Menuju 72 Tahun Kemerdekaan Indonesia: Refleksi Kita dan Harapan Pejuang Terdahulu 

Hari itu, pertanyaan Dokter Radjiman mengenai landasan filosofis negara sebelum kemerdekaannya ini membuat diam anggota BPUPKI yang hadir. Menurut kesaksian Bung Hatta dalam buku Politik dan Islam karya Buya Syafii, mereka tidak mau menjawab sebab khawatir akan mengundang perpecahan dan memakan waktu lama. Selain khawatir, rasanya juga bukan hal yang mudah berfilsafat dalam kondisi yang mendesak tersebut. 

Namun berbeda dengan beberapa tokoh lainnya, masih menurut kesaksian Bung Hatta, yang siap menjawab pertanyaan dr. Radjiman hanya Soekarno dan Muhammad Yamin dari golongan Nasionalis, serta Ki Bagus Hadikusumo dari Muhammadiyah yang mewakili golongan Islam. Bung Karno dan M. Yamin mengajukan Lima Prinsip Dasar, sedang Ki Bagus Hadikusumo mengajukan Islam sebagai landasan Indonesia. 

Berawal dari dua pemikiran yang berbeda ini, BPUPKI membentuk panitia guna memusyawarahkan landasan tersebut. Kesembilan yang tergabung tak lain adalah Soekarno, Mohammad Hatta, M. Yamin, Wahid Hasyim, Agus Salim, Abdul Kahar Muzakir, Achmad Subardjo, Abikusno dan A.A Maramis. Setelah melalui permusyawarahan, tepatnya pada tanggal 22 Juni 1945 lahirlah sintesis atau paduan dari kedua usulan tersebut, yakni Piagam Jakarta. 

Dalam Piagam Jakarta, Pancasila diterima sebagai dasar negara. Namun urutan silanya berganti. Pada tanggal 1 Juni 1945 Soekarno menyampaikan lima asas bangsa Indonesia dengan urutan: (1) Kebangsaan Indonesia, (2) Perikemanusiaan, (3) Mufakat atau Demokrasi, (4) Kesejahteraan Sosial, (5) Ketuhanan yang Maha Esa. Kemudian oleh panitia sembilan diubah menjadi lima sila yang kini lebih kita kenal sebagai Pancasila, dengan tambahan di sila pertama, Ketuhanan yang Maha Esa dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya.

Sampai di sini, kita mencoba menarik hikmah dari sejarah di atas. Bagaimana kira-kira jika kita yang berada di posisi tokoh-tokoh tersebut? Mendapati dua perbedaan pikir yang kemudian dirumuskan agar menjadi selaras. Bagi saya pribadi pekerjaan ini bukan pekerjaan orang-orang biasa. Di dalamnya ada sekumpulan cita-cita plus jiwa-jiwa besar akan negara ini. Tokoh-tokoh yang mampu menyampingkan ego untuk kebaikan bersama, tokoh-tokoh cerdas yang mengajarkan kita bagaimana beragama dan bernegara menjadi paduan yang kuat tuk lebih memajukan Indonesia.

Kemudian kita kenal dengan sejarah terhapusnya tujuh kata Piagam Jakarta, yaitu terhapusnya kalimat “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya” pada sila pertama. Saya belum mendalami betul kronologi sejarahnya, hanya saja mari kita menilik bagaimana akhirnya kemerdekaan Indonesia disahkan dengan diawali pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. 

Entah pertolongan apa lagi yang Allah berikan kepada pejuang terdahulu, hingga lahir diksi yang membuat kita bertanya-tanya, siapa yang merumuskan pembukaan UUD kita ini? Mengatasnamakan Allah sebagai berkat pertama atas merdekanya negara Indonesia. Kita tentu mengenali kalimat pembukaan “Atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”. Tapi mungkin selama ini kita tidak betul-betul memahami, bahwa sejatinya inilah harapan tokoh-tokoh terdahulu untuk Indonesia. Negara yang bebas dan diberkati Allah. 

Tidak cukup di pembukaan UUD, ketika kita melihat kembali perubahan lima asas bangsa Indonesia menjadi Pancasila kini, lalu muncul lagi di benak-benak kita pertanyaan, bagaimana para tokoh merumuskan dasar negara menjadi lebih baik dan penuh makna dalam waktu begitu terbatas? Melahirkan kata hikmah, adil, beradab, yang bila kita kupas tuntas maknanya mungkin berlembar-lembar pelajaran yang akan kita dapat.

