Berawal dari DND

EditTepatnya tahun 2014 silam, seorang pemuda selulus SMA baru saja menginjakkan langkah juangnya di kehidupan nyata. Ya, kehidupan yang tantangannya tak habis-habis. Kehidupan dengan cobaan yang tak sesederhana masa belajarnya di pesantren dulu. 

Kata Ibu, ketahuilah Nak, hakikatnya kamu belum lulus. Ujian sesungguhnya ada di kehidupan luar sana. Keluarlah. Merantaulah. Teguk terus ilmu-ilmu-Nya. Amalkan apa-apa yang kamu dapat.

Namun tidak semudah itu. Entah (mungkin ini yang dimaksud ibu ujian sesungguhnya) cita-cita yang dulu sempat terangkai kala itu pudar tak berkabar. Energi kehambaan pada Allah juga kian meluruh sedikit demi sedikit. Padahal sering kali dosen mengingatkan, untuk apa kuliah di jurusan syariah jika tidak berjuang menegakkannya? Ngapain jauh-jauh ke ibukota kalau tujuannya cuma mencari gelar? Kalian mendapat ilmu secara gratis (red. beasiswa), maka bagikan ilmu-ilmu itu dengan gratis pula. 

Dakwah. Menjadi satu kata yang menyibukkan pikiran si pemuda kala itu. Dia ingin berdakwah. Dia ingin berkontribusi lebih untuk perbaikan umat ini. Dia ingin belajar banyak tentang perjuangan-perjuangan mukmin terdahulu. Dia ingin menjadi satu rantai dari rantai kebermanfaatan. Dia ingin menjadi penggenggam tongkat estafet pengabdian untuk agama ini.

Maka berawal dari DND, ia belajar bahwa kekuatan dakwah terletak pada kebersamaan dan kesatuan. Sebab apa? Dengan saling bergandeng ia tak mudah jatuh karena kerikil-kerikil tantangan yang acap kali membuat ragu ‘tuk melangkah. Dengan saling berangkulan tugas dakwah ‘kan terasa lebih ringan. 

Dan boleh saja disampaikan, dari DND pemuda itu bertemu sahabat-sahabat yang menyejukkan. Kehadirannya memberi semangat, kepergiannya meninggalkan rindu. Berkumpulnya membawa manfaat, berpisahnya merajutkan doa-doa. 

Maka berawal dari DND, ia mengerti bahwa dakwah beragam cara kerjanya. Bahwa Allah titipkan amanah sesuai kemampuan hamba-hamba-Nya. Si pemuda yang miliki kebiasaan menulis, mulai terlatih ‘tuk menyampaikan gagasan-gagasan melalui rangkaian katanya.

Atau kawan yang lain dengan kecakapan bicaranya, sering kali kemudian diminta mengisi acara sana-sini. Tak tertinggal dengan siapa pun dan keahlian apa pun yang dimiliki, bermula dari DND ia menemukan, percaya dan lebih yakin akan kemampuan dirinya. 

Maka berawal dari DND, pemuda itu memahami bahwa dakwah hakikatnya perbaikan diri sendiri. Bagaimana sebuah teko mampu memenuhi secangkir gelas jika tak ada isinya? Apa yang mau disampaikan jika hati dan pikiran kosong dari keihsanan dan pengetahuan? 

Bermula dari DND, ia terus belajar dan belajar. Belajar bagaimana menjadi dai yang dirindu umat. Menjadi dai yang memahami, bukan menghakimi. Dai yang menuntun, bukan menuntut. Dai yang menyampaikan hikmah, bukan pembawa masalah. Dai yang tak merasa bejasa, namun kerjanya nyata. Dai yang berpegang teguh bahwa Rasulullah tak menyuruh kita menyelesaikan tugas dakwah ini, tapi Rasulullah mengajak untuk syahid di jalannya. Dengan begitu, ia siapkan regenerasi agar kiranya ada tangan-tangan tangguh yang siap menerima estafet amal mulia ini. 

Maka siapakah gerangan?

Pemuda itu termenung. Baru di sini ia menyadari. Apa-apa yang ia pelajari dan pahami dari DND, adalah apa-apa yang pernah disampaikan sebelumnya. Maklumat itu bukan sesuatu yang baru. Hanya saja, ia merasa lebih hidup dari sebelumnya. 

