5 Pilar Menuju Menang

Berangkat dari pinta keseharian kita, “Ihdinash shiraathal mustaqiim”. Ya Rabb, tunjukkanlah jalan lurus itu.

Manusia terkadang lupa. Ia meminta, namun masih bertanya hakikat apa yang diminta. Ia berharap, tapi tak mengerti upaya apa agar mampu meraih harapannya. Ia mengaku cinta, sayang tidak mengenal siapa dan apa yang dicintainya, bahkan bingung bagaimana mengungkapkan cintanya.

Dari sini Allah menjelaskan pada ayat selanjutnya, “Shiraathal ladziina an’amta ‘alihim”. Yaitu jalan yang Engkau beri nikmat kepadanya. Siapa? Berkata Al Maraghi dalam tafsirnya, “Adalah para Nabi, shiddiqiin, dan shalihin yang terdiri dari umat terdahulu”.

Lalu kita mencoba meneropong, apa sebenarnya yang dilakukan para pendahulu sehingga Allah menjadikan satu ayat doa bagi kita, agar senantiasa meminta petunjuk jejak mereka?

Kemudian langkah bertanya-tanya, ke mana ia akan menapakkan kakinya demi menjaga keutuhan agama ini? Bagaimana ia harus berjalan menjemput janji kemenangan, sedang di sekeliling bertabur duri fitnah di mana-mana?

Berikut lima garis besar yang semoga bisa menjadi awal gerbang kita menyongsong kembali kegemilangan.

1. Tetaplah Belajar
Allah tidak begitu saja memerintahkan Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam mengemban risalah ini. Melainkan ada Jibril yang senantiasa mengajarkan. Begitu pula pada Musa yang terpandang ilmunya, masih Allah hadirkan Khidir menemani perjalanan Musa untuk belajar dan bersabar.

Lihatlah kembali bagaimana Allah memuji para ahli ilmu dengan menyusul penyebutannya setelah persaksian Allah, “Allah menyatakan bahwa tidak ada Rabb selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada Rabb selain Dia, Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.

Ada banyak ilmu dasar untuk memahami agama ini. Sayang kita mungkin masih belum tertarik mempelajarinya, bahkan membaca saja enggan. Mengira pelajaran yang bersangkutan dengan Islam itu terlalu serius, menghadiri kajian khawatir dianggap ikutan aliran macam-macam oleh tetangga. Kita terkadang sukanya instan, tanya sama ustad atau googling ketika ada perkara. Tidak masalah, sebetulnya. Namun yang demikian seharusnya menjadi penunjang saja.

Sedang kita upayakan ‘tuk rutin membaca dan menggali ilmu-ilmu pokok dari kajian, kampus, atau orang-orang terpercaya kita. Bagaimana kita bisa menjaga Islam jika enggan mendalami ajaran-ajaran darinya? Bagaimana ia kerap mulia jika bertubi-tubi tuduhan, kita tak mampu membenahinya.

2. Tetaplah Berdakwah
Inilah tugas utama para rasul. Inilah jalan mereka. Ibrahim, Nuh, Musa, Isa, Muhammad, semua terkisah cerita perjuangan dakwahnya dalam Al Qur’an.

Ya Rabb, sesungguhnya aku telah menyeru (mendakwahkan) kaumku malam dan siang.” (QS. Nuh: 5)

Alih-alih siang-malam, kita seringkali terlalu asik dengan aktifitas keseharian di siang hari. Dan ketika malam tiba, daya sudah tak kuasa. Berawal dari sini, ada baiknya kita coba meraba, adakah aktifitas keseharian berpengaruh untuk kebaikan agama? Apakah waktu-waktu kita berjalan dengan menghadirkan manfaat untuk umat, atau berleha-leha saja menjalani nasib apa adanya? Kita boleh mencoba menyisihkan beberapa jam untuk mengerahkan pikiran atau tenaga kita kepada permasalahan umat.

Mengikuti rapat kecil-kecilan di Mushola atau Masjid terdekat, misalnya. Atau menyampaikan sepatah dua patah kalimat kepada anak, suami/istri, sahabat yang mengandung nasihat.

3. Tetaplah pada Jalur Iqomatuddin
Agama ini sudah kokoh, sebenarnya. Hanya kita sebagai penganut belum pandai menjaga, sehingga ketika gelombang syubhat menenggelamkannya, yang terlihat dari permukaan adalah bengkok.

Ada tiga hal yang mengantarkan kita pada jalur ini. Pertama, rapatkan barisan dalam jama’ah. Kita tahu, Allah mengecualikan orang-orang yang tidak merugi adalah mereka yang saling menasihati pada kebenaran dan kesabaran. Bagaimana hal itu bisa dilakukan jika kita tidak berjamaah?

Kalau bingung harus berafiliasi ke jama’ah mana, maka melangkah ke cara kedua, bergabunglah dengan aktifitas sosial. Karena dengan terjun ke sosial, setiap hari akan ada waktu-waktu yang kita habiskan untuk kepedulian, kemanfaatan, dan kebaikan-kebaikan lainnya.

Jika untuk beraktifitas sudah terbilang sulit. Sudah tidak sekuat masa muda, misalnya. Maka berangkat ketiga atau jalan terakhir, yaitu mendoakan dengan setulus-ikhlas doa. Ini ajaib. Orang yang begitu mengimani bahwa Allah Maha Mengijabahi, Penolong, apalagi mampu merasakan kenyamanan lahir batin dalam sujud, sesungguhnya ia telah menemukan kebahagiaan hakiki. Berapa banyak, doa-doa orang sholih serta air matanya yang tumpah di keheningan malam, mampu membuka pintu-pintu kemenangan? Kita butuh jiwa-jiwa ikhlas.

