Berawal dari DND

EditTepatnya tahun 2014 silam, seorang pemuda selulus SMA baru saja menginjakkan langkah juangnya di kehidupan nyata. Ya, kehidupan yang tantangannya tak habis-habis. Kehidupan dengan cobaan yang tak sesederhana masa belajarnya di pesantren dulu. 

Kata Ibu, ketahuilah Nak, hakikatnya kamu belum lulus. Ujian sesungguhnya ada di kehidupan luar sana. Keluarlah. Merantaulah. Teguk terus ilmu-ilmu-Nya. Amalkan apa-apa yang kamu dapat.

Namun tidak semudah itu. Entah (mungkin ini yang dimaksud ibu ujian sesungguhnya) cita-cita yang dulu sempat terangkai kala itu pudar tak berkabar. Energi kehambaan pada Allah juga kian meluruh sedikit demi sedikit. Padahal sering kali dosen mengingatkan, untuk apa kuliah di jurusan syariah jika tidak berjuang menegakkannya? Ngapain jauh-jauh ke ibukota kalau tujuannya cuma mencari gelar? Kalian mendapat ilmu secara gratis (red. beasiswa), maka bagikan ilmu-ilmu itu dengan gratis pula. 

Dakwah. Menjadi satu kata yang menyibukkan pikiran si pemuda kala itu. Dia ingin berdakwah. Dia ingin berkontribusi lebih untuk perbaikan umat ini. Dia ingin belajar banyak tentang perjuangan-perjuangan mukmin terdahulu. Dia ingin menjadi satu rantai dari rantai kebermanfaatan. Dia ingin menjadi penggenggam tongkat estafet pengabdian untuk agama ini.

Maka berawal dari DND, ia belajar bahwa kekuatan dakwah terletak pada kebersamaan dan kesatuan. Sebab apa? Dengan saling bergandeng ia tak mudah jatuh karena kerikil-kerikil tantangan yang acap kali membuat ragu ‘tuk melangkah. Dengan saling berangkulan tugas dakwah ‘kan terasa lebih ringan. 

Dan boleh saja disampaikan, dari DND pemuda itu bertemu sahabat-sahabat yang menyejukkan. Kehadirannya memberi semangat, kepergiannya meninggalkan rindu. Berkumpulnya membawa manfaat, berpisahnya merajutkan doa-doa. 

Maka berawal dari DND, ia mengerti bahwa dakwah beragam cara kerjanya. Bahwa Allah titipkan amanah sesuai kemampuan hamba-hamba-Nya. Si pemuda yang miliki kebiasaan menulis, mulai terlatih ‘tuk menyampaikan gagasan-gagasan melalui rangkaian katanya.

Atau kawan yang lain dengan kecakapan bicaranya, sering kali kemudian diminta mengisi acara sana-sini. Tak tertinggal dengan siapa pun dan keahlian apa pun yang dimiliki, bermula dari DND ia menemukan, percaya dan lebih yakin akan kemampuan dirinya. 

Maka berawal dari DND, pemuda itu memahami bahwa dakwah hakikatnya perbaikan diri sendiri. Bagaimana sebuah teko mampu memenuhi secangkir gelas jika tak ada isinya? Apa yang mau disampaikan jika hati dan pikiran kosong dari keihsanan dan pengetahuan? 

Bermula dari DND, ia terus belajar dan belajar. Belajar bagaimana menjadi dai yang dirindu umat. Menjadi dai yang memahami, bukan menghakimi. Dai yang menuntun, bukan menuntut. Dai yang menyampaikan hikmah, bukan pembawa masalah. Dai yang tak merasa bejasa, namun kerjanya nyata. Dai yang berpegang teguh bahwa Rasulullah tak menyuruh kita menyelesaikan tugas dakwah ini, tapi Rasulullah mengajak untuk syahid di jalannya. Dengan begitu, ia siapkan regenerasi agar kiranya ada tangan-tangan tangguh yang siap menerima estafet amal mulia ini. 

Maka siapakah gerangan?

Pemuda itu termenung. Baru di sini ia menyadari. Apa-apa yang ia pelajari dan pahami dari DND, adalah apa-apa yang pernah disampaikan sebelumnya. Maklumat itu bukan sesuatu yang baru. Hanya saja, ia merasa lebih hidup dari sebelumnya. 

Salam santun. 🙂 

Note:

1. DND adalah singkatan dari Dauroh Nukhbatid Du’aat yang diselenggarakan LDK Al Fatih LIPIA setiap semesternya

2. Coretan lawas yang ditulis setahun silam, dalam masa penantian cetak buku di gambar (Sekokoh Kata Ukhuwah) karya DNDR. 