Adalah Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi yang telah menulis artikel mengenai kata-kata ajaib tersebut. “Maka ‘Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan’ menggambarkan nilai sebuah sistem yang dikusai oleh semangat hikmat,” jelas beliau, “artinya sistem kenegaraan Indonesia harus berada di tangan orang-orang yang hakim. Yaitu orang yang berilmu hikmah, yang pasti tahu kebenaran yang berkata benar; yang tahu dan berani memutuskan yang salah itu salah dan yang benar itu benar; yang tahu meletakkan segala sesuatu pada tempatnya; tidak akan pernah meletakkan kepentingan dirinya diatas kepentingan rakyat atau umat, tidak meletakkan perbuatan dosa atau maksiat dalam dirinya yang fitri dan seterusnya.” 

Tidak berpanjang mengenai diksi-diksi yang dipilih para tokoh di detik-detik kemerdekaan, kini saatnya kita merenung, mungkin banyak yang telah dikorbankan pejuang terdahulu hingga Allah memberikan hidayah-Nya melindungi bangsa dan agama ini. Mungkin hati-hati pendahulu tak lepas dari mengingat Allah sehingga Ia buka urusan demi urusan sampai kenikmatannya bisa kita rasakan sekarang. Lalu bagaimana kita? Apa yang tengah kita pikirkan, lakukan, perjuangkan untuk Indonesia lebih baik lagi? Apakah lantas bingung menyikapi sistem negara yang belum banyak sesuai harapan? Putus asa akan hutang-hutang yang semakin meninggi? Lalu menyerah dari peduli,  berbuat baik dan berprestasi hanya sebab aturan negara yang dipandang bukan urusan agama? 

Dr. Adian Husaini mengingatkan, bukankah justru di masa penjajahan lahir ulama-ulama pejuang mukhlis dari penjuru pesantren? Bukankah justru di masa penjajahan, api tauhid dalam dada umat muslim yang berkobar melawan kolonial? Bukankah justru di masa penjajahan, hati-hati besar bangsa Indonesia berpadu merangkul perbedaan dalam semangat satu, manusiakan Indonesia, adilkan Indonesia? Bukankah justru di masa genting tak berdayanya Indonesia, masih ada harapan-harapan tulus tuk generasi masa depan dari tokoh-tokoh kita terdahulu?

Maka apa yang tengah terjadi di negara ini, tetapkan yakin ada masa di mana Allah menguji orang dan bangsa yang Ia cinta. Ya, yang masih terdapat di dalamnya orang-orang yang senantiasa saling menasihati pada kebaikan dan terus menginsafi diri. Estafet harapan ini tak boleh terhenti. Lakukan apa yang bisa kita kerjakan. Manfaatkan peluang-peluang yang telah diperjuangkan tokoh-tokoh hanif terdahulu.

“Indonesia memang bukan negara agama, tapi Indonesia adalah negara orang yang beragama. Karenanya, keimanan merupakan unsur penting membangun negeri ini.” (KH. Zainuddin MZ)

Wallahu A’lam bis showab.

|| Jakarta, 16 Agustus 2017

Advertisements

Innamal Aqshaa ‘Aqiidah

Sesungguhnya Al Aqsha adalah aqidah. Begitu syiar yang dijunjung ratusan warga Timur Tengah ketika unjuk rasa bebaskan Al Aqsha dari tangan penjajah. 

Sempat saya bertanya-tanya mengapa masyarakat Palestina menolak memasuki Masjid Al Aqsha melalui gerbang elektronik yang dipasang penjajah Israel. Bukankah yang terpenting adalah mendirikan sholat di dalamnya? Menghidupkan rumah Allah dengan kegiatan-kegiatan bermanfaat? Dan sebagai muslim, tentu tidak mungkin masuk masjid dengan membawa logam atau senjata berbahaya, bukan? 
Berikut catatan yang saya coba pahami dari tulisan Ketua Persatuan Ulama Palestina wilayah Khon Younis Muhammad Sulaiman Nashrullah dengan sedikit tambahan. 