Salam santun. 🙂 

Note:

1. DND adalah singkatan dari Dauroh Nukhbatid Du’aat yang diselenggarakan LDK Al Fatih LIPIA setiap semesternya

2. Coretan lawas yang ditulis setahun silam, dalam masa penantian cetak buku di gambar (Sekokoh Kata Ukhuwah) karya DNDR. 

Buku yang lahir dari persaudaraan, dirawat dengan kepercayaan, hingga tiba masa purnanya, ia tumbuh bersama kekokohan

Advertisements

Ada Titipan di Setiap Rezeki Kita 

Seorang Ayah dianugerahi gaji bulanan sebesar 30 juta. Profesinya sebagai asisten manajer salah satu kapal wisata memberikannya kesempatan tuk menghidupkan istri dan anaknya dengan baik. Penghasilan yang ia dapat lebih dari cukup.

Tapi sayang ia mengira gaji besar itu untuk dia seorang. Dia yang lelah bekerja keras, dia juga yang berhak menghabiskan uangnya untuk apa saja. Lupa, bahwa di belakangnya ada tanggung jawab menafkahi istri dan anak-anak. Tega, menempatkan hatinya pada kesenangan lain dan meninggalkan keluarga.

Mahaadil Allah, sesungguhnya hukuman-hukuman di dunia ini bukan sama sekali menandakan Tuhan jahat. Tapi sebaliknya, Mahasayang Ia pada hamba-hamba-Nya yang baik, bahkan mengangkat batas antara doa dan pengabulannya jika mereka yang baik tersakiti. Bukankah seorang guru tidak diam saja melihat murid yang mengganggu temannya? 


“Pantaskah Kami memperlakukan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi? Atau pantaskah Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang jahat?”
(QS. Shad: 28)

Maka tak lama setelah menjauh-hindari keluarganya, Ayah tersebut kehilangan pekerjaan. Kandas semua harta. Enyah semua rasa bangga. Tertambah beban batin yang tak lagi terakui oleh keluarga. Hasil gaji yang ia dapatkan habis tuk bersenang-senang. 

Ada titipan di setiap rezeki kita. Bagi seorang ayah atau suami, jelas sudah Allah lebihkan ia atas keluarganya, “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita. Oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) di atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka telah menafkahkan harta mereka.” (QS. Annisa: 34)

“Memberi nafkah kepada keluarga merupakan perkara yang wajib atas suami,” jelas Ibnu Hajar Al Asqolani, “sehingga ia bisa memberikan sedekah kepada orang lain setelah mencukupi nafkah keluarganya.” 

Ada titipan di setiap rezeki kita. Mungkin bersama uang sangu yang kita dapat dari orang tua atau beasiswa, ada rezeki adik-adik pemulung di stasiun kota. Mungkin bersama uang hadiah juara atau hasil usaha, ada rezeki oleh-oleh untuk keluarga dan donasi korban kemanusiaan dunia. Seberapa pun uang yang sampai di tangan kita, mungkin ada sebagian persennya tuk kita bagikan kepada sesama. 

Dari sini juga kita lebih menyadari esensi rezeki, bahwa ia tak hanya merupa uang, tapi juga keringanan berbagi dengan rasa lapang. Bukan sekadar berjumlah rupiah, tapi juga kegigihan tuk senantiasa bersedekah. 

Iman, waktu luang, saudara sholihin-sholihaat, pasangan dan anak yang qonitin-qonitaat, nikmat sehat, semua, adalah rezeki yang tak kan pernah bisa terhitung. Maka menyalurkan sebagiannya merupa syukur yang indah. 

“Dan terhadap nikmat Rabb-Mu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur)” 

(QS. Adh Dhuha: 11)

Apa yang Allah Inginkan di Balik Takdirku?

Detik-detik penantian kabar kelulusan terus berjalan. Entah melalui lembaran kertas yang akan ditempel di mading kampus atau melalui web aktif Penerimaan Mahasiswa Baru. Sebagaimana waktu yang terus beranjak, seperti itu pula harapan dan doa yang kian menanjak, berebut menaiki langit pinta Allah kabulkan suara-suara hatinya.