Buku yang lahir dari persaudaraan, dirawat dengan kepercayaan, hingga tiba masa purnanya, ia tumbuh bersama kekokohan

Advertisements

Menuju 72 Tahun Kemerdekaan Indonesia: Refleksi Kita dan Harapan Pejuang Terdahulu 

Hari itu, pertanyaan Dokter Radjiman mengenai landasan filosofis negara sebelum kemerdekaannya ini membuat diam anggota BPUPKI yang hadir. Menurut kesaksian Bung Hatta dalam buku Politik dan Islam karya Buya Syafii, mereka tidak mau menjawab sebab khawatir akan mengundang perpecahan dan memakan waktu lama. Selain khawatir, rasanya juga bukan hal yang mudah berfilsafat dalam kondisi yang mendesak tersebut. 

Namun berbeda dengan beberapa tokoh lainnya, masih menurut kesaksian Bung Hatta, yang siap menjawab pertanyaan dr. Radjiman hanya Soekarno dan Muhammad Yamin dari golongan Nasionalis, serta Ki Bagus Hadikusumo dari Muhammadiyah yang mewakili golongan Islam. Bung Karno dan M. Yamin mengajukan Lima Prinsip Dasar, sedang Ki Bagus Hadikusumo mengajukan Islam sebagai landasan Indonesia. 

Berawal dari dua pemikiran yang berbeda ini, BPUPKI membentuk panitia guna memusyawarahkan landasan tersebut. Kesembilan yang tergabung tak lain adalah Soekarno, Mohammad Hatta, M. Yamin, Wahid Hasyim, Agus Salim, Abdul Kahar Muzakir, Achmad Subardjo, Abikusno dan A.A Maramis. Setelah melalui permusyawarahan, tepatnya pada tanggal 22 Juni 1945 lahirlah sintesis atau paduan dari kedua usulan tersebut, yakni Piagam Jakarta. 

Dalam Piagam Jakarta, Pancasila diterima sebagai dasar negara. Namun urutan silanya berganti. Pada tanggal 1 Juni 1945 Soekarno menyampaikan lima asas bangsa Indonesia dengan urutan: (1) Kebangsaan Indonesia, (2) Perikemanusiaan, (3) Mufakat atau Demokrasi, (4) Kesejahteraan Sosial, (5) Ketuhanan yang Maha Esa. Kemudian oleh panitia sembilan diubah menjadi lima sila yang kini lebih kita kenal sebagai Pancasila, dengan tambahan di sila pertama, Ketuhanan yang Maha Esa dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya.

Sampai di sini, kita mencoba menarik hikmah dari sejarah di atas. Bagaimana kira-kira jika kita yang berada di posisi tokoh-tokoh tersebut? Mendapati dua perbedaan pikir yang kemudian dirumuskan agar menjadi selaras. Bagi saya pribadi pekerjaan ini bukan pekerjaan orang-orang biasa. Di dalamnya ada sekumpulan cita-cita plus jiwa-jiwa besar akan negara ini. Tokoh-tokoh yang mampu menyampingkan ego untuk kebaikan bersama, tokoh-tokoh cerdas yang mengajarkan kita bagaimana beragama dan bernegara menjadi paduan yang kuat tuk lebih memajukan Indonesia.

Kemudian kita kenal dengan sejarah terhapusnya tujuh kata Piagam Jakarta, yaitu terhapusnya kalimat “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya” pada sila pertama. Saya belum mendalami betul kronologi sejarahnya, hanya saja mari kita menilik bagaimana akhirnya kemerdekaan Indonesia disahkan dengan diawali pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. 

Entah pertolongan apa lagi yang Allah berikan kepada pejuang terdahulu, hingga lahir diksi yang membuat kita bertanya-tanya, siapa yang merumuskan pembukaan UUD kita ini? Mengatasnamakan Allah sebagai berkat pertama atas merdekanya negara Indonesia. Kita tentu mengenali kalimat pembukaan “Atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”. Tapi mungkin selama ini kita tidak betul-betul memahami, bahwa sejatinya inilah harapan tokoh-tokoh terdahulu untuk Indonesia. Negara yang bebas dan diberkati Allah. 

Tidak cukup di pembukaan UUD, ketika kita melihat kembali perubahan lima asas bangsa Indonesia menjadi Pancasila kini, lalu muncul lagi di benak-benak kita pertanyaan, bagaimana para tokoh merumuskan dasar negara menjadi lebih baik dan penuh makna dalam waktu begitu terbatas? Melahirkan kata hikmah, adil, beradab, yang bila kita kupas tuntas maknanya mungkin berlembar-lembar pelajaran yang akan kita dapat.

