Menuju 72 Tahun Kemerdekaan Indonesia: Refleksi Kita dan Harapan Pejuang Terdahulu 

Hari itu, pertanyaan Dokter Radjiman mengenai landasan filosofis negara sebelum kemerdekaannya ini membuat diam anggota BPUPKI yang hadir. Menurut kesaksian Bung Hatta dalam buku Politik dan Islam karya Buya Syafii, mereka tidak mau menjawab sebab khawatir akan mengundang perpecahan dan memakan waktu lama. Selain khawatir, rasanya juga bukan hal yang mudah berfilsafat dalam kondisi yang mendesak tersebut. 

Namun berbeda dengan beberapa tokoh lainnya, masih menurut kesaksian Bung Hatta, yang siap menjawab pertanyaan dr. Radjiman hanya Soekarno dan Muhammad Yamin dari golongan Nasionalis, serta Ki Bagus Hadikusumo dari Muhammadiyah yang mewakili golongan Islam. Bung Karno dan M. Yamin mengajukan Lima Prinsip Dasar, sedang Ki Bagus Hadikusumo mengajukan Islam sebagai landasan Indonesia. 

Berawal dari dua pemikiran yang berbeda ini, BPUPKI membentuk panitia guna memusyawarahkan landasan tersebut. Kesembilan yang tergabung tak lain adalah Soekarno, Mohammad Hatta, M. Yamin, Wahid Hasyim, Agus Salim, Abdul Kahar Muzakir, Achmad Subardjo, Abikusno dan A.A Maramis. Setelah melalui permusyawarahan, tepatnya pada tanggal 22 Juni 1945 lahirlah sintesis atau paduan dari kedua usulan tersebut, yakni Piagam Jakarta. 

Dalam Piagam Jakarta, Pancasila diterima sebagai dasar negara. Namun urutan silanya berganti. Pada tanggal 1 Juni 1945 Soekarno menyampaikan lima asas bangsa Indonesia dengan urutan: (1) Kebangsaan Indonesia, (2) Perikemanusiaan, (3) Mufakat atau Demokrasi, (4) Kesejahteraan Sosial, (5) Ketuhanan yang Maha Esa. Kemudian oleh panitia sembilan diubah menjadi lima sila yang kini lebih kita kenal sebagai Pancasila, dengan tambahan di sila pertama, Ketuhanan yang Maha Esa dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya.

Sampai di sini, kita mencoba menarik hikmah dari sejarah di atas. Bagaimana kira-kira jika kita yang berada di posisi tokoh-tokoh tersebut? Mendapati dua perbedaan pikir yang kemudian dirumuskan agar menjadi selaras. Bagi saya pribadi pekerjaan ini bukan pekerjaan orang-orang biasa. Di dalamnya ada sekumpulan cita-cita plus jiwa-jiwa besar akan negara ini. Tokoh-tokoh yang mampu menyampingkan ego untuk kebaikan bersama, tokoh-tokoh cerdas yang mengajarkan kita bagaimana beragama dan bernegara menjadi paduan yang kuat tuk lebih memajukan Indonesia.

Kemudian kita kenal dengan sejarah terhapusnya tujuh kata Piagam Jakarta, yaitu terhapusnya kalimat “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya” pada sila pertama. Saya belum mendalami betul kronologi sejarahnya, hanya saja mari kita menilik bagaimana akhirnya kemerdekaan Indonesia disahkan dengan diawali pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. 

Entah pertolongan apa lagi yang Allah berikan kepada pejuang terdahulu, hingga lahir diksi yang membuat kita bertanya-tanya, siapa yang merumuskan pembukaan UUD kita ini? Mengatasnamakan Allah sebagai berkat pertama atas merdekanya negara Indonesia. Kita tentu mengenali kalimat pembukaan “Atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”. Tapi mungkin selama ini kita tidak betul-betul memahami, bahwa sejatinya inilah harapan tokoh-tokoh terdahulu untuk Indonesia. Negara yang bebas dan diberkati Allah. 

Tidak cukup di pembukaan UUD, ketika kita melihat kembali perubahan lima asas bangsa Indonesia menjadi Pancasila kini, lalu muncul lagi di benak-benak kita pertanyaan, bagaimana para tokoh merumuskan dasar negara menjadi lebih baik dan penuh makna dalam waktu begitu terbatas? Melahirkan kata hikmah, adil, beradab, yang bila kita kupas tuntas maknanya mungkin berlembar-lembar pelajaran yang akan kita dapat.