4. Tetaplah Bekerja
Jika dengan belajar kita menggali makna, maka dengan bekerja kita berkarya nyata. Allah telah menganjurkan dalam ayat-Nya, “Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (QS. Al Jumu’ah: 10)

Yang menjadi masalah, terkadang kita tidak perhatian terhadap hasil apa dari pekerjaan kita, sebagaimana nubuwwahnya shallallahu ‘alaihi was sallam,

“Akan datang kepada manusia suatu zaman di mana seseorang tidak peduli apa yang dia ambil, apakah dari hasil yang halal atau yang haram.” (HR. Al-Bukhari dan An-Nasa’i)

Kemudian Allah berfirman, “Dan makanlah dari apa yang telah diberikan Allah kepadamu sebagai rezeki yang halal dan baik, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (QS. Al Maidah: 88)

Sebab dalam kesungguhan mencari nafkah, ada kemuliaan nan kehormatan di dalamnya. Dan dalam rezeki yang halal lagi baik, ada keberkahan meliputinya.

5. Menjadi Teladan dalam Keluarga
Sebagaimana kisah Ya’qub dalam Al Qur’an, di penghujung hidupnya, Ya’qub menyempatkan diri bertanya kepada putra-putranya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?

Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Rabb-mu dan Rabb nenek moyangmu Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Rabb Yang Maha Esa dan kami (hanya) berserah diri kepada-Nya.” (QS. Al Baqoroh: 133)

Dikatakan dalam tafsir Al Maraghi, maksud Ya’qub bertanya ini ialah membaiat anak-anaknya agar mereka tetap teguh pada pendiriannya di dalam Islam, ajaran tauhid dan segala perbuatan hanya karena Allah serta mengharap ridho-Nya.

Lalu mengapa di sana anak-anak Ya’qub menjawabnya dengan rentetan nama para pendahulu mereka? Kenapa tidak cukup saja mengatakan, “Kami menyembah Allah dan kami berserah diri kepada-Nya”?

Inilah teladan dari sisi keluarga yang dicontohkan para Nabi. Bagaimana Ibrahim berhasil menjadi teladan bagi Ismail dan Ishak, bagaimana Ya’qub menjadi panutan bagi putra-putranya. Pada ayat ini juga menjelaskan bahwa agama Allah itu tetap satu. Dalam ajaran Nabi mana pun, intinya adalah tauhid.

Pada keseharian bisa kita perhatikan, mana anak yang berkata, “ Ustadz, kata Ayahku begini dan begitu” lebih menyenangkan ketimbang anak-anak yang berkata kepada Ibunya, “Tapi kata Ustadzahku begini dan begitu”. Mau menjadi yang mana? Hehe.

Maka keluarga adalah umat terkecil yang perlu kita jaga keselamatannya. Semoga dari baiknya keluarga, berkembang pula kepada saudara, tetangga, hingga bagaimana Allah melimpahkan rahmat-Nya atas kemenangan.

Setelah sama-sama mengingat lima langkah apa saja yang (semoga) mengantar kita pada shiraathal mustaqiim, kita kembali kepada penggalan surat Al Fatihah. Tentu kita berharap agar Allah teguhkan kaki-kaki kita menelusuri jalan tersebut. Menuntun tapaknya agar tak berbelok, menguatkan pijaknya agar atsar yang ditinggalkan menuai manfaat sebanyak-banyaknya.

Mungkin ini pula, mengapa Allah ajarkan kalimat “ihdina” yang berarti “berilah kami petunjuk/hidayah”. Bukan “allimna”, atau “arrifna” yang berarti “ajarkanlah kepada kami”.

Sebab sebagaimana yang dicantumkan dalam tafsir, hidayah juga berupa ma’unah (pertolongan) dan taufiiq, artinya kekuatan yang memotivasi berbuat kebaikan. Maa syaaAllah.

Maka yang kita pinta setiap harinya itu bukan sekadar meminta kearifan atau petunjuk. Tapi juga kekuatan agar senantiasa berbuat kebaikan sesuai petunjuk.

Semoga benang-benang upaya kita berada dalam rajutan yang diridhoi-Nya. Sehingga mewujud bendera yang ‘kan kita kibarkan sesuai janji-Nya; menang.

Note: catatan ini terisnspirasi dari gagasan yang disampaikan pada Kajian Akhir Zaman, dengan penambahan yang sekiranya perlu dari penulis. Allahu ta’aala a’lam bish showab. Astaghfirullaha wa atuubu ilaih.
Salam perjuangan,

|| Jakarta, 290417

Pesan Cinta untukmu, Perempuan

Artikel ini didedikasikan untuk semua muslimah single di dunia. 


Berawal dari beberapa fenomena di zaman ini, yang mana tak jarang kita temukan “kekhawatiran” perempuan akan calon pendamping yang tak kunjung datang. Ya, ada masa di mana pikiran dan hati terus bertanya-tanya, kapan, siapa, seperti apa, bagaimana, dan kegundahan lain yang kerap menyapa. Lalu seketika berbagai kritikan menimpali,

.
“Kamu tidak perlu seorang pria untuk menjadi bahagia!” 

“Bagaimana bisa kamu merasa kesepian? Kamu memiliki keluarga yang penuh kasih sayang dan banyak teman.”

“Berhenti terobsesi tentang pernikahan! Fokus pada diri sendiri dan karir kamu!”

.
Sebagian perempuan mungkin merasa benar dengan opini di atas dan mengubur kembali kekhawatiran tersebut. Namun tak dipungkiri juga bahwa sebagian besar justru merasa tidak terdukung. Apalagi sifat malu yang membalut kepribadian perempuan. Ia tentu malu untuk meminta (meski pada dasarnya tidak masalah) terlebih dahulu ibadah mulia satu ini.

Dari sini, ada baiknya kita memahami perasaan. Menyudut mengoreksi  yang ada. Apakah ia salah? Adakah hadirnya merupa kesiapan, atau sekadar ingin menyudahi masa sendiri dan berharap lari dari tanggung jawab yang ada dengan menikah? 

.
Memahami Kasih Sayang dan Rahmat dalam Islam
Tidak ada yang salah ketika kita rindu memulai sebuah keluarga. Sebagaimana kita berkaca pada kehidupan Nabi Adam ‘alaihis salam yang kala itu berada di surga. Surga, di mana semuanya sempurna; tidak ada kesedihan, kemiskinan, sakit, semua yang kita minta, ada. Lalu, apa yang kemudian Allah ciptakan untuk Adam? Saudara, anak, atau teman bermain? Ternyata Allah menghadirkan sosok perempuan untuk Adam. 