Adalah Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi yang telah menulis artikel mengenai kata-kata ajaib tersebut. “Maka ‘Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan’ menggambarkan nilai sebuah sistem yang dikusai oleh semangat hikmat,” jelas beliau, “artinya sistem kenegaraan Indonesia harus berada di tangan orang-orang yang hakim. Yaitu orang yang berilmu hikmah, yang pasti tahu kebenaran yang berkata benar; yang tahu dan berani memutuskan yang salah itu salah dan yang benar itu benar; yang tahu meletakkan segala sesuatu pada tempatnya; tidak akan pernah meletakkan kepentingan dirinya diatas kepentingan rakyat atau umat, tidak meletakkan perbuatan dosa atau maksiat dalam dirinya yang fitri dan seterusnya.” 

Tidak berpanjang mengenai diksi-diksi yang dipilih para tokoh di detik-detik kemerdekaan, kini saatnya kita merenung, mungkin banyak yang telah dikorbankan pejuang terdahulu hingga Allah memberikan hidayah-Nya melindungi bangsa dan agama ini. Mungkin hati-hati pendahulu tak lepas dari mengingat Allah sehingga Ia buka urusan demi urusan sampai kenikmatannya bisa kita rasakan sekarang. Lalu bagaimana kita? Apa yang tengah kita pikirkan, lakukan, perjuangkan untuk Indonesia lebih baik lagi? Apakah lantas bingung menyikapi sistem negara yang belum banyak sesuai harapan? Putus asa akan hutang-hutang yang semakin meninggi? Lalu menyerah dari peduli,  berbuat baik dan berprestasi hanya sebab aturan negara yang dipandang bukan urusan agama? 

Dr. Adian Husaini mengingatkan, bukankah justru di masa penjajahan lahir ulama-ulama pejuang mukhlis dari penjuru pesantren? Bukankah justru di masa penjajahan, api tauhid dalam dada umat muslim yang berkobar melawan kolonial? Bukankah justru di masa penjajahan, hati-hati besar bangsa Indonesia berpadu merangkul perbedaan dalam semangat satu, manusiakan Indonesia, adilkan Indonesia? Bukankah justru di masa genting tak berdayanya Indonesia, masih ada harapan-harapan tulus tuk generasi masa depan dari tokoh-tokoh kita terdahulu?

Maka apa yang tengah terjadi di negara ini, tetapkan yakin ada masa di mana Allah menguji orang dan bangsa yang Ia cinta. Ya, yang masih terdapat di dalamnya orang-orang yang senantiasa saling menasihati pada kebaikan dan terus menginsafi diri. Estafet harapan ini tak boleh terhenti. Lakukan apa yang bisa kita kerjakan. Manfaatkan peluang-peluang yang telah diperjuangkan tokoh-tokoh hanif terdahulu.

“Indonesia memang bukan negara agama, tapi Indonesia adalah negara orang yang beragama. Karenanya, keimanan merupakan unsur penting membangun negeri ini.” (KH. Zainuddin MZ)

Wallahu A’lam bis showab.

|| Jakarta, 16 Agustus 2017

‘Amm Ramadhan 

“Aku mau baju koko itu, Bu!”

.

“Tunggu Ramadhan datang, ya, Nak,”

.

Wajah Kholid seketika murung. Sang ibu tak pernah penuhi permintaannya membeli apa pun. Koko, sarung, manisan, bahkan es cendol di pinggir jalan tidak dibelikan. Jawaban ibu selalu sama, ‘tunggu Ramadhan, ya’.

.

Dari luar pasar, Kholid memandangi teman-teman seusianya menggenggam es krim, coklat, permen jumbo. Ada juga yang menangis menunjuk-nunjuk toko permainan. Demi mendiamkan si anak, sang ibu menggendongnya lantas masuk ke toko tersebut.

.

Anak berusia lima tahun itu tidak pernah menangis agar keinginannya tercapai. Yang dia tahu hanya sabar menunggu Ramadhan dan menuruti apa kata sang ibu.

.

***

.

“’Am Ramadhan! ‘Am Ramadhan …!”

.

Kholid tersentak mendengar seruan tersebut, ‘Ramadhan?’. Segera ia berlari ke arah suara bersumber.

.

“Saya hampir lupa di mana memarkir mobil. Terimakasih sudah dipanggil.” Lelaki bertubuh besar terlihat menenteng banyak bawaan. Hendak menghampiri supir dan mobilnya.

.

“Apa Tuan yang bernama Ramadhan?” Tiba-tiba suara Kholid bertanya seraya menarik pelan gamis lelaki besar itu.

.

“Iya, saya Ramadhan. Ada apa, Nak?”

.

“Aku dan ibu menunggumu lama, Tuan. Setiap kali aku minta dibelikan sesuatu, ibu selalu berkata tunggu Ramadhan datang. Apa Tuan di sini untuk menemuiku?” tanya Kholid lugu.

.

“Maa syaa Allah … di mana rumahmu, Nak?”

.

“Tepat di samping pasar, Tuan.” Masih dengan bahagia yang tak bisa disembunyikan, Kholid tersenyum rekah.

.