Waktu pengumuman itu tiba. Kusimak satu persatu jejeran nama dan nomor pendaftaran yang memanjang, serta tak lupa menahan degup dada yang semakin takut. Terus, terus mencari di urutan mana namaku tertera. Belum apa-apa, aku sudah ingin menangis, bagaimana jika namaku tidak ada? Apa yang harus kusiapkan jika namaku tertera? Pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa kujawab selain dengan dzikir, berharap Allah berikan yang terbaik.

Allah, namaku ada! Ya Allah, aku lolos!

Sujud panjang kulabuhkan mensyukuri ketetapan ini. Begitu haru, sedemikian Allah sayangi diri ini yang masih lalai berdoa dan berusaha? Sedemikian Allah pahami pengorbanan demi pengorbanan mencapai cita-cita ini. Sedemikian Allah mudahkan, menyelipkan satu dari beribu nama tuk hadapi takdir selanjutnya. Di antara teman-teman yang belum diizinkan Allah melanjutkan perjuangan di LIPIA, apa yang Allah inginkan di balik takdirku bersama LIPIA?

Bukankah ini menjadi awal perjuangan? Ujian sesungguhnya bukan terletak pada tes masuk-tidaknya di sini. Tapi bagaimana aku melalui hari-hari kuliah nanti. Takut sesungguhnya bukan pada takut masuk atau tidaknya di LIPIA, tapi pada takut ketika ilmu-ilmu yang didapati nanti tak sanggup aku amalkan. Rasa senang-bahagia sejatinya bukan pada lulusnya aku di LIPIA, tapi ketika bagaimana takdir ini semakin mengantarkanku cinta kepada Allah dan perjuangan di atas jalan-Nya.

Allah, namaku tidak ada …
Ya Allah, aku tidak lulus di LIPIA …

Aku menangis. Sakit, sakit sekali mendiamkan jerit hati yang tak kunjung usai. Seketika terbayang segala upaya yang telah kuperjuangkan. Mengapa? Apa yang salah dari doa dan usahaku? Bagaimana kukabarkan orang tua, wali, guru-guru dan teman-teman yang begitu mendukungku menuntut ilmu di LIPIA?

Azan dzuhur memanggil. Seakan mengajak diri ini tuk mengadukan semua rasa kepada Allah. Aku memulai takbir, mengingat Mahabesarnya Allah, tak mungkin Ia biarkan hamba yang kerdil ini menangis seorang diri. Aku tundukkan rukuk, mengingat Mahamulianya Allah dengan segala ketentuan-ketentuan dari-Nya. Lalu aku memanjangkan sujud, menyadari betapa Allah ada dan dekat, menjadi tempat terpercaya menumpahkan tangis yang belum habis.

Apa yang Allah inginkan di balik takdirku ini? Ya Allah, kesedihan sesungguhnya adalah ketika aku berputus asa dari rahmat-Mu, maka jauhkanlah. Kegundahan sebenarnya adalah di saat aku menyesali segenap upaya yang lalu-lalu, maka hilangkanlah.

Bukankah ini kesempatan menjadi mukmin sejati? Ketika iman mampu ridho akan ketetapan meski tak sesuai harapan? Apabila diberi kelapangan, ia bersyukur. Dan apabila diuji kesempitan, ia bersabar. Allah, ini begitu mudah terbayang namun masih sulit diperjuangkan, maka bimbinglah.

***

Tulisan ini saya dedikasikan bersama segenap panitia Try Out KAMMI-LDK, sebagai ucapan doa, baarokallahu fiikum kepada teman-teman yang lulus ke tahap ujian selanjutnya. Perjuangan belum berakhir. Tetap optimis dan terus kuatkan doa. Semoga dimudahkan.

Juga mengajak teman-teman yang namanya belum lulus, jangan putus semangat. Allah punya cara indah mengabulkan harapan-harapan hamba-Nya. Seperti kata salah satu dosen LIPIA, “LIPIA memang bagus, tapi bukan satu-satunya tempat menimba ilmu dan beramal sholih.

Banyak ladang dakwah yang menanti uluran tangan kita di mana pun berada. Yang terpenting bukan di mana kita belajar, tapi bagaimana kita belajar.

