Menuju 72 Tahun Kemerdekaan Indonesia: Refleksi Kita dan Harapan Pejuang Terdahulu 

Hari itu, pertanyaan Dokter Radjiman mengenai landasan filosofis negara sebelum kemerdekaannya ini membuat diam anggota BPUPKI yang hadir. Menurut kesaksian Bung Hatta dalam buku Politik dan Islam karya Buya Syafii, mereka tidak mau menjawab sebab khawatir akan mengundang perpecahan dan memakan waktu lama. Selain khawatir, rasanya juga bukan hal yang mudah berfilsafat dalam kondisi yang mendesak tersebut. 

Namun berbeda dengan beberapa tokoh lainnya, masih menurut kesaksian Bung Hatta, yang siap menjawab pertanyaan dr. Radjiman hanya Soekarno dan Muhammad Yamin dari golongan Nasionalis, serta Ki Bagus Hadikusumo dari Muhammadiyah yang mewakili golongan Islam. Bung Karno dan M. Yamin mengajukan Lima Prinsip Dasar, sedang Ki Bagus Hadikusumo mengajukan Islam sebagai landasan Indonesia. 

Berawal dari dua pemikiran yang berbeda ini, BPUPKI membentuk panitia guna memusyawarahkan landasan tersebut. Kesembilan yang tergabung tak lain adalah Soekarno, Mohammad Hatta, M. Yamin, Wahid Hasyim, Agus Salim, Abdul Kahar Muzakir, Achmad Subardjo, Abikusno dan A.A Maramis. Setelah melalui permusyawarahan, tepatnya pada tanggal 22 Juni 1945 lahirlah sintesis atau paduan dari kedua usulan tersebut, yakni Piagam Jakarta. 

Dalam Piagam Jakarta, Pancasila diterima sebagai dasar negara. Namun urutan silanya berganti. Pada tanggal 1 Juni 1945 Soekarno menyampaikan lima asas bangsa Indonesia dengan urutan: (1) Kebangsaan Indonesia, (2) Perikemanusiaan, (3) Mufakat atau Demokrasi, (4) Kesejahteraan Sosial, (5) Ketuhanan yang Maha Esa. Kemudian oleh panitia sembilan diubah menjadi lima sila yang kini lebih kita kenal sebagai Pancasila, dengan tambahan di sila pertama, Ketuhanan yang Maha Esa dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya.

Sampai di sini, kita mencoba menarik hikmah dari sejarah di atas. Bagaimana kira-kira jika kita yang berada di posisi tokoh-tokoh tersebut? Mendapati dua perbedaan pikir yang kemudian dirumuskan agar menjadi selaras. Bagi saya pribadi pekerjaan ini bukan pekerjaan orang-orang biasa. Di dalamnya ada sekumpulan cita-cita plus jiwa-jiwa besar akan negara ini. Tokoh-tokoh yang mampu menyampingkan ego untuk kebaikan bersama, tokoh-tokoh cerdas yang mengajarkan kita bagaimana beragama dan bernegara menjadi paduan yang kuat tuk lebih memajukan Indonesia.

Kemudian kita kenal dengan sejarah terhapusnya tujuh kata Piagam Jakarta, yaitu terhapusnya kalimat “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya” pada sila pertama. Saya belum mendalami betul kronologi sejarahnya, hanya saja mari kita menilik bagaimana akhirnya kemerdekaan Indonesia disahkan dengan diawali pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. 

Entah pertolongan apa lagi yang Allah berikan kepada pejuang terdahulu, hingga lahir diksi yang membuat kita bertanya-tanya, siapa yang merumuskan pembukaan UUD kita ini? Mengatasnamakan Allah sebagai berkat pertama atas merdekanya negara Indonesia. Kita tentu mengenali kalimat pembukaan “Atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”. Tapi mungkin selama ini kita tidak betul-betul memahami, bahwa sejatinya inilah harapan tokoh-tokoh terdahulu untuk Indonesia. Negara yang bebas dan diberkati Allah. 

Tidak cukup di pembukaan UUD, ketika kita melihat kembali perubahan lima asas bangsa Indonesia menjadi Pancasila kini, lalu muncul lagi di benak-benak kita pertanyaan, bagaimana para tokoh merumuskan dasar negara menjadi lebih baik dan penuh makna dalam waktu begitu terbatas? Melahirkan kata hikmah, adil, beradab, yang bila kita kupas tuntas maknanya mungkin berlembar-lembar pelajaran yang akan kita dapat.

Adalah Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi yang telah menulis artikel mengenai kata-kata ajaib tersebut. “Maka ‘Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan’ menggambarkan nilai sebuah sistem yang dikusai oleh semangat hikmat,” jelas beliau, “artinya sistem kenegaraan Indonesia harus berada di tangan orang-orang yang hakim. Yaitu orang yang berilmu hikmah, yang pasti tahu kebenaran yang berkata benar; yang tahu dan berani memutuskan yang salah itu salah dan yang benar itu benar; yang tahu meletakkan segala sesuatu pada tempatnya; tidak akan pernah meletakkan kepentingan dirinya diatas kepentingan rakyat atau umat, tidak meletakkan perbuatan dosa atau maksiat dalam dirinya yang fitri dan seterusnya.” 