.
Dari awal, Allah menyusun kehidupan manusia dengan kisah romantis. Bagaimana saling melengkapi dan mendapatkan kesempurnaan, bagaimana saling mengasihi dan menghadirkan kebahagiaan, bagaimana saling mempercayai dan melahirkan ketenangan.


“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mau berpikir.” [QS. 30:21].

Ternyata kehadiran lawan yang  kemudian membuat kita berarti. Seperti dingin yang terasa maknanya ketika kita merasakan panas. Putih yang terlihat jelas ketika kita berada dalam hitam gelap. Kita perlu siswa untuk merasa bagaimana menjadi guru. Kita perlu kesedihan untuk menghargai momen bahagia. Anak yang mampu membuat kita merasa seorang ibu, dan laki-laki yang bisa membuat kita merasa seorang wanita. Fakta psikologis berkata demikian. Pun logika menerima rasa butuh akan lawan itu. Dan harusnya teori ini mampu menolak pandangan kaum feminis yang mendewakan perempuan tapi hakikatknya menjauhkan perempuan dari fitrah kewanitaan itu sendiri.

.
Kita semua perlu memiliki pendamping untuk melengkapi kehidupan kita, seseorang yang mencintai dan membuat kita merasa dicintai dan dilindungi, seseorang untuk memulai sebuah keluarga. Sebagaimana Allah menciptakan kita secara berpasangan, dan itu merupakan kebutuhan dasar yang indah. Mahabijak Allah dalam penciptaan-Nya, bukan? Kerinduan untuk menikah dan memiliki anak tidak lantas membuat wanita terbelakang,  lumpuh, bodoh atau putus asa, melainkan itu membuatnya menjadi seorang wanita.

.
Betapa banyak gadis yang memiliki orang tua, teman, dan karier, namun masih merasa hampa. Merasa kesepian namun sulit mengakuinya. Hal yang seperti ini lambat laun menjadikan wanita takut, kehilangan identitas, dan depresi. Jadi sudah waktunya untuk mencoba tenang dan katakan pada diri sendiri, “Masa depan kita akan baik-baik saja dengan senantiasa merencanakan yang baik pula”.

.

 
Apakah Menikah Sebagai Pelarian dari Penderitaan & Kesepian?
Jangan salah, kadang kita merasa kesepian ketika kita tidak sedang sendiri. Kadang pula ada kebahagiaan dan harapan untuk kembali menjadi gadis. Ada banyak perempuan di luar sana yang ingin beralih posisi ke masa sebelum menikah, mendapatkan kembali kesempatan untuk memperbaiki diri dan memoles kepribadian.  Atau setidaknya memiliki kontribusi untuk melawan penderitaan dan kesepian tersebut. Baik bagi diri sendiri pun orang lain. Dengan demikian, jiwa akan terlatih untuk menghadapi tantangan-tantangan di masa datang.

.
Menikah memang membahagiakan. Bahkan bahagianya tidak hanya berhenti pada pasangan yang merayakannya. Namun bukan hal yang tepat ketika kita menjadikan menikah solusi permasalahan hidup. Apalagi jika kita mengkhayal kehidupan berumah tangga seperti akhir pada dongeng-dongeng; dan mereka hidup bahagia selama-lamanya.

.
Menikah adalah tentang kesiapan menerima kekurangan. Karena bagaimanapun, manusia tidak senantiasa lepas dari kealpaan. Maka yang terpenting bukan hanya mengharap pasangan begini dan begitu, tapi juga persiapan bagaimana jika pasangan begini dan begitu. Toh, menikah merupakan satu pintu menuju ridho Allah. Jika kita mengawalinya dengan niat bukan karena-Nya, bagaimana pintu itu terbuka?

.
Permasalahan apa pun, coba diatasi terlebih dahulu. Pusing skripsi, bosan kuliah, lelah mengerjakan tugas-tugas harian, mengerjar mimpi yang semakin dikejar semakin menjauh, komunikasi dengan orang tua yang sering berujung ketidaksepakatan, masa depan yang masih samar, berbagai kesulitan, harusnya kita bisa melaluinya terlebih dahulu sebelum beranjak kepada tingkat yang lebih tinggi yang sepaket dengan ujian-ujiannya. 

.
Seperti pepatah Arab, “Siapa yang tidak memiliki, tidak bisa memberikan”. Kita tidak pernah bisa mencintai dan merawat orang lain jika kita tidak mencintai dan merawat diri kita terlebih dahulu. Bagaimana bisa membantu keluarga menyelesaikan persoalan jika untuk sekarang saja kita putus asa? Bagaimana kita berharap keindahan dan kedamaian di keluarga kelak, sedang kita tidak membawa kedamaian itu dari kita sendiri? 

.
Belajar Cara Memegang Kunci Kebahagiaan
Sudah menikah atau belum, menempatkan kunci kebahagiaan kita di saku orang lain tidak tampak seperti ide yang cerdas, bukan? Kita tidak bisa bergantung pada suami, atau bahkan daging dan darah kita sendiri (baik itu orang tua, saudara atau anak-anak) untuk membuat kita bahagia.
Jelas sudah Allah berfirman,

.
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” [QS. 14:7]



Mungkin itulah inti dari masalah; kita biasa memiliki pandangan “Jika saya memiliki ini, saya akan senang”. Bagaimana jika kita balik, “Jika saya senang, saya akan memiliki ini”? 

.
Bagaimanapun orang-orang terkasih kita berada di sisi, bagaimanapun mereka menghadirkan kebahagiaan kita, tetap sejatinya tidak ada yang benar-benar bisa membuat kita bahagia kecuali diri kita sendiri; ketika kita memiliki sikap indah terima kasih kepada Allah, Rabb segalanya. 

.
Kita mencari kebahagiaan di langit, padahal langit tidak memiliki ujung. Kita ingin seperti dia yang memiki pasangan seperti ini. Kita mau pasangan kita bisa ini itu. Kenapa yang datang kepada saya dia? Dia tidak lebih baik dari yang saya harapkan, dan perbandingan-perbandingan lainnya. Maka menyelamlah ke lautan, karena ia memiliki dasar. Tengoklah apa yang kita dapati berupa nikmat-nikmat Allah. Dan temukanlah bahwa kita sudah mempunyai segalanya.