1. Bahwasanya keadaan Masjid Al Aqsha yang tanpa azan dan sholat tidak akan membahayakan umat beriman (yang memang hatinya telah terpaut akan kewajiban dan kebutuhan ini). Bahkan kita bisa lihat bagaimana mereka tetap mengumandangkan azan di pelataran masjid dan menggelar shaf panjang tuk mendirikan shalat. Masjid Al Aqsha akan senantiasa baik-baik saja dengan segudang upaya penutupan dari penjajah Israel selama penduduknya juga senantiasa menolak persyaratan-persyaratan dari penjajah. Mengapa demikian? 
Sebab yang membahayakan Masjid Al Aqsha adalah ketika kita memasukinya dengan hina. Kita bukan kriminalis yang harus diperiksa ketika hendak beribadah.

2. Memasuki Al Aqsha melalui gerbang elektronik bukan satu-satunya jalan membebaskan masjid. Justru memasukinya sama saja kita membiarkan penguasaan penjajah Yahudi menang di atas kita. Jika untuk demikian saja kita lemah (menurut pada peraturan Yahudi), entah bagaimana ke depannya paksaan-paksaan penjajah merebut Al Aqsha. Dan entah bagaimana semakin tamaknya Yahudi terhadap tanah dan jiwa Palestina. 

3. Sesungguhnya menetap di luar Al Aqsha dan memperjuangkannya sampai perang hingga syahid merupakan jihad yang mashlahah. Serta menganjurkan orang-orang beriman untuk turut memperjuangkan bebaskan Al Aqsha dan mendirikan sholat di dalamnya dengan kemuliaan. 

4. Penolakan warga Al Quds juga menyingkap dan membongkar kepalsuan terhadap permukaan dunia selama ini. Menjelaskan bahwa siapa sebenarnya yang menjajah dan merebut Al Aqsha secara paksa? Hingga untuk azan dan sholat di dalamnya saja dilarang. Hingga untuk memasukinya saja harus melalui cara yang tak patut. Menjauhkan Al Aqsha dari penghuninya secara perlahan namun kejam. 

5. Memohon untuk sholat di dalam Masjid Al Aqsha kepada penjajah berhati batu tidak menghasilkan kemuliaan apa pun. Sebaliknya, yang demikian justru melukai kemuliaan dan kehormatan. Bahkan disebutkan dalam tulisan aslinya perbuatan tersebut tidak mendatangkan pahala, justru menodai diri dengan dosa; karena pada dasarnya secara tak langsung mengakui kekuasaan musuh Allah. Apa Allah dan Rasul-Nya ridho? 

6. Sesungguhnya kewajiban kita hari ini adalah membebaskan tanah Nabi bermi’raj itu. Membebaskan Masjid Suci ketiga umat Islam. Membebaskan masjid kedua yang dibangun di bumi ini dari penjajah Israel. Baik dengan senjata ataupun kata. Bukan rela sholat di dalamnya dengan mematuhi perintah musuh. Barang siapa yang masih berleha-leha dari memperjuangkan (membebaskannya), maka perlu dipertanyakan fitroh dan pemahamannya. Apa sudah terbalik dan berpenyakit? 

Maka wahai Abnaul Quds, pilihan kita hanya dua, sholat di Masjid Al Aqsha dalam keadaan mulia atau melawan penjajahan hingga syahid meski di ambang pintu Al Aqsha. Tidak ada kesempatan untuk lemah, tunduk dan pasrah terhadap aturan-aturan penjajah! 

Demikian pesan yang disampaikan Muhammad Sulaiman. Catatan yang cukup menjawab pertanyaan saya perihal Al Aqsha. Maka tak ragu saya mencatumkan judul demikian. Bahwa benar, urusan Palestina adalah urusan umat Islam. Perkara Al Aqsha adalah perkara keyakinan yang harus diperjuangkan. Hingga tak ragu kita teriakkan, “Bir ruuh, bid dam, nafdhiika yaa Aqsha!”, dengan ruh dan darah kita persembahkan untuk Aqsha. Dan tak ragu pula kita perjuangkan cita-cita bersama, hidup mulia atau mati syahid! 
Allahu ta’aala a’lam. 
|| Jakarta, 210717

Peran yang Tak Boleh Hilang

Bismillah.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Atas kasih sayang-Nya, kita dikuatkan berada dalam barisan perjuangan ini. Atas petunjuk-Nya, kita sampai di penghujung pertanggungjawaban dunia. Dan atas luas rahmat-Nya, kita senantiasa mengharapkan berkah dari setiap jejak langkah.

Sholawat dan salam kepada Rasul Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, penggerak dakwah Islam, pendidik generasi gemilang, serta pemilik kerinduan terdalam akan kebaikan umatnya.