Tidak berpanjang mengenai diksi-diksi yang dipilih para tokoh di detik-detik kemerdekaan, kini saatnya kita merenung, mungkin banyak yang telah dikorbankan pejuang terdahulu hingga Allah memberikan hidayah-Nya melindungi bangsa dan agama ini. Mungkin hati-hati pendahulu tak lepas dari mengingat Allah sehingga Ia buka urusan demi urusan sampai kenikmatannya bisa kita rasakan sekarang. Lalu bagaimana kita? Apa yang tengah kita pikirkan, lakukan, perjuangkan untuk Indonesia lebih baik lagi? Apakah lantas bingung menyikapi sistem negara yang belum banyak sesuai harapan? Putus asa akan hutang-hutang yang semakin meninggi? Lalu menyerah dari peduli,  berbuat baik dan berprestasi hanya sebab aturan negara yang dipandang bukan urusan agama? 

Dr. Adian Husaini mengingatkan, bukankah justru di masa penjajahan lahir ulama-ulama pejuang mukhlis dari penjuru pesantren? Bukankah justru di masa penjajahan, api tauhid dalam dada umat muslim yang berkobar melawan kolonial? Bukankah justru di masa penjajahan, hati-hati besar bangsa Indonesia berpadu merangkul perbedaan dalam semangat satu, manusiakan Indonesia, adilkan Indonesia? Bukankah justru di masa genting tak berdayanya Indonesia, masih ada harapan-harapan tulus tuk generasi masa depan dari tokoh-tokoh kita terdahulu?

Maka apa yang tengah terjadi di negara ini, tetapkan yakin ada masa di mana Allah menguji orang dan bangsa yang Ia cinta. Ya, yang masih terdapat di dalamnya orang-orang yang senantiasa saling menasihati pada kebaikan dan terus menginsafi diri. Estafet harapan ini tak boleh terhenti. Lakukan apa yang bisa kita kerjakan. Manfaatkan peluang-peluang yang telah diperjuangkan tokoh-tokoh hanif terdahulu.

“Indonesia memang bukan negara agama, tapi Indonesia adalah negara orang yang beragama. Karenanya, keimanan merupakan unsur penting membangun negeri ini.” (KH. Zainuddin MZ)

Wallahu A’lam bis showab.

|| Jakarta, 16 Agustus 2017

​The Marriage Proposal: Tips to Make the Decision Easier 

Dalam perjalanan menuju halal, kita temukan laki-laki cenderung menjemput dan perempuan menerima. Tapi keduanya tak lepas dari satu keharusan, yaitu memilih. Bagaimana seorang laki-laki bisa mantap menentukan gadis sebagai pilihannya, pun bagaimana sebagai perempuan meraba rasa “sakan” untuk menerima atau menolak. Tentu bukan pilihan yang mudah. Setidaknya ada beberapa kiat bagaimana membuat keputusan itu mudah, semoga. 

1. Pahami Niat dan Ber-istikharahlah 

Pintalah dalam keadaan sadar, tulus, dan serius. Maksudnya seperti apa? Ketika kita melihat diri telah siap, maka kita dalam keadaan sadar meminta Allah tuk hadirkan seseorang. Bukan karena bosan hidup atau hendak lari dari sebuah permasalahan. Sejatinya kita sadar, kita siap akan amanah-amanah lebih besar setelah pernikahan.

Dengan demikian kita bisa lebih tulus dan serius meminta kepada Allah. Lintasan pikiran manusia saja Allah mengetahui, maka bagaimana pahamnya Ia mendengar hamba-Nya yang benar-benar berharap.Yakinlah tak ada kata menyesal jika kita melibatkan Allah di setiap keputusan urusan hidup kita. 

2. Mengajukan Pertanyaan Cerdas 

Tanyakan bagaimana hak dan kewajiban masing-masing pasangan. Hal-hal apa yang bisa membuatnya marah dan kecewa serta bagaimana mengatasinya. Dari sini kita akan mudah memahami bagaimana calon pasangan kita memandang pembagian tugas di keluarga kelak. Apakah sejalan dengan yang kita pahami? Jika tidak, bagaimana menyelaraskannya? Kita juga bisa sedikit mengenal bagaimana ia mengontrol emosinya melalui pertanyaan tadi. 

Tidak hanya soal pribadi. Kita juga perlu menanyakan perihal pendidikan dan pola asuh anak. Bukan membahas terlalu jauh. Tapi dari sini kita juga terbantu mengenal calon pasangan kita. Secara umum saja. Setidaknya bagaimana masing-masing kita mengenal peran sebagai orang tua kelak. 

Selain pertanyaan di atas, kita boleh menanyakan hal-hal lain yang dengan melalui jawabannya, kita cukup yakin meraba apakah dia orang yang Allah kirimkan sebagai jawaban doa-doa selama ini? 

3. Menjaga Ketaqwaan di Setiap Langkah 

Bagaimana bisa menuai berkah jika menjemputnya saja kita tak menjaga nilai-nilai ketaqwaan. Apa sih, ketaqwaan itu? Dari sekian banyak penjelasan, pada intinya taqwa ialah ketika seorang muslim takut akan murka Allah. Lalu dengan cara apa ia menjaga dirinya? Ittibaa’u awaamirihi wa ijtinaabu nawaahiihi, dengan mengikuti perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. 

Apa hubungannya dengan memudahkan kita menentukan keputusan? Jika Allah ridho akan perbuatan-perbuatan (mengikuti perintah dan menjauhi larangan-Nya), lantas apa mustahil Ia mencintai kita? Bahkan jika kita datang membawa tumpukan dosa Allah masih cinta sebab taubat kita. 

Ketika kita berusaha tuk membatasi komunikasi, bersikap baik meminta izin kepada orang tua atau wali, belajar hal-hal baru mempersiapkan pribadi lebih baik lagi, menjaga diri dari kelalaian-kelalaian meski sesaat, terus mendekat kepada Allah dan melibatkan-Nya. 
Selamat memaksimalkan ketaqwaan! 