.
Syukur, akan kesempatan yang masih Allah bentangkan agar kita senantiasa mempersiapkan bekal menuju hari esok, entah pernikahan, ataupun kematian. Syukur, akan kesempatan berkeluarga yang Allah anugerahkan, tak lain agar kita kerap meninggikan cinta dan amal sholih kepada-Nya lebih semangat lagi.

 
Maka di penghujung tulisan ini, saya mengajak para perempuan di mana pun berada, jika kekhawatiran menghampiri, mari coba pahamkan diri sendiri dengan apa yang telah tersampaikan di atas. Memulai dari memahami fitrah perasaan wanita dalam mencintai dan merindu. Lalu beranjak pada pemahaman tujuan mengapa kekhawatiran itu datang, kemudian berakhir pada kebahagiaan yang mampu kita hadirkan dengan mensyukuri nikmat Allah yang melimpah atas apa pun peran kita sebagai perempuan. Salam hangat.

Note: artikel ini diambil dari tulisan berjudul All The Single Ladies: An Exclusive Love Talk For You dengan penerjemahan bebas ala penulis, dan beberapa poin-poin tambahan secukupnya.

Jakarta Merindu Hikmah 

Ini tentang kebermanfaatan yang sempurna. Bermanfaat yang meluas. Bermanfaat yang menoreh ketenangan.  Bermanfaat yang melahirkan kebaikan-kebaikan lagi setelahnya. Bahwa di sekitar kita banyak perihal yang tidak sempurna perannya kecuali dengan adanya hal yang lain.

Penyair Persia, Ibn al-Muqoffa’ pernah menyampaikan, tidaklah akal itu bermanfaat tanpa adanya wara‘ (ketakutan akan dosa), keindahan tanpa kenikmatan, nasab tanpa adab, kesenangan tanpa rasa aman, kaya tanpa berderma, kemuliaan tanpa penundukan sikap, dan kesungguhan tanpa adanya pertolongan Allah. 

Seorang yang dianugerahkan akal cemerlang, namun berbuat tanpa Ihsan, bagaimana manfaat? Keindahan lampu-lampu malam Jakarta, namun membias oleh padat lalu lintas dan lelah yang tak jarang menimbulkan emosi, bagaimana elok? Keturunan Pejabat Negara, namun enggan pada kebenaran serta meremehkan sesama, bagaimana hormat? 

Membangun sarana hiburan tapi menghimpit tanah sekitar, bagaimana tenang? Menaikkan gaji atasan tapi membatasi lapangan kerja pedagang jalanan, bagaimana adil? Pemimpin wilayah, namun berbuat sesuka kata tanpa santun, bagaimana agung? Upaya-upaya sterilisasi tindakan kriminal tapi mendakwa ahli ilmu yang justru rujukan masyarakat, bagaimana selamat? 

Jakarta merindu hikmah; merindu akan cerdas yang berlandas ketaqwaan. Merindu sikap yang bekerja dengan sabar dan keikhlasan. 

Dalam catatannya, Dr. Hamid Fahmi menjelaskan bagaimana filosof terdahulu menjabarkan makna hikmah. Bahwa ia, adalah bagaimana meletakkan sesuatu pada tempatnya. Ia dalah ilmu tentang segala sesuatu, sifat-sifatnya, kekhususannya, hukum-hukumnya, hubungan sebab-akibat dan mengamalkan sesuai yang dibutuhkan. Orang yang memiliki hikmah atau hakim, masih pada penjelasannya, adalah yang perbuatannya dapat dipertanggungjawabkan; kerjanya tekun, perkataannya benar, moralnya baik, pendapatnya betul, amalnya bersih dan ilmunya benar. 

Sehingga disimpulkan dengan perkataan al-Ghazali, ialah jiwa yang memiliki kekuatan mengontrol dirinya sendiri (tamakkun) dalam soal keimanan, akhlak dan dalam berbicara. Jika kekuatan ini terbentuk maka akan diperoleh buah dari hikmah, sebab hikmah itu adalah inti dari akhlak mulia. 

Jakarta merindu hikmah; merindu akan persatuan yang tak pernah luput dari sejarah saat memadu kesetiaan cinta akan Kalam suci-Nya. Merindu akan kemajuan praja lagi bahagia warganya. Merindu akan sila keempat, “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawarahan/perwakilan”.

Merindu akan firman, “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar. Mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS.32:24)

|| Jakarta, 050217 

Perjanjian Hudaibiyah dan Peran Perempuan

Perjanjian Hudaibiyah adalah perjanjian antara Muslim Madinah dengan Musyrikin Makkah (Quraisy). Saat itu, tepatnya di tahun ke enam setelah hijrah atau 628 M, kaum muslimin hendak melaksanakan thawaf di Baitullah Al-Haram. Bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam sekitar 1400 orang dan 70 ekor unta yang dijadikan sebagai hadyu (hewan yang disembelih dalam rangka ibadah haji atau umrah). Namun di pertengahan jalan, Quraisy menghalang-halangi Rasulullah beserta sahabatnya untuk masuk ke Makkah. Melihat demikian, Rasulullah bernegosiasi dan tertulis lah Perjanjian Hudaibiyah yang isinya:

  1. Gencatan senjata antara Makkah dan Madinah selama 10 tahun
  2. Warga Makkah yang menyebrang ke Madinah tanpa izin walinya harus dikembalikan ke Makkah
  3. Warga Madinah yang menyebrang ke Makkah tidak boleh kembali ke Madinah
  4. Warga selain Makkah dan Madinah dibebaskan memilih untuk berpihak ke Makkah atau Madinah
  5. Pada saat itu, Rasulullah dan pengikutnya harus meninggalkan Mekah, namun diperbolehkan kembali lagi ke Mekah setahun setelah perjanjian itu, dan akan dipersilahkan tinggal selama 3 hari dengan syarat hanya membawa pedang dalam sarungnya (maksudnya membawa pedang hanya untuk berjaga- jaga, bukan digunakan untuk menyerang)

Singkat kisah, bila kita melihat isi Perjanjian Hudaibiyah, keberuntungan lebih berpihak kepada Quraisy sedang Muslimin kala itu dibiarkan tidak berangkat thawaf. Saat itu, setelah Rasulullah menandatangani perjanjian, Rasulullah memerintahkan para sahabatnya untuk menyembelih hadyu sebagai pengganti kewajiban haji yang ditinggalkan dan bertahalul dari ihram mereka.