Jika kita mengibaratkan perjuangan ini seperti kesatuan pasukan, maka peran Ali ibn Abi Thalib dalam perang Khaibar menjadi satu inspirasi kita. Pembawa panji Islam. Yang mana kibarannya adalah pertanda umat Islam masih berjuang. Sebanyak apa pun tetesan darah menjemput kesyahidan, sepelik apa pun medan pertempuran, ia harus tetap bertahan.

Demikian pula yang terjadi pada Mush’ab ibn Umair di Uhud. Ketika musuh menghampiri dan menebas tangan Mush’ab, ia raih bendera itu dengan tangan kirinya. Lalu ditebas lagi. Sehingga pangkal tangan yang tersisa berupaya mendekap erat bendera di dada.

Pada dasarnya, menjaga kemuliaan Islam adalah tugas kita bersama. Membawanya ke dalam diri masing-masing adalah amanah di mana pun kita berada. Apa pun aktivitas, bagaimanapun “tipe” langkah kita, pesan kemuliaan itu tak boleh sirna.

Ah, bahkan hal ini bukan lagi tugas kita. Melainkan kebutuhan dan rasa kepemilikan kita. Ketika butuh dan memiliki menjadi satu dalam wadah cinta, maka yang hadir adalah pengorbanan dan penjagaan.

Maka lihatlah bagaimana Abdullah ibn Ummi Maktum yang dalam “keterbatasan”nya, “Tempatkan saya di antara dua barisan sebagai pembawa bendera. Saya akan memegang erat-erat untuk kalian. Saya buta, karena itu saya tidak akan lari.

Dan dari sini, terucap terima kasih kepada seluruh pasukan atas kerja samanya menggenggam peran ini. Ketika tangan tak kuasa membawa, lalu kita bergantian. Ketika rintangan terus menghampiri, lalu kita saling memekikkan takbir, mengibarkan keteguhan.

Terima kasih atas peran-peran yang telah dimaksimalkan. Tidak ada pencapaian yang usai tanpa kesabaran. Tidak ada persaudaraan yang berjalan baik-baik saja tanpa rangkaian kepercayaan.

Semoga Allah menganugerahkan kita sebagai pembuka kemenangan. Selayak Al Fatih, sebagaimana harapan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- ketika mencari Ali, “Besok akan kuserahkan bendera perang kepada seseorang yang Allah dan Rasul-Nya mencintai dan dia pun mencintai Allah dan Rasul-Nya. Allah akan memenangkan kaum muslimin melalui tangannya.”

Pada akhirnya kita memahami, masa jabatan bisa saja diakhiri, tapi perjuangan tak akan pernah berhenti.

Note: tulisan ini saya rangkai sebagai muqoddimah Laporan Pertanggungjawaban Dept. Kajian & Training LDK Al Fatih. Tak ada harapan menaruhnya di sini (dengan beberapa tambahan), melainkan semoga ada manfaat dan semangatnya, serta bisa dirasakan kita semua. Terima kasih.
Salam bawa perubahan!
Dept. Kajian & Training 16/17

5 Pilar Menuju Menang

Berangkat dari pinta keseharian kita, “Ihdinash shiraathal mustaqiim”. Ya Rabb, tunjukkanlah jalan lurus itu.

Manusia terkadang lupa. Ia meminta, namun masih bertanya hakikat apa yang diminta. Ia berharap, tapi tak mengerti upaya apa agar mampu meraih harapannya. Ia mengaku cinta, sayang tidak mengenal siapa dan apa yang dicintainya, bahkan bingung bagaimana mengungkapkan cintanya.

Dari sini Allah menjelaskan pada ayat selanjutnya, “Shiraathal ladziina an’amta ‘alihim”. Yaitu jalan yang Engkau beri nikmat kepadanya. Siapa? Berkata Al Maraghi dalam tafsirnya, “Adalah para Nabi, shiddiqiin, dan shalihin yang terdiri dari umat terdahulu”.

Lalu kita mencoba meneropong, apa sebenarnya yang dilakukan para pendahulu sehingga Allah menjadikan satu ayat doa bagi kita, agar senantiasa meminta petunjuk jejak mereka?

Kemudian langkah bertanya-tanya, ke mana ia akan menapakkan kakinya demi menjaga keutuhan agama ini? Bagaimana ia harus berjalan menjemput janji kemenangan, sedang di sekeliling bertabur duri fitnah di mana-mana?