Pun ini bukan sebatas soal nama/status mahasiswa atau bukan. Tapi tentang bagaimana peran kita untuk Islam. Seperti pemuda Ashabul Kahfi yang tak disebut satu per satu namanya, tapi kekokohannya menjaga iman terabadikan dalam Al Qur’an. Juga seperti Asiyah, perempuan yang tidak dijelaskan siapa namanya, tapi kesabaran serta doanya meminta rumah di surga tercatat indah menutup surat Tahrim.

Maha baik Allah dengan segala ketetapan-Nya. Maha baik Allah dengan segala kemurahan-pertolongan-Nya. Maha baik Allah dengan segala bimbingan-Nya. Maha baik Allah yang menyediakan kejutan demi kejutan terbaik bagi hamba-hamba-Nya.

Barokallahu fiikum jamii’an 🙂
|| Jakarta, 13 Sept 2017

Tetaplah Jelita

Setiap perempuan menyimpan kecantikannya masing-masing. Cantik yang bukan sebatas rupa. Tapi cantik yang jelitanya mampu dirasakan orang-orang sekitarnya.

Dengan optimisnya, ia redakan tangisan anak-anak pelosok pulau yang kehilangan ibu bapak, lalu mengukir tawa dan cinta untuk mereka.

Dengan sabarnya, ia menjadi perempuan pertama yang dicari ketika seorang nenek ingin bercerita, meski ceritanya berkali-kali sudah ia sampaikan. Sabar itu tetap mendengarkan.

Bersama tunduk malunya, ia simpan rasa-rasa kagum dan bangga akan keberhasilan dan kebahagiaan teman-teman seperjuangannya. Cukup doa-doa baik yang tersalurkan untuk mereka yang ia cinta.

Bersama ceria dan ungkapan-ungkapannya, ia bebincang hangat dengan saudara dan keluarganya, menjadi pelipur kala lara, menjadi pengingat kala lupa.

Dengan kepandaiannya, ia selamatkan mimpi-mimpi mereka yang hampir putus asa. Merunduk dan berbisik pelan mensyukuri pencapaian-pencapaiannya, namun bersorak bahagia memberi selamat mereka yang meraih harapannya.

Ya, setiap perempuan memiliki kecantikan masing-masing. Dan yang menjadikan ia jelita serta pesona adalah bagaimana ia menuai kebermanfaatan melalui peran-perannya.

Ia bukan berarti tak pernah jatuh. Tapi ia mampu bangun meski luka-luka menggores kehidupannya.

Ia bukan berarti tak pernah marah. Tapi kasih sayangnya yang terbilang lebih meredakan kecewa-kecewa dalam hati.

Ia bukan berarti tak pernah salah. Tapi malunya berkali-kali menegur dan mengajak diri untuk terus menginsafi lalai-lalai.

Ia bukan berarti pemilik followers dan likes terbanyak di seantero sosial media. Tapi yang pedulinya meluas menyapa mereka yang membutuhkan, hingga menghadapi realita lebih ia syukuri.

Ia juga bukan penerima sanjungan dari sana-sini. Tapi doa dan nasihat orang-orang yang tulus menyayanginya cukup menjadi penguat diri dan inspirasinya.

Ia adalah sebaik perhiasan, jika iman menjadi muara jiwanya, takwa sebagai pakaiannya, dan sholihah merupa perangai akhlaknya.

Maka bagi para perempuan, cukupkan kekhawatiran-kekhawatiran yang menghambatmu serta tetaplah jelita. Tetaplah menjalani hidup ini sepenuh syukur dan kesabaran.

|| Salam manis, 050716

Mendidik Generasi 

Semakin gigih mengejar impian, semakin sadar bahwa cara terbesar untuk meraihnya adalah menyibukkan diri untuk mendidik generasi, lebih khusus mendidik anak sendiri.


Begitu yang disampaikan Praktisi Homeschooling Kiki Barkiah.

Terutama perempuan. Dengan amanahnya mengandung, melahirkan, menyusui, juga hari-hari yang lebih banyak ia lalui bersama anak, cita-cita besar yang ia rencanakan bukan kemudian kandas begitu saja. Justru di sana ia punya kesempatan besar menggenggam tonggak peradaban, mengarahkannya pada visi dan misi yang mengantarkan ia pada cita-cita besarnya.

Apa pun profesi, amanah mendidik generasi menempatkan posisi di setiap pundak kita. Laki-laki pun perempuan. Amanah ini juga yang diemban para pendahulu kita sehingga hasilnya bisa kita rasakan sekarang. Lantas apa wajar ketika kita tidak peduli dunia pendidikan?

Mari sama-sama bangun kembali rasa ingin mewujudkan generasi yang siap menghadapi tantangan lebih berat. Yang jauh lebih cerdas dari orang tua dan gurunya. Generasi yang mampu mengenal potensi sehingga mudah mengambil peran tuk berkontribusi. Generasi yang memiliki inisiatif sehingga menjadi produktif dan solutif.

Dan tentu, semua butuh persiapan. Maka salah satu cara mengawalinya adalah, tumbuhkan rasa kepemilikan akan peran ini. Besok -in syaaAllah-, kita akan menjadi orang tua. Yang akan ditanya, yang akan dipercaya, yang akan dipertimbangkan saran dan masukannya.

Daripada tebar pesona dan janji-janji tak pasti, lebih baik tekuni potensi dan urus segala kebutuhan pribadi bahkan membantu orang tua. Daripada mengukur-ngukur kriteria pasangan idaman dan menaruh hati di sana-sini, lebih baik pelajari bagaimana menjadi orang tua yang apik, mencetak generasi yang baik.

Menjadi generasi Ismail yang sabar dan membantu Ayahnya Ibrahim taat kepada Allah. Merupa generasi anak-anak Ya’qub yang mewarisi ilmu-ideologi Ayahnya. Mengikuti jejak keempat pejuang yang Khansa binti Amr bahkan memotivasi putra-putranya untuk berada di barisan depan membela kebenaran dan keadilan.

|| Jakarta, 310517

10 Tips Ramadhan Produktif 

1. Miliki niat tulus dan siap beramal lebih banyak. Teruslah berdoa agar kita (benar-benar) sampai pada Ramadhan serta keberkahannya

2. Susun rencana di setiap malam. Pilih tiga tugas terpenting yang ingin kita capai di hari esoknya

3. Jangan pernah ketinggalan sahur. Bangunlah (setidaknya) satu-dua jam sebelum fajar. Pastikan energi kita terisi dan seimbang

4. Mulai kerjakan tugas prioritas setelah fajar. Setidaknya, minimal satu atau dua pekerjaan sudah kita selesaikan

5. Cobalah istirahat siang (qailulah) tidak lebih dari 20 menit. Bisa sebelum atau setelah dzuhur

6. Untuk agenda prioritas yang bersifat rutin, buatlah pelaksanaannya mengikuti jadwal sholat. Menambah hapalan, misalnya. Rencanakan setiap habis sholat kita tambah dua ayat

7. Jangan lupa, tetap berikan waktu spesial untuk membaca Al Qur’an dan memahami artinya

8. Jangan juga kehilangan kesempatan saling menasihati dan tolong menolong dalam kebaikan. Jika melihat teman sekolah, kuliah, atau di kantor yang belum mahir baca Al Qur’an, diajak belajar bersama

9. Buka puasa secukupnya, bersegera sholat maghrib, makan, dan jangan ketinggalan tarawih, ya! 🙂

10. Berikan lebih banyak shodaqoh dari hari-hari biasanya

Catatan ini diterjemahkan dari artikel productivmuslim.com dengan penambahan seperlunya. Teman-teman ada tambahan tips? Boleh komen ya. 🙂

Khadijah tak pernah tau, apa yang akan Allah hadirkan untuknya setelah mimpi matahari jatuh di langit Makkah dan bertahta di rumahnya. Saudah juga tak pernah menyangka, apa yang akan Allah datangkan sebagai pengganti kesedihannya atas kesyahidan sang suami, Sakran ibn Amr. Aisyah tak pernah mampu menerka, bagaimana ia akan melewati masa remaja dan dewasanya.

Terkadang jiwa tak pandai memompa langkah-langkah menuju cita agar semangat. Pun tak cakap melapangkan hati kala mimpi belum bertepi. Padahal sunnatullah, belum tentu apa yang kita rencanakan berjalan sesuai. Sebagaimana yang disampaikan Mutanabi dalam syair-nya, kapal yang berlayar, tak menjadikan ia selamat dari badai hingga harus berbelok arah bahkan terbentur karang.