Adalah Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi yang telah menulis artikel mengenai kata-kata ajaib tersebut. “Maka ‘Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan’ menggambarkan nilai sebuah sistem yang dikusai oleh semangat hikmat,” jelas beliau, “artinya sistem kenegaraan Indonesia harus berada di tangan orang-orang yang hakim. Yaitu orang yang berilmu hikmah, yang pasti tahu kebenaran yang berkata benar; yang tahu dan berani memutuskan yang salah itu salah dan yang benar itu benar; yang tahu meletakkan segala sesuatu pada tempatnya; tidak akan pernah meletakkan kepentingan dirinya diatas kepentingan rakyat atau umat, tidak meletakkan perbuatan dosa atau maksiat dalam dirinya yang fitri dan seterusnya.” 

Tidak berpanjang mengenai diksi-diksi yang dipilih para tokoh di detik-detik kemerdekaan, kini saatnya kita merenung, mungkin banyak yang telah dikorbankan pejuang terdahulu hingga Allah memberikan hidayah-Nya melindungi bangsa dan agama ini. Mungkin hati-hati pendahulu tak lepas dari mengingat Allah sehingga Ia buka urusan demi urusan sampai kenikmatannya bisa kita rasakan sekarang. Lalu bagaimana kita? Apa yang tengah kita pikirkan, lakukan, perjuangkan untuk Indonesia lebih baik lagi? Apakah lantas bingung menyikapi sistem negara yang belum banyak sesuai harapan? Putus asa akan hutang-hutang yang semakin meninggi? Lalu menyerah dari peduli,  berbuat baik dan berprestasi hanya sebab aturan negara yang dipandang bukan urusan agama? 

Dr. Adian Husaini mengingatkan, bukankah justru di masa penjajahan lahir ulama-ulama pejuang mukhlis dari penjuru pesantren? Bukankah justru di masa penjajahan, api tauhid dalam dada umat muslim yang berkobar melawan kolonial? Bukankah justru di masa penjajahan, hati-hati besar bangsa Indonesia berpadu merangkul perbedaan dalam semangat satu, manusiakan Indonesia, adilkan Indonesia? Bukankah justru di masa genting tak berdayanya Indonesia, masih ada harapan-harapan tulus tuk generasi masa depan dari tokoh-tokoh kita terdahulu?

Maka apa yang tengah terjadi di negara ini, tetapkan yakin ada masa di mana Allah menguji orang dan bangsa yang Ia cinta. Ya, yang masih terdapat di dalamnya orang-orang yang senantiasa saling menasihati pada kebaikan dan terus menginsafi diri. Estafet harapan ini tak boleh terhenti. Lakukan apa yang bisa kita kerjakan. Manfaatkan peluang-peluang yang telah diperjuangkan tokoh-tokoh hanif terdahulu.

“Indonesia memang bukan negara agama, tapi Indonesia adalah negara orang yang beragama. Karenanya, keimanan merupakan unsur penting membangun negeri ini.” (KH. Zainuddin MZ)

Wallahu A’lam bis showab.

|| Jakarta, 16 Agustus 2017

​The Marriage Proposal: Tips to Make the Decision Easier 

Dalam perjalanan menuju halal, kita temukan laki-laki cenderung menjemput dan perempuan menerima. Tapi keduanya tak lepas dari satu keharusan, yaitu memilih. Bagaimana seorang laki-laki bisa mantap menentukan gadis sebagai pilihannya, pun bagaimana sebagai perempuan meraba rasa “sakan” untuk menerima atau menolak. Tentu bukan pilihan yang mudah. Setidaknya ada beberapa kiat bagaimana membuat keputusan itu mudah, semoga. 

1. Pahami Niat dan Ber-istikharahlah 

Pintalah dalam keadaan sadar, tulus, dan serius. Maksudnya seperti apa? Ketika kita melihat diri telah siap, maka kita dalam keadaan sadar meminta Allah tuk hadirkan seseorang. Bukan karena bosan hidup atau hendak lari dari sebuah permasalahan. Sejatinya kita sadar, kita siap akan amanah-amanah lebih besar setelah pernikahan.