Berikut lima garis besar yang semoga bisa menjadi awal gerbang kita menyongsong kembali kegemilangan.

1. Tetaplah Belajar
Allah tidak begitu saja memerintahkan Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam mengemban risalah ini. Melainkan ada Jibril yang senantiasa mengajarkan. Begitu pula pada Musa yang terpandang ilmunya, masih Allah hadirkan Khidir menemani perjalanan Musa untuk belajar dan bersabar.

Lihatlah kembali bagaimana Allah memuji para ahli ilmu dengan menyusul penyebutannya setelah persaksian Allah, “Allah menyatakan bahwa tidak ada Rabb selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada Rabb selain Dia, Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.

Ada banyak ilmu dasar untuk memahami agama ini. Sayang kita mungkin masih belum tertarik mempelajarinya, bahkan membaca saja enggan. Mengira pelajaran yang bersangkutan dengan Islam itu terlalu serius, menghadiri kajian khawatir dianggap ikutan aliran macam-macam oleh tetangga. Kita terkadang sukanya instan, tanya sama ustad atau googling ketika ada perkara. Tidak masalah, sebetulnya. Namun yang demikian seharusnya menjadi penunjang saja.

Sedang kita upayakan ‘tuk rutin membaca dan menggali ilmu-ilmu pokok dari kajian, kampus, atau orang-orang terpercaya kita. Bagaimana kita bisa menjaga Islam jika enggan mendalami ajaran-ajaran darinya? Bagaimana ia kerap mulia jika bertubi-tubi tuduhan, kita tak mampu membenahinya.

2. Tetaplah Berdakwah
Inilah tugas utama para rasul. Inilah jalan mereka. Ibrahim, Nuh, Musa, Isa, Muhammad, semua terkisah cerita perjuangan dakwahnya dalam Al Qur’an.

Ya Rabb, sesungguhnya aku telah menyeru (mendakwahkan) kaumku malam dan siang.” (QS. Nuh: 5)

Alih-alih siang-malam, kita seringkali terlalu asik dengan aktifitas keseharian di siang hari. Dan ketika malam tiba, daya sudah tak kuasa. Berawal dari sini, ada baiknya kita coba meraba, adakah aktifitas keseharian berpengaruh untuk kebaikan agama? Apakah waktu-waktu kita berjalan dengan menghadirkan manfaat untuk umat, atau berleha-leha saja menjalani nasib apa adanya? Kita boleh mencoba menyisihkan beberapa jam untuk mengerahkan pikiran atau tenaga kita kepada permasalahan umat.

Mengikuti rapat kecil-kecilan di Mushola atau Masjid terdekat, misalnya. Atau menyampaikan sepatah dua patah kalimat kepada anak, suami/istri, sahabat yang mengandung nasihat.

3. Tetaplah pada Jalur Iqomatuddin
Agama ini sudah kokoh, sebenarnya. Hanya kita sebagai penganut belum pandai menjaga, sehingga ketika gelombang syubhat menenggelamkannya, yang terlihat dari permukaan adalah bengkok.

Ada tiga hal yang mengantarkan kita pada jalur ini. Pertama, rapatkan barisan dalam jama’ah. Kita tahu, Allah mengecualikan orang-orang yang tidak merugi adalah mereka yang saling menasihati pada kebenaran dan kesabaran. Bagaimana hal itu bisa dilakukan jika kita tidak berjamaah?

Kalau bingung harus berafiliasi ke jama’ah mana, maka melangkah ke cara kedua, bergabunglah dengan aktifitas sosial. Karena dengan terjun ke sosial, setiap hari akan ada waktu-waktu yang kita habiskan untuk kepedulian, kemanfaatan, dan kebaikan-kebaikan lainnya.

Jika untuk beraktifitas sudah terbilang sulit. Sudah tidak sekuat masa muda, misalnya. Maka berangkat ketiga atau jalan terakhir, yaitu mendoakan dengan setulus-ikhlas doa. Ini ajaib. Orang yang begitu mengimani bahwa Allah Maha Mengijabahi, Penolong, apalagi mampu merasakan kenyamanan lahir batin dalam sujud, sesungguhnya ia telah menemukan kebahagiaan hakiki. Berapa banyak, doa-doa orang sholih serta air matanya yang tumpah di keheningan malam, mampu membuka pintu-pintu kemenangan? Kita butuh jiwa-jiwa ikhlas.