“Kalau begitu, ambil semua barang ini, Nak. Semoga kau suka. Sampai jumpa lain waktu.” Sambil mengelus kepala Kholid, lelaki bergamis itu membalas senyumnya.

.

Berkali-kali Kholid mengucapkan terimakasih atas kehadiran dan pemberian ‘Am Ramadhan. Ia terus melambai seiring mobil menjauh.

.

***

.

“Ibu … ibu …!”

.

“Ada apa, Nak, teriak-teriak? Maa syaa Allah, kamu dapat barang sebanyak itu dari mana?”

.

“Aku bertemu ‘Am Ramadhan di pasar, Bu. Aku cerita, udah menunggunya lama. Lalu dia memberikan semua ini padaku. ‘Am Ramadhan baik, ya, Bu!” 

.

“…”

.

Note: kisah ini terinspirasi dari kisah Arab dalam kitab Fahmul Masmuu’ 

After reading Musa and Shafura’s love story though, I learned to love my husband for the right reason; for his supports, his strengths, and his sense of responsibility for the sake of Allah. After ten years, he still makes my heart flutter.

.

Potongan ungkap seorang wanita bernama Hena Zuberi yang saya baca dari blog nya ini, kembali mengingatkan akan secercah ingin; menulis ajar kisah cinta Musa dan Shafura.

.

Hal ini berangkat dari bahagianya hati ketika mendengar atau membaca keutamaan Al Qur’an. Di dalamnya ada kisah-kisah menyentuh dasar akal dan sanubari. Menjadi titik terang dalam gulita, penentram dalam hampa. Pun beranjak pula dari banyaknya persoalan cinta dari yang membutakan sampai yang menyadarkan.

.

Bila Hena Zuberi merasa kisah Musa dan Shafura sebagai pembaik cinta dan pandangnya terhadap pasangan, moga coretan sederhana ini mampu mengajak sahabat semua kembali menyelami hati, adakah ia sedang terkubur rasa pada seseorang? Lalu bagaimana agar harap yang tertanam tak tumbuh menjulang lebihi rindangnya cinta pada Yang menaungi cinta?

.

***

.

Lihatlah pada kisah Shafura dan saudarinya yang keluar rumah demi mengembala hewan ternak. Mereka melakukan itu sebab ayahnya sudah lagi tak mampu mengembala. Usia sang ayah yang berlanjut tua mengundang simpati kedua bersaudara ini, bahwa mereka harus mengambil alih pekerjaannya.

.

Jikalah hati terpaut pada seorang, coba sejenak mengingat orang tua, adakah cukup rasa cinta kita pada mereka sehingga hadir sosok yang lebih mengundang hati mengaguminya dibanding mengharukan perjuangan orang tua kita? 

.

Shafura berjumpa Musa dalam ketaatannya pada Rabb, kepatuhannya pada orang tua untuk mengembala, maka alangkah indah bila bertemu jodoh ketika diri diridhoi orang tua yang juga ridho Ilahi, toh itu ‘kan memudahkan kita yakinkan orang tua kalau dialah jawaban istikharah selama ini, hehe.

.

Lihatlah pada kisah Musa menolong kedua bersaudara itu meminumkan hewan ternaknya. Dalam kondisi lelah lagi haus, Musa tetap meringankan tangannya. 

.

Hal ini bukan seperti anak muda zaman sekarang yang mengahampiri perempuan dengan beribu modusnya, menawarkan goncengan, mengajak kenalan dan sebagianya. Tapi memanglah pribadi Musa yang tumbuh di kerajaan, telah mendidiknya setangguh panglima perang, sepeduli pengorbanan ratu pada putra mahkotanya, dan sebijak-lembut hati penasehat raja.Maka tanpa kenal siapa kedua gadis yang terlihat kesulitan itu, yang Musa paham hanya menolongnya selagi mampu.Pertemuan yang indah, bukan?

.

Jikalah hati tertuju pada seorang, terus perbaiki pribadi. Sebaik Musa mempersiapkan dirinya pada ketangguhan, kepedulian, dan kebijakan hadapi berbagai persoalan hidup. Hingga nantinya, tidak hanya dia yang kita cintai sebagai pelengkap kita, tapi kita pun jadi penyempurnanya.

.

Lihatlah pada kisah Shafura yang berjalan malu menghampiri Musa ‘tuk sampaikan pesan sang ayah; bahwa dirinya diminta ke rumah. 

.

Malu, menjadi sifat perempuan yang menginginkan dirinya tetap dalam kebaikan. “Al Hayaau,” begitu sabda Nabi dalam riwayat Muslim, “khoirun kulluhu”. Malu itu baik. Baik di kesemuanya.

.

Dengan malu, seorang wanita mampu menundukkan hatinya. Dengan malu, seorang wanita bisa merendahkan suaranya. Dengan malu, wanita pasti menutup auratnya. Dengan malu, wanita tak akan berani menjalin keakraban pada lelaki yang bukan sesiapanya.