Akan tetapi semangat Diin para sahabat masih menyala hebat dalam diri. Perjanjian menghalangi mereka dari thawaf ke Baitullah. Kerinduan dan semangat itu memudarkan penglihatan mereka akan hikmah di balik perjanjian ini; yakni bagaimana Allah menjadikan perjanjian ini isyarat kemenangan Islam dan pembebasan kota Makkah. Melihat para sahabat yang tidak melaksanakan perintahnya, Rasulullah masuk ke tenda menemui istri beliau, Ummu Salamah.

Ummu Salamah paham bagaimana kondisi Rasulullah yang selama ia diutus, tidak ada sahabat yang tidak mendengarkan apa yang beliau perintahkan. Dan kali itu, kesabaran Rasulullah diuji dengan sikap sahabat-sahabatnya. Bukan sebab bangkang atas titah Rasulullah, tetapi dari sini tercermin bagaimana iman akan kebenaran Islam yang mereka yakini menancap kuat di jiwa mereka.

“Wahai Rasulullah,” sapa Ummu Salamah, “janganlah engkau menyalahkan mereka, perjanjian itu begitu besar menghujam sanubari mereka. Mereka keberatan dengan perjanjian itu dan keberatan juga kembali pulang ke Madinah tanpa memasuki Makkah sama sekali,”

“Wahai Nabi Allah, keluarlah, jangan bicara kepada seorang pun di antara mereka, lalu sembelih lah binatang hadyu-mu, serta cukurlah rambutmu,” usul Ummu Salamah. Rasulullah pun melaksanakan saran Ummu Salamah, lantas kaum muslimin bergegas mengikuti beliau. Mereka menyembelih binatang hadyu dan mencukur rambut mereka.

Melihat kejadian ini, teringat akan hadits Nabi dalam riwayat Bukhori dan Muslim, Rasulullah bersabda,

مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَغلَبُ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ. فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا نُقْصَانُ عَقْلِهَا؟ قاَلَ: أَلَيْسَتْ شَهَادَةُ الْمَرْأَتَيْنِ بِشَهَادَةِ رَجُلٍ؟ قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا نُقصَانُ دِينِهَا؟ قَالَ: أَلَيْسَتْ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ

“Aku tidak pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya paling bisa mengalahkan akal lelaki yang kokoh daripada salah seorang kalian (kaum wanita).” Maka ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa maksudnya kurang akalnya wanita?” Beliau menjawab, “Bukankah persaksian dua orang wanita sama dengan persaksian seorang lelaki?” Ditanyakan lagi, “Ya Rasulullah, apa maksudnya wanita kurang agamanya?” “Bukankah bila si wanita haid ia tidak shalat dan tidak pula puasa?”, jawab beliau. (Muttafaqun ‘alaih, HR. Bukhari no. 1462 dan Muslim no. 79)

Sebagian kalangan menganggap hadist tersebut mengandung penghinaan terhadap perempuan. Akan tetapi sejatinya justru hadist itu menjelaskan kepada kita kepribadian perempuan dari sudut pandang penciptaannya. Perempuan biasanya dikuasai perasaan. Ini bukan lah suatu aib. Melainkan keadaan khas yang sesuai dengan fungsinya dalam kehidupan. Perempuan cenderung mencurahkan kasih sayang dan empati ketimbang mengeksplorasi otak dan kecerdasan akalnya. Bisa dilihat dari upaya-upaya kesehariannya, misal tulisannya, perempuan lebih suka membahas perasaan daripada teori atau hukum suatu ilmu. Perempuan punya potensi besar untuk mengusap keletihan dan kesedihan anggota keluarganya. Semua tugas yang tidak bisa dikerjakan sempurna dengan kecerdasan akal tetapi hanya bisa dituntaskan dengan perasaan.

Dan sejarah Perjanjian Hudaibiyah turut mengabarkan, jika kecerdasan akal Ummu Salamah dianggap kurang (artinya akalnya tidak dapat berpikir secara sempurna), niscaya Rasulullah tidak menerima sarannya dalam urusan yang sedemikian berat dan krusial.

Dengan demikian, kurang akal dalam hadist itu memiliki makna bahwa perempuan mengerjakan banyak hal yang akal tak mampu melakukannya, karena ia mengerjakannya dengan perasaan. Andaikata perasaan perempuan tidak lebih kuat daripada akalnya, mungkin ia tidak akan sanggup berjaga sepanjang malam ketika anaknya sakit. Andaikata perasaan perempuan tidak lebih kuat daripada akalnya, mungkin ia takkan mampu bertahan menanggung hidup bersama suami dan anak-anaknya kala ujian menerpa, belum lagi memanggul ‘beban’ mendidik anak dengan segala kesulitannya.

Maka dari kisah Ummu Salamah di Perjanjian Hudaibiyah, kita mengerti, ada peran perempuan cerdas di dalamnya. Menenangkan, memenangkan, menunjukkan, dan mempertahankan.

Pada akhirnya, kita terus meminta petunjuk pada Allah atas segala karunia-Nya yang tak pernah habis. Dalam penciptaan langit-bumi nya, siang-malam nya, susah-mudah nya, pria-perempuan nya, dengan segenap hikmah yang menjadi penambah iman pada-Nya.

Allahu ta’aala a’lam.

Sepanjang usia ini, cukup banyak perempuan yang saya temukan memiliki minat mendalami kepenulisan. Kenalan, kawan nyata pun maya, saudara, keluarga, sampai menunjuk ke saya sendiri. Pula ketika menghadiri workshop serta agenda semisalnya yang membahas dunia literasi, tak jarang didapati jumlah peserta perempuan lebih banyak dibanding laki-laki. Di samping kenyataan ini, saya bertanya-tanya, mengapa selama itu pula beberapa mereka saya temukan mati di tengah jalan? Lagi-lagi, pertanyaan ini sebagai tamparan untuk pribadi. 