4. Tetaplah Bekerja
Jika dengan belajar kita menggali makna, maka dengan bekerja kita berkarya nyata. Allah telah menganjurkan dalam ayat-Nya, “Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (QS. Al Jumu’ah: 10)

Yang menjadi masalah, terkadang kita tidak perhatian terhadap hasil apa dari pekerjaan kita, sebagaimana nubuwwahnya shallallahu ‘alaihi was sallam,

“Akan datang kepada manusia suatu zaman di mana seseorang tidak peduli apa yang dia ambil, apakah dari hasil yang halal atau yang haram.” (HR. Al-Bukhari dan An-Nasa’i)

Kemudian Allah berfirman, “Dan makanlah dari apa yang telah diberikan Allah kepadamu sebagai rezeki yang halal dan baik, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (QS. Al Maidah: 88)

Sebab dalam kesungguhan mencari nafkah, ada kemuliaan nan kehormatan di dalamnya. Dan dalam rezeki yang halal lagi baik, ada keberkahan meliputinya.

5. Menjadi Teladan dalam Keluarga
Sebagaimana kisah Ya’qub dalam Al Qur’an, di penghujung hidupnya, Ya’qub menyempatkan diri bertanya kepada putra-putranya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?

Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Rabb-mu dan Rabb nenek moyangmu Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Rabb Yang Maha Esa dan kami (hanya) berserah diri kepada-Nya.” (QS. Al Baqoroh: 133)

Dikatakan dalam tafsir Al Maraghi, maksud Ya’qub bertanya ini ialah membaiat anak-anaknya agar mereka tetap teguh pada pendiriannya di dalam Islam, ajaran tauhid dan segala perbuatan hanya karena Allah serta mengharap ridho-Nya.

Lalu mengapa di sana anak-anak Ya’qub menjawabnya dengan rentetan nama para pendahulu mereka? Kenapa tidak cukup saja mengatakan, “Kami menyembah Allah dan kami berserah diri kepada-Nya”?

Inilah teladan dari sisi keluarga yang dicontohkan para Nabi. Bagaimana Ibrahim berhasil menjadi teladan bagi Ismail dan Ishak, bagaimana Ya’qub menjadi panutan bagi putra-putranya. Pada ayat ini juga menjelaskan bahwa agama Allah itu tetap satu. Dalam ajaran Nabi mana pun, intinya adalah tauhid.

Pada keseharian bisa kita perhatikan, mana anak yang berkata, “ Ustadz, kata Ayahku begini dan begitu” lebih menyenangkan ketimbang anak-anak yang berkata kepada Ibunya, “Tapi kata Ustadzahku begini dan begitu”. Mau menjadi yang mana? Hehe.

Maka keluarga adalah umat terkecil yang perlu kita jaga keselamatannya. Semoga dari baiknya keluarga, berkembang pula kepada saudara, tetangga, hingga bagaimana Allah melimpahkan rahmat-Nya atas kemenangan.

Setelah sama-sama mengingat lima langkah apa saja yang (semoga) mengantar kita pada shiraathal mustaqiim, kita kembali kepada penggalan surat Al Fatihah. Tentu kita berharap agar Allah teguhkan kaki-kaki kita menelusuri jalan tersebut. Menuntun tapaknya agar tak berbelok, menguatkan pijaknya agar atsar yang ditinggalkan menuai manfaat sebanyak-banyaknya.

Mungkin ini pula, mengapa Allah ajarkan kalimat “ihdina” yang berarti “berilah kami petunjuk/hidayah”. Bukan “allimna”, atau “arrifna” yang berarti “ajarkanlah kepada kami”.

Sebab sebagaimana yang dicantumkan dalam tafsir, hidayah juga berupa ma’unah (pertolongan) dan taufiiq, artinya kekuatan yang memotivasi berbuat kebaikan. Maa syaaAllah.

Maka yang kita pinta setiap harinya itu bukan sekadar meminta kearifan atau petunjuk. Tapi juga kekuatan agar senantiasa berbuat kebaikan sesuai petunjuk.

Semoga benang-benang upaya kita berada dalam rajutan yang diridhoi-Nya. Sehingga mewujud bendera yang ‘kan kita kibarkan sesuai janji-Nya; menang.