.

Dengan malu, wanita yang jatuh cinta ‘kan cukupkan doa sebagai ungkap rindu harapnya. Dengan malu pula ia meminta pada Allah diberi sebaik lelaki pilihan-Nya. Bahkan masih dengan malu, ia sembunyikan debar kejut-haru kala pria baik mendatangi walinya.

.

Lihatlah pada kisah Musa meminta Shafura berjalan di belakangnya. Padahal Musa tidak tahu menahu arah jalan menuju rumah ayah Shafura. Demi menjaga pandangan dari terjerumusnya, pun dari sikap Musa kita memahami, bahwa ada ajar tanggung jawab lelaki untuk melindungi wanita. 

.

Bagaimanapun, laki-laki lah yang memimpin. Dalam kepengurusan, rumah tangga, sampai pada perjalanan pun demikian. Maka cukup bagi Musa meminta Shafura melemparkan kerikil dari belakang ‘tuk mengabarkan ke arah mana menuju rumahnya. 

.

Mengenai pandangan, “Ketahuilah,” kabar Ibnu Al Jauzi dalam kitabnya Ahkaamun Nisaa, “bahwa cinta itu berawal dari pandangan mata yang dituruti.

.

Jikalah hati mencintai seorang, cobalah tundukkan pandangan dari segala yang mengingatnya. Benarkah rasa itu mewujud fitrah yang Allah titipkan, atau semata fitnah pada rupa, harta, dan kelebihan lainnya? Cobalah khusyukkan hati sepasrah diri kembalikan harap, benarkah ingin membersamainya sebaik tuju menggapai ridho Allah, atau sebatas pengisi sepi yang berlanjut tiada pasti?

.

Dari kisah indah Musa dan Shafura, tersimpan makna agar cinta kita terjaga. Agar bagaimana berlaku pada lawan jenis dengan adab Islam yang tentram lagi memudahkan. 

.

Dari kisah cinta Musa dan Shafura, kita simak bahasa kasih sayang Allah kepada hamba-hamba yang saling mencintai karena-Nya.

.

Sangat berlapang hati kiranya sahabat memberi kritik dan masukan atas dasar pikir saya yang masih faqir ini. Allahu ta’aala a’lam. Billahi taufiiq wal hidaayah, astaghfirullaha ‘adziim. 

.

|| Jakarta, 211115

Sehakiki Cita yang Hilang 

“Tapi kesungguhan mereka mencintai Al Quran lah yang membuat hati ini menderas tumpahkan berjuta sesal. Kemana saja aku selama ini?”

.
***

.
Penuh guncangan hari ini. Entah mudah sekali mata (lagi-lagi) melinangkan hangat air di pelupuknya. Perih. Seluka hati kala meneropong perjalanan setahun ini.

.

***
Dari dulu, kalo ditanya pelajaran apa yang paling disuka, atau bidang apa yang paling ingin kutekuni, jawabannya selalu senada; Al Quran.

.
Akar mula mewujudnya cita penulis, dan tentu, memahami Al Quran lah yang mendasari ku tekuni bahasa Arab.

.

Hampir 10 tahun kumengenal bahasa Arab. Itu tandanya keinginan memahami Al Quran jauh sudah kurencanakan.
Kalau bukan sebab ingin kusampaikan bahagianya memahami Al Quran, mungkin menulis sudah kutinggalkan dan beralih ke yang lain. Tapi seiring berkurangnya umur, semakin mendorong diri ini untuk berbagi.

.
Berbagi bahwa ini lho, Al Quran yang Allah lindungi sampai hari akhir nanti. Ini lho, Al Quran yang ungkapan sastra bahasanya tiada bandingan. Ini lho, Al Quran yang menaikkan derajat siapa saja yang berusaha memuliakan dan menjaganya. 

.
Tapi cukup sampai sini dulu. Semua harapan itu tak teraba adanya. Keinginan miliki Mushaf dengan terjemah Arab, sampai sekarang belum ada. Keinginan membaca tafsir setiap harinya tidak berjalan. Keinginan menyelesaikan hapalan pun tak tercapai. 

.
Allah … 

.
Tahun ini, sengaja mengeluarkan diri dari Roudhotul Hufadz (Taman Penghapal Al Qur’an) dengan beribu alasan. Dan bergabung dengan komunitas One Day One Juz (ODOJ) sebagai pengganti RH. Setidaknya, tak ingin ku tinggalkan Al Quran dalam seharinya. Harus selalu ada interaksi dengan ayat-ayat Allah ini.

.
Tapi jujur dari hati terdalam, membaca berbeda dengan menghapal. Betul. Serius. Membaca sekedar membaca; kadang pikiran ke mana-mana. Membaca sekedar membaca; yang penting laporan ceklist di grup kalo udah baca satu juz. 