Sudah menjadi tabiat perempuan mencintai kata-kata. Perasaannya yang ‘aneh’ seringkali menuntun agar menumpahkan apa-apa yang dirasa cukup melalui dua cara; menulis dan menangis. Ya, perempuan terbiasa menulis untuk mencari kebahagiaannya, ketenangannya, dan hampir sering menulis untuk menemukan solusi permasalahannya. Di samping fakta ini, saya bertanya-tanya, mengapa justru yang tampil sebagai penulis lebih banyak laki-laki? Di Indonesia saja bisa diperhatikan, siapa-siapa yang menguasai pekerjaan mulia satu ini.

Hal ini, (sebagaimana tulisan Mas Ma’mun yang pernah saya share) bukan masalah tidak bagusnya tulisan perempuan. Bagus atau tidaknya tulisan sangat subjektif di mata pembaca. Bahkan, tulisan guyon saja memiliki power tersendiri. Lalu apa demikian?

Sensitivitas yang terlalu tinggi. Ya, persoalan perempuan untuk bertahan di dunia kepenulisan ini adalah tentang bagaimana ia menghadapi kritikan (yang sudah pasti) menjadi bumbu-bumbu kehidupan. Benar, perempuan lebih mudah ‘jatuh’ menghadapi jawaban-jawaban atas upayanya. Baru mencoba menulis artikel yang menghabiskan waktu berjam-jam, setelah di-publish, beragam kritikan datang, atau bisa jadi tak ada penghargaan sekecil pun. Hati perempuan mana yang tidak khawatir? :’)

Di sisi lain, perempuan memiliki rasa malu yang lebih anggun dibanding laki-laki. Menulis, tapi tidak untuk di-publish. Padahal disebut penulis ketika sebuah tulisan dibaca. Dan banyak perempuan yang memilih untuk menjadi penulis bagi dirinya sendiri.

Maka banyak perempuan yang kemudian hilang dari permukaan, mengendur pula syiar kebaikan dan peradaban gemilang pelan-pelan memudar. Sebab sebagian manusia cenderung menerima pesan-pesan kebaikan melalui curahan hati perempuan. Contoh kisah yang belum lama ini dimuat oleh salah seorang jurnalis perempuan tentang keadaan keluarga aktivis yang dikriminalisasi. Tidak lama kemudian, pesan pribadi berdatangan mewakili keterharuan dan menghibahkan hartanya. 

Juga, seimbangnya peradaban adalah tugas dua insan; laki-laki dan perempuan. Allah memberikan kewajiban sesuai tabiat masing-masing lantas memudahkan jalannya. Maka tidak heran jika kemudian kita butuh pengetahuan dari sudut pandang perempuan, bukan?

Dengan demikikan, peran perempuan dalam dunia literasi tidak lagi diragukan. Jangankan teori yang ia pahami, perasaannya saja mampu cukup baik teraba dan menjadi sebuah gagasan. Apa pun latar belakang, kesempatan membangun karya bisa saja terwujud.

Kembali pada buah pikir yang disampaikan Mas Ma’mun, bahwa perempuan juga lebih memiliki ketelitian, ketekunan, dan kerapian yang seringkali melebihi laki-laki. Artinya ketika mampu mendobrak rasa mudah ‘jatuh’, akan lebih banyak manfaat yang tersebar dengan rangkaian kata-kata. Semoga. 

Oleh sebab itu langkah paling penting bagi perempuan untuk menjadi penulis bukanlah belajar menulis, tapi menyingkirkan rasa khawatir dan membangun rasa percaya diri yang kuat. 

Mari sama-sama terus perbarui tekad. 🙂
Allahumma a’innaa ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatika. 

Ibnu Jauzi pernah berkata dunia itu bagai bayangan. Tak akan bisa kita menggapainya ketika kita mengejarnya. Sebaliknya, saat badan ini berbalik, lihatlah apa yang terjadi; bayangan yang akan terus mengikuti kita. Setia.

.

Begitu juga dengan kehidupan ini. Kala tujuan kita berbatas hanya sukses di dunia, yakinlah tak ada sesempurna bahagia yang terasa. Hampa. Saya pribadi pernah merasakannya. Ketika kesibukan dunia memalingkan kita dari mengingat Allah, apa yang terjadi?

.

Menyakitkan! Bayangkan saja, sehari penuh berhadapan dengan hp atau laptop, mengejar deadline ini dan itu. Berupaya memberikan terbaik untuk partner kerja dan lain-lain. Berusaha agar sebaik kerja terhasil adanya. 

.

Dan apa yang terjadi? Yang saya dapati hanyalah kesulitan dan kesulitan. Kalaupun segala aktivitas yang lancar, itu tidak menyenangkan. Ya, tidak menyenangkan karena saya tidak melibatkan Allah di dalamnya. Alih-alih lebih dekat dengan-Nya. Malah menjauh selangkah demi selangkah. Padahal jelas sudah tertera dalam Al Qur’an, ketika kita menjadikan Allah satu-satunya tempat meminta pertolongan, maka semuanya beres. Namun ketika Allah kita tinggalkan. Maka rasakan saja kesepianmu!

.

Menampar sekalii! 😥

.

Yakinlah saat kita menjadikan Allah tempat berpulang, tak ada hal yang sia. Tak ada kerja yang biasa. Tak ada lelah yang lemah. Tak ada tindak selain Allah ridhoi segala langkah. Semoga. 

.

Ya, ketika Allah menjadi satu tujuan kita, maka semua yang ada di dunia ini tunduk. Bahkan malaikat turut mendoa atas kebaikan kita. Lalu mengapa ragu? Maka biarkan dunia yang mengikut kita. 

.