Dengan demikian kita bisa lebih tulus dan serius meminta kepada Allah. Lintasan pikiran manusia saja Allah mengetahui, maka bagaimana pahamnya Ia mendengar hamba-Nya yang benar-benar berharap.Yakinlah tak ada kata menyesal jika kita melibatkan Allah di setiap keputusan urusan hidup kita. 

2. Mengajukan Pertanyaan Cerdas 

Tanyakan bagaimana hak dan kewajiban masing-masing pasangan. Hal-hal apa yang bisa membuatnya marah dan kecewa serta bagaimana mengatasinya. Dari sini kita akan mudah memahami bagaimana calon pasangan kita memandang pembagian tugas di keluarga kelak. Apakah sejalan dengan yang kita pahami? Jika tidak, bagaimana menyelaraskannya? Kita juga bisa sedikit mengenal bagaimana ia mengontrol emosinya melalui pertanyaan tadi. 

Tidak hanya soal pribadi. Kita juga perlu menanyakan perihal pendidikan dan pola asuh anak. Bukan membahas terlalu jauh. Tapi dari sini kita juga terbantu mengenal calon pasangan kita. Secara umum saja. Setidaknya bagaimana masing-masing kita mengenal peran sebagai orang tua kelak. 

Selain pertanyaan di atas, kita boleh menanyakan hal-hal lain yang dengan melalui jawabannya, kita cukup yakin meraba apakah dia orang yang Allah kirimkan sebagai jawaban doa-doa selama ini? 

3. Menjaga Ketaqwaan di Setiap Langkah 

Bagaimana bisa menuai berkah jika menjemputnya saja kita tak menjaga nilai-nilai ketaqwaan. Apa sih, ketaqwaan itu? Dari sekian banyak penjelasan, pada intinya taqwa ialah ketika seorang muslim takut akan murka Allah. Lalu dengan cara apa ia menjaga dirinya? Ittibaa’u awaamirihi wa ijtinaabu nawaahiihi, dengan mengikuti perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. 

Apa hubungannya dengan memudahkan kita menentukan keputusan? Jika Allah ridho akan perbuatan-perbuatan (mengikuti perintah dan menjauhi larangan-Nya), lantas apa mustahil Ia mencintai kita? Bahkan jika kita datang membawa tumpukan dosa Allah masih cinta sebab taubat kita. 

Ketika kita berusaha tuk membatasi komunikasi, bersikap baik meminta izin kepada orang tua atau wali, belajar hal-hal baru mempersiapkan pribadi lebih baik lagi, menjaga diri dari kelalaian-kelalaian meski sesaat, terus mendekat kepada Allah dan melibatkan-Nya. 
Selamat memaksimalkan ketaqwaan! 

4. Jangan Memaksakan Diri

Someone can be perfect, but is not perfect for you. Sebagai manusia, kita tidak salah menentukan kriteria pasangan hidup. Justru dengan adanya kriteria bisa membantu kita mengupayakan memilih yang baik. Tapi terkadang kriteria itu menjadi harapan atau bahkan delusi. Tak sedikit kita yang patah hati, malah minder ketika harapan tak bersambut kenyataan. Maka kita perlu kembali meyakini bahwa seseorang bisa saja kita anggap sempurna, tapi dia tak sempurna untuk kita. 

Lalu muncul pertanyaan apa kita tidak sempurna (dalam maksud lain: baik), sehingga kita tak disandingkan dengan yang menurut kita baik? Kualitas baik-buruk Allahu a’lam, Allah yang bisa nilai itu. Jika memang mutlak baik dengan baik serta buruk dengan buruk maka tak ada kisah tauladan Asiyah bersanding Fir’aun dan Nuh juga Luth yang diuji pasangan hidup tak berbakti. Sedangkan maksud pesan baik dengan baik dan buruk bertemu buruk adalah satu tarhiib (motivasi) tuk terus berupaya menjaga diri dalam kebaikan. 

Selain dari itu, tidak memaksakan juga berarti mencukupkan apa-apa yang kita rasa. If you don’t feel comfortable or attracted to him, that’s a good enough reason to reject. Memang, perasaan  tidak nyaman atau tertariknya kita bukan kemudian menjadi standar dia bukan pasangan kita. Kita perlu berdiskusi dengan hati, orang-orang terpercaya, dan tentu menguatkan musyawarah dengan Allah. Namun jangan memaksakan diri. 