.
Hampa. Kering. Kuakui menghapal Al Quran berpengaruh lebih dari sekedar membacanya. Jika dalam menghapal aku memahami isi suatu ayat atau surat, tapi tidak dengan sekedar membaca. Jika bersama hapalan aku bisa menambah daftar bacaan untuk sholat, tapi tidak dengan hanya membaca. Jika dalam menghapal Al Quran cenderung membantu dalam menyusun karangan dan tugas-tugas kampus lainnya, dan itu tidak kudapati ketika berbatas pada membaca. 

.
Allah …

.
Dan hari ini, aku hanya bisa menangis melihat para pejuang Al Quran. Teman-teman sekitarku, di dekatku, mereka berhasil meninggikan Al Quran di hati mereka dengan menambah hapalan, lantas menguji kemampuan, dan berakhir pada prestasi cemerlang. 

Dan apa yang mereka dapat? Bertumpuk hadiah dan berkali-kali doa terlontar dari para dosen pun mahasiswi yang hadir. Yang paling  mengejutkan adalah hadiah Mushaf ‘Arabi serta catatan kecil dari seorang dosen bagi para pemenang. Tidak hanya pemenang. Tapi juga untuk peserta ajang uji hapalan tersebut. 

Hati siapa yang tidak tertampar menghadapi kejadian itu? Bukan, bukan aku tak bahagia melihat gemilang teman-teman. Sungguh haru menyaksikan kesuksesan mereka. 30 orang menyempatkan dirinya untuk menambah/mengulang hapalan. Allah, syukurku miliki sahabat-sahabat seperti mereka.  

Tapi masih saja ada perih di hati ini. Bukan, bukan prestasi yang kuirikan. Tapi kesungguhan mereka mencintai Al Quran lah yang membuat hati ini menderas tumpahkan berjuta sesal. Kemana saja aku selama ini? 

.

Bahkan niat menambah hapalan saja (waktu itu) tidak ada. Kalaupun ada ia samar meragu akan aktifitas-aktifitas lain yang sedang kuprioritaskankan kemarin. Dan adakah perkara yang lebih penting dibanding lebih dekat dengan Al Quran? Tidak 😥 

.
Kemana sekumpulan asa yang pernah kurajut dulu? Kemana cintaku untuk Al Quran? 

.
Allah …

.
Sehina diri aku meminta, berikan kesempatan memahami Al Quran Mu. Tegarkan diri menetap pada juang menghapal ayat-ayat-Mu. Izinkan aku memasangkan mahkota untuk kedua orang tuaku kelak. Layakkan cinta kagumku pada mereka pejuang Kalam-Mu. Layakkan mimpiku menebar kemuliaan Kitab-Mu. Tetapkan hati ini tunduk pada indah bahasa cinta-Mu.

.
Allah …

.
Mudahkan aku membersamai Al Quran …

.



Serembas tangis temani ketikan hati siang ini, 

|| Jakarta, 080416

Seperti hari-hari biasanya. Aku bersama para dokter berangkat ke kamp pengungsian tanah terjajah itu. Tanah yang kering sebab reruntuhan bangunan. Tanah yang hancur sebab serangan peledak dari darat pun udara. Tanah yang menjerit isakkan anak-anak kehilangan Ayah, Ibu. Hingga bebatuan menjadi saksi atas setiap darah yang tertumpah.

.
Dari kejauhan sudah terlihat anak-anak berlarian menjemputku dan para dokter. Sudah terlihat pula tenda kecil tertulis Kamp Pengungsian Ummahaatul Mu’minin, tempat mengungsinya para janda syuhada dan anak-anaknya.
Para dokter mulai memasuki tenda-tenda dan menjalani pengobatan. Tapi tidak denganku. Aku lebih senang di luar, mengumpulkan anak-anak dan membagikan biskuit yang sudah kusediakan dalam ransel berukuran 15 kilo.

.
“Ayyuhal athfaal, ta’aal huna!” seruku memanggil anak-anak. Kalau diterjemahkan kira-kira seperti ini artinya, ayo anak-anak, ke sini.
“Siapa yang bisa membacakan Al Quran atau hadis, nanti Paman kasih biskuit!” tawarku seraya mengeluarkan bungkusan biskuit.

.
Siapa sangka mereka berebut unjuk diri. Satu persatu meminta pertanyaan. Ada yang lancar membacakan Al Quran, ada pula yang masih terbata-bata.

.


Bagiku tak masalah. Sebungkus biskuit yang di Indonesia mungkin hanya berharga dua ribu, tapi di sini itu sungguh berarti bagi mereka. Bagiku, langkah ke Negeri Syam ini adalah hadiah terindah yang Allah berikan. Setidaknya aku bisa menyeka air mata dan kesedihan anak-anak ini. Setidaknya, aku merasa lebih bermanusia di sini.