Maka mulai malam ini, jam ini, detik ini, mari luruskan kembali jalan hidup kita. Mari menata kembali hati yang lama berserak pentingkan nilai-nilai dunia. Mari kembali nyalakan pelita iman nan ihsan, agar terang gelap fitnah kehidupan yang menggoda. Agar damai jiwa ini dalam penitiannya yang sementara.

.

Selipkan doa keselamatan untuk sesama. Terkhusus untuk diri ini; yang tiada daya tanpa doa rekan-rekan semua.

.

Apalah arti iman bila tak berpendar pada sekitar. Apalah arti sholih bila tak merekat pada sahabat dan kerabat.

.

Semoga Allah tunjukkan pada kita kebenaran, benar. Dan kebathilan, bathil. Serta menguatkan kita tuk berbuat kala tahu benar, dan menjauh kala tahu salah.

.

Salam santun. 🙂

‘Amm Ramadhan 

​“Aku mau baju koko itu, Bu!”

.

“Tunggu Ramadhan datang, ya, Nak,”

.

Wajah Kholid seketika murung. Sang ibu tak pernah penuhi permintaannya membeli apa pun. Koko, sarung, manisan, bahkan es cendol di pinggir jalan tidak dibelikan. Jawaban ibu selalu sama, ‘tunggu Ramadhan, ya’.

.

Dari luar pasar, Kholid memandangi teman-teman seusianya menggenggam es krim, coklat, permen jumbo. Ada juga yang menangis menunjuk-nunjuk toko permainan. Demi mendiamkan si anak, sang ibu menggendongnya lantas masuk ke toko tersebut.

.

Anak berusia lima tahun itu tidak pernah menangis agar keinginannya tercapai. Yang dia tahu hanya sabar menunggu Ramadhan dan menuruti apa kata sang ibu.

.

***

.

“’Am Ramadhan! ‘Am Ramadhan …!”

.

Kholid tersentak mendengar seruan tersebut, ‘Ramadhan?’. Segera ia berlari ke arah suara bersumber.

.

“Saya hampir lupa di mana memarkir mobil. Terimakasih sudah dipanggil.” Lelaki bertubuh besar terlihat menenteng banyak bawaan. Hendak menghampiri supir dan mobilnya.

.

“Apa Tuan yang bernama Ramadhan?” Tiba-tiba suara Kholid bertanya seraya menarik pelan gamis lelaki besar itu.

.

“Iya, saya Ramadhan. Ada apa, Nak?”

.

“Aku dan ibu menunggumu lama, Tuan. Setiap kali aku minta dibelikan sesuatu, ibu selalu berkata tunggu Ramadhan datang. Apa Tuan di sini untuk menemuiku?” tanya Kholid lugu.

.

“Maa syaa Allah … di mana rumahmu, Nak?”

.

“Tepat di samping pasar, Tuan.” Masih dengan bahagia yang tak bisa disembunyikan, Kholid tersenyum rekah.

.

“Kalau begitu, ambil semua barang ini, Nak. Semoga kau suka. Sampai jumpa lain waktu.” Sambil mengelus kepala Kholid, lelaki bergamis itu membalas senyumnya.

.

Berkali-kali Kholid mengucapkan terimakasih atas kehadiran dan pemberian ‘Am Ramadhan. Ia terus melambai seiring mobil menjauh.

.

***

.

“Ibu … ibu …!”

.

“Ada apa, Nak, teriak-teriak? Maa syaa Allah, kamu dapat barang sebanyak itu dari mana?”

.

“Aku bertemu ‘Am Ramadhan di pasar, Bu. Aku cerita, udah menunggunya lama. Lalu dia memberikan semua ini padaku. ‘Am Ramadhan baik, ya, Bu!” 

.

“…”

.

Note: kisah ini terinspirasi dari kisah Arab dalam kitab Fahmul Masmuu’ 

Laki-laki itu Kusebut Fajar

​Syahdu – meneduh gelisah pecinta malam. Menyudahi kelam angan yang berpanjang sesakkan harap berselimut ragu. Kaubangkit bersama alunan ajak, melawan lelap fana ‘tuk hadapi gigil tantang seutama abdi.

.

Gemericik tutur mengundang segenap hati bersihkan nurani – membasuh pikir bahwa jarak, ialah bukti perlindungan cinta pada hakikinya; Tuhan. Itu pandangmu.

.

Demi menghadap khusyuk melaku perintah yang tak lain kepasrahan batin adukan segala damba, kaurela mendingin kaku pada alir kesendirian – mencahya ridho-Nya – menjaga cinta di kebenaran sucinya; fitrah.

.

Sunyi – menepi damaikan resahan cinta. Kau tahu, itu membiarkan pekat rindu menggempita pada loka hati yang terus menjerit! Namun selalu saja katamu, “Biarkan aku menyekap rintih rasa ini. Memilih sudut penyendirian ialah sehening sepi. Berharap dedoa kalbu tenang mengadu. Tersinggah di sisi-Nya.”

.

Kau, lagi-lagi tiada ragu tinggalkan ramai pemuja cinta. Membela damai kesunyian – membukti adanya upaya luhurkan rasa. Indah.

.

“Aku mencinta,” kisahmu di beberapa tempo, “aku merindu …,” lanjutmu meyakinkan ungkap manusiawi itu. Lekas kausambut pengakuan dengan sesujud pertanggungjawaban. Meluruh hati pinta toleh kuasa-Nya. Memburu perhatian kala waktu berkabar Ia turun dari singgasana.

.

Hangat – ya, segundah hasrat basahi ujung sajadahmu. Sedebar degub terdekap – mengusap dasar sanubari. Sungguh mewujud kasih-Nya, merengkuh jiwajiwa pejuang cinta ‘tuk semulia cinta.

.

Bias cahya kian meraba lelangit asa. Moga hari memihakmu dengan segala berkah. Cerah bahagia menjangkah duga yang kauterka sebelumnya; gapai sakinah, mawadah dan rahmah.

.

|| Jakarta, 030115 

​“After reading Musa and Shafura’s love story though, I learned to love my husband for the right reason; for his supports, his strengths, and his sense of responsibility for the sake of Allah. After ten years, he still makes my heart flutter.

.