Note: catatan ini terisnspirasi dari gagasan yang disampaikan pada Kajian Akhir Zaman, dengan penambahan yang sekiranya perlu dari penulis. Allahu ta’aala a’lam bish showab. Astaghfirullaha wa atuubu ilaih.
Salam perjuangan,

|| Jakarta, 290417

Pesan Cinta untukmu, Perempuan

Artikel ini didedikasikan untuk semua muslimah single di dunia. 


Berawal dari beberapa fenomena di zaman ini, yang mana tak jarang kita temukan “kekhawatiran” perempuan akan calon pendamping yang tak kunjung datang. Ya, ada masa di mana pikiran dan hati terus bertanya-tanya, kapan, siapa, seperti apa, bagaimana, dan kegundahan lain yang kerap menyapa. Lalu seketika berbagai kritikan menimpali,

.
“Kamu tidak perlu seorang pria untuk menjadi bahagia!” 

“Bagaimana bisa kamu merasa kesepian? Kamu memiliki keluarga yang penuh kasih sayang dan banyak teman.”

“Berhenti terobsesi tentang pernikahan! Fokus pada diri sendiri dan karir kamu!”

.
Sebagian perempuan mungkin merasa benar dengan opini di atas dan mengubur kembali kekhawatiran tersebut. Namun tak dipungkiri juga bahwa sebagian besar justru merasa tidak terdukung. Apalagi sifat malu yang membalut kepribadian perempuan. Ia tentu malu untuk meminta (meski pada dasarnya tidak masalah) terlebih dahulu ibadah mulia satu ini.

Dari sini, ada baiknya kita memahami perasaan. Menyudut mengoreksi  yang ada. Apakah ia salah? Adakah hadirnya merupa kesiapan, atau sekadar ingin menyudahi masa sendiri dan berharap lari dari tanggung jawab yang ada dengan menikah? 

.
Memahami Kasih Sayang dan Rahmat dalam Islam
Tidak ada yang salah ketika kita rindu memulai sebuah keluarga. Sebagaimana kita berkaca pada kehidupan Nabi Adam ‘alaihis salam yang kala itu berada di surga. Surga, di mana semuanya sempurna; tidak ada kesedihan, kemiskinan, sakit, semua yang kita minta, ada. Lalu, apa yang kemudian Allah ciptakan untuk Adam? Saudara, anak, atau teman bermain? Ternyata Allah menghadirkan sosok perempuan untuk Adam. 

.
Dari awal, Allah menyusun kehidupan manusia dengan kisah romantis. Bagaimana saling melengkapi dan mendapatkan kesempurnaan, bagaimana saling mengasihi dan menghadirkan kebahagiaan, bagaimana saling mempercayai dan melahirkan ketenangan.


“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mau berpikir.” [QS. 30:21].

Ternyata kehadiran lawan yang  kemudian membuat kita berarti. Seperti dingin yang terasa maknanya ketika kita merasakan panas. Putih yang terlihat jelas ketika kita berada dalam hitam gelap. Kita perlu siswa untuk merasa bagaimana menjadi guru. Kita perlu kesedihan untuk menghargai momen bahagia. Anak yang mampu membuat kita merasa seorang ibu, dan laki-laki yang bisa membuat kita merasa seorang wanita. Fakta psikologis berkata demikian. Pun logika menerima rasa butuh akan lawan itu. Dan harusnya teori ini mampu menolak pandangan kaum feminis yang mendewakan perempuan tapi hakikatknya menjauhkan perempuan dari fitrah kewanitaan itu sendiri.

.
Kita semua perlu memiliki pendamping untuk melengkapi kehidupan kita, seseorang yang mencintai dan membuat kita merasa dicintai dan dilindungi, seseorang untuk memulai sebuah keluarga. Sebagaimana Allah menciptakan kita secara berpasangan, dan itu merupakan kebutuhan dasar yang indah. Mahabijak Allah dalam penciptaan-Nya, bukan? Kerinduan untuk menikah dan memiliki anak tidak lantas membuat wanita terbelakang,  lumpuh, bodoh atau putus asa, melainkan itu membuatnya menjadi seorang wanita.

.
Betapa banyak gadis yang memiliki orang tua, teman, dan karier, namun masih merasa hampa. Merasa kesepian namun sulit mengakuinya. Hal yang seperti ini lambat laun menjadikan wanita takut, kehilangan identitas, dan depresi. Jadi sudah waktunya untuk mencoba tenang dan katakan pada diri sendiri, “Masