​The Marriage Proposal: Tips to Make the Decision Easier 

Dalam perjalanan menuju halal, kita temukan laki-laki cenderung menjemput dan perempuan menerima. Tapi keduanya tak lepas dari satu keharusan, yaitu memilih. Bagaimana seorang laki-laki bisa mantap menentukan gadis sebagai pilihannya, pun bagaimana sebagai perempuan meraba rasa “sakan” untuk menerima atau menolak. Tentu bukan pilihan yang mudah. Setidaknya ada beberapa kiat bagaimana membuat keputusan itu mudah, semoga. 

1. Pahami Niat dan Ber-istikharahlah 

Pintalah dalam keadaan sadar, tulus, dan serius. Maksudnya seperti apa? Ketika kita melihat diri telah siap, maka kita dalam keadaan sadar meminta Allah tuk hadirkan seseorang. Bukan karena bosan hidup atau hendak lari dari sebuah permasalahan. Sejatinya kita sadar, kita siap akan amanah-amanah lebih besar setelah pernikahan.

Dengan demikian kita bisa lebih tulus dan serius meminta kepada Allah. Lintasan pikiran manusia saja Allah mengetahui, maka bagaimana pahamnya Ia mendengar hamba-Nya yang benar-benar berharap.Yakinlah tak ada kata menyesal jika kita melibatkan Allah di setiap keputusan urusan hidup kita. 

2. Mengajukan Pertanyaan Cerdas 

Tanyakan bagaimana hak dan kewajiban masing-masing pasangan. Hal-hal apa yang bisa membuatnya marah dan kecewa serta bagaimana mengatasinya. Dari sini kita akan mudah memahami bagaimana calon pasangan kita memandang pembagian tugas di keluarga kelak. Apakah sejalan dengan yang kita pahami? Jika tidak, bagaimana menyelaraskannya? Kita juga bisa sedikit mengenal bagaimana ia mengontrol emosinya melalui pertanyaan tadi. 

Tidak hanya soal pribadi. Kita juga perlu menanyakan perihal pendidikan dan pola asuh anak. Bukan membahas terlalu jauh. Tapi dari sini kita juga terbantu mengenal calon pasangan kita. Secara umum saja. Setidaknya bagaimana masing-masing kita mengenal peran sebagai orang tua kelak. 

Selain pertanyaan di atas, kita boleh menanyakan hal-hal lain yang dengan melalui jawabannya, kita cukup yakin meraba apakah dia orang yang Allah kirimkan sebagai jawaban doa-doa selama ini? 

3. Menjaga Ketaqwaan di Setiap Langkah 

Bagaimana bisa menuai berkah jika menjemputnya saja kita tak menjaga nilai-nilai ketaqwaan. Apa sih, ketaqwaan itu? Dari sekian banyak penjelasan, pada intinya taqwa ialah ketika seorang muslim takut akan murka Allah. Lalu dengan cara apa ia menjaga dirinya? Ittibaa’u awaamirihi wa ijtinaabu nawaahiihi, dengan mengikuti perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. 

Apa hubungannya dengan memudahkan kita menentukan keputusan? Jika Allah ridho akan perbuatan-perbuatan (mengikuti perintah dan menjauhi larangan-Nya), lantas apa mustahil Ia mencintai kita? Bahkan jika kita datang membawa tumpukan dosa Allah masih cinta sebab taubat kita. 

Ketika kita berusaha tuk membatasi komunikasi, bersikap baik meminta izin kepada orang tua atau wali, belajar hal-hal baru mempersiapkan pribadi lebih baik lagi, menjaga diri dari kelalaian-kelalaian meski sesaat, terus mendekat kepada Allah dan melibatkan-Nya. 
Selamat memaksimalkan ketaqwaan! 

4. Jangan Memaksakan Diri

Someone can be perfect, but is not perfect for you. Sebagai manusia, kita tidak salah menentukan kriteria pasangan hidup. Justru dengan adanya kriteria bisa membantu kita mengupayakan memilih yang baik. Tapi terkadang kriteria itu menjadi harapan atau bahkan delusi. Tak sedikit kita yang patah hati, malah minder ketika harapan tak bersambut kenyataan. Maka kita perlu kembali meyakini bahwa seseorang bisa saja kita anggap sempurna, tapi dia tak sempurna untuk kita. 

Lalu muncul pertanyaan apa kita tidak sempurna (dalam maksud lain: baik), sehingga kita tak disandingkan dengan yang menurut kita baik? Kualitas baik-buruk Allahu a’lam, Allah yang bisa nilai itu. Jika memang mutlak baik dengan baik serta buruk dengan buruk maka tak ada kisah tauladan Asiyah bersanding Fir’aun dan Nuh juga Luth yang diuji pasangan hidup tak berbakti. Sedangkan maksud pesan baik dengan baik dan buruk bertemu buruk adalah satu targhib (motivasi) tuk terus berupaya menjaga diri dalam kebaikan. 