Potongan ungkap seorang wanita bernama Hena Zuberi yang saya baca dari blog nya ini, kembali mengingatkan akan secercah ingin; menulis ajar kisah cinta Musa dan Shafura.

.

Hal ini berangkat dari bahagianya hati ketika mendengar atau membaca keutamaan Al Qur’an. Di dalamnya ada kisah-kisah menyentuh dasar akal dan sanubari. Menjadi titik terang dalam gulita, penentram dalam hampa. Pun beranjak pula dari banyaknya persoalan cinta dari yang membutakan sampai yang menyadarkan.

.

Bila Hena Zuberi merasa kisah Musa dan Shafura sebagai pembaik cinta dan pandangnya terhadap pasangan, moga coretan sederhana ini mampu mengajak sahabat semua kembali menyelami hati, adakah ia sedang terkubur rasa pada seseorang? Lalu bagaimana agar harap yang tertanam tak tumbuh menjulang lebihi rindangnya cinta pada Yang menaungi cinta?

.

***

.

Lihatlah pada kisah Shafura dan saudarinya yang keluar rumah demi mengembala hewan ternak. Mereka melakukan itu sebab ayahnya sudah lagi tak mampu mengembala. Usia sang ayah yang berlanjut tua mengundang simpati kedua bersaudara ini, bahwa mereka harus mengambil alih pekerjaannya.

.

Jikalah hati terpaut pada seorang, coba sejenak mengingat orang tua, adakah cukup rasa cinta kita pada mereka sehingga hadir sosok yang lebih mengundang hati mengaguminya dibanding mengharukan perjuangan orang tua kita? 

.

Shafura berjumpa Musa dalam ketaatannya pada Rabb, kepatuhannya pada orang tua untuk mengembala, maka alangkah indah bila bertemu jodoh ketika diri diridhoi orang tua yang juga ridho Ilahi, toh itu ‘kan memudahkan kita yakinkan orang tua kalau dialah jawaban istikharah selama ini, hehe.

.

Lihatlah pada kisah Musa menolong kedua bersaudara itu meminumkan hewan ternaknya. Dalam kondisi lelah lagi haus, Musa tetap meringankan tangannya. 

.

Hal ini bukan seperti anak muda zaman sekarang yang mengahampiri perempuan dengan beribu modusnya, menawarkan goncengan, mengajak kenalan dan sebagianya. Tapi memanglah pribadi Musa yang tumbuh di kerajaan, telah mendidiknya setangguh panglima perang, sepeduli pengorbanan ratu pada putra mahkotanya, dan sebijak-lembut hati penasehat raja.Maka tanpa kenal siapa kedua gadis yang terlihat kesulitan itu, yang Musa paham hanya menolongnya selagi mampu.Pertemuan yang indah, bukan?

.

Jikalah hati tertuju pada seorang, terus perbaiki pribadi. Sebaik Musa mempersiapkan dirinya pada ketangguhan, kepedulian, dan kebijakan hadapi berbagai persoalan hidup. Hingga nantinya, tidak hanya dia yang kita cintai sebagai pelengkap kita, tapi kita pun jadi penyempurnanya.

.

Lihatlah pada kisah Shafura yang berjalan malu menghampiri Musa ‘tuk sampaikan pesan sang ayah; bahwa dirinya diminta ke rumah. 

.

Malu, menjadi sifat perempuan yang menginginkan dirinya tetap dalam kebaikan. “Al Hayaau,” begitu sabda Nabi dalam riwayat Muslim, “khoirun kulluhu”. Malu itu baik. Baik di kesemuanya.

.

Dengan malu, seorang wanita mampu menundukkan hatinya. Dengan malu, seorang wanita bisa merendahkan suaranya. Dengan malu, wanita pasti menutup auratnya. Dengan malu, wanita tak akan berani menjalin keakraban pada lelaki yang bukan sesiapanya.

.

Dengan malu, wanita yang jatuh cinta ‘kan cukupkan doa sebagai ungkap rindu harapnya. Dengan malu pula ia meminta pada Allah diberi sebaik lelaki pilihan-Nya. Bahkan masih dengan malu, ia sembunyikan debar kejut-haru kala pria baik mendatangi walinya.

.

Lihatlah pada kisah Musa meminta Shafura berjalan di belakangnya. Padahal Musa tidak tahu menahu arah jalan menuju rumah ayah Shafura. Demi menjaga pandangan dari terjerumusnya, pun dari sikap Musa kita memahami, bahwa ada ajar tanggung jawab lelaki untuk melindungi wanita. 

.

Bagaimanapun, laki-laki lah yang memimpin. Dalam kepengurusan, rumah tangga, sampai pada perjalanan pun demikian. Maka cukup bagi Musa meminta Shafura melemparkan kerikil dari belakang ‘tuk mengabarkan ke arah mana menuju rumahnya. 

.

Mengenai pandangan, “Ketahuilah,” kabar Ibnu Al Jauzi dalam kitabnya Ahkaamun Nisaa, “bahwa cinta itu berawal dari pandangan mata yang dituruti.

.

Jikalah hati mencintai seorang, cobalah tundukkan pandangan dari segala yang mengingatnya. Benarkah rasa itu mewujud fitrah yang Allah titipkan, atau semata fitnah pada rupa, harta, dan kelebihan lainnya? Cobalah khusyukkan hati sepasrah diri kembalikan harap, benarkah ingin membersamainya sebaik tuju menggapai ridho Allah, atau sebatas pengisi sepi yang berlanjut tiada pasti?

.

Dari kisah indah Musa dan Shafura, tersimpan makna agar cinta kita terjaga. Agar bagaimana berlaku pada lawan jenis dengan adab Islam yang tentram lagi memudahkan. 

.

Dari kisah cinta Musa dan Shafura, kita simak bahasa kasih sayang Allah kepada hamba-hamba yang saling mencintai karena-Nya.

.

Sangat berlapang hati kiranya sahabat memberi kritik dan masukan atas dasar pikir saya yang masih faqir ini. Allahu ta’aala a’lam. Billahi taufiiq wal hidaayah, astaghfirullaha ‘adziim. 

.

|| Jakarta, 211115

Blog at WordPress.com.

Up ↑