Veteran Ramadhan? 

Satu yang perlu kita sadari dari perjumpaan dengan Ramadhan adalah, suasana sekitar yang mendukung.

Seorang ustad bertutur bagaimana awal Ramadhan ia lalui di seberang benua. Sangat berbeda dengan di Tanah Air, begitu pendapatnya. Jika di sini kita menemukan masjid-masjid berlomba menyuguhkan agenda spesial, bahkan jauh-jauh  hari sudah mengadakan penyambutan Ramadhan, maka di luar sana (jika tidak bergabung dengan komunitas muslim) belum tentu kita mendapatkan atmosfer tersebut.

Lalu bagaimana bentuk syukur kita akan nikmat aman dan pesona ini?

Kegiatan rutin harusnya membuat kita semakin mahir. Seperti mengendarai sepeda, makin sering berlatih maka semakin pandai kita menggunakannya.

Menemui kembali Ramadhan, harusnya membuat kualitas diri terus lebih baik dari Ramadhan-Ramadhan sebelumnya. Jika sewaktu SD yang kita tahu Ramadhan sebatas puasa, buka bersama di TPA, atau meminta tanda tangan penceramah sebakda tarawih, maka berbeda dengan Ramadhan di pandangan remaja pun dewasa.

Ramadhan adalah pendekatan diri, pembersihan hati, dan pengembangan pribadi tuk menjadi lebih baik lagi. Bulan yang satu-satunya disebut dalam Al Qur’an. Bulan diturunkannya (permulaan) petunjuk mulia, Bulan disatukannya hati-hati yang percaya.

Maka kita temukan firman Allah,

Dan apabila hamba-hamba-ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.

Pada ayat ini Allah menggunakan kata “Aku”. Di mana banyak ayat kita tahu, Allah menyebut diri-Nya dengan nama-Nya atau “Dia”. Sebegitu akrab Ia terhadap hamba-Nya.

Semoga Allah senantiasa tuntun kita menjaga amalan yang Ia cinta di bulan ini. Dan menganugerahkan kita pada hakikat dekat. Hingga bertahun-tahun berjumpa Ramadhan, ada penambahan-penambahan imani yang diberkahi.

Allahu ta’aalaa a’lam.

Mohon maaf lahir dan batin. Selamat menunaikan ibadah puasa dan mereguk keberkahannya.

|| Jakarta, 270517

Advertisements

Khadijah tak pernah tau, apa yang akan Allah hadirkan untuknya setelah mimpi matahari jatuh di langit Makkah dan bertahta di rumahnya. Saudah juga tak pernah menyangka, apa yang akan Allah datangkan sebagai pengganti kesedihannya atas kesyahidan sang suami, Sakran ibn Amr. Aisyah tak pernah mampu menerka, bagaimana ia akan melewati masa remaja dan dewasanya.

Terkadang jiwa tak pandai memompa langkah-langkah menuju cita agar semangat. Pun tak cakap melapangkan hati kala mimpi belum bertepi. Padahal sunnatullah, belum tentu apa yang kita rencanakan berjalan sesuai. Sebagaimana yang disampaikan Mutanabi dalam syair-nya, kapal yang berlayar, tak menjadikan ia selamat dari badai hingga harus berbelok arah bahkan terbentur karang.

Ini tentang kekhawatiran, kawan. Tentang kekhawatiran yang belum berujung. Tentang masa depan yang melambai, sayang mata dan hati terlalu takut untuk melihat.

Bukan hanya perihal jodoh, tapi juga bagaimana keluarga beserta keturunan menjadi sebenar penyejuk mata dan satu jalan mencapai ridho-Nya. Bukan hanya perihal lolos melanjutkan kuliah atau tidak, tapi juga kelayakan sebagai hamba yang diridhoi faqih dalam agamanya. Bukan hanya perihal tercapai mimpi atau malah semakin jauh, tapi tentang akankah masih ada yang bisa disumbangsihkan? Menjadi bermanfaat bagi sesama?

Menyiapkan hati untuk esok. Mungkin menjadi satu langkah agar ia berani menatap masa depan. Menyiapkan hati berarti bersiap atas resiko yang akan terjadi. Bersiap menghadapi kesukaran-kesukaran yang mungkin dihadapi. Dan tentunya, bersiap meyakini ketentuan Allah yang terbaik.

Memang belum tersingkap siapa pelengkap usia kelak. Dan bukan tugas diri menerka apalagi jika hati ikut-ikutan memaksa. Melainkan siapkan hati untuk esok; menjernihkannya dari segala rasa serta lapang atas pilihan Allah semata.

Memang belum terbukti bagaimana nasib perjalanan menuntut ilmu di sebuah lembaga. Dan bukan tugas diri berputus asa apalagi jika hati turut berburuk sangka. Melainkan siapkan hati untuk esok; terus berupaya merajuk damba serta mulai jadikan ilmu napas keseharian, bukan musiman.

Memang belum tercapai segala cita dan mimpi. Dan bukan tugas diri menyalahkan kondisi apalagi jika hati memandang sekitar dengan iri. Melainkan siapkan hati untuk esok; aturlah kembali tahap-tahap pencapaian serta perbarui i’tikad, mungkin selama ini belum bertuju pada akhir-Nya.

Wahai hati yang khawatir. Jadikan rasa resah itu perenungan agar engkau bertambah harap, cinta dan takut pada Pemilik jiwa dan hidup ini.

“Saya meminta sesuatu kepada Allah, jika Allah mengabulkan, saya gembira sekali. Jika Allah tidak mengabulkan, saya gembira sepuluh kali lipat. Sebab yang pertama pilihan saya, dan kedua pilihan Allah.” (Ali ibn Abi Thalib)

|| Jakarta, 190117

Peran yang Tak Boleh Hilang

Bismillah.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Atas kasih sayang-Nya, kita dikuatkan berada dalam barisan perjuangan ini. Atas petunjuk-Nya, kita sampai di penghujung pertanggungjawaban dunia. Dan atas luas rahmat-Nya, kita senantiasa mengharapkan berkah dari setiap jejak langkah.

Sholawat dan salam kepada Rasul Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, penggerak dakwah Islam, pendidik generasi gemilang, serta pemilik kerinduan terdalam akan kebaikan umatnya.

Jika kita mengibaratkan perjuangan ini seperti kesatuan pasukan, maka peran Ali ibn Abi Thalib dalam perang Khaibar menjadi satu inspirasi kita. Pembawa panji Islam. Yang mana kibarannya adalah pertanda umat Islam masih berjuang. Sebanyak apa pun tetesan darah menjemput kesyahidan, sepelik apa pun medan pertempuran, ia harus tetap bertahan.

Demikian pula yang terjadi pada Mush’ab ibn Umair di Uhud. Ketika musuh menghampiri dan menebas tangan Mush’ab, ia raih bendera itu dengan tangan kirinya. Lalu ditebas lagi. Sehingga pangkal tangan yang tersisa berupaya mendekap erat bendera di dada.

Pada dasarnya, menjaga kemuliaan Islam adalah tugas kita bersama. Membawanya ke dalam diri masing-masing adalah amanah di mana pun kita berada. Apa pun aktivitas, bagaimanapun “tipe” langkah kita, pesan kemuliaan itu tak boleh sirna.

Ah, bahkan hal ini bukan lagi tugas kita. Melainkan kebutuhan dan rasa kepemilikan kita. Ketika butuh dan memiliki menjadi satu dalam wadah cinta, maka yang hadir adalah pengorbanan dan penjagaan.

Maka lihatlah bagaimana Abdullah ibn Ummi Maktum yang dalam “keterbatasan”nya, “Tempatkan saya di antara dua barisan sebagai pembawa bendera. Saya akan memegang erat-erat untuk kalian. Saya buta, karena itu saya tidak akan lari.

Dan dari sini, terucap terima kasih kepada seluruh pasukan atas kerja samanya menggenggam peran ini. Ketika tangan tak kuasa membawa, lalu kita bergantian. Ketika rintangan terus menghampiri, lalu kita saling memekikkan takbir, mengibarkan keteguhan.

Terima kasih atas peran-peran yang telah dimaksimalkan. Tidak ada pencapaian yang usai tanpa kesabaran. Tidak ada persaudaraan yang berjalan baik-baik saja tanpa rangkaian kepercayaan.

Semoga Allah menganugerahkan kita sebagai pembuka kemenangan. Selayak Al Fatih, sebagaimana harapan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- ketika mencari Ali, “Besok akan kuserahkan bendera perang kepada seseorang yang Allah dan Rasul-Nya mencintai dan dia pun mencintai Allah dan Rasul-Nya. Allah akan memenangkan kaum muslimin melalui tangannya.”

Pada akhirnya kita memahami, masa jabatan bisa saja diakhiri, tapi perjuangan tak akan pernah berhenti.

Note: tulisan ini saya rangkai sebagai muqoddimah Laporan Pertanggungjawaban Dept. Kajian & Training LDK Al Fatih. Tak ada harapan menaruhnya di sini (dengan beberapa tambahan), melainkan semoga ada manfaat dan semangatnya, serta bisa dirasakan kita semua. Terima kasih.
Salam bawa perubahan!
Dept. Kajian & Training 16/17

5 Pilar Menuju Menang

Berangkat dari pinta keseharian kita, “Ihdinash shiraathal mustaqiim”. Ya Rabb, tunjukkanlah jalan lurus itu.

Manusia terkadang lupa. Ia meminta, namun masih bertanya hakikat apa yang diminta. Ia berharap, tapi tak mengerti upaya apa agar mampu meraih harapannya. Ia mengaku cinta, sayang tidak mengenal siapa dan apa yang dicintainya, bahkan bingung bagaimana mengungkapkan cintanya.

Dari sini Allah menjelaskan pada ayat selanjutnya, “Shiraathal ladziina an’amta ‘alihim”. Yaitu jalan yang Engkau beri nikmat kepadanya. Siapa? Berkata Al Maraghi dalam tafsirnya, “Adalah para Nabi, shiddiqiin, dan shalihin yang terdiri dari umat terdahulu”.

Lalu kita mencoba meneropong, apa sebenarnya yang dilakukan para pendahulu sehingga Allah menjadikan satu ayat doa bagi kita, agar senantiasa meminta petunjuk jejak mereka?

Kemudian langkah bertanya-tanya, ke mana ia akan menapakkan kakinya demi menjaga keutuhan agama ini? Bagaimana ia harus berjalan menjemput janji kemenangan, sedang di sekeliling bertabur duri fitnah di mana-mana?

Berikut lima garis besar yang semoga bisa menjadi awal gerbang kita menyongsong kembali kegemilangan.

1. Tetaplah Belajar
Allah tidak begitu saja memerintahkan Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam mengemban risalah ini. Melainkan ada Jibril yang senantiasa mengajarkan. Begitu pula pada Musa yang terpandang ilmunya, masih Allah hadirkan Khidir menemani perjalanan Musa untuk belajar dan bersabar.

Lihatlah kembali bagaimana Allah memuji para ahli ilmu dengan menyusul penyebutannya setelah persaksian Allah, “Allah menyatakan bahwa tidak ada Rabb selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada Rabb selain Dia, Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.

Ada banyak ilmu dasar untuk memahami agama ini. Sayang kita mungkin masih belum tertarik mempelajarinya, bahkan membaca saja enggan. Mengira pelajaran yang bersangkutan dengan Islam itu terlalu serius, menghadiri kajian khawatir dianggap ikutan aliran macam-macam oleh tetangga. Kita terkadang sukanya instan, tanya sama ustad atau googling ketika ada perkara. Tidak masalah, sebetulnya. Namun yang demikian seharusnya menjadi penunjang saja.

Sedang kita upayakan ‘tuk rutin membaca dan menggali ilmu-ilmu pokok dari kajian, kampus, atau orang-orang terpercaya kita. Bagaimana kita bisa menjaga Islam jika enggan mendalami ajaran-ajaran darinya? Bagaimana ia kerap mulia jika bertubi-tubi tuduhan, kita tak mampu membenahinya.

2. Tetaplah Berdakwah
Inilah tugas utama para rasul. Inilah jalan mereka. Ibrahim, Nuh, Musa, Isa, Muhammad, semua terkisah cerita perjuangan dakwahnya dalam Al Qur’an.

Ya Rabb, sesungguhnya aku telah menyeru (mendakwahkan) kaumku malam dan siang.” (QS. Nuh: 5)

Alih-alih siang-malam, kita seringkali terlalu asik dengan aktifitas keseharian di siang hari. Dan ketika malam tiba, daya sudah tak kuasa. Berawal dari sini, ada baiknya kita coba meraba, adakah aktifitas keseharian berpengaruh untuk kebaikan agama? Apakah waktu-waktu kita berjalan dengan menghadirkan manfaat untuk umat, atau berleha-leha saja menjalani nasib apa adanya? Kita boleh mencoba menyisihkan beberapa jam untuk mengerahkan pikiran atau tenaga kita kepada permasalahan umat.

Mengikuti rapat kecil-kecilan di Mushola atau Masjid terdekat, misalnya. Atau menyampaikan sepatah dua patah kalimat kepada anak, suami/istri, sahabat yang mengandung nasihat.

3. Tetaplah pada Jalur Iqomatuddin
Agama ini sudah kokoh, sebenarnya. Hanya kita sebagai penganut belum pandai menjaga, sehingga ketika gelombang syubhat menenggelamkannya, yang terlihat dari permukaan adalah bengkok.

Ada tiga hal yang mengantarkan kita pada jalur ini. Pertama, rapatkan barisan dalam jama’ah. Kita tahu, Allah mengecualikan orang-orang yang tidak merugi adalah mereka yang saling menasihati pada kebenaran dan kesabaran. Bagaimana hal itu bisa dilakukan jika kita tidak berjamaah?

Kalau bingung harus berafiliasi ke jama’ah mana, maka melangkah ke cara kedua, bergabunglah dengan aktifitas sosial. Karena dengan terjun ke sosial, setiap hari akan ada waktu-waktu yang kita habiskan untuk kepedulian, kemanfaatan, dan kebaikan-kebaikan lainnya.

Jika untuk beraktifitas sudah terbilang sulit. Sudah tidak sekuat masa muda, misalnya. Maka berangkat ketiga atau jalan terakhir, yaitu mendoakan dengan setulus-ikhlas doa. Ini ajaib. Orang yang begitu mengimani bahwa Allah Maha Mengijabahi, Penolong, apalagi mampu merasakan kenyamanan lahir batin dalam sujud, sesungguhnya ia telah menemukan kebahagiaan hakiki. Berapa banyak, doa-doa orang sholih serta air matanya yang tumpah di keheningan malam, mampu membuka pintu-pintu kemenangan? Kita butuh jiwa-jiwa ikhlas.

4. Tetaplah Bekerja
Jika dengan belajar kita menggali makna, maka dengan bekerja kita berkarya nyata. Allah telah menganjurkan dalam ayat-Nya, “Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (QS. Al Jumu’ah: 10)

Yang menjadi masalah, terkadang kita tidak perhatian terhadap hasil apa dari pekerjaan kita, sebagaimana nubuwwahnya shallallahu ‘alaihi was sallam,

“Akan datang kepada manusia suatu zaman di mana seseorang tidak peduli apa yang dia ambil, apakah dari hasil yang halal atau yang haram.” (HR. Al-Bukhari dan An-Nasa’i)

Kemudian Allah berfirman, “Dan makanlah dari apa yang telah diberikan Allah kepadamu sebagai rezeki yang halal dan baik, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (QS. Al Maidah: 88)

Sebab dalam kesungguhan mencari nafkah, ada kemuliaan nan kehormatan di dalamnya. Dan dalam rezeki yang halal lagi baik, ada keberkahan meliputinya.

5. Menjadi Teladan dalam Keluarga
Sebagaimana kisah Ya’qub dalam Al Qur’an, di penghujung hidupnya, Ya’qub menyempatkan diri bertanya kepada putra-putranya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?

Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Rabb-mu dan Rabb nenek moyangmu Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Rabb Yang Maha Esa dan kami (hanya) berserah diri kepada-Nya.” (QS. Al Baqoroh: 133)

Dikatakan dalam tafsir Al Maraghi, maksud Ya’qub bertanya ini ialah membaiat anak-anaknya agar mereka tetap teguh pada pendiriannya di dalam Islam, ajaran tauhid dan segala perbuatan hanya karena Allah serta mengharap ridho-Nya.

Lalu mengapa di sana anak-anak Ya’qub menjawabnya dengan rentetan nama para pendahulu mereka? Kenapa tidak cukup saja mengatakan, “Kami menyembah Allah dan kami berserah diri kepada-Nya”?

Inilah teladan dari sisi keluarga yang dicontohkan para Nabi. Bagaimana Ibrahim berhasil menjadi teladan bagi Ismail dan Ishak, bagaimana Ya’qub menjadi panutan bagi putra-putranya. Pada ayat ini juga menjelaskan bahwa agama Allah itu tetap satu. Dalam ajaran Nabi mana pun, intinya adalah tauhid.

Pada keseharian bisa kita perhatikan, mana anak yang berkata, “ Ustadz, kata Ayahku begini dan begitu” lebih menyenangkan ketimbang anak-anak yang berkata kepada Ibunya, “Tapi kata Ustadzahku begini dan begitu”. Mau menjadi yang mana? Hehe.

Maka keluarga adalah umat terkecil yang perlu kita jaga keselamatannya. Semoga dari baiknya keluarga, berkembang pula kepada saudara, tetangga, hingga bagaimana Allah melimpahkan rahmat-Nya atas kemenangan.

Setelah sama-sama mengingat lima langkah apa saja yang (semoga) mengantar kita pada shiraathal mustaqiim, kita kembali kepada penggalan surat Al Fatihah. Tentu kita berharap agar Allah teguhkan kaki-kaki kita menelusuri jalan tersebut. Menuntun tapaknya agar tak berbelok, menguatkan pijaknya agar atsar yang ditinggalkan menuai manfaat sebanyak-banyaknya.

Mungkin ini pula, mengapa Allah ajarkan kalimat “ihdina” yang berarti “berilah kami petunjuk/hidayah”. Bukan “allimna”, atau “arrifna” yang berarti “ajarkanlah kepada kami”.

Sebab sebagaimana yang dicantumkan dalam tafsir, hidayah juga berupa ma’unah (pertolongan) dan taufiiq, artinya kekuatan yang memotivasi berbuat kebaikan. Maa syaaAllah.

Maka yang kita pinta setiap harinya itu bukan sekadar meminta kearifan atau petunjuk. Tapi juga kekuatan agar senantiasa berbuat kebaikan sesuai petunjuk.

Semoga benang-benang upaya kita berada dalam rajutan yang diridhoi-Nya. Sehingga mewujud bendera yang ‘kan kita kibarkan sesuai janji-Nya; menang.

Note: catatan ini terisnspirasi dari gagasan yang disampaikan pada Kajian Akhir Zaman, dengan penambahan yang sekiranya perlu dari penulis. Allahu ta’aala a’lam bish showab. Astaghfirullaha wa atuubu ilaih.
Salam perjuangan,

|| Jakarta, 290417

Pesan Cinta untukmu, Perempuan

Artikel ini didedikasikan untuk semua muslimah single di dunia. 


Berawal dari beberapa fenomena di zaman ini, yang mana tak jarang kita temukan “kekhawatiran” perempuan akan calon pendamping yang tak kunjung datang. Ya, ada masa di mana pikiran dan hati terus bertanya-tanya, kapan, siapa, seperti apa, bagaimana, dan kegundahan lain yang kerap menyapa. Lalu seketika berbagai kritikan menimpali,

.
“Kamu tidak perlu seorang pria untuk menjadi bahagia!” 

“Bagaimana bisa kamu merasa kesepian? Kamu memiliki keluarga yang penuh kasih sayang dan banyak teman.”

“Berhenti terobsesi tentang pernikahan! Fokus pada diri sendiri dan karir kamu!”

.
Sebagian perempuan mungkin merasa benar dengan opini di atas dan mengubur kembali kekhawatiran tersebut. Namun tak dipungkiri juga bahwa sebagian besar justru merasa tidak terdukung. Apalagi sifat malu yang membalut kepribadian perempuan. Ia tentu malu untuk meminta (meski pada dasarnya tidak masalah) terlebih dahulu ibadah mulia satu ini.

Dari sini, ada baiknya kita memahami perasaan. Menyudut mengoreksi  yang ada. Apakah ia salah? Adakah hadirnya merupa kesiapan, atau sekadar ingin menyudahi masa sendiri dan berharap lari dari tanggung jawab yang ada dengan menikah? 

.
Memahami Kasih Sayang dan Rahmat dalam Islam
Tidak ada yang salah ketika kita rindu memulai sebuah keluarga. Sebagaimana kita berkaca pada kehidupan Nabi Adam ‘alaihis salam yang kala itu berada di surga. Surga, di mana semuanya sempurna; tidak ada kesedihan, kemiskinan, sakit, semua yang kita minta, ada. Lalu, apa yang kemudian Allah ciptakan untuk Adam? Saudara, anak, atau teman bermain? Ternyata Allah menghadirkan sosok perempuan untuk Adam. 

.
Dari awal, Allah menyusun kehidupan manusia dengan kisah romantis. Bagaimana saling melengkapi dan mendapatkan kesempurnaan, bagaimana saling mengasihi dan menghadirkan kebahagiaan, bagaimana saling mempercayai dan melahirkan ketenangan.


“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mau berpikir.” [QS. 30:21].

Ternyata kehadiran lawan yang  kemudian membuat kita berarti. Seperti dingin yang terasa maknanya ketika kita merasakan panas. Putih yang terlihat jelas ketika kita berada dalam hitam gelap. Kita perlu siswa untuk merasa bagaimana menjadi guru. Kita perlu kesedihan untuk menghargai momen bahagia. Anak yang mampu membuat kita merasa seorang ibu, dan laki-laki yang bisa membuat kita merasa seorang wanita. Fakta psikologis berkata demikian. Pun logika menerima rasa butuh akan lawan itu. Dan harusnya teori ini mampu menolak pandangan kaum feminis yang mendewakan perempuan tapi hakikatknya menjauhkan perempuan dari fitrah kewanitaan itu sendiri.

.
Kita semua perlu memiliki pendamping untuk melengkapi kehidupan kita, seseorang yang mencintai dan membuat kita merasa dicintai dan dilindungi, seseorang untuk memulai sebuah keluarga. Sebagaimana Allah menciptakan kita secara berpasangan, dan itu merupakan kebutuhan dasar yang indah. Mahabijak Allah dalam penciptaan-Nya, bukan? Kerinduan untuk menikah dan memiliki anak tidak lantas membuat wanita terbelakang,  lumpuh, bodoh atau putus asa, melainkan itu membuatnya menjadi seorang wanita.

.
Betapa banyak gadis yang memiliki orang tua, teman, dan karier, namun masih merasa hampa. Merasa kesepian namun sulit mengakuinya. Hal yang seperti ini lambat laun menjadikan wanita takut, kehilangan identitas, dan depresi. Jadi sudah waktunya untuk mencoba tenang dan katakan pada diri sendiri, “Masa depan kita akan baik-baik saja dengan senantiasa merencanakan yang baik pula”.

.

 
Apakah Menikah Sebagai Pelarian dari Penderitaan & Kesepian?
Jangan salah, kadang kita merasa kesepian ketika kita tidak sedang sendiri. Kadang pula ada kebahagiaan dan harapan untuk kembali menjadi gadis. Ada banyak perempuan di luar sana yang ingin beralih posisi ke masa sebelum menikah, mendapatkan kembali kesempatan untuk memperbaiki diri dan memoles kepribadian.  Atau setidaknya memiliki kontribusi untuk melawan penderitaan dan kesepian tersebut. Baik bagi diri sendiri pun orang lain. Dengan demikian, jiwa akan terlatih untuk menghadapi tantangan-tantangan di masa datang.

.
Menikah memang membahagiakan. Bahkan bahagianya tidak hanya berhenti pada pasangan yang merayakannya. Namun bukan hal yang tepat ketika kita menjadikan menikah solusi permasalahan hidup. Apalagi jika kita mengkhayal kehidupan berumah tangga seperti akhir pada dongeng-dongeng; dan mereka hidup bahagia selama-lamanya.

.
Menikah adalah tentang kesiapan menerima kekurangan. Karena bagaimanapun, manusia tidak senantiasa lepas dari kealpaan. Maka yang terpenting bukan hanya mengharap pasangan begini dan begitu, tapi juga persiapan bagaimana jika pasangan begini dan begitu. Toh, menikah merupakan satu pintu menuju ridho Allah. Jika kita mengawalinya dengan niat bukan karena-Nya, bagaimana pintu itu terbuka?

.
Permasalahan apa pun, coba diatasi terlebih dahulu. Pusing skripsi, bosan kuliah, lelah mengerjakan tugas-tugas harian, mengerjar mimpi yang semakin dikejar semakin menjauh, komunikasi dengan orang tua yang sering berujung ketidaksepakatan, masa depan yang masih samar, berbagai kesulitan, harusnya kita bisa melaluinya terlebih dahulu sebelum beranjak kepada tingkat yang lebih tinggi yang sepaket dengan ujian-ujiannya. 

.
Seperti pepatah Arab, “Siapa yang tidak memiliki, tidak bisa memberikan”. Kita tidak pernah bisa mencintai dan merawat orang lain jika kita tidak mencintai dan merawat diri kita terlebih dahulu. Bagaimana bisa membantu keluarga menyelesaikan persoalan jika untuk sekarang saja kita putus asa? Bagaimana kita berharap keindahan dan kedamaian di keluarga kelak, sedang kita tidak membawa kedamaian itu dari kita sendiri? 

.
Belajar Cara Memegang Kunci Kebahagiaan
Sudah menikah atau belum, menempatkan kunci kebahagiaan kita di saku orang lain tidak tampak seperti ide yang cerdas, bukan? Kita tidak bisa bergantung pada suami, atau bahkan daging dan darah kita sendiri (baik itu orang tua, saudara atau anak-anak) untuk membuat kita bahagia.
Jelas sudah Allah berfirman,

.
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” [QS. 14:7]



Mungkin itulah inti dari masalah; kita biasa memiliki pandangan “Jika saya memiliki ini, saya akan senang”. Bagaimana jika kita balik, “Jika saya senang, saya akan memiliki ini”? 

.
Bagaimanapun orang-orang terkasih kita berada di sisi, bagaimanapun mereka menghadirkan kebahagiaan kita, tetap sejatinya tidak ada yang benar-benar bisa membuat kita bahagia kecuali diri kita sendiri; ketika kita memiliki sikap indah terima kasih kepada Allah, Rabb segalanya. 

.
Kita mencari kebahagiaan di langit, padahal langit tidak memiliki ujung. Kita ingin seperti dia yang memiki pasangan seperti ini. Kita mau pasangan kita bisa ini itu. Kenapa yang datang kepada saya dia? Dia tidak lebih baik dari yang saya harapkan, dan perbandingan-perbandingan lainnya. Maka menyelamlah ke lautan, karena ia memiliki dasar. Tengoklah apa yang kita dapati berupa nikmat-nikmat Allah. Dan temukanlah bahwa kita sudah mempunyai segalanya.

.
Syukur, akan kesempatan yang masih Allah bentangkan agar kita senantiasa mempersiapkan bekal menuju hari esok, entah pernikahan, ataupun kematian. Syukur, akan kesempatan berkeluarga yang Allah anugerahkan, tak lain agar kita kerap meninggikan cinta dan amal sholih kepada-Nya lebih semangat lagi.

 
Maka di penghujung tulisan ini, saya mengajak para perempuan di mana pun berada, jika kekhawatiran menghampiri, mari coba pahamkan diri sendiri dengan apa yang telah tersampaikan di atas. Memulai dari memahami fitrah perasaan wanita dalam mencintai dan merindu. Lalu beranjak pada pemahaman tujuan mengapa kekhawatiran itu datang, kemudian berakhir pada kebahagiaan yang mampu kita hadirkan dengan mensyukuri nikmat Allah yang melimpah atas apa pun peran kita sebagai perempuan. Salam hangat.

Note: artikel ini diambil dari tulisan berjudul All The Single Ladies: An Exclusive Love Talk For You dengan penerjemahan bebas ala penulis, dan beberapa poin-poin tambahan secukupnya.

Jakarta Merindu Hikmah 

Ini tentang kebermanfaatan yang sempurna. Bermanfaat yang meluas. Bermanfaat yang menoreh ketenangan.  Bermanfaat yang melahirkan kebaikan-kebaikan lagi setelahnya. Bahwa di sekitar kita banyak perihal yang tidak sempurna perannya kecuali dengan adanya hal yang lain.

Penyair Persia, Ibn al-Muqoffa’ pernah menyampaikan, tidaklah akal itu bermanfaat tanpa adanya wara‘ (ketakutan akan dosa), keindahan tanpa kenikmatan, nasab tanpa adab, kesenangan tanpa rasa aman, kaya tanpa berderma, kemuliaan tanpa penundukan sikap, dan kesungguhan tanpa adanya pertolongan Allah. 

Seorang yang dianugerahkan akal cemerlang, namun berbuat tanpa Ihsan, bagaimana manfaat? Keindahan lampu-lampu malam Jakarta, namun membias oleh padat lalu lintas dan lelah yang tak jarang menimbulkan emosi, bagaimana elok? Keturunan Pejabat Negara, namun enggan pada kebenaran serta meremehkan sesama, bagaimana hormat? 

Membangun sarana hiburan tapi menghimpit tanah sekitar, bagaimana tenang? Menaikkan gaji atasan tapi membatasi lapangan kerja pedagang jalanan, bagaimana adil? Pemimpin wilayah, namun berbuat sesuka kata tanpa santun, bagaimana agung? Upaya-upaya sterilisasi tindakan kriminal tapi mendakwa ahli ilmu yang justru rujukan masyarakat, bagaimana selamat? 

Jakarta merindu hikmah; merindu akan cerdas yang berlandas ketaqwaan. Merindu sikap yang bekerja dengan sabar dan keikhlasan. 

Dalam catatannya, Dr. Hamid Fahmi menjelaskan bagaimana filosof terdahulu menjabarkan makna hikmah. Bahwa ia, adalah bagaimana meletakkan sesuatu pada tempatnya. Ia dalah ilmu tentang segala sesuatu, sifat-sifatnya, kekhususannya, hukum-hukumnya, hubungan sebab-akibat dan mengamalkan sesuai yang dibutuhkan. Orang yang memiliki hikmah atau hakim, masih pada penjelasannya, adalah yang perbuatannya dapat dipertanggungjawabkan; kerjanya tekun, perkataannya benar, moralnya baik, pendapatnya betul, amalnya bersih dan ilmunya benar. 

Sehingga disimpulkan dengan perkataan al-Ghazali, ialah jiwa yang memiliki kekuatan mengontrol dirinya sendiri (tamakkun) dalam soal keimanan, akhlak dan dalam berbicara. Jika kekuatan ini terbentuk maka akan diperoleh buah dari hikmah, sebab hikmah itu adalah inti dari akhlak mulia. 

Jakarta merindu hikmah; merindu akan persatuan yang tak pernah luput dari sejarah saat memadu kesetiaan cinta akan Kalam suci-Nya. Merindu akan kemajuan praja lagi bahagia warganya. Merindu akan sila keempat, “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawarahan/perwakilan”.

Merindu akan firman, “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar. Mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS.32:24)

|| Jakarta, 050217 

Perjanjian Hudaibiyah dan Peran Perempuan

Perjanjian Hudaibiyah adalah perjanjian antara Muslim Madinah dengan Musyrikin Makkah (Quraisy). Saat itu, tepatnya di tahun ke enam setelah hijrah atau 628 M, kaum muslimin hendak melaksanakan thawaf di Baitullah Al-Haram. Bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam sekitar 1400 orang dan 70 ekor unta yang dijadikan sebagai hadyu (hewan yang disembelih dalam rangka ibadah haji atau umrah). Namun di pertengahan jalan, Quraisy menghalang-halangi Rasulullah beserta sahabatnya untuk masuk ke Makkah. Melihat demikian, Rasulullah bernegosiasi dan tertulis lah Perjanjian Hudaibiyah yang isinya:

  1. Gencatan senjata antara Makkah dan Madinah selama 10 tahun
  2. Warga Makkah yang menyebrang ke Madinah tanpa izin walinya harus dikembalikan ke Makkah
  3. Warga Madinah yang menyebrang ke Makkah tidak boleh kembali ke Madinah
  4. Warga selain Makkah dan Madinah dibebaskan memilih untuk berpihak ke Makkah atau Madinah
  5. Pada saat itu, Rasulullah dan pengikutnya harus meninggalkan Mekah, namun diperbolehkan kembali lagi ke Mekah setahun setelah perjanjian itu, dan akan dipersilahkan tinggal selama 3 hari dengan syarat hanya membawa pedang dalam sarungnya (maksudnya membawa pedang hanya untuk berjaga- jaga, bukan digunakan untuk menyerang)

Singkat kisah, bila kita melihat isi Perjanjian Hudaibiyah, keberuntungan lebih berpihak kepada Quraisy sedang Muslimin kala itu dibiarkan tidak berangkat thawaf. Saat itu, setelah Rasulullah menandatangani perjanjian, Rasulullah memerintahkan para sahabatnya untuk menyembelih hadyu sebagai pengganti kewajiban haji yang ditinggalkan dan bertahalul dari ihram mereka.

Akan tetapi semangat Diin para sahabat masih menyala hebat dalam diri. Perjanjian menghalangi mereka dari thawaf ke Baitullah. Kerinduan dan semangat itu memudarkan penglihatan mereka akan hikmah di balik perjanjian ini; yakni bagaimana Allah menjadikan perjanjian ini isyarat kemenangan Islam dan pembebasan kota Makkah. Melihat para sahabat yang tidak melaksanakan perintahnya, Rasulullah masuk ke tenda menemui istri beliau, Ummu Salamah.

Ummu Salamah paham bagaimana kondisi Rasulullah yang selama ia diutus, tidak ada sahabat yang tidak mendengarkan apa yang beliau perintahkan. Dan kali itu, kesabaran Rasulullah diuji dengan sikap sahabat-sahabatnya. Bukan sebab bangkang atas titah Rasulullah, tetapi dari sini tercermin bagaimana iman akan kebenaran Islam yang mereka yakini menancap kuat di jiwa mereka.

“Wahai Rasulullah,” sapa Ummu Salamah, “janganlah engkau menyalahkan mereka, perjanjian itu begitu besar menghujam sanubari mereka. Mereka keberatan dengan perjanjian itu dan keberatan juga kembali pulang ke Madinah tanpa memasuki Makkah sama sekali,”

“Wahai Nabi Allah, keluarlah, jangan bicara kepada seorang pun di antara mereka, lalu sembelih lah binatang hadyu-mu, serta cukurlah rambutmu,” usul Ummu Salamah. Rasulullah pun melaksanakan saran Ummu Salamah, lantas kaum muslimin bergegas mengikuti beliau. Mereka menyembelih binatang hadyu dan mencukur rambut mereka.

Melihat kejadian ini, teringat akan hadits Nabi dalam riwayat Bukhori dan Muslim, Rasulullah bersabda,

مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَغلَبُ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ. فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا نُقْصَانُ عَقْلِهَا؟ قاَلَ: أَلَيْسَتْ شَهَادَةُ الْمَرْأَتَيْنِ بِشَهَادَةِ رَجُلٍ؟ قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا نُقصَانُ دِينِهَا؟ قَالَ: أَلَيْسَتْ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ

“Aku tidak pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya paling bisa mengalahkan akal lelaki yang kokoh daripada salah seorang kalian (kaum wanita).” Maka ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa maksudnya kurang akalnya wanita?” Beliau menjawab, “Bukankah persaksian dua orang wanita sama dengan persaksian seorang lelaki?” Ditanyakan lagi, “Ya Rasulullah, apa maksudnya wanita kurang agamanya?” “Bukankah bila si wanita haid ia tidak shalat dan tidak pula puasa?”, jawab beliau. (Muttafaqun ‘alaih, HR. Bukhari no. 1462 dan Muslim no. 79)

Sebagian kalangan menganggap hadist tersebut mengandung penghinaan terhadap perempuan. Akan tetapi sejatinya justru hadist itu menjelaskan kepada kita kepribadian perempuan dari sudut pandang penciptaannya. Perempuan biasanya dikuasai perasaan. Ini bukan lah suatu aib. Melainkan keadaan khas yang sesuai dengan fungsinya dalam kehidupan. Perempuan cenderung mencurahkan kasih sayang dan empati ketimbang mengeksplorasi otak dan kecerdasan akalnya. Bisa dilihat dari upaya-upaya kesehariannya, misal tulisannya, perempuan lebih suka membahas perasaan daripada teori atau hukum suatu ilmu. Perempuan punya potensi besar untuk mengusap keletihan dan kesedihan anggota keluarganya. Semua tugas yang tidak bisa dikerjakan sempurna dengan kecerdasan akal tetapi hanya bisa dituntaskan dengan perasaan.

Dan sejarah Perjanjian Hudaibiyah turut mengabarkan, jika kecerdasan akal Ummu Salamah dianggap kurang (artinya akalnya tidak dapat berpikir secara sempurna), niscaya Rasulullah tidak menerima sarannya dalam urusan yang sedemikian berat dan krusial.

Dengan demikian, kurang akal dalam hadist itu memiliki makna bahwa perempuan mengerjakan banyak hal yang akal tak mampu melakukannya, karena ia mengerjakannya dengan perasaan. Andaikata perasaan perempuan tidak lebih kuat daripada akalnya, mungkin ia tidak akan sanggup berjaga sepanjang malam ketika anaknya sakit. Andaikata perasaan perempuan tidak lebih kuat daripada akalnya, mungkin ia takkan mampu bertahan menanggung hidup bersama suami dan anak-anaknya kala ujian menerpa, belum lagi memanggul ‘beban’ mendidik anak dengan segala kesulitannya.

Maka dari kisah Ummu Salamah di Perjanjian Hudaibiyah, kita mengerti, ada peran perempuan cerdas di dalamnya. Menenangkan, memenangkan, menunjukkan, dan mempertahankan.

Pada akhirnya, kita terus meminta petunjuk pada Allah atas segala karunia-Nya yang tak pernah habis. Dalam penciptaan langit-bumi nya, siang-malam nya, susah-mudah nya, pria-perempuan nya, dengan segenap hikmah yang menjadi penambah iman pada-Nya.

Allahu ta’aala a’lam.

Sepanjang usia ini, cukup banyak perempuan yang saya temukan memiliki minat mendalami kepenulisan. Kenalan, kawan nyata pun maya, saudara, keluarga, sampai menunjuk ke saya sendiri. Pula ketika menghadiri workshop serta agenda semisalnya yang membahas dunia literasi, tak jarang didapati jumlah peserta perempuan lebih banyak dibanding laki-laki. Di samping kenyataan ini, saya bertanya-tanya, mengapa selama itu pula beberapa mereka saya temukan mati di tengah jalan? Lagi-lagi, pertanyaan ini sebagai tamparan untuk pribadi. 

Sudah menjadi tabiat perempuan mencintai kata-kata. Perasaannya yang ‘aneh’ seringkali menuntun agar menumpahkan apa-apa yang dirasa cukup melalui dua cara; menulis dan menangis. Ya, perempuan terbiasa menulis untuk mencari kebahagiaannya, ketenangannya, dan hampir sering menulis untuk menemukan solusi permasalahannya. Di samping fakta ini, saya bertanya-tanya, mengapa justru yang tampil sebagai penulis lebih banyak laki-laki? Di Indonesia saja bisa diperhatikan, siapa-siapa yang menguasai pekerjaan mulia satu ini.

Hal ini, (sebagaimana tulisan Mas Ma’mun yang pernah saya share) bukan masalah tidak bagusnya tulisan perempuan. Bagus atau tidaknya tulisan sangat subjektif di mata pembaca. Bahkan, tulisan guyon saja memiliki power tersendiri. Lalu apa demikian?

Sensitivitas yang terlalu tinggi. Ya, persoalan perempuan untuk bertahan di dunia kepenulisan ini adalah tentang bagaimana ia menghadapi kritikan (yang sudah pasti) menjadi bumbu-bumbu kehidupan. Benar, perempuan lebih mudah ‘jatuh’ menghadapi jawaban-jawaban atas upayanya. Baru mencoba menulis artikel yang menghabiskan waktu berjam-jam, setelah di-publish, beragam kritikan datang, atau bisa jadi tak ada penghargaan sekecil pun. Hati perempuan mana yang tidak khawatir? :’)

Di sisi lain, perempuan memiliki rasa malu yang lebih anggun dibanding laki-laki. Menulis, tapi tidak untuk di-publish. Padahal disebut penulis ketika sebuah tulisan dibaca. Dan banyak perempuan yang memilih untuk menjadi penulis bagi dirinya sendiri.

Maka banyak perempuan yang kemudian hilang dari permukaan, mengendur pula syiar kebaikan dan peradaban gemilang pelan-pelan memudar. Sebab sebagian manusia cenderung menerima pesan-pesan kebaikan melalui curahan hati perempuan. Contoh kisah yang belum lama ini dimuat oleh salah seorang jurnalis perempuan tentang keadaan keluarga aktivis yang dikriminalisasi. Tidak lama kemudian, pesan pribadi berdatangan mewakili keterharuan dan menghibahkan hartanya. 

Juga, seimbangnya peradaban adalah tugas dua insan; laki-laki dan perempuan. Allah memberikan kewajiban sesuai tabiat masing-masing lantas memudahkan jalannya. Maka tidak heran jika kemudian kita butuh pengetahuan dari sudut pandang perempuan, bukan?

Dengan demikikan, peran perempuan dalam dunia literasi tidak lagi diragukan. Jangankan teori yang ia pahami, perasaannya saja mampu cukup baik teraba dan menjadi sebuah gagasan. Apa pun latar belakang, kesempatan membangun karya bisa saja terwujud.

Kembali pada buah pikir yang disampaikan Mas Ma’mun, bahwa perempuan juga lebih memiliki ketelitian, ketekunan, dan kerapian yang seringkali melebihi laki-laki. Artinya ketika mampu mendobrak rasa mudah ‘jatuh’, akan lebih banyak manfaat yang tersebar dengan rangkaian kata-kata. Semoga. 

Oleh sebab itu langkah paling penting bagi perempuan untuk menjadi penulis bukanlah belajar menulis, tapi menyingkirkan rasa khawatir dan membangun rasa percaya diri yang kuat. 

Mari sama-sama terus perbarui tekad. 🙂
Allahumma a’innaa ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatika. 

Ibnu Jauzi pernah berkata dunia itu bagai bayangan. Tak akan bisa kita menggapainya ketika kita mengejarnya. Sebaliknya, saat badan ini berbalik, lihatlah apa yang terjadi; bayangan yang akan terus mengikuti kita. Setia.

.

Begitu juga dengan kehidupan ini. Kala tujuan kita berbatas hanya sukses di dunia, yakinlah tak ada sesempurna bahagia yang terasa. Hampa. Saya pribadi pernah merasakannya. Ketika kesibukan dunia memalingkan kita dari mengingat Allah, apa yang terjadi?

.

Menyakitkan! Bayangkan saja, sehari penuh berhadapan dengan hp atau laptop, mengejar deadline ini dan itu. Berupaya memberikan terbaik untuk partner kerja dan lain-lain. Berusaha agar sebaik kerja terhasil adanya. 

.

Dan apa yang terjadi? Yang saya dapati hanyalah kesulitan dan kesulitan. Kalaupun segala aktivitas yang lancar, itu tidak menyenangkan. Ya, tidak menyenangkan karena saya tidak melibatkan Allah di dalamnya. Alih-alih lebih dekat dengan-Nya. Malah menjauh selangkah demi selangkah. Padahal jelas sudah tertera dalam Al Qur’an, ketika kita menjadikan Allah satu-satunya tempat meminta pertolongan, maka semuanya beres. Namun ketika Allah kita tinggalkan. Maka rasakan saja kesepianmu!

.

Menampar sekalii! 😥

.

Yakinlah saat kita menjadikan Allah tempat berpulang, tak ada hal yang sia. Tak ada kerja yang biasa. Tak ada lelah yang lemah. Tak ada tindak selain Allah ridhoi segala langkah. Semoga. 

.

Ya, ketika Allah menjadi satu tujuan kita, maka semua yang ada di dunia ini tunduk. Bahkan malaikat turut mendoa atas kebaikan kita. Lalu mengapa ragu? Maka biarkan dunia yang mengikut kita. 

.

Maka mulai malam ini, jam ini, detik ini, mari luruskan kembali jalan hidup kita. Mari menata kembali hati yang lama berserak pentingkan nilai-nilai dunia. Mari kembali nyalakan pelita iman nan ihsan, agar terang gelap fitnah kehidupan yang menggoda. Agar damai jiwa ini dalam penitiannya yang sementara.

.

Selipkan doa keselamatan untuk sesama. Terkhusus untuk diri ini; yang tiada daya tanpa doa rekan-rekan semua.

.

Apalah arti iman bila tak berpendar pada sekitar. Apalah arti sholih bila tak merekat pada sahabat dan kerabat.

.

Semoga Allah tunjukkan pada kita kebenaran, benar. Dan kebathilan, bathil. Serta menguatkan kita tuk berbuat kala tahu benar, dan menjauh kala tahu salah.

.

Salam santun. 🙂

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