Ini tentang kekhawatiran, kawan. Tentang kekhawatiran yang belum berujung. Tentang masa depan yang melambai, sayang mata dan hati terlalu takut untuk melihat.

Bukan hanya perihal jodoh, tapi juga bagaimana keluarga beserta keturunan menjadi sebenar penyejuk mata dan satu jalan mencapai ridho-Nya. Bukan hanya perihal lolos melanjutkan kuliah atau tidak, tapi juga kelayakan sebagai hamba yang diridhoi faqih dalam agamanya. Bukan hanya perihal tercapai mimpi atau malah semakin jauh, tapi tentang akankah masih ada yang bisa disumbangsihkan? Menjadi bermanfaat bagi sesama?

Menyiapkan hati untuk esok. Mungkin menjadi satu langkah agar ia berani menatap masa depan. Menyiapkan hati berarti bersiap atas resiko yang akan terjadi. Bersiap menghadapi kesukaran-kesukaran yang mungkin dihadapi. Dan tentunya, bersiap meyakini ketentuan Allah yang terbaik.

Memang belum tersingkap siapa pelengkap usia kelak. Dan bukan tugas diri menerka apalagi jika hati ikut-ikutan memaksa. Melainkan siapkan hati untuk esok; menjernihkannya dari segala rasa serta lapang atas pilihan Allah semata.

Memang belum terbukti bagaimana nasib perjalanan menuntut ilmu di sebuah lembaga. Dan bukan tugas diri berputus asa apalagi jika hati turut berburuk sangka. Melainkan siapkan hati untuk esok; terus berupaya merajuk damba serta mulai jadikan ilmu napas keseharian, bukan musiman.

Memang belum tercapai segala cita dan mimpi. Dan bukan tugas diri menyalahkan kondisi apalagi jika hati memandang sekitar dengan iri. Melainkan siapkan hati untuk esok; aturlah kembali tahap-tahap pencapaian serta perbarui i’tikad, mungkin selama ini belum bertuju pada akhir-Nya.

Wahai hati yang khawatir. Jadikan rasa resah itu perenungan agar engkau bertambah harap, cinta dan takut pada Pemilik jiwa dan hidup ini.

“Saya meminta sesuatu kepada Allah, jika Allah mengabulkan, saya gembira sekali. Jika Allah tidak mengabulkan, saya gembira sepuluh kali lipat. Sebab yang pertama pilihan saya, dan kedua pilihan Allah.” (Ali ibn Abi Thalib)

|| Jakarta, 190117

Peran yang Tak Boleh Hilang

Bismillah.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Atas kasih sayang-Nya, kita dikuatkan berada dalam barisan perjuangan ini. Atas petunjuk-Nya, kita sampai di penghujung pertanggungjawaban dunia. Dan atas luas rahmat-Nya, kita senantiasa mengharapkan berkah dari setiap jejak langkah.

Sholawat dan salam kepada Rasul Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, penggerak dakwah Islam, pendidik generasi gemilang, serta pemilik kerinduan terdalam akan kebaikan umatnya.

Jika kita mengibaratkan perjuangan ini seperti kesatuan pasukan, maka peran Ali ibn Abi Thalib dalam perang Khaibar menjadi satu inspirasi kita. Pembawa panji Islam. Yang mana kibarannya adalah pertanda umat Islam masih berjuang. Sebanyak apa pun tetesan darah menjemput kesyahidan, sepelik apa pun medan pertempuran, ia harus tetap bertahan.

Demikian pula yang terjadi pada Mush’ab ibn Umair di Uhud. Ketika musuh menghampiri dan menebas tangan Mush’ab, ia raih bendera itu dengan tangan kirinya. Lalu ditebas lagi. Sehingga pangkal tangan yang tersisa berupaya mendekap erat bendera di dada.

Pada dasarnya, menjaga kemuliaan Islam adalah tugas kita bersama. Membawanya ke dalam diri masing-masing adalah amanah di mana pun kita berada. Apa pun aktivitas, bagaimanapun “tipe” langkah kita, pesan kemuliaan itu tak boleh sirna.

