setelah pernikahan.

Dengan demikian kita bisa lebih tulus dan serius meminta kepada Allah. Lintasan pikiran manusia saja Allah mengetahui, maka bagaimana pahamnya Ia mendengar hamba-Nya yang benar-benar berharap.Yakinlah tak ada kata menyesal jika kita melibatkan Allah di setiap keputusan urusan hidup kita. 

2. Mengajukan Pertanyaan Cerdas 

Tanyakan bagaimana hak dan kewajiban masing-masing pasangan. Hal-hal apa yang bisa membuatnya marah dan kecewa serta bagaimana mengatasinya. Dari sini kita akan mudah memahami bagaimana calon pasangan kita memandang pembagian tugas di keluarga kelak. Apakah sejalan dengan yang kita pahami? Jika tidak, bagaimana menyelaraskannya? Kita juga bisa sedikit mengenal bagaimana ia mengontrol emosinya melalui pertanyaan tadi. 

Tidak hanya soal pribadi. Kita juga perlu menanyakan perihal pendidikan dan pola asuh anak. Bukan membahas terlalu jauh. Tapi dari sini kita juga terbantu mengenal calon pasangan kita. Secara umum saja. Setidaknya bagaimana masing-masing kita mengenal peran sebagai orang tua kelak. 

Selain pertanyaan di atas, kita boleh menanyakan hal-hal lain yang dengan melalui jawabannya, kita cukup yakin meraba apakah dia orang yang Allah kirimkan sebagai jawaban doa-doa selama ini? 

3. Menjaga Ketaqwaan di Setiap Langkah 

Bagaimana bisa menuai berkah jika menjemputnya saja kita tak menjaga nilai-nilai ketaqwaan. Apa sih, ketaqwaan itu? Dari sekian banyak penjelasan, pada intinya taqwa ialah ketika seorang muslim takut akan murka Allah. Lalu dengan cara apa ia menjaga dirinya? Ittibaa’u awaamirihi wa ijtinaabu nawaahiihi, dengan mengikuti perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. 

Apa hubungannya dengan memudahkan kita menentukan keputusan? Jika Allah ridho akan perbuatan-perbuatan (mengikuti perintah dan menjauhi larangan-Nya), lantas apa mustahil Ia mencintai kita? Bahkan jika kita datang membawa tumpukan dosa Allah masih cinta sebab taubat kita. 

Ketika kita berusaha tuk membatasi komunikasi, bersikap baik meminta izin kepada orang tua atau wali, belajar hal-hal baru mempersiapkan pribadi lebih baik lagi, menjaga diri dari kelalaian-kelalaian meski sesaat, terus mendekat kepada Allah dan melibatkan-Nya. 
Selamat memaksimalkan ketaqwaan! 

4. Jangan Memaksakan Diri

Someone can be perfect, but is not perfect for you. Sebagai manusia, kita tidak salah menentukan kriteria pasangan hidup. Justru dengan adanya kriteria bisa membantu kita mengupayakan memilih yang baik. Tapi terkadang kriteria itu menjadi harapan atau bahkan delusi. Tak sedikit kita yang patah hati, malah minder ketika harapan tak bersambut kenyataan. Maka kita perlu kembali meyakini bahwa seseorang bisa saja kita anggap sempurna, tapi dia tak sempurna untuk kita. 

Lalu muncul pertanyaan apa kita tidak sempurna (dalam maksud lain: baik), sehingga kita tak disandingkan dengan yang menurut kita baik? Kualitas baik-buruk Allahu a’lam, Allah yang bisa nilai itu. Jika memang mutlak baik dengan baik serta buruk dengan buruk maka tak ada kisah tauladan Asiyah bersanding Fir’aun dan Nuh juga Luth yang diuji pasangan hidup tak berbakti. Sedangkan maksud pesan baik dengan baik dan buruk bertemu buruk adalah satu targhib (motivasi) tuk terus berupaya menjaga diri dalam kebaikan. 

Selain dari itu, tidak memaksakan juga berarti mencukupkan apa-apa yang kita rasa. If you don’t feel comfortable or attracted to him, that’s a good enough reason to reject. Memang, perasaan  tidak nyaman atau tertariknya kita bukan kemudian menjadi standar dia bukan pasangan kita. Kita perlu berdiskusi dengan hati, orang-orang terpercaya, dan tentu menguatkan musyawarah dengan Allah. Namun jangan memaksakan diri. 

Sebagian kita mungkin merasa tidak enak menolak. Apalagi sebagai perempuan. Lalu kita memaksa menerima ketidaktertarikan itu dengan alasan tak boleh menolak pria baik. Wah, padahal salah satu pesan Nabi tuk menerima tawaran pernikahan adalah baik agamanya dan kita suka dengan kepribadiannya. Anjuran tidak menolak orang baik pun bukan ditujukan pada kita, melainkan untuk wali kita. 

Semoga kita memiliki hati-hati yang stabil tuk meraba keputusan, ya. 🙂

5. Gunakan Waktu-waktu Ini untuk Lebih Mendekatkan Diri ke Allah 

Sebagaimana poin pertama dan ketiga. Kita tak bisa melalui hari-hari ini tanpa petunjuk Allah. Pernikahan bukan urusan ringan yang cukup diikhtiarkan dengan fisik atau perasaan belaka. Tapi kesiapan spiritual, intelektual, finansial, mental, sosial, menjadi setumpuk yang kita tahu, dalam perjanjiannya saja mengguncang Arsy langit. Ini urusan berat. 

Maka begitu naif jika di masa-masa menentukan keputusan kita malah lalai dan jauh dari Allah. Jika demikian, mungkin kita perlu kembali menanyakan sebenarnya apa tujuan menikah. 

6. Senantiasa Memperbarui Niat 

Menyambung poin sebelumnya, perihal menjaga niat agar tetap-semakin baik. Di awal kita sudah menyinggung pembicaraan niat ini. Hanya saja hati tercipta dengan sifatnya yang mudah berbalik. Mungkin di tengah jalan keinginan menikah kita menjelajah ke mana-mana. Maka terus memperbarui niat semoga menjadi penjaga yang menguatkan. 

Jika sebelumnya kita cukup memiliki tujuan menikah agar menjaga kesucian, tambah niatnya. Rancang capaian yang lebih luas. 

Berkolaborasi tuk memaksimalkan manfaat bagi sekitar, menambah silaturrahim, menjadi perkembangan peradaban, dan tentunya tujuan ibadah dan lebih mendekatkan diri kepada Allah. 

Sebaliknya ketika di perjalanan kita melirik pernikahan sebagai ajang memewahkan acara, menaikkan gengsi, atau kesenangan-kesenangan yang sifatnya semu, tepis segera lirikan itu. Perbarui kembali niat-niat kita. Semoga kesenantiasaan menjaga tujuan baik menikah semakin melapangkan hati dan pandangan kita tuk menentukan keputusan terbaik. 

Demikian enam poin kiat mudah membuat keputusan. Poin-poin di atas berinduk dari satu poster Productive Muslim yang kemudian penulis kembangkan penjabarannya. I hope this will give you clarity. Semoga catatan seadanya ini cukup mencerahkan ya. Yang sesuai moga menginspirasi dan yang tidak sesuai moga tak bermasalah. 😀 

Best gratitude! 🙂

|| Jakarta, 120817 

Innamal Aqshaa ‘Aqiidah

Sesungguhnya Al Aqsha adalah aqidah. Begitu syiar yang dijunjung ratusan warga Timur Tengah ketika unjuk rasa bebaskan Al Aqsha dari tangan penjajah. 

Sempat saya bertanya-tanya mengapa masyarakat Palestina menolak memasuki Masjid Al Aqsha melalui gerbang elektronik yang dipasang penjajah Israel. Bukankah yang terpenting adalah mendirikan sholat di dalamnya? Menghidupkan rumah Allah dengan kegiatan-kegiatan bermanfaat? Dan sebagai muslim, tentu tidak mungkin masuk masjid dengan membawa logam atau senjata berbahaya, bukan? 
Berikut catatan yang saya coba pahami dari tulisan Ketua Persatuan Ulama Palestina wilayah Khon Younis Muhammad Sulaiman Nashrullah dengan sedikit tambahan. 

1. Bahwasanya keadaan Masjid Al Aqsha yang tanpa azan dan sholat tidak akan membahayakan umat beriman (yang memang hatinya telah terpaut akan kewajiban dan kebutuhan ini). Bahkan kita bisa lihat bagaimana mereka tetap mengumandangkan azan di pelataran masjid dan menggelar shaf panjang tuk mendirikan shalat. Masjid Al Aqsha akan senantiasa baik-baik saja dengan segudang upaya penutupan dari penjajah Israel selama penduduknya juga senantiasa menolak persyaratan-persyaratan dari penjajah. Mengapa demikian? 
Sebab yang membahayakan Masjid Al Aqsha adalah ketika kita memasukinya dengan hina. Kita bukan kriminalis yang harus diperiksa ketika hendak beribadah.

2. Memasuki Al Aqsha melalui gerbang elektronik bukan satu-satunya jalan membebaskan masjid. Justru memasukinya sama saja kita membiarkan penguasaan penjajah Yahudi menang di atas kita. Jika untuk demikian saja kita lemah (menurut pada peraturan Yahudi), entah bagaimana ke depannya paksaan-paksaan penjajah merebut Al Aqsha. Dan entah bagaimana semakin tamaknya Yahudi terhadap tanah dan jiwa Palestina. 

3. Sesungguhnya menetap di luar Al Aqsha dan memperjuangkannya sampai perang hingga syahid merupakan jihad yang mashlahah. Serta menganjurkan orang-orang beriman untuk turut memperjuangkan bebaskan Al Aqsha dan mendirikan sholat di dalamnya dengan kemuliaan. 

4. Penolakan warga Al Quds juga menyingkap dan membongkar kepalsuan terhadap permukaan dunia selama ini. Menjelaskan bahwa siapa sebenarnya yang menjajah dan merebut Al Aqsha secara paksa? Hingga untuk azan dan sholat di dalamnya saja dilarang. Hingga untuk memasukinya saja harus melalui cara yang tak patut. Menjauhkan Al Aqsha dari penghuninya secara perlahan namun kejam. 

5. Memohon untuk sholat di dalam Masjid Al Aqsha kepada penjajah berhati batu tidak menghasilkan kemuliaan apa pun. Sebaliknya, yang demikian justru melukai kemuliaan dan kehormatan. Bahkan disebutkan dalam tulisan aslinya perbuatan tersebut tidak mendatangkan pahala, justru menodai diri dengan dosa; karena pada dasarnya secara tak langsung mengakui kekuasaan musuh Allah. Apa Allah dan Rasul-Nya ridho? 

6. Sesungguhnya kewajiban kita hari ini adalah membebaskan tanah Nabi bermi’raj itu. Membebaskan Masjid Suci ketiga umat Islam. Membebaskan masjid kedua yang dibangun di bumi ini dari penjajah Israel. Baik dengan senjata ataupun kata. Bukan rela sholat di dalamnya dengan mematuhi perintah musuh. Barang siapa yang masih berleha-leha dari memperjuangkan (membebaskannya), maka perlu dipertanyakan fitroh dan pemahamannya. Apa sudah terbalik dan berpenyakit? 

Maka wahai Abnaul Quds, pilihan kita hanya dua, sholat di Masjid Al Aqsha dalam keadaan mulia atau melawan penjajahan hingga syahid meski di ambang pintu Al Aqsha. Tidak ada kesempatan untuk lemah, tunduk dan pasrah terhadap aturan-aturan penjajah! 

Demikian pesan yang disampaikan Muhammad Sulaiman. Catatan yang cukup menjawab pertanyaan saya perihal Al Aqsha. Maka tak ragu saya mencatumkan judul demikian. Bahwa benar, urusan Palestina adalah urusan umat Islam. Perkara Al Aqsha adalah perkara keyakinan yang harus diperjuangkan. Hingga tak ragu kita teriakkan, “Bir ruuh, bid dam, nafdhiika yaa Aqsha!”, dengan ruh dan darah kita persembahkan untuk Aqsha. Dan tak ragu pula kita perjuangkan cita-cita bersama, hidup mulia atau mati syahid! 
Allahu ta’aala a’lam. 
|| Jakarta, 210717

Tetaplah Jelita

Setiap perempuan menyimpan kecantikannya masing-masing. Cantik yang bukan sebatas rupa. Tapi cantik yang jelitanya mampu dirasakan orang-orang sekitarnya.

Dengan optimisnya, ia redakan tangisan anak-anak pelosok pulau yang kehilangan ibu bapak, lalu mengukir tawa dan cinta untuk mereka.

Dengan sabarnya, ia menjadi perempuan pertama yang dicari ketika seorang nenek ingin bercerita, meski ceritanya berkali-kali sudah ia sampaikan. Sabar itu tetap mendengarkan.

Bersama tunduk malunya, ia simpan rasa-rasa kagum dan bangga akan keberhasilan dan kebahagiaan teman-teman seperjuangannya. Cukup doa-doa baik yang tersalurkan untuk mereka yang ia cinta.