Sebagian kita mungkin merasa tidak enak menolak. Apalagi sebagai perempuan. Lalu kita memaksa menerima ketidaktertarikan itu dengan alasan tak boleh menolak pria baik. Wah, padahal salah satu pesan Nabi tuk menerima tawaran pernikahan adalah baik agamanya dan kita suka dengan kepribadiannya. Anjuran tidak menolak orang baik pun bukan ditujukan pada kita, melainkan untuk wali kita. 

Semoga kita memiliki hati-hati yang stabil tuk meraba keputusan, ya. 🙂

5. Gunakan Waktu-waktu Ini untuk Lebih Mendekatkan Diri ke Allah 

Sebagaimana poin pertama dan ketiga. Kita tak bisa melalui hari-hari ini tanpa petunjuk Allah. Pernikahan bukan urusan ringan yang cukup diikhtiarkan dengan fisik atau perasaan belaka. Tapi kesiapan spiritual, intelektual, finansial, mental, sosial, menjadi setumpuk yang kita tahu, dalam perjanjiannya saja mengguncang Arsy langit. Ini urusan berat. 

Maka begitu naif jika di masa-masa menentukan keputusan kita malah lalai dan jauh dari Allah. Jika demikian, mungkin kita perlu kembali menanyakan sebenarnya apa tujuan menikah. 

6. Senantiasa Memperbarui Niat 

Menyambung poin sebelumnya, perihal menjaga niat agar tetap-semakin baik. Di awal kita sudah menyinggung pembicaraan niat ini. Hanya saja hati tercipta dengan sifatnya yang mudah berbalik. Mungkin di tengah jalan keinginan menikah kita menjelajah ke mana-mana. Maka terus memperbarui niat semoga menjadi penjaga yang menguatkan. 

Jika sebelumnya kita cukup memiliki tujuan menikah agar menjaga kesucian, tambah niatnya. Rancang capaian yang lebih luas. 

Berkolaborasi tuk memaksimalkan manfaat bagi sekitar, menambah silaturrahim, menjadi perkembangan peradaban, dan tentunya tujuan ibadah dan lebih mendekatkan diri kepada Allah. 

Sebaliknya ketika di perjalanan kita melirik pernikahan sebagai ajang memewahkan acara, menaikkan gengsi, atau kesenangan-kesenangan yang sifatnya semu, tepis segera lirikan itu. Perbarui kembali niat-niat kita. Semoga kesenantiasaan menjaga tujuan baik menikah semakin melapangkan hati dan pandangan kita tuk menentukan keputusan terbaik. 

Demikian enam poin kiat mudah membuat keputusan. Poin-poin di atas berinduk dari satu poster Productive Muslim yang kemudian penulis kembangkan penjabarannya. I hope this will give you clarity. Semoga catatan seadanya ini cukup mencerahkan ya. Yang sesuai moga menginspirasi dan yang tidak sesuai moga tak bermasalah. 😀 

Best gratitude! 🙂

|| Jakarta, 120817 

Tetaplah Jelita

Setiap perempuan menyimpan kecantikannya masing-masing. Cantik yang bukan sebatas rupa. Tapi cantik yang jelitanya mampu dirasakan orang-orang sekitarnya.

Dengan optimisnya, ia redakan tangisan anak-anak pelosok pulau yang kehilangan ibu bapak, lalu mengukir tawa dan cinta untuk mereka.

Dengan sabarnya, ia menjadi perempuan pertama yang dicari ketika seorang nenek ingin bercerita, meski ceritanya berkali-kali sudah ia sampaikan. Sabar itu tetap mendengarkan.

Bersama tunduk malunya, ia simpan rasa-rasa kagum dan bangga akan keberhasilan dan kebahagiaan teman-teman seperjuangannya. Cukup doa-doa baik yang tersalurkan untuk mereka yang ia cinta.

Bersama ceria dan ungkapan-ungkapannya, ia bebincang hangat dengan saudara dan keluarganya, menjadi pelipur kala lara, menjadi pengingat kala lupa.

Dengan kepandaiannya, ia selamatkan mimpi-mimpi mereka yang hampir putus asa. Merunduk dan berbisik pelan mensyukuri pencapaian-pencapaiannya, namun bersorak bahagia memberi selamat mereka yang meraih harapannya.