.
Seusai jalani pengobatan, sesaat kukemas alat-alat ke dalam mobil, tiga anak perempuan menghampiriku malu-malu. Mereka saling bersikut meminta satu dengan yang lainnya untuk memulai pembicaraan. Lucu sekali. Anak berusia sekitaran 8 sampai 9 tahun ini masih menunduk menyembunyikan wajahnya.

.
“Ada apa?” tanyaku seraya memposisikan diri di hadapan mereka.

.
“Paman …,” masih malu-malu rupanya anak itu menyampaikan keinginannya.

.
“Kenapa? Tadi belum dapat biskuit ya? Atau mau permen?” tawarku bertubi-tubi. Pikirku anak-anak yatim ini menginginkan mainan atau barang-barang semacamnya yang bisa menghibur mereka.

.
“Paman punya mushaf Al Quran, tidak?” tanya satu di antara mereka yang kemudian disusul anggukan kawan lainnya.

.
Aku terdiam. Hatiku terguncang mendengar pertanyaan anak-anak ini. Seketika aku jatuh cinta secinta-cintanya pada mereka. Allah, masih Kau temukan hamba dengan anak-anak sholih sholihah seperti ini?

.
Ketakjubanku tak mampu terbendung. Ku dekatkan posisi, dan kudekap mereka satu persatu.

.
“Untuk apa Al Quran, Nak? Paman saat ini tidak membawa. Tapi besok, in syaaAllah akan Paman bawa Al Quran untuk kalian,” kataku terbata menahan sekatnya kerongkongan.

.
“Kami ingin menghapal Al Quran, Paman,” tulus sekali mereka mengungkapkannya.

.
“Kami ingin mengahapal Al Quran, tapi di kamp pengungsian tak tersedia Al Quran,” sambung mereka.

.
Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Hanya mampu mendekap mereka lebih erat, dan kudapati wajah ini membasah. Allah, aku tak ingin kehilangan mereka.

.
Di perjalanan pulang aku hanya bisa menangis. Bukan, bukan menangisi anak-anak itu. Tapi menangisi diri sendiri.

.
Di tanah tak aman seperti Syam ini masih kutemukan semangat menghapal Al Quran. Seperti masjid di samping markaz ku. Setiap hari anak-anak memenuhi masjid tuk hadiri halaqoh Quran. Menghapal ayat-ayat yang kata mereka, di sanalah kekuatan mereka. Subhanallah.

.
Pernah di waktu halaqoh Quran, jet tempur menjatuhkan bom birmil tepat di samping masjid. Sebagian masjid hancur dan kaca-kaca pecah! Waktu itu syukur tak memakan korban jiwa. Namun pecahan-pecahan kaca melukai anak-anak pejuang Al Quran itu. Mereka menghapal dalam keadaan berdarah-darah.

.
Dan di Sya’ban ini, tepatnya di Dar’aa, lagi-lagi jet tempur jatuhkan serangan jelaja. Tanpa muqoddimah apapun. Tak ada suara, tak ada tanda-tanda. Tiba-tiba, DUARRR! Seketika 23 anak penghapal Al Quran syahid menemui Rabb nya.

.
Allah, aku malu. Aku malu pada diri yang masih bermalas mempelajari Al Quran, berlalai menghapal dan mengamalkan ayat-ayat-Mu.

.
Sungguh kusadari tanah ini bukanlah tanah terjajah, tapi ini tanah yang mulia. Bukan pula tanah kering karena reruntuhan puing, tapi tanah ini sejuk dengan iman-iman pejuangnya. Ya, tanah ini bukan tanah yang hancur dan penuh jeritan, tapi tanah ini tanah saksi sebuah keteguhan dan kesabaran, tanah bergemanya takbir meski tumpahan air mata dan darah menjadi tebusannya. 

Note: kisah ini terinspirasi dari video Darul Arqom Studio (Uncle, do You Have Al Quran?)

Al Qur’an dan Napas Nusantara 

Indonesia bukan bangsa yang seketika merdeka. Ada pergolakan melawan dominasi dan kesewenangan kolonial Belanda, yang jika sejarahnya kembali diteropong, banyak perlawanan yang dimotori para tokoh negara, ulama dan santri, serta kaum pembelajar. Hal yang demikian menjadi sebab mereka mempunyai ruh juang yang tinggi;  memerdekakan Indonesia dari kuasa kafir. Yang demikian itu disebut dalam agama islam sebagai bentuk jihad. Melepasbebaskan Tanah Air dari kebengisan penjajah nan zalim adalah darah dan nyawa taruhannya.

.