Bersama ceria dan ungkapan-ungkapannya, ia bebincang hangat dengan saudara dan keluarganya, menjadi pelipur kala lara, menjadi pengingat kala lupa.

Dengan kepandaiannya, ia selamatkan mimpi-mimpi mereka yang hampir putus asa. Merunduk dan berbisik pelan mensyukuri pencapaian-pencapaiannya, namun bersorak bahagia memberi selamat mereka yang meraih harapannya.

Ya, setiap perempuan memiliki kecantikan masing-masing. Dan yang menjadikan ia jelita serta pesona adalah bagaimana ia menuai kebermanfaatan melalui peran-perannya.

Ia bukan berarti tak pernah jatuh. Tapi ia mampu bangun meski luka-luka menggores kehidupannya.

Ia bukan berarti tak pernah marah. Tapi kasih sayangnya yang terbilang lebih meredakan kecewa-kecewa dalam hati.

Ia bukan berarti tak pernah salah. Tapi malunya berkali-kali menegur dan mengajak diri untuk terus menginsafi lalai-lalai.

Ia bukan berarti pemilik followers dan likes terbanyak di seantero sosial media. Tapi yang pedulinya meluas menyapa mereka yang membutuhkan, hingga menghadapi realita lebih ia syukuri.

Ia juga bukan penerima sanjungan dari sana-sini. Tapi doa dan nasihat orang-orang yang tulus menyayanginya cukup menjadi penguat diri dan inspirasinya.

Ia adalah sebaik perhiasan, jika iman menjadi muara jiwanya, takwa sebagai pakaiannya, dan sholihah merupa perangai akhlaknya.

Maka bagi para perempuan, cukupkan kekhawatiran-kekhawatiran yang menghambatmu serta tetaplah jelita. Tetaplah menjalani hidup ini sepenuh syukur dan kesabaran.

|| Salam manis, 050716

Mendidik Generasi 

Semakin gigih mengejar impian, semakin sadar bahwa cara terbesar untuk meraihnya adalah menyibukkan diri untuk mendidik generasi, lebih khusus mendidik anak sendiri.


Begitu yang disampaikan Praktisi Homeschooling Kiki Barkiah.

Terutama perempuan. Dengan amanahnya mengandung, melahirkan, menyusui, juga hari-hari yang lebih banyak ia lalui bersama anak, cita-cita besar yang ia rencanakan bukan kemudian kandas begitu saja. Justru di sana ia punya kesempatan besar menggenggam tonggak peradaban, mengarahkannya pada visi dan misi yang mengantarkan ia pada cita-cita besarnya.

Apa pun profesi, amanah mendidik generasi menempatkan posisi di setiap pundak kita. Laki-laki pun perempuan. Amanah ini juga yang diemban para pendahulu kita sehingga hasilnya bisa kita rasakan sekarang. Lantas apa wajar ketika kita tidak peduli dunia pendidikan?

Mari sama-sama bangun kembali rasa ingin mewujudkan generasi yang siap menghadapi tantangan lebih berat. Yang jauh lebih cerdas dari orang tua dan gurunya. Generasi yang mampu mengenal potensi sehingga mudah mengambil peran tuk berkontribusi. Generasi yang memiliki inisiatif sehingga menjadi produktif dan solutif.

Dan tentu, semua butuh persiapan. Maka salah satu cara mengawalinya adalah, tumbuhkan rasa kepemilikan akan peran ini. Besok -in syaaAllah-, kita akan menjadi orang tua. Yang akan ditanya, yang akan dipercaya, yang akan dipertimbangkan saran dan masukannya.

Daripada tebar pesona dan janji-janji tak pasti, lebih baik tekuni potensi dan urus segala kebutuhan pribadi bahkan membantu orang tua. Daripada mengukur-ngukur kriteria pasangan idaman dan menaruh hati di sana-sini, lebih baik pelajari bagaimana menjadi orang tua yang apik, mencetak generasi yang baik.

Menjadi generasi Ismail yang sabar dan membantu Ayahnya Ibrahim taat kepada Allah. Merupa generasi anak-anak Ya’qub yang mewarisi ilmu-ideologi Ayahnya. Mengikuti jejak keempat pejuang yang Khansa binti Amr bahkan memotivasi putra-putranya untuk berada di barisan depan membela kebenaran dan keadilan.

|| Jakarta, 310517

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