Ya, setiap perempuan memiliki kecantikan masing-masing. Dan yang menjadikan ia jelita serta pesona adalah bagaimana ia menuai kebermanfaatan melalui peran-perannya.

Ia bukan berarti tak pernah jatuh. Tapi ia mampu bangun meski luka-luka menggores kehidupannya.

Ia bukan berarti tak pernah marah. Tapi kasih sayangnya yang terbilang lebih meredakan kecewa-kecewa dalam hati.

Ia bukan berarti tak pernah salah. Tapi malunya berkali-kali menegur dan mengajak diri untuk terus menginsafi lalai-lalai.

Ia bukan berarti pemilik followers dan likes terbanyak di seantero sosial media. Tapi yang pedulinya meluas menyapa mereka yang membutuhkan, hingga menghadapi realita lebih ia syukuri.

Ia juga bukan penerima sanjungan dari sana-sini. Tapi doa dan nasihat orang-orang yang tulus menyayanginya cukup menjadi penguat diri dan inspirasinya.

Ia adalah sebaik perhiasan, jika iman menjadi muara jiwanya, takwa sebagai pakaiannya, dan sholihah merupa perangai akhlaknya.

Maka bagi para perempuan, cukupkan kekhawatiran-kekhawatiran yang menghambatmu serta tetaplah jelita. Tetaplah menjalani hidup ini sepenuh syukur dan kesabaran.

|| Salam manis, 050716

Mendidik Generasi 

Semakin gigih mengejar impian, semakin sadar bahwa cara terbesar untuk meraihnya adalah menyibukkan diri untuk mendidik generasi, lebih khusus mendidik anak sendiri.


Begitu yang disampaikan Praktisi Homeschooling Kiki Barkiah.

Terutama perempuan. Dengan amanahnya mengandung, melahirkan, menyusui, juga hari-hari yang lebih banyak ia lalui bersama anak, cita-cita besar yang ia rencanakan bukan kemudian kandas begitu saja. Justru di sana ia punya kesempatan besar menggenggam tonggak peradaban, mengarahkannya pada visi dan misi yang mengantarkan ia pada cita-cita besarnya.

Apa pun profesi, amanah mendidik generasi menempatkan posisi di setiap pundak kita. Laki-laki pun perempuan. Amanah ini juga yang diemban para pendahulu kita sehingga hasilnya bisa kita rasakan sekarang. Lantas apa wajar ketika kita tidak peduli dunia pendidikan?

Mari sama-sama bangun kembali rasa ingin mewujudkan generasi yang siap menghadapi tantangan lebih berat. Yang jauh lebih cerdas dari orang tua dan gurunya. Generasi yang mampu mengenal potensi sehingga mudah mengambil peran tuk berkontribusi. Generasi yang memiliki inisiatif sehingga menjadi produktif dan solutif.

Dan tentu, semua butuh persiapan. Maka salah satu cara mengawalinya adalah, tumbuhkan rasa kepemilikan akan peran ini. Besok -in syaaAllah-, kita akan menjadi orang tua. Yang akan ditanya, yang akan dipercaya, yang akan dipertimbangkan saran dan masukannya.

Daripada tebar pesona dan janji-janji tak pasti, lebih baik tekuni potensi dan urus segala kebutuhan pribadi bahkan membantu orang tua. Daripada mengukur-ngukur kriteria pasangan idaman dan menaruh hati di sana-sini, lebih baik pelajari bagaimana menjadi orang tua yang apik, mencetak generasi yang baik.

Menjadi generasi Ismail yang sabar dan membantu Ayahnya Ibrahim taat kepada Allah. Merupa generasi anak-anak Ya’qub yang mewarisi ilmu-ideologi Ayahnya. Mengikuti jejak keempat pejuang yang Khansa binti Amr bahkan memotivasi putra-putranya untuk berada di barisan depan membela kebenaran dan keadilan.

|| Jakarta, 310517

10 Tips Ramadhan Produktif 

1. Miliki niat tulus dan siap beramal lebih banyak. Teruslah berdoa agar kita (benar-benar) sampai pada Ramadhan serta keberkahannya

2. Susun rencana di setiap malam. Pilih tiga tugas terpenting yang ingin kita capai di hari esoknya

3. Jangan pernah ketinggalan sahur. Bangunlah (setidaknya) satu-dua jam sebelum fajar. Pastikan energi kita terisi dan seimbang