Ah, bahkan hal ini bukan lagi tugas kita. Melainkan kebutuhan dan rasa kepemilikan kita. Ketika butuh dan memiliki menjadi satu dalam wadah cinta, maka yang hadir adalah pengorbanan dan penjagaan.

Maka lihatlah bagaimana Abdullah ibn Ummi Maktum yang dalam “keterbatasan”nya, “Tempatkan saya di antara dua barisan sebagai pembawa bendera. Saya akan memegang erat-erat untuk kalian. Saya buta, karena itu saya tidak akan lari.

Dan dari sini, terucap terima kasih kepada seluruh pasukan atas kerja samanya menggenggam peran ini. Ketika tangan tak kuasa membawa, lalu kita bergantian. Ketika rintangan terus menghampiri, lalu kita saling memekikkan takbir, mengibarkan keteguhan.

Terima kasih atas peran-peran yang telah dimaksimalkan. Tidak ada pencapaian yang usai tanpa kesabaran. Tidak ada persaudaraan yang berjalan baik-baik saja tanpa rangkaian kepercayaan.

Semoga Allah menganugerahkan kita sebagai pembuka kemenangan. Selayak Al Fatih, sebagaimana harapan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- ketika mencari Ali, “Besok akan kuserahkan bendera perang kepada seseorang yang Allah dan Rasul-Nya mencintai dan dia pun mencintai Allah dan Rasul-Nya. Allah akan memenangkan kaum muslimin melalui tangannya.”

Pada akhirnya kita memahami, masa jabatan bisa saja diakhiri, tapi perjuangan tak akan pernah berhenti.

Note: tulisan ini saya rangkai sebagai muqoddimah Laporan Pertanggungjawaban Dept. Kajian & Training LDK Al Fatih. Tak ada harapan menaruhnya di sini (dengan beberapa tambahan), melainkan semoga ada manfaat dan semangatnya, serta bisa dirasakan kita semua. Terima kasih.
Salam bawa perubahan!
Dept. Kajian & Training 16/17

Laki-laki itu Kusebut Fajar

Syahdu – meneduh gelisah pecinta malam. Menyudahi kelam angan yang berpanjang sesakkan harap berselimut ragu. Kaubangkit bersama alunan ajak, melawan lelap fana ‘tuk hadapi gigil tantang seutama abdi.

.

Gemericik tutur mengundang segenap hati bersihkan nurani – membasuh pikir bahwa jarak, ialah bukti perlindungan cinta pada hakikinya; Tuhan. Itu pandangmu.

.

Demi menghadap khusyuk melaku perintah yang tak lain kepasrahan batin adukan segala damba, kaurela mendingin kaku pada alir kesendirian – mencahya ridho-Nya – menjaga cinta di kebenaran sucinya; fitrah.

.

Sunyi – menepi damaikan resahan cinta. Kau tahu, itu membiarkan pekat rindu menggempita pada loka hati yang terus menjerit! Namun selalu saja katamu, “Biarkan aku menyekap rintih rasa ini. Memilih sudut penyendirian ialah sehening sepi. Berharap dedoa kalbu tenang mengadu. Tersinggah di sisi-Nya.”

.

Kau, lagi-lagi tiada ragu tinggalkan ramai pemuja cinta. Membela damai kesunyian – membukti adanya upaya luhurkan rasa. Indah.

.

“Aku mencinta,” kisahmu di beberapa tempo, “aku merindu …,” lanjutmu meyakinkan ungkap manusiawi itu. Lekas kausambut pengakuan dengan sesujud pertanggungjawaban. Meluruh hati pinta toleh kuasa-Nya. Memburu perhatian kala waktu berkabar Ia turun dari singgasana.

.

Hangat – ya, segundah hasrat basahi ujung sajadahmu. Sedebar degub terdekap – mengusap dasar sanubari. Sungguh mewujud kasih-Nya, merengkuh jiwajiwa pejuang cinta ‘tuk semulia cinta.

.

Bias cahya kian meraba lelangit asa. Moga hari memihakmu dengan segala berkah. Cerah bahagia menjangkah duga yang kauterka sebelumnya; gapai sakinah, mawadah dan rahmah.

.

|| Jakarta, 030115 

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