4. Jangan Memaksakan Diri

Someone can be perfect, but is not perfect for you. Sebagai manusia, kita tidak salah menentukan kriteria pasangan hidup. Justru dengan adanya kriteria bisa membantu kita mengupayakan memilih yang baik. Tapi terkadang kriteria itu menjadi harapan atau bahkan delusi. Tak sedikit kita yang patah hati, malah minder ketika harapan tak bersambut kenyataan. Maka kita perlu kembali meyakini bahwa seseorang bisa saja kita anggap sempurna, tapi dia tak sempurna untuk kita. 

Lalu muncul pertanyaan apa kita tidak sempurna (dalam maksud lain: baik), sehingga kita tak disandingkan dengan yang menurut kita baik? Kualitas baik-buruk Allahu a’lam, Allah yang bisa nilai itu. Jika memang mutlak baik dengan baik serta buruk dengan buruk maka tak ada kisah tauladan Asiyah bersanding Fir’aun dan Nuh juga Luth yang diuji pasangan hidup tak berbakti. Sedangkan maksud pesan baik dengan baik dan buruk bertemu buruk adalah satu tarhiib (motivasi) tuk terus berupaya menjaga diri dalam kebaikan. 

Selain dari itu, tidak memaksakan juga berarti mencukupkan apa-apa yang kita rasa. If you don’t feel comfortable or attracted to him, that’s a good enough reason to reject. Memang, perasaan  tidak nyaman atau tertariknya kita bukan kemudian menjadi standar dia bukan pasangan kita. Kita perlu berdiskusi dengan hati, orang-orang terpercaya, dan tentu menguatkan musyawarah dengan Allah. Namun jangan memaksakan diri. 

Sebagian kita mungkin merasa tidak enak menolak. Apalagi sebagai perempuan. Lalu kita memaksa menerima ketidaktertarikan itu dengan alasan tak boleh menolak pria baik. Wah, padahal salah satu pesan Nabi tuk menerima tawaran pernikahan adalah baik agamanya dan kita suka dengan kepribadiannya. Anjuran tidak menolak orang baik pun bukan ditujukan pada kita, melainkan untuk wali kita. 

Semoga kita memiliki hati-hati yang stabil tuk meraba keputusan, ya. 🙂

5. Gunakan Waktu-waktu Ini untuk Lebih Mendekatkan Diri ke Allah 

Sebagaimana poin pertama dan ketiga. Kita tak bisa melalui hari-hari ini tanpa petunjuk Allah. Pernikahan bukan urusan ringan yang cukup diikhtiarkan dengan fisik atau perasaan belaka. Tapi kesiapan spiritual, intelektual, finansial, mental, sosial, menjadi setumpuk yang kita tahu, dalam perjanjiannya saja mengguncang Arsy langit. Ini urusan berat. 

Maka begitu naif jika di masa-masa menentukan keputusan kita malah lalai dan jauh dari Allah. Jika demikian, mungkin kita perlu kembali menanyakan sebenarnya apa tujuan menikah. 

6. Senantiasa Memperbarui Niat 

Menyambung poin sebelumnya, perihal menjaga niat agar tetap-semakin baik. Di awal kita sudah menyinggung pembicaraan niat ini. Hanya saja hati tercipta dengan sifatnya yang mudah berbalik. Mungkin di tengah jalan keinginan menikah kita menjelajah ke mana-mana. Maka terus memperbarui niat semoga menjadi penjaga yang menguatkan. 

Jika sebelumnya kita cukup memiliki tujuan menikah agar menjaga kesucian, tambah niatnya. Rancang capaian yang lebih luas. 

Berkolaborasi tuk memaksimalkan manfaat bagi sekitar, menambah silaturrahim, menjadi perkembangan peradaban, dan tentunya tujuan ibadah dan lebih mendekatkan diri kepada Allah. 

Sebaliknya ketika di perjalanan kita melirik pernikahan sebagai ajang memewahkan acara, menaikkan gengsi, atau kesenangan-kesenangan yang sifatnya semu, tepis segera lirikan itu. Perbarui kembali niat-niat kita. Semoga kesenantiasaan menjaga tujuan baik menikah semakin melapangkan hati dan pandangan kita tuk menentukan keputusan terbaik. 

Demikian enam poin kiat mudah membuat keputusan. Poin-poin di atas berinduk dari satu poster Productive Muslim yang kemudian penulis kembangkan penjabarannya. I hope this will give you clarity. Semoga catatan seadanya ini cukup mencerahkan ya. Yang sesuai moga menginspirasi dan yang tidak sesuai moga tak bermasalah. 😀 

Best gratitude! 🙂

|| Jakarta, 120817 

Innamal Aqshaa ‘Aqiidah

Sesungguhnya Al Aqsha adalah aqidah. Begitu syiar yang dijunjung ratusan warga Timur Tengah ketika unjuk rasa bebaskan Al Aqsha dari tangan penjajah. 
Sempat saya bertanya-tanya mengapa masyarakat Palestina menolak memasuki Masjid Al Aqsha melalui gerbang elektronik yang dipasang penjajah Israel. Bukankah yang terpenting adalah mendirikan sholat di dalamnya? Menghidupkan rumah Allah dengan kegiatan-kegiatan bermanfaat? Dan sebagai muslim, tentu tidak mungkin masuk masjid dengan membawa logam atau senjata berbahaya, bukan? 
Berikut catatan yang saya coba pahami dari tulisan Ketua Persatuan Ulama Palestina wilayah Khon Younis Muhammad Sulaiman Nashrullah dengan sedikit tambahan. 

1. Bahwasanya keadaan Masjid Al Aqsha yang tanpa azan dan sholat tidak akan membahayakan umat beriman (yang memang hatinya telah terpaut akan kewajiban dan kebutuhan ini). Bahkan kita bisa lihat bagaimana mereka tetap mengumandangkan azan di pelataran masjid dan menggelar shaf panjang tuk mendirikan shalat. Masjid Al Aqsha akan senantiasa baik-baik saja dengan segudang upaya penutupan dari penjajah Israel selama penduduknya juga senantiasa menolak persyaratan-persyaratan dari penjajah. Mengapa demikian? 
Sebab yang membahayakan Masjid Al Aqsha adalah ketika kita memasukinya dengan hina. Kita bukan kriminalis yang harus diperiksa ketika hendak beribadah.

2. Memasuki Al Aqsha melalui gerbang elektronik bukan satu-satunya jalan membebaskan masjid. Justru memasukinya sama saja kita membiarkan penguasaan penjajah Yahudi menang di atas kita. Jika untuk demikian saja kita lemah (menurut pada peraturan Yahudi), entah bagaimana ke depannya paksaan-paksaan penjajah merebut Al Aqsha. Dan entah bagaimana semakin tamaknya Yahudi terhadap tanah dan jiwa Palestina. 

3. Sesungguhnya menetap di luar Al Aqsha dan memperjuangkannya sampai perang hingga syahid merupakan jihad yang mashlahah. Serta menganjurkan orang-orang beriman untuk turut memperjuangkan bebaskan Al Aqsha dan mendirikan sholat di dalamnya dengan kemuliaan. 

4. Penolakan warga Al Quds juga menyingkap dan membongkar kepalsuan terhadap permukaan dunia selama ini. Menjelaskan bahwa siapa sebenarnya yang menjajah dan merebut Al Aqsha secara paksa? Hingga untuk azan dan sholat di dalamnya saja dilarang. Hingga untuk memasukinya saja harus melalui cara yang tak patut. Menjauhkan Al Aqsha dari penghuninya secara perlahan namun kejam. 

5. Memohon untuk sholat di dalam Masjid Al Aqsha kepada penjajah berhati batu tidak menghasilkan kemuliaan apa pun. Sebaliknya, yang demikian justru melukai kemuliaan dan kehormatan. Bahkan disebutkan dalam tulisan aslinya perbuatan tersebut tidak mendatangkan pahala, justru menodai diri dengan dosa; karena pada dasarnya secara tak langsung mengakui kekuasaan musuh Allah. Apa Allah dan Rasul-Nya ridho? 

6. Sesungguhnya kewajiban kita hari ini adalah membebaskan tanah Nabi bermi’raj itu. Membebaskan Masjid Suci ketiga umat Islam. Membebaskan masjid kedua yang dibangun di bumi ini dari penjajah Israel. Baik dengan senjata ataupun kata. Bukan rela sholat di dalamnya dengan mematuhi perintah musuh. Barang siapa yang masih berleha-leha dari memperjuangkan (membebaskannya), maka perlu dipertanyakan fitroh dan pemahamannya. Apa sudah terbalik dan berpenyakit? 

Maka wahai Abnaul Quds, pilihan kita hanya dua, sholat di Masjid Al Aqsha dalam keadaan mulia atau melawan penjajahan hingga syahid meski di ambang pintu Al Aqsha. Tidak ada kesempatan untuk lemah, tunduk dan pasrah terhadap aturan-aturan penjajah! 

Demikian pesan yang disampaikan Muhammad Sulaiman. Catatan yang cukup menjawab pertanyaan saya perihal Al Aqsha. Maka tak ragu saya mencatumkan judul demikian. Bahwa benar, urusan Palestina adalah urusan umat Islam. Perkara Al Aqsha adalah perkara keyakinan yang harus diperjuangkan. Hingga tak ragu kita teriakkan, “Bir ruuh, bid dam, nafdhiika yaa Aqsha!”, dengan ruh dan darah kita persembahkan untuk Aqsha. Dan tak ragu pula kita perjuangkan cita-cita bersama, hidup mulia atau mati syahid! 
Allahu ta’aala a’lam. 
|| Jakarta, 210717

Tetaplah Jelita

Setiap perempuan menyimpan kecantikannya masing-masing. Cantik yang bukan sebatas rupa. Tapi cantik yang jelitanya mampu dirasakan orang-orang sekitarnya.

Dengan optimisnya, ia redakan tangisan anak-anak pelosok pulau yang kehilangan ibu bapak, lalu mengukir tawa dan cinta untuk mereka.

Dengan sabarnya, ia menjadi perempuan pertama yang dicari ketika seorang nenek ingin bercerita, meski ceritanya berkali-kali sudah ia sampaikan. Sabar itu tetap mendengarkan.

Bersama tunduk malunya, ia simpan rasa-rasa kagum dan bangga akan keberhasilan dan kebahagiaan teman-teman seperjuangannya. Cukup doa-doa baik yang tersalurkan untuk mereka yang ia cinta.

Bersama ceria dan ungkapan-ungkapannya, ia bebincang hangat dengan saudara dan keluarganya, menjadi pelipur kala lara, menjadi pengingat kala lupa.