4. Mulai kerjakan tugas prioritas setelah fajar. Setidaknya, minimal satu atau dua pekerjaan sudah kita selesaikan

5. Cobalah istirahat siang (qailulah) tidak lebih dari 20 menit. Bisa sebelum atau setelah dzuhur

6. Untuk agenda prioritas yang bersifat rutin, buatlah pelaksanaannya mengikuti jadwal sholat. Menambah hapalan, misalnya. Rencanakan setiap habis sholat kita tambah dua ayat

7. Jangan lupa, tetap berikan waktu spesial untuk membaca Al Qur’an dan memahami artinya

8. Jangan juga kehilangan kesempatan saling menasihati dan tolong menolong dalam kebaikan. Jika melihat teman sekolah, kuliah, atau di kantor yang belum mahir baca Al Qur’an, diajak belajar bersama

9. Buka puasa secukupnya, bersegera sholat maghrib, makan, dan jangan ketinggalan tarawih, ya! 🙂

10. Berikan lebih banyak shodaqoh dari hari-hari biasanya

Catatan ini diterjemahkan dari artikel productivmuslim.com dengan penambahan seperlunya. Teman-teman ada tambahan tips? Boleh komen ya. 🙂

Veteran Ramadhan? 

Satu yang perlu kita sadari dari perjumpaan dengan Ramadhan adalah, suasana sekitar yang mendukung.

Seorang ustad bertutur bagaimana awal Ramadhan ia lalui di seberang benua. Sangat berbeda dengan di Tanah Air, begitu pendapatnya. Jika di sini kita menemukan masjid-masjid berlomba menyuguhkan agenda spesial, bahkan jauh-jauh  hari sudah mengadakan penyambutan Ramadhan, maka di luar sana (jika tidak bergabung dengan komunitas muslim) belum tentu kita mendapatkan atmosfer tersebut.

Lalu bagaimana bentuk syukur kita akan nikmat aman dan pesona ini?

Kegiatan rutin harusnya membuat kita semakin mahir. Seperti mengendarai sepeda, makin sering berlatih maka semakin pandai kita menggunakannya.

Menemui kembali Ramadhan, harusnya membuat kualitas diri terus lebih baik dari Ramadhan-Ramadhan sebelumnya. Jika sewaktu SD yang kita tahu Ramadhan sebatas puasa, buka bersama di TPA, atau meminta tanda tangan penceramah sebakda tarawih, maka berbeda dengan Ramadhan di pandangan remaja pun dewasa.

Ramadhan adalah pendekatan diri, pembersihan hati, dan pengembangan pribadi tuk menjadi lebih baik lagi. Bulan yang satu-satunya disebut dalam Al Qur’an. Bulan diturunkannya (permulaan) petunjuk mulia, Bulan disatukannya hati-hati yang percaya.

Maka kita temukan firman Allah,

Dan apabila hamba-hamba-ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.

Pada ayat ini Allah menggunakan kata “Aku”. Di mana banyak ayat kita tahu, Allah menyebut diri-Nya dengan nama-Nya atau “Dia”. Sebegitu akrab Ia terhadap hamba-Nya.

Semoga Allah senantiasa tuntun kita menjaga amalan yang Ia cinta di bulan ini. Dan menganugerahkan kita pada hakikat dekat. Hingga bertahun-tahun berjumpa Ramadhan, ada penambahan-penambahan imani yang diberkahi.

Allahu ta’aalaa a’lam.

Mohon maaf lahir dan batin. Selamat menunaikan ibadah puasa dan mereguk keberkahannya.

|| Jakarta, 270517

Khadijah tak pernah tau, apa yang akan Allah hadirkan untuknya setelah mimpi matahari jatuh di langit Makkah dan bertahta di rumahnya. Saudah juga tak pernah menyangka, apa yang akan Allah datangkan sebagai pengganti kesedihannya atas kesyahidan sang suami, Sakran ibn Amr. Aisyah tak pernah mampu menerka, bagaimana ia akan melewati masa remaja dan dewasanya.

Terkadang jiwa tak pandai memompa langkah-langkah menuju cita agar semangat. Pun tak cakap melapangkan hati kala mimpi belum bertepi. Padahal sunnatullah, belum tentu apa yang kita rencanakan berjalan sesuai. Sebagaimana yang disampaikan Mutanabi dalam syair-nya, kapal yang berlayar, tak menjadikan ia selamat dari badai hingga harus berbelok arah bahkan terbentur karang.

Ini tentang kekhawatiran, kawan. Tentang kekhawatiran yang belum berujung. Tentang masa depan yang melambai, sayang mata dan hati terlalu takut untuk melihat.

Bukan hanya perihal jodoh, tapi juga bagaimana keluarga beserta keturunan menjadi sebenar penyejuk mata dan satu jalan mencapai ridho-Nya. Bukan hanya perihal lolos melanjutkan kuliah atau tidak, tapi juga kelayakan sebagai hamba yang diridhoi faqih dalam agamanya. Bukan hanya perihal tercapai mimpi atau malah semakin jauh, tapi tentang akankah masih ada yang bisa disumbangsihkan? Menjadi bermanfaat bagi sesama?

Menyiapkan hati untuk esok. Mungkin menjadi satu langkah agar ia berani menatap masa depan. Menyiapkan hati berarti bersiap atas resiko yang akan terjadi. Bersiap menghadapi kesukaran-kesukaran yang mungkin dihadapi. Dan tentunya, bersiap meyakini ketentuan Allah yang terbaik.

Memang belum tersingkap siapa pelengkap usia kelak. Dan bukan tugas diri menerka apalagi jika hati ikut-ikutan memaksa. Melainkan siapkan hati untuk esok; menjernihkannya dari segala rasa serta lapang atas pilihan Allah semata.

Memang belum terbukti bagaimana nasib perjalanan menuntut ilmu di sebuah lembaga. Dan bukan tugas diri berputus asa apalagi jika hati turut berburuk sangka. Melainkan siapkan hati untuk esok; terus berupaya merajuk damba serta mulai jadikan ilmu napas keseharian, bukan musiman.

Memang belum tercapai segala cita dan mimpi. Dan bukan tugas diri menyalahkan kondisi apalagi jika hati memandang sekitar dengan iri. Melainkan siapkan hati untuk esok; aturlah kembali tahap-tahap pencapaian serta perbarui i’tikad, mungkin selama ini belum bertuju pada akhir-Nya.

Wahai hati yang khawatir. Jadikan rasa resah itu perenungan agar engkau bertambah harap, cinta dan takut pada Pemilik jiwa dan hidup ini.

“Saya meminta sesuatu kepada Allah, jika Allah mengabulkan, saya gembira sekali. Jika Allah tidak mengabulkan, saya gembira sepuluh kali lipat. Sebab yang pertama pilihan saya, dan kedua pilihan Allah.” (Ali ibn Abi Thalib)

|| Jakarta, 190117

Peran yang Tak Boleh Hilang

Bismillah.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Atas kasih sayang-Nya, kita dikuatkan berada dalam barisan perjuangan ini. Atas petunjuk-Nya, kita sampai di penghujung pertanggungjawaban dunia. Dan atas luas rahmat-Nya, kita senantiasa mengharapkan berkah dari setiap jejak langkah.

Sholawat dan salam kepada Rasul Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, penggerak dakwah Islam, pendidik generasi gemilang, serta pemilik kerinduan terdalam akan kebaikan umatnya.

Jika kita mengibaratkan perjuangan ini seperti kesatuan pasukan, maka peran Ali ibn Abi Thalib dalam perang Khaibar menjadi satu inspirasi kita. Pembawa panji Islam. Yang mana kibarannya adalah pertanda umat Islam masih berjuang. Sebanyak apa pun tetesan darah menjemput kesyahidan, sepelik apa pun medan pertempuran, ia harus tetap bertahan.

Demikian pula yang terjadi pada Mush’ab ibn Umair di Uhud. Ketika musuh menghampiri dan menebas tangan Mush’ab, ia raih bendera itu dengan tangan kirinya. Lalu ditebas lagi. Sehingga pangkal tangan yang tersisa berupaya mendekap erat bendera di dada.

Pada dasarnya, menjaga kemuliaan Islam adalah tugas kita bersama. Membawanya ke dalam diri masing-masing adalah amanah di mana pun kita berada. Apa pun aktivitas, bagaimanapun “tipe” langkah kita, pesan kemuliaan itu tak boleh sirna.