Sebutlah Pangeran Diponegoro. Ia syahid saat meninggalkan Al-quran yang  ditulis ulang oleh tangan pengikutnya dengan pena berlidi aren. Yang kelak adanya (Al-quran) pelan-pelan mengajarkan ilmu Allah di masyarakat sekitar. Dikisahkan pula julukan ‘Ibu Suci’ bagi Cut Nyak Dien kala Belanda mengasingkannya ke tanah Sumedang. Ya, warga Sumedang kala itu memanggilnya ‘Ibu Suci’ karena Ibunda Perjuangan ini konon tamat menghapal Al Quran. 

.

Pertempuran bulan November 1945 di Surabaya yang dipimpin oleh KH. Hasyim Asy’ari yang disebut revolusi jihad, mengerahkan seluruh pesantren dan para santri yang ada waktu itu untuk bertindak. Terkisah pada waktu itu, kalangan santri merupakan bagian terbesar dalam barisan pemuda revolusioner. Apa pedoman para santri hingga gigih menjunjung perjuangan bela Indonesia? Al-quran.

.

Maka, jika hari ini ada yang berkata masyarakat Indonesia dibohongi dengan ayat Al-quran, hukum saja! Alquran sejatinya sudah digunakan sebagai pedoman hidup dari dulu.

.

Sejarah kembali mencatat prestasi-prestasi ulama Nusantara. Kita kenal Tafsir Annur karangan Prof. Dr. Tengku Muhammad Hasbi asal Aceh, Mahmud Yunus dari Minangkabau, Tafsir Al Azhar karya  Buya Hamka; pemikir muslim progresif dari tanah Sumatra. Bertumpuk karya yang lagi-lagi mengajarkan bangsanya untuk mempelajari dan mengambil keutamaan serta memuliakan Al-quran.

.


Maka, jika hari ini ada yang berpikir Al-quran bisa membohongi masyarakat Indonesia, hukum saja! Al-quran sejatinya sudah digunakan sebagai pedoman hidup dari dulu.

.

Pernah tingkat buta baca Al-quran warga Indonesia mencapai 56%. Namun hal demikian tidak dibiarkan lama begitu saja. Selalu ada, dan selalu hadir ide-ide serta terobosan untuk menanggulangi hal itu. Maka, di tahun 1988, istilah Taman Kanak-kanak Al-quran (TKA) dan Taman Pendidikan Al-quran (TPA) rasanya sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat. Metode Iqro KH. As’ad Humam begitu membantu para pelajar membaca Al-quran.

.


Lalu, jika hari ini kamu diam ketika Al-quran dianggap membohongi masyarakat, tanyakan pada hatimu, apakah kehadirannya belum memenuhi di relung hati mereka.

Kita mengenal KH. Ahmad Dahlan sebagai Menteri Agama RI periode 1967-1971. Tindakan apa yang beliau hadiahkan agar anak-anak dan remaja Indonesia semakin mencintai Al-quran? Jika Agustus kemarin baru saja diadakan MTQ Nasional XXVI di NTB, maka beliaulah pemrakasa perdana penyelenggaraan MTQN tersebut. Yang kemudian bersama para ulama lainnya membangun Yayasan Ihya Ulumuddin dan bercabang Pendidikan Tinggi Ilmu Al-quran (PTIQ).

.

Lalu jika hari ini Al-quran dipandang nista, siapa yang berani menutup mata dari sejarah Al-quran di Indonesia? Mungkin ia belum benar-benar mencintai Indonesia.

.

Hafidz Indonesia, adalah program acara televisi terbaik yang belum lama ini sukses meningkatkan antusias para orang tua ‘tuk fokus mendidik anak menghafal Al-quran sejak usia dini. One Day One Juz (ODOJ), adalah komunitas dengan massa puluhan ribuannya yang tengah merancang agenda Akbar Olimpiade Pecinta Quran. Menghadirkan jiwa-jiwa semangat semarakkan Al-quran di Tanah Air. Aceh hingga Papua, semua turut berkontribusi.

.

Maka, jika hari ini muslim Nusantara kembali bergolak hatinya atas penghinaan Al-quran, mengerahkan upaya tindakan ataupun perkataan ‘tuk melawan kesemenaan, itulah bukti hidupnya iman dan ghiroh di hati.


Maka, jika hari ini Al-quran ternodai dengan ucapan atau kelakuan para kafir, sungguh dengannyalah Nusantara bernapas. Sesungguhnya ia tetap mulia. Sesungguhnya ia selalu terjaga.

“Sesungguhnya  Kami-lah yang  menurunkan  Al-quran,  dan sesungguhnya Kami benar-benar  memeliharanya.” (Al Hijr: 9)

.

Tulisan ini juga dimuat di  <a href=”https://www.islampos.com/al-quran-dan-napas-nusantara-313223/&#8221; target=”_blank”>https://www.islampos.com/al-quran-dan-napas-nusantara-313223/</a&gt; dengan judul yang berbeda

.

Salam Santun 🙂

Blog at WordPress.com.

Up ↑