Dengan kepandaiannya, ia selamatkan mimpi-mimpi mereka yang hampir putus asa. Merunduk dan berbisik pelan mensyukuri pencapaian-pencapaiannya, namun bersorak bahagia memberi selamat mereka yang meraih harapannya.

Ya, setiap perempuan memiliki kecantikan masing-masing. Dan yang menjadikan ia jelita serta pesona adalah bagaimana ia menuai kebermanfaatan melalui peran-perannya.

Ia bukan berarti tak pernah jatuh. Tapi ia mampu bangun meski luka-luka menggores kehidupannya.

Ia bukan berarti tak pernah marah. Tapi kasih sayangnya yang terbilang lebih meredakan kecewa-kecewa dalam hati.

Ia bukan berarti tak pernah salah. Tapi malunya berkali-kali menegur dan mengajak diri untuk terus menginsafi lalai-lalai.

Ia bukan berarti pemilik followers dan likes terbanyak di seantero sosial media. Tapi yang pedulinya meluas menyapa mereka yang membutuhkan, hingga menghadapi realita lebih ia syukuri.

Ia juga bukan penerima sanjungan dari sana-sini. Tapi doa dan nasihat orang-orang yang tulus menyayanginya cukup menjadi penguat diri dan inspirasinya.

Ia adalah sebaik perhiasan, jika iman menjadi muara jiwanya, takwa sebagai pakaiannya, dan sholihah merupa perangai akhlaknya.

Maka bagi para perempuan, cukupkan kekhawatiran-kekhawatiran yang menghambatmu serta tetaplah jelita. Tetaplah menjalani hidup ini sepenuh syukur dan kesabaran.

|| Salam manis, 050716

Mendidik Generasi 

Semakin gigih mengejar impian, semakin sadar bahwa cara terbesar untuk meraihnya adalah menyibukkan diri untuk mendidik generasi, lebih khusus mendidik anak sendiri.


Begitu yang disampaikan Praktisi Homeschooling Kiki Barkiah.

Terutama perempuan. Dengan amanahnya mengandung, melahirkan, menyusui, juga hari-hari yang lebih banyak ia lalui bersama anak, cita-cita besar yang ia rencanakan bukan kemudian kandas begitu saja. Justru di sana ia punya kesempatan besar menggenggam tonggak peradaban, mengarahkannya pada visi dan misi yang mengantarkan ia pada cita-cita besarnya.

Apa pun profesi, amanah mendidik generasi menempatkan posisi di setiap pundak kita. Laki-laki pun perempuan. Amanah ini juga yang diemban para pendahulu kita sehingga hasilnya bisa kita rasakan sekarang. Lantas apa wajar ketika kita tidak peduli dunia pendidikan?

Mari sama-sama bangun kembali rasa ingin mewujudkan generasi yang siap menghadapi tantangan lebih berat. Yang jauh lebih cerdas dari orang tua dan gurunya. Generasi yang mampu mengenal potensi sehingga mudah mengambil peran tuk berkontribusi. Generasi yang memiliki inisiatif sehingga menjadi produktif dan solutif.

Dan tentu, semua butuh persiapan. Maka salah satu cara mengawalinya adalah, tumbuhkan rasa kepemilikan akan peran ini. Besok -in syaaAllah-, kita akan menjadi orang tua. Yang akan ditanya, yang akan dipercaya, yang akan dipertimbangkan saran dan masukannya.

Daripada tebar pesona dan janji-janji tak pasti, lebih baik tekuni potensi dan urus segala kebutuhan pribadi bahkan membantu orang tua. Daripada mengukur-ngukur kriteria pasangan idaman dan menaruh hati di sana-sini, lebih baik pelajari bagaimana menjadi orang tua yang apik, mencetak generasi yang baik.

Menjadi generasi Ismail yang sabar dan membantu Ayahnya Ibrahim taat kepada Allah. Merupa generasi anak-anak Ya’qub yang mewarisi ilmu-ideologi Ayahnya. Mengikuti jejak keempat pejuang yang Khansa binti Amr bahkan memotivasi putra-putranya untuk berada di barisan depan membela kebenaran dan keadilan.

|| Jakarta, 310517

10 Tips Ramadhan Produktif 

1. Miliki niat tulus dan siap beramal lebih banyak. Teruslah berdoa agar kita (benar-benar) sampai pada Ramadhan serta keberkahannya

2. Susun rencana di setiap malam. Pilih tiga tugas terpenting yang ingin kita capai di hari esoknya

3. Jangan pernah ketinggalan sahur. Bangunlah (setidaknya) satu-dua jam sebelum fajar. Pastikan energi kita terisi dan seimbang

4. Mulai kerjakan tugas prioritas setelah fajar. Setidaknya, minimal satu atau dua pekerjaan sudah kita selesaikan

5. Cobalah istirahat siang (qailulah) tidak lebih dari 20 menit. Bisa sebelum atau setelah dzuhur

6. Untuk agenda prioritas yang bersifat rutin, buatlah pelaksanaannya mengikuti jadwal sholat. Menambah hapalan, misalnya. Rencanakan setiap habis sholat kita tambah dua ayat

7. Jangan lupa, tetap berikan waktu spesial untuk membaca Al Qur’an dan memahami artinya

8. Jangan juga kehilangan kesempatan saling menasihati dan tolong menolong dalam kebaikan. Jika melihat teman sekolah, kuliah, atau di kantor yang belum mahir baca Al Qur’an, diajak belajar bersama

9. Buka puasa secukupnya, bersegera sholat maghrib, makan, dan jangan ketinggalan tarawih, ya! 🙂

10. Berikan lebih banyak shodaqoh dari hari-hari biasanya

Catatan ini diterjemahkan dari artikel productivmuslim.com dengan penambahan seperlunya. Teman-teman ada tambahan tips? Boleh komen ya. 🙂

Peran yang Tak Boleh Hilang

Bismillah.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Atas kasih sayang-Nya, kita dikuatkan berada dalam barisan perjuangan ini. Atas petunjuk-Nya, kita sampai di penghujung pertanggungjawaban dunia. Dan atas luas rahmat-Nya, kita senantiasa mengharapkan berkah dari setiap jejak langkah.

Sholawat dan salam kepada Rasul Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, penggerak dakwah Islam, pendidik generasi gemilang, serta pemilik kerinduan terdalam akan kebaikan umatnya.

Jika kita mengibaratkan perjuangan ini seperti kesatuan pasukan, maka peran Ali ibn Abi Thalib dalam perang Khaibar menjadi satu inspirasi kita. Pembawa panji Islam. Yang mana kibarannya adalah pertanda umat Islam masih berjuang. Sebanyak apa pun tetesan darah menjemput kesyahidan, sepelik apa pun medan pertempuran, ia harus tetap bertahan.

Demikian pula yang terjadi pada Mush’ab ibn Umair di Uhud. Ketika musuh menghampiri dan menebas tangan Mush’ab, ia raih bendera itu dengan tangan kirinya. Lalu ditebas lagi. Sehingga pangkal tangan yang tersisa berupaya mendekap erat bendera di dada.

Pada dasarnya, menjaga kemuliaan Islam adalah tugas kita bersama. Membawanya ke dalam diri masing-masing adalah amanah di mana pun kita berada. Apa pun aktivitas, bagaimanapun “tipe” langkah kita, pesan kemuliaan itu tak boleh sirna.

Ah, bahkan hal ini bukan lagi tugas kita. Melainkan kebutuhan dan rasa kepemilikan kita. Ketika butuh dan memiliki menjadi satu dalam wadah cinta, maka yang hadir adalah pengorbanan dan penjagaan.

Maka lihatlah bagaimana Abdullah ibn Ummi Maktum yang dalam “keterbatasan”nya, “Tempatkan saya di antara dua barisan sebagai pembawa bendera. Saya akan memegang erat-erat untuk kalian. Saya buta, karena itu saya tidak akan lari.

Dan dari sini, terucap terima kasih kepada seluruh pasukan atas kerja samanya menggenggam peran ini. Ketika tangan tak kuasa membawa, lalu kita bergantian. Ketika rintangan terus menghampiri, lalu kita saling memekikkan takbir, mengibarkan keteguhan.

Terima kasih atas peran-peran yang telah dimaksimalkan. Tidak ada pencapaian yang usai tanpa kesabaran. Tidak ada persaudaraan yang berjalan baik-baik saja tanpa rangkaian kepercayaan.

Semoga Allah menganugerahkan kita sebagai pembuka kemenangan. Selayak Al Fatih, sebagaimana harapan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- ketika mencari Ali, “Besok akan kuserahkan bendera perang kepada seseorang yang Allah dan Rasul-Nya mencintai dan dia pun mencintai Allah dan Rasul-Nya. Allah akan memenangkan kaum muslimin melalui tangannya.”

Pada akhirnya kita memahami, masa jabatan bisa saja diakhiri, tapi perjuangan tak akan pernah berhenti.

Note: tulisan ini saya rangkai sebagai muqoddimah Laporan Pertanggungjawaban Dept. Kajian & Training LDK Al Fatih. Tak ada harapan menaruhnya di sini (dengan beberapa tambahan), melainkan semoga ada manfaat dan semangatnya, serta bisa dirasakan kita semua. Terima kasih.
Salam bawa perubahan!
Dept. Kajian & Training 16/17

Pesan Cinta untukmu, Perempuan

Artikel ini didedikasikan untuk semua muslimah single di dunia. 


Berawal dari beberapa fenomena di zaman ini, yang mana tak jarang kita temukan “kekhawatiran” perempuan akan calon pendamping yang tak kunjung datang. Ya, ada masa di mana pikiran dan hati terus bertanya-tanya, kapan, siapa, seperti apa, bagaimana, dan kegundahan lain yang kerap menyapa. Lalu seketika berbagai kritikan menimpali,

.
“Kamu tidak perlu seorang pria untuk menjadi bahagia!” 

“Bagaimana bisa kamu merasa kesepian? Kamu memiliki keluarga yang penuh kasih sayang dan banyak teman.”

“Berhenti terobsesi tentang pernikahan! Fokus pada diri sendiri dan karir kamu!”

.
Sebagian perempuan mungkin merasa benar dengan opini di atas dan mengubur kembali kekhawatiran tersebut. Namun tak dipungkiri juga bahwa sebagian besar justru merasa tidak terdukung. Apalagi sifat malu yang membalut kepribadian perempuan. Ia tentu malu untuk meminta (meski pada dasarnya tidak masalah) terlebih dahulu ibadah mulia satu ini.

Dari sini, ada baiknya kita memahami perasaan. Menyudut mengoreksi  yang ada. Apakah ia salah? Adakah hadirnya merupa kesiapan, atau sekadar ingin menyudahi masa sendiri dan berharap lari dari tanggung jawab yang ada dengan menikah? 

.
Memahami Kasih Sayang dan Rahmat dalam Islam
Tidak ada yang salah ketika kita rindu memulai sebuah keluarga. Sebagaimana kita berkaca pada kehidupan Nabi Adam ‘alaihis salam yang kala itu berada di surga. Surga, di mana semuanya sempurna; tidak ada kesedihan, kemiskinan, sakit, semua yang kita minta, ada. Lalu, apa yang kemudian Allah ciptakan untuk Adam? Saudara, anak, atau teman bermain? Ternyata Allah menghadirkan sosok perempuan untuk Adam. 

.
Dari awal, Allah menyusun kehidupan manusia dengan kisah romantis. Bagaimana saling melengkapi dan mendapatkan kesempurnaan, bagaimana saling mengasihi dan menghadirkan kebahagiaan, bagaimana saling mempercayai dan melahirkan ketenangan.


“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mau berpikir.” [QS. 30:21].

Ternyata kehadiran lawan yang  kemudian membuat kita berarti. Seperti dingin yang terasa maknanya ketika kita merasakan panas. Putih yang terlihat jelas ketika kita berada dalam hitam gelap. Kita perlu siswa untuk merasa bagaimana menjadi guru. Kita perlu kesedihan untuk menghargai momen bahagia. Anak yang mampu membuat kita merasa seorang ibu, dan laki-laki yang bisa membuat kita merasa seorang wanita. Fakta psikologis berkata demikian. Pun logika menerima rasa butuh akan lawan itu. Dan harusnya teori ini mampu menolak pandangan kaum feminis yang mendewakan perempuan tapi hakikatknya menjauhkan perempuan dari fitrah kewanitaan itu sendiri.

.
Kita semua perlu memiliki pendamping untuk melengkapi kehidupan kita, seseorang yang mencintai dan membuat kita merasa dicintai dan dilindungi, seseorang untuk memulai sebuah keluarga. Sebagaimana Allah menciptakan kita secara berpasangan, dan itu merupakan kebutuhan dasar yang indah. Mahabijak Allah dalam penciptaan-Nya, bukan? Kerinduan untuk menikah dan memiliki anak tidak lantas membuat wanita terbelakang,  lumpuh, bodoh atau putus asa, melainkan itu membuatnya menjadi seorang wanita.

.
Betapa banyak gadis yang memiliki orang tua, teman, dan karier, namun masih merasa hampa. Merasa kesepian namun sulit mengakuinya. Hal yang seperti ini lambat laun menjadikan wanita takut, kehilangan identitas, dan depresi. Jadi sudah waktunya untuk mencoba tenang dan katakan pada diri sendiri, “Masa depan kita akan baik-baik saja dengan senantiasa merencanakan yang baik pula”.

.

 
Apakah Menikah Sebagai Pelarian dari Penderitaan & Kesepian?
Jangan salah, kadang kita merasa kesepian ketika kita tidak sedang sendiri. Kadang pula ada kebahagiaan dan harapan untuk kembali menjadi gadis. Ada banyak perempuan di luar sana yang ingin beralih posisi ke masa sebelum menikah, mendapatkan kembali kesempatan untuk memperbaiki diri dan memoles kepribadian.  Atau setidaknya memiliki kontribusi untuk melawan penderitaan dan kesepian tersebut. Baik bagi diri sendiri pun orang lain. Dengan demikian, jiwa akan terlatih untuk menghadapi tantangan-tantangan di masa datang.

.
Menikah memang membahagiakan. Bahkan bahagianya tidak hanya berhenti pada pasangan yang merayakannya. Namun bukan hal yang tepat ketika kita menjadikan menikah solusi permasalahan hidup. Apalagi jika kita mengkhayal kehidupan berumah tangga seperti akhir pada dongeng-dongeng; dan mereka hidup bahagia selama-lamanya.

.
Menikah adalah tentang kesiapan menerima kekurangan. Karena bagaimanapun, manusia tidak senantiasa lepas dari kealpaan. Maka yang terpenting bukan hanya mengharap pasangan begini dan begitu, tapi juga persiapan bagaimana jika pasangan begini dan begitu. Toh, menikah merupakan satu pintu menuju ridho Allah. Jika kita mengawalinya dengan niat bukan karena-Nya, bagaimana pintu itu terbuka?

.
Permasalahan apa pun, coba diatasi terlebih dahulu. Pusing skripsi, bosan kuliah, lelah mengerjakan tugas-tugas harian, mengerjar mimpi yang semakin dikejar semakin menjauh, komunikasi dengan orang tua yang sering berujung ketidaksepakatan, masa depan yang masih samar, berbagai kesulitan, harusnya kita bisa melaluinya terlebih dahulu sebelum beranjak kepada tingkat yang lebih tinggi yang sepaket dengan ujian-ujiannya. 

.
Seperti pepatah Arab, “Siapa yang tidak memiliki, tidak bisa memberikan”. Kita tidak pernah bisa mencintai dan merawat orang lain jika kita tidak mencintai dan merawat diri kita terlebih dahulu. Bagaimana bisa membantu keluarga menyelesaikan persoalan jika untuk sekarang saja kita putus asa? Bagaimana kita berharap keindahan dan kedamaian di keluarga kelak, sedang kita tidak membawa kedamaian itu dari kita sendiri? 

.
Belajar Cara Memegang Kunci Kebahagiaan
Sudah menikah atau belum, menempatkan kunci kebahagiaan kita di saku orang lain tidak tampak seperti ide yang cerdas, bukan? Kita tidak bisa bergantung pada suami, atau bahkan daging dan darah kita sendiri (baik itu orang tua, saudara atau anak-anak) untuk membuat kita bahagia.
Jelas sudah Allah berfirman,

.
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” [QS. 14:7]



Mungkin itulah inti dari masalah; kita biasa memiliki pandangan “Jika saya memiliki ini, saya akan senang”. Bagaimana jika kita balik, “Jika saya senang, saya akan memiliki ini”? 

.
Bagaimanapun orang-orang terkasih kita berada di sisi, bagaimanapun mereka menghadirkan kebahagiaan kita, tetap sejatinya tidak ada yang benar-benar bisa membuat kita bahagia kecuali diri kita sendiri; ketika kita memiliki sikap indah terima kasih kepada Allah, Rabb segalanya. 

.
Kita mencari kebahagiaan di langit, padahal langit tidak memiliki ujung. Kita ingin seperti dia yang memiki pasangan seperti ini. Kita mau pasangan kita bisa ini itu. Kenapa yang datang kepada saya dia? Dia tidak lebih baik dari yang saya harapkan, dan perbandingan-perbandingan lainnya. Maka menyelamlah ke lautan, karena ia memiliki dasar. Tengoklah apa yang kita dapati berupa nikmat-nikmat Allah. Dan temukanlah bahwa kita sudah mempunyai segalanya.

.
Syukur, akan kesempatan yang masih Allah bentangkan agar kita senantiasa mempersiapkan bekal menuju hari esok, entah pernikahan, ataupun kematian. Syukur, akan kesempatan berkeluarga yang Allah anugerahkan, tak lain agar kita kerap meninggikan cinta dan amal sholih kepada-Nya lebih semangat lagi.

 
Maka di penghujung tulisan ini, saya mengajak para perempuan di mana pun berada, jika kekhawatiran menghampiri, mari coba pahamkan diri sendiri dengan apa yang telah tersampaikan di atas. Memulai dari memahami fitrah perasaan wanita dalam mencintai dan merindu. Lalu beranjak pada pemahaman tujuan mengapa kekhawatiran itu datang, kemudian berakhir pada kebahagiaan yang mampu kita hadirkan dengan mensyukuri nikmat Allah yang melimpah atas apa pun peran kita sebagai perempuan. Salam hangat.

Note: artikel ini diambil dari tulisan berjudul All The Single Ladies: An Exclusive Love Talk For You dengan penerjemahan bebas ala penulis, dan beberapa poin-poin tambahan secukupnya.

Jakarta Merindu Hikmah 

Ini tentang kebermanfaatan yang sempurna. Bermanfaat yang meluas. Bermanfaat yang menoreh ketenangan.  Bermanfaat yang melahirkan kebaikan-kebaikan lagi setelahnya. Bahwa di sekitar kita banyak perihal yang tidak sempurna perannya kecuali dengan adanya hal yang lain.

Penyair Persia, Ibn al-Muqoffa’ pernah menyampaikan, tidaklah akal itu bermanfaat tanpa adanya wara‘ (ketakutan akan dosa), keindahan tanpa kenikmatan, nasab tanpa adab, kesenangan tanpa rasa aman, kaya tanpa berderma, kemuliaan tanpa penundukan sikap, dan kesungguhan tanpa adanya pertolongan Allah. 

Seorang yang dianugerahkan akal cemerlang, namun berbuat tanpa Ihsan, bagaimana manfaat? Keindahan lampu-lampu malam Jakarta, namun membias oleh padat lalu lintas dan lelah yang tak jarang menimbulkan emosi, bagaimana elok? Keturunan Pejabat Negara, namun enggan pada kebenaran serta meremehkan sesama, bagaimana hormat? 

Membangun sarana hiburan tapi menghimpit tanah sekitar, bagaimana tenang? Menaikkan gaji atasan tapi membatasi lapangan kerja pedagang jalanan, bagaimana adil? Pemimpin wilayah, namun berbuat sesuka kata tanpa santun, bagaimana agung? Upaya-upaya sterilisasi tindakan kriminal tapi mendakwa ahli ilmu yang justru rujukan masyarakat, bagaimana selamat? 

Jakarta merindu hikmah; merindu akan cerdas yang berlandas ketaqwaan. Merindu sikap yang bekerja dengan sabar dan keikhlasan. 

Dalam catatannya, Dr. Hamid Fahmi menjelaskan bagaimana filosof terdahulu menjabarkan makna hikmah. Bahwa ia, adalah bagaimana meletakkan sesuatu pada tempatnya. Ia dalah ilmu tentang segala sesuatu, sifat-sifatnya, kekhususannya, hukum-hukumnya, hubungan sebab-akibat dan mengamalkan sesuai yang dibutuhkan. Orang yang memiliki hikmah atau hakim, masih pada penjelasannya, adalah yang perbuatannya dapat dipertanggungjawabkan; kerjanya tekun, perkataannya benar, moralnya baik, pendapatnya betul, amalnya bersih dan ilmunya benar. 

Sehingga disimpulkan dengan perkataan al-Ghazali, ialah jiwa yang memiliki kekuatan mengontrol dirinya sendiri (tamakkun) dalam soal keimanan, akhlak dan dalam berbicara. Jika kekuatan ini terbentuk maka akan diperoleh buah dari hikmah, sebab hikmah itu adalah inti dari akhlak mulia. 

Jakarta merindu hikmah; merindu akan persatuan yang tak pernah luput dari sejarah saat memadu kesetiaan cinta akan Kalam suci-Nya. Merindu akan kemajuan praja lagi bahagia warganya. Merindu akan sila keempat, “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawarahan/perwakilan”.

Merindu akan firman, “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar. Mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS.32:24)

|| Jakarta, 050217 

Blog at WordPress.com.

Up ↑