Ah, bahkan hal ini bukan lagi tugas kita. Melainkan kebutuhan dan rasa kepemilikan kita. Ketika butuh dan memiliki menjadi satu dalam wadah cinta, maka yang hadir adalah pengorbanan dan penjagaan.

Maka lihatlah bagaimana Abdullah ibn Ummi Maktum yang dalam “keterbatasan”nya, “Tempatkan saya di antara dua barisan sebagai pembawa bendera. Saya akan memegang erat-erat untuk kalian. Saya buta, karena itu saya tidak akan lari.

Dan dari sini, terucap terima kasih kepada seluruh pasukan atas kerja samanya menggenggam peran ini. Ketika tangan tak kuasa membawa, lalu kita bergantian. Ketika rintangan terus menghampiri, lalu kita saling memekikkan takbir, mengibarkan keteguhan.

Terima kasih atas peran-peran yang telah dimaksimalkan. Tidak ada pencapaian yang usai tanpa kesabaran. Tidak ada persaudaraan yang berjalan baik-baik saja tanpa rangkaian kepercayaan.

Semoga Allah menganugerahkan kita sebagai pembuka kemenangan. Selayak Al Fatih, sebagaimana harapan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- ketika mencari Ali, “Besok akan kuserahkan bendera perang kepada seseorang yang Allah dan Rasul-Nya mencintai dan dia pun mencintai Allah dan Rasul-Nya. Allah akan memenangkan kaum muslimin melalui tangannya.”

Pada akhirnya kita memahami, masa jabatan bisa saja diakhiri, tapi perjuangan tak akan pernah berhenti.

Note: tulisan ini saya rangkai sebagai muqoddimah Laporan Pertanggungjawaban Dept. Kajian & Training LDK Al Fatih. Tak ada harapan menaruhnya di sini (dengan beberapa tambahan), melainkan semoga ada manfaat dan semangatnya, serta bisa dirasakan kita semua. Terima kasih.
Salam bawa perubahan!
Dept. Kajian & Training 16/17

Laki-laki itu Kusebut Fajar

​Syahdu – meneduh gelisah pecinta malam. Menyudahi kelam angan yang berpanjang sesakkan harap berselimut ragu. Kaubangkit bersama alunan ajak, melawan lelap fana ‘tuk hadapi gigil tantang seutama abdi.

.

Gemericik tutur mengundang segenap hati bersihkan nurani – membasuh pikir bahwa jarak, ialah bukti perlindungan cinta pada hakikinya; Tuhan. Itu pandangmu.

.

Demi menghadap khusyuk melaku perintah yang tak lain kepasrahan batin adukan segala damba, kaurela mendingin kaku pada alir kesendirian – mencahya ridho-Nya – menjaga cinta di kebenaran sucinya; fitrah.

.

Sunyi – menepi damaikan resahan cinta. Kau tahu, itu membiarkan pekat rindu menggempita pada loka hati yang terus menjerit! Namun selalu saja katamu, “Biarkan aku menyekap rintih rasa ini. Memilih sudut penyendirian ialah sehening sepi. Berharap dedoa kalbu tenang mengadu. Tersinggah di sisi-Nya.”

.

Kau, lagi-lagi tiada ragu tinggalkan ramai pemuja cinta. Membela damai kesunyian – membukti adanya upaya luhurkan rasa. Indah.

.

“Aku mencinta,” kisahmu di beberapa tempo, “aku merindu …,” lanjutmu meyakinkan ungkap manusiawi itu. Lekas kausambut pengakuan dengan sesujud pertanggungjawaban. Meluruh hati pinta toleh kuasa-Nya. Memburu perhatian kala waktu berkabar Ia turun dari singgasana.

.

Hangat – ya, segundah hasrat basahi ujung sajadahmu. Sedebar degub terdekap – mengusap dasar sanubari. Sungguh mewujud kasih-Nya, merengkuh jiwajiwa pejuang cinta ‘tuk semulia cinta.

.

Bias cahya kian meraba lelangit asa. Moga hari memihakmu dengan segala berkah. Cerah bahagia menjangkah duga yang kauterka sebelumnya; gapai sakinah, mawadah dan rahmah.

.

|| Jakarta, 030115 

Blog at WordPress.com.

Up ↑