Selain dari itu, tidak memaksakan juga berarti mencukupkan apa-apa yang kita rasa. If you don’t feel comfortable or attracted to him, that’s a good enough reason to reject. Memang, perasaan  tidak nyaman atau tertariknya kita bukan kemudian menjadi standar dia bukan pasangan kita. Kita perlu berdiskusi dengan hati, orang-orang terpercaya, dan tentu menguatkan musyawarah dengan Allah. Namun jangan memaksakan diri. 

Sebagian kita mungkin merasa tidak enak menolak. Apalagi sebagai perempuan. Lalu kita memaksa menerima ketidaktertarikan itu dengan alasan tak boleh menolak pria baik. Wah, padahal salah satu pesan Nabi tuk menerima tawaran pernikahan adalah baik agamanya dan kita suka dengan kepribadiannya. Anjuran tidak menolak orang baik pun bukan ditujukan pada kita, melainkan untuk wali kita. 

Semoga kita memiliki hati-hati yang stabil tuk meraba keputusan, ya. 🙂

5. Gunakan Waktu-waktu Ini untuk Lebih Mendekatkan Diri ke Allah 

Sebagaimana poin pertama dan ketiga. Kita tak bisa melalui hari-hari ini tanpa petunjuk Allah. Pernikahan bukan urusan ringan yang cukup diikhtiarkan dengan fisik atau perasaan belaka. Tapi kesiapan spiritual, intelektual, finansial, mental, sosial, menjadi setumpuk yang kita tahu, dalam perjanjiannya saja mengguncang Arsy langit. Ini urusan berat. 

Maka begitu naif jika di masa-masa menentukan keputusan kita malah lalai dan jauh dari Allah. Jika demikian, mungkin kita perlu kembali menanyakan sebenarnya apa tujuan menikah. 

6. Senantiasa Memperbarui Niat 

Menyambung poin sebelumnya, perihal menjaga niat agar tetap-semakin baik. Di awal kita sudah menyinggung pembicaraan niat ini. Hanya saja hati tercipta dengan sifatnya yang mudah berbalik. Mungkin di tengah jalan keinginan menikah kita menjelajah ke mana-mana. Maka terus memperbarui niat semoga menjadi penjaga yang menguatkan. 

Jika sebelumnya kita cukup memiliki tujuan menikah agar menjaga kesucian, tambah niatnya. Rancang capaian yang lebih luas. 

Berkolaborasi tuk memaksimalkan manfaat bagi sekitar, menambah silaturrahim, menjadi perkembangan peradaban, dan tentunya tujuan ibadah dan lebih mendekatkan diri kepada Allah. 

Sebaliknya ketika di perjalanan kita melirik pernikahan sebagai ajang memewahkan acara, menaikkan gengsi, atau kesenangan-kesenangan yang sifatnya semu, tepis segera lirikan itu. Perbarui kembali niat-niat kita. Semoga kesenantiasaan menjaga tujuan baik menikah semakin melapangkan hati dan pandangan kita tuk menentukan keputusan terbaik. 

Demikian enam poin kiat mudah membuat keputusan. Poin-poin di atas berinduk dari satu poster Productive Muslim yang kemudian penulis kembangkan penjabarannya. I hope this will give you clarity. Semoga catatan seadanya ini cukup mencerahkan ya. Yang sesuai moga menginspirasi dan yang tidak sesuai moga tak bermasalah. 😀 

Best gratitude! 🙂

|| Jakarta, 120817 

Advertisements

Tetaplah Jelita

Setiap perempuan menyimpan kecantikannya masing-masing. Cantik yang bukan sebatas rupa. Tapi cantik yang jelitanya mampu dirasakan orang-orang sekitarnya.

Dengan optimisnya, ia redakan tangisan anak-anak pelosok pulau yang kehilangan ibu bapak, lalu mengukir tawa dan cinta untuk mereka.

Dengan sabarnya, ia menjadi perempuan pertama yang dicari ketika seorang nenek ingin bercerita, meski ceritanya berkali-kali sudah ia sampaikan. Sabar itu tetap mendengarkan.

Bersama tunduk malunya, ia simpan rasa-rasa kagum dan bangga akan keberhasilan dan kebahagiaan teman-teman seperjuangannya. Cukup doa-doa baik yang tersalurkan untuk mereka yang ia cinta.

Bersama ceria dan ungkapan-ungkapannya, ia bebincang hangat dengan saudara dan keluarganya, menjadi pelipur kala lara, menjadi pengingat kala lupa.

Dengan kepandaiannya, ia selamatkan mimpi-mimpi mereka yang hampir putus asa. Merunduk dan berbisik pelan mensyukuri pencapaian-pencapaiannya, namun bersorak bahagia memberi selamat mereka yang meraih harapannya.

Ya, setiap perempuan memiliki kecantikan masing-masing. Dan yang menjadikan ia jelita serta pesona adalah bagaimana ia menuai kebermanfaatan melalui peran-perannya.

Ia bukan berarti tak pernah jatuh. Tapi ia mampu bangun meski luka-luka menggores kehidupannya.

Ia bukan berarti tak pernah marah. Tapi kasih sayangnya yang terbilang lebih meredakan kecewa-kecewa dalam hati.

Ia bukan berarti tak pernah salah. Tapi malunya berkali-kali menegur dan mengajak diri untuk terus menginsafi lalai-lalai.

Ia bukan berarti pemilik followers dan likes terbanyak di seantero sosial media. Tapi yang pedulinya meluas menyapa mereka yang membutuhkan, hingga menghadapi realita lebih ia syukuri.

Ia juga bukan penerima sanjungan dari sana-sini. Tapi doa dan nasihat orang-orang yang tulus menyayanginya cukup menjadi penguat diri dan inspirasinya.

Ia adalah sebaik perhiasan, jika iman menjadi muara jiwanya, takwa sebagai pakaiannya, dan sholihah merupa perangai akhlaknya.

Maka bagi para perempuan, cukupkan kekhawatiran-kekhawatiran yang menghambatmu serta tetaplah jelita. Tetaplah menjalani hidup ini sepenuh syukur dan kesabaran.

|| Salam manis, 050716

Mendidik Generasi 

Semakin gigih mengejar impian, semakin sadar bahwa cara terbesar untuk meraihnya adalah menyibukkan diri untuk mendidik generasi, lebih khusus mendidik anak sendiri.


Begitu yang disampaikan Praktisi Homeschooling Kiki Barkiah.

Terutama perempuan. Dengan amanahnya mengandung, melahirkan, menyusui, juga hari-hari yang lebih banyak ia lalui bersama anak, cita-cita besar yang ia rencanakan bukan kemudian kandas begitu saja. Justru di sana ia punya kesempatan besar menggenggam tonggak peradaban, mengarahkannya pada visi dan misi yang mengantarkan ia pada cita-cita besarnya.

Apa pun profesi, amanah mendidik generasi menempatkan posisi di setiap pundak kita. Laki-laki pun perempuan. Amanah ini juga yang diemban para pendahulu kita sehingga hasilnya bisa kita rasakan sekarang. Lantas apa wajar ketika kita tidak peduli dunia pendidikan?

Mari sama-sama bangun kembali rasa ingin mewujudkan generasi yang siap menghadapi tantangan lebih berat. Yang jauh lebih cerdas dari orang tua dan gurunya. Generasi yang mampu mengenal potensi sehingga mudah mengambil peran tuk berkontribusi. Generasi yang memiliki inisiatif sehingga menjadi produktif dan solutif.

Dan tentu, semua butuh persiapan. Maka salah satu cara mengawalinya adalah, tumbuhkan rasa kepemilikan akan peran ini. Besok -in syaaAllah-, kita akan menjadi orang tua. Yang akan ditanya, yang akan dipercaya, yang akan dipertimbangkan saran dan masukannya.

Daripada tebar pesona dan janji-janji tak pasti, lebih baik tekuni potensi dan urus segala kebutuhan pribadi bahkan membantu orang tua. Daripada mengukur-ngukur kriteria pasangan idaman dan menaruh hati di sana-sini, lebih baik pelajari bagaimana menjadi orang tua yang apik, mencetak generasi yang baik.

Menjadi generasi Ismail yang sabar dan membantu Ayahnya Ibrahim taat kepada Allah. Merupa generasi anak-anak Ya’qub yang mewarisi ilmu-ideologi Ayahnya. Mengikuti jejak keempat pejuang yang Khansa binti Amr bahkan memotivasi putra-putranya untuk berada di barisan depan membela kebenaran dan keadilan.

|| Jakarta, 310517

10 Tips Ramadhan Produktif 

1. Miliki niat tulus dan siap beramal lebih banyak. Teruslah berdoa agar kita (benar-benar) sampai pada Ramadhan serta keberkahannya

2. Susun rencana di setiap malam. Pilih tiga tugas terpenting yang ingin kita capai di hari esoknya

3. Jangan pernah ketinggalan sahur. Bangunlah (setidaknya) satu-dua jam sebelum fajar. Pastikan energi kita terisi dan seimbang

4. Mulai kerjakan tugas prioritas setelah fajar. Setidaknya, minimal satu atau dua pekerjaan sudah kita selesaikan

5. Cobalah istirahat siang (qailulah) tidak lebih dari 20 menit. Bisa sebelum atau setelah dzuhur

6. Untuk agenda prioritas yang bersifat rutin, buatlah pelaksanaannya mengikuti jadwal sholat. Menambah hapalan, misalnya. Rencanakan setiap habis sholat kita tambah dua ayat

7. Jangan lupa, tetap berikan waktu spesial untuk membaca Al Qur’an dan memahami artinya

8. Jangan juga kehilangan kesempatan saling menasihati dan tolong menolong dalam kebaikan. Jika melihat teman sekolah, kuliah, atau di kantor yang belum mahir baca Al Qur’an, diajak belajar bersama

9. Buka puasa secukupnya, bersegera sholat maghrib, makan, dan jangan ketinggalan tarawih, ya! 🙂

10. Berikan lebih banyak shodaqoh dari hari-hari biasanya

Catatan ini diterjemahkan dari artikel productivmuslim.com dengan penambahan seperlunya. Teman-teman ada tambahan tips? Boleh komen ya. 🙂

Veteran Ramadhan? 

Satu yang perlu kita sadari dari perjumpaan dengan Ramadhan adalah, suasana sekitar yang mendukung.

Seorang ustad bertutur bagaimana awal Ramadhan ia lalui di seberang benua. Sangat berbeda dengan di Tanah Air, begitu pendapatnya. Jika di sini kita menemukan masjid-masjid berlomba menyuguhkan agenda spesial, bahkan jauh-jauh  hari sudah mengadakan penyambutan Ramadhan, maka di luar sana (jika tidak bergabung dengan komunitas muslim) belum tentu kita mendapatkan atmosfer tersebut.

Lalu bagaimana bentuk syukur kita akan nikmat aman dan pesona ini?

Kegiatan rutin harusnya membuat kita semakin mahir. Seperti mengendarai sepeda, makin sering berlatih maka semakin pandai kita menggunakannya.

Menemui kembali Ramadhan, harusnya membuat kualitas diri terus lebih baik dari Ramadhan-Ramadhan sebelumnya. Jika sewaktu SD yang kita tahu Ramadhan sebatas puasa, buka bersama di TPA, atau meminta tanda tangan penceramah sebakda tarawih, maka berbeda dengan Ramadhan di pandangan remaja pun dewasa.

Ramadhan adalah pendekatan diri, pembersihan hati, dan pengembangan pribadi tuk menjadi lebih baik lagi. Bulan yang satu-satunya disebut dalam Al Qur’an. Bulan diturunkannya (permulaan) petunjuk mulia, Bulan disatukannya hati-hati yang percaya.

Maka kita temukan firman Allah,

Dan apabila hamba-hamba-ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.

Pada ayat ini Allah menggunakan kata “Aku”. Di mana banyak ayat kita tahu, Allah menyebut diri-Nya dengan nama-Nya atau “Dia”. Sebegitu akrab Ia terhadap hamba-Nya.

Semoga Allah senantiasa tuntun kita menjaga amalan yang Ia cinta di bulan ini. Dan menganugerahkan kita pada hakikat dekat. Hingga bertahun-tahun berjumpa Ramadhan, ada penambahan-penambahan imani yang diberkahi.

Allahu ta’aalaa a’lam.

Mohon maaf lahir dan batin. Selamat menunaikan ibadah puasa dan mereguk keberkahannya.

|| Jakarta, 270517

Pesan Cinta untukmu, Perempuan

Artikel ini didedikasikan untuk semua muslimah single di dunia. 


Berawal dari beberapa fenomena di zaman ini, yang mana tak jarang kita temukan “kekhawatiran” perempuan akan calon pendamping yang tak kunjung datang. Ya, ada masa di mana pikiran dan hati terus bertanya-tanya, kapan, siapa, seperti apa, bagaimana, dan kegundahan lain yang kerap menyapa. Lalu seketika berbagai kritikan menimpali,

.
“Kamu tidak perlu seorang pria untuk menjadi bahagia!” 

“Bagaimana bisa kamu merasa kesepian? Kamu memiliki keluarga yang penuh kasih sayang dan banyak teman.”

“Berhenti terobsesi tentang pernikahan! Fokus pada diri sendiri dan karir kamu!”

.
Sebagian perempuan mungkin merasa benar dengan opini di atas dan mengubur kembali kekhawatiran tersebut. Namun tak dipungkiri juga bahwa sebagian besar justru merasa tidak terdukung. Apalagi sifat malu yang membalut kepribadian perempuan. Ia tentu malu untuk meminta (meski pada dasarnya tidak masalah) terlebih dahulu ibadah mulia satu ini.

Dari sini, ada baiknya kita memahami perasaan. Menyudut mengoreksi  yang ada. Apakah ia salah? Adakah hadirnya merupa kesiapan, atau sekadar ingin menyudahi masa sendiri dan berharap lari dari tanggung jawab yang ada dengan menikah? 

.
Memahami Kasih Sayang dan Rahmat dalam Islam
Tidak ada yang salah ketika kita rindu memulai sebuah keluarga. Sebagaimana kita berkaca pada kehidupan Nabi Adam ‘alaihis salam yang kala itu berada di surga. Surga, di mana semuanya sempurna; tidak ada kesedihan, kemiskinan, sakit, semua yang kita minta, ada. Lalu, apa yang kemudian Allah ciptakan untuk Adam? Saudara, anak, atau teman bermain? Ternyata Allah menghadirkan sosok perempuan untuk Adam. 

.
Dari awal, Allah menyusun kehidupan manusia dengan kisah romantis. Bagaimana saling melengkapi dan mendapatkan kesempurnaan, bagaimana saling mengasihi dan menghadirkan kebahagiaan, bagaimana saling mempercayai dan melahirkan ketenangan.


“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mau berpikir.” [QS. 30:21].

Ternyata kehadiran lawan yang  kemudian membuat kita berarti. Seperti dingin yang terasa maknanya ketika kita merasakan panas. Putih yang terlihat jelas ketika kita berada dalam hitam gelap. Kita perlu siswa untuk merasa bagaimana menjadi guru. Kita perlu kesedihan untuk menghargai momen bahagia. Anak yang mampu membuat kita merasa seorang ibu, dan laki-laki yang bisa membuat kita merasa seorang wanita. Fakta psikologis berkata demikian. Pun logika menerima rasa butuh akan lawan itu. Dan harusnya teori ini mampu menolak pandangan kaum feminis yang mendewakan perempuan tapi hakikatknya menjauhkan perempuan dari fitrah kewanitaan itu sendiri.

.
Kita semua perlu memiliki pendamping untuk melengkapi kehidupan kita, seseorang yang mencintai dan membuat kita merasa dicintai dan dilindungi, seseorang untuk memulai sebuah keluarga. Sebagaimana Allah menciptakan kita secara berpasangan, dan itu merupakan kebutuhan dasar yang indah. Mahabijak Allah dalam penciptaan-Nya, bukan? Kerinduan untuk menikah dan memiliki anak tidak lantas membuat wanita terbelakang,  lumpuh, bodoh atau putus asa, melainkan itu membuatnya menjadi seorang wanita.

.
Betapa banyak gadis yang memiliki orang tua, teman, dan karier, namun masih merasa hampa. Merasa kesepian namun sulit mengakuinya. Hal yang seperti ini lambat laun menjadikan wanita takut, kehilangan identitas, dan depresi. Jadi sudah waktunya untuk mencoba tenang dan katakan pada diri sendiri, “Masa depan kita akan baik-baik saja dengan senantiasa merencanakan yang baik pula”.

.

 
Apakah Menikah Sebagai Pelarian dari Penderitaan & Kesepian?
Jangan salah, kadang kita merasa kesepian ketika kita tidak sedang sendiri. Kadang pula ada kebahagiaan dan harapan untuk kembali menjadi gadis. Ada banyak perempuan di luar sana yang ingin beralih posisi ke masa sebelum menikah, mendapatkan kembali kesempatan untuk memperbaiki diri dan memoles kepribadian.  Atau setidaknya memiliki kontribusi untuk melawan penderitaan dan kesepian tersebut. Baik bagi diri sendiri pun orang lain. Dengan demikian, jiwa akan terlatih untuk menghadapi tantangan-tantangan di masa datang.

.
Menikah memang membahagiakan. Bahkan bahagianya tidak hanya berhenti pada pasangan yang merayakannya. Namun bukan hal yang tepat ketika kita menjadikan menikah solusi permasalahan hidup. Apalagi jika kita mengkhayal kehidupan berumah tangga seperti akhir pada dongeng-dongeng; dan mereka hidup bahagia selama-lamanya.

.
Menikah adalah tentang kesiapan menerima kekurangan. Karena bagaimanapun, manusia tidak senantiasa lepas dari kealpaan. Maka yang terpenting bukan hanya mengharap pasangan begini dan begitu, tapi juga persiapan bagaimana jika pasangan begini dan begitu. Toh, menikah merupakan satu pintu menuju ridho Allah. Jika kita mengawalinya dengan niat bukan karena-Nya, bagaimana pintu itu terbuka?

.
Permasalahan apa pun, coba diatasi terlebih dahulu. Pusing skripsi, bosan kuliah, lelah mengerjakan tugas-tugas harian, mengerjar mimpi yang semakin dikejar semakin menjauh, komunikasi dengan orang tua yang sering berujung ketidaksepakatan, masa depan yang masih samar, berbagai kesulitan, harusnya kita bisa melaluinya terlebih dahulu sebelum beranjak kepada tingkat yang lebih tinggi yang sepaket dengan ujian-ujiannya. 

.
Seperti pepatah Arab, “Siapa yang tidak memiliki, tidak bisa memberikan”. Kita tidak pernah bisa mencintai dan merawat orang lain jika kita tidak mencintai dan merawat diri kita terlebih dahulu. Bagaimana bisa membantu keluarga menyelesaikan persoalan jika untuk sekarang saja kita putus asa? Bagaimana kita berharap keindahan dan kedamaian di keluarga kelak, sedang kita tidak membawa kedamaian itu dari kita sendiri? 

.
Belajar Cara Memegang Kunci Kebahagiaan
Sudah menikah atau belum, menempatkan kunci kebahagiaan kita di saku orang lain tidak tampak seperti ide yang cerdas, bukan? Kita tidak bisa bergantung pada suami, atau bahkan daging dan darah kita sendiri (baik itu orang tua, saudara atau anak-anak) untuk membuat kita bahagia.
Jelas sudah Allah berfirman,

.
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” [QS. 14:7]



Mungkin itulah inti dari masalah; kita biasa memiliki pandangan “Jika saya memiliki ini, saya akan senang”. Bagaimana jika kita balik, “Jika saya senang, saya akan memiliki ini”? 

.
Bagaimanapun orang-orang terkasih kita berada di sisi, bagaimanapun mereka menghadirkan kebahagiaan kita, tetap sejatinya tidak ada yang benar-benar bisa membuat kita bahagia kecuali diri kita sendiri; ketika kita memiliki sikap indah terima kasih kepada Allah, Rabb segalanya. 

.
Kita mencari kebahagiaan di langit, padahal langit tidak memiliki ujung. Kita ingin seperti dia yang memiki pasangan seperti ini. Kita mau pasangan kita bisa ini itu. Kenapa yang datang kepada saya dia? Dia tidak lebih baik dari yang saya harapkan, dan perbandingan-perbandingan lainnya. Maka menyelamlah ke lautan, karena ia memiliki dasar. Tengoklah apa yang kita dapati berupa nikmat-nikmat Allah. Dan temukanlah bahwa kita sudah mempunyai segalanya.

.
Syukur, akan kesempatan yang masih Allah bentangkan agar kita senantiasa mempersiapkan bekal menuju hari esok, entah pernikahan, ataupun kematian. Syukur, akan kesempatan berkeluarga yang Allah anugerahkan, tak lain agar kita kerap meninggikan cinta dan amal sholih kepada-Nya lebih semangat lagi.

 
Maka di penghujung tulisan ini, saya mengajak para perempuan di mana pun berada, jika kekhawatiran menghampiri, mari coba pahamkan diri sendiri dengan apa yang telah tersampaikan di atas. Memulai dari memahami fitrah perasaan wanita dalam mencintai dan merindu. Lalu beranjak pada pemahaman tujuan mengapa kekhawatiran itu datang, kemudian berakhir pada kebahagiaan yang mampu kita hadirkan dengan mensyukuri nikmat Allah yang melimpah atas apa pun peran kita sebagai perempuan. Salam hangat.

Note: artikel ini diambil dari tulisan berjudul All The Single Ladies: An Exclusive Love Talk For You dengan penerjemahan bebas ala penulis, dan beberapa poin-poin tambahan secukupnya.

Jakarta Merindu Hikmah 

Ini tentang kebermanfaatan yang sempurna. Bermanfaat yang meluas. Bermanfaat yang menoreh ketenangan.  Bermanfaat yang melahirkan kebaikan-kebaikan lagi setelahnya. Bahwa di sekitar kita banyak perihal yang tidak sempurna perannya kecuali dengan adanya hal yang lain.

Penyair Persia, Ibn al-Muqoffa’ pernah menyampaikan, tidaklah akal itu bermanfaat tanpa adanya wara‘ (ketakutan akan dosa), keindahan tanpa kenikmatan, nasab tanpa adab, kesenangan tanpa rasa aman, kaya tanpa berderma, kemuliaan tanpa penundukan sikap, dan kesungguhan tanpa adanya pertolongan Allah. 

Seorang yang dianugerahkan akal cemerlang, namun berbuat tanpa Ihsan, bagaimana manfaat? Keindahan lampu-lampu malam Jakarta, namun membias oleh padat lalu lintas dan lelah yang tak jarang menimbulkan emosi, bagaimana elok? Keturunan Pejabat Negara, namun enggan pada kebenaran serta meremehkan sesama, bagaimana hormat? 

Membangun sarana hiburan tapi menghimpit tanah sekitar, bagaimana tenang? Menaikkan gaji atasan tapi membatasi lapangan kerja pedagang jalanan, bagaimana adil? Pemimpin wilayah, namun berbuat sesuka kata tanpa santun, bagaimana agung? Upaya-upaya sterilisasi tindakan kriminal tapi mendakwa ahli ilmu yang justru rujukan masyarakat, bagaimana selamat? 

Jakarta merindu hikmah; merindu akan cerdas yang berlandas ketaqwaan. Merindu sikap yang bekerja dengan sabar dan keikhlasan. 

Dalam catatannya, Dr. Hamid Fahmi menjelaskan bagaimana filosof terdahulu menjabarkan makna hikmah. Bahwa ia, adalah bagaimana meletakkan sesuatu pada tempatnya. Ia dalah ilmu tentang segala sesuatu, sifat-sifatnya, kekhususannya, hukum-hukumnya, hubungan sebab-akibat dan mengamalkan sesuai yang dibutuhkan. Orang yang memiliki hikmah atau hakim, masih pada penjelasannya, adalah yang perbuatannya dapat dipertanggungjawabkan; kerjanya tekun, perkataannya benar, moralnya baik, pendapatnya betul, amalnya bersih dan ilmunya benar. 

Sehingga disimpulkan dengan perkataan al-Ghazali, ialah jiwa yang memiliki kekuatan mengontrol dirinya sendiri (tamakkun) dalam soal keimanan, akhlak dan dalam berbicara. Jika kekuatan ini terbentuk maka akan diperoleh buah dari hikmah, sebab hikmah itu adalah inti dari akhlak mulia. 

Jakarta merindu hikmah; merindu akan persatuan yang tak pernah luput dari sejarah saat memadu kesetiaan cinta akan Kalam suci-Nya. Merindu akan kemajuan praja lagi bahagia warganya. Merindu akan sila keempat, “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawarahan/perwakilan”.

Merindu akan firman, “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar. Mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS.32:24)

|| Jakarta, 050217 

Sepanjang usia ini, cukup banyak perempuan yang saya temukan memiliki minat mendalami kepenulisan. Kenalan, kawan nyata pun maya, saudara, keluarga, sampai menunjuk ke saya sendiri. Pula ketika menghadiri workshop serta agenda semisalnya yang membahas dunia literasi, tak jarang didapati jumlah peserta perempuan lebih banyak dibanding laki-laki. Di samping kenyataan ini, saya bertanya-tanya, mengapa selama itu pula beberapa mereka saya temukan mati di tengah jalan? Lagi-lagi, pertanyaan ini sebagai tamparan untuk pribadi. 

Sudah menjadi tabiat perempuan mencintai kata-kata. Perasaannya yang ‘aneh’ seringkali menuntun agar menumpahkan apa-apa yang dirasa cukup melalui dua cara; menulis dan menangis. Ya, perempuan terbiasa menulis untuk mencari kebahagiaannya, ketenangannya, dan hampir sering menulis untuk menemukan solusi permasalahannya. Di samping fakta ini, saya bertanya-tanya, mengapa justru yang tampil sebagai penulis lebih banyak laki-laki? Di Indonesia saja bisa diperhatikan, siapa-siapa yang menguasai pekerjaan mulia satu ini.

Hal ini, (sebagaimana tulisan Mas Ma’mun yang pernah saya share) bukan masalah tidak bagusnya tulisan perempuan. Bagus atau tidaknya tulisan sangat subjektif di mata pembaca. Bahkan, tulisan guyon saja memiliki power tersendiri. Lalu apa demikian?

Sensitivitas yang terlalu tinggi. Ya, persoalan perempuan untuk bertahan di dunia kepenulisan ini adalah tentang bagaimana ia menghadapi kritikan (yang sudah pasti) menjadi bumbu-bumbu kehidupan. Benar, perempuan lebih mudah ‘jatuh’ menghadapi jawaban-jawaban atas upayanya. Baru mencoba menulis artikel yang menghabiskan waktu berjam-jam, setelah di-publish, beragam kritikan datang, atau bisa jadi tak ada penghargaan sekecil pun. Hati perempuan mana yang tidak khawatir? :’)

Di sisi lain, perempuan memiliki rasa malu yang lebih anggun dibanding laki-laki. Menulis, tapi tidak untuk di-publish. Padahal disebut penulis ketika sebuah tulisan dibaca. Dan banyak perempuan yang memilih untuk menjadi penulis bagi dirinya sendiri.

Maka banyak perempuan yang kemudian hilang dari permukaan, mengendur pula syiar kebaikan dan peradaban gemilang pelan-pelan memudar. Sebab sebagian manusia cenderung menerima pesan-pesan kebaikan melalui curahan hati perempuan. Contoh kisah yang belum lama ini dimuat oleh salah seorang jurnalis perempuan tentang keadaan keluarga aktivis yang dikriminalisasi. Tidak lama kemudian, pesan pribadi berdatangan mewakili keterharuan dan menghibahkan hartanya. 

Juga, seimbangnya peradaban adalah tugas dua insan; laki-laki dan perempuan. Allah memberikan kewajiban sesuai tabiat masing-masing lantas memudahkan jalannya. Maka tidak heran jika kemudian kita butuh pengetahuan dari sudut pandang perempuan, bukan?

Dengan demikikan, peran perempuan dalam dunia literasi tidak lagi diragukan. Jangankan teori yang ia pahami, perasaannya saja mampu cukup baik teraba dan menjadi sebuah gagasan. Apa pun latar belakang, kesempatan membangun karya bisa saja terwujud.

Kembali pada buah pikir yang disampaikan Mas Ma’mun, bahwa perempuan juga lebih memiliki ketelitian, ketekunan, dan kerapian yang seringkali melebihi laki-laki. Artinya ketika mampu mendobrak rasa mudah ‘jatuh’, akan lebih banyak manfaat yang tersebar dengan rangkaian kata-kata. Semoga. 

Oleh sebab itu langkah paling penting bagi perempuan untuk menjadi penulis bukanlah belajar menulis, tapi menyingkirkan rasa khawatir dan membangun rasa percaya diri yang kuat. 

Mari sama-sama terus perbarui tekad. 🙂
Allahumma a’innaa ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatika. 

Ibnu Jauzi pernah berkata dunia itu bagai bayangan. Tak akan bisa kita menggapainya ketika kita mengejarnya. Sebaliknya, saat badan ini berbalik, lihatlah apa yang terjadi; bayangan yang akan terus mengikuti kita. Setia.

.

Begitu juga dengan kehidupan ini. Kala tujuan kita berbatas hanya sukses di dunia, yakinlah tak ada sesempurna bahagia yang terasa. Hampa. Saya pribadi pernah merasakannya. Ketika kesibukan dunia memalingkan kita dari mengingat Allah, apa yang terjadi?

.

Menyakitkan! Bayangkan saja, sehari penuh berhadapan dengan hp atau laptop, mengejar deadline ini dan itu. Berupaya memberikan terbaik untuk partner kerja dan lain-lain. Berusaha agar sebaik kerja terhasil adanya. 

.

Dan apa yang terjadi? Yang saya dapati hanyalah kesulitan dan kesulitan. Kalaupun segala aktivitas yang lancar, itu tidak menyenangkan. Ya, tidak menyenangkan karena saya tidak melibatkan Allah di dalamnya. Alih-alih lebih dekat dengan-Nya. Malah menjauh selangkah demi selangkah. Padahal jelas sudah tertera dalam Al Qur’an, ketika kita menjadikan Allah satu-satunya tempat meminta pertolongan, maka semuanya beres. Namun ketika Allah kita tinggalkan. Maka rasakan saja kesepianmu!

.

Menampar sekalii! 😥

.

Yakinlah saat kita menjadikan Allah tempat berpulang, tak ada hal yang sia. Tak ada kerja yang biasa. Tak ada lelah yang lemah. Tak ada tindak selain Allah ridhoi segala langkah. Semoga. 

.

Ya, ketika Allah menjadi satu tujuan kita, maka semua yang ada di dunia ini tunduk. Bahkan malaikat turut mendoa atas kebaikan kita. Lalu mengapa ragu? Maka biarkan dunia yang mengikut kita. 

.

Maka mulai malam ini, jam ini, detik ini, mari luruskan kembali jalan hidup kita. Mari menata kembali hati yang lama berserak pentingkan nilai-nilai dunia. Mari kembali nyalakan pelita iman nan ihsan, agar terang gelap fitnah kehidupan yang menggoda. Agar damai jiwa ini dalam penitiannya yang sementara.

.

Selipkan doa keselamatan untuk sesama. Terkhusus untuk diri ini; yang tiada daya tanpa doa rekan-rekan semua.

.

Apalah arti iman bila tak berpendar pada sekitar. Apalah arti sholih bila tak merekat pada sahabat dan kerabat.

.

Semoga Allah tunjukkan pada kita kebenaran, benar. Dan kebathilan, bathil. Serta menguatkan kita tuk berbuat kala tahu benar, dan menjauh kala tahu salah.

.

Salam santun. 🙂

Blog at WordPress.com.

Up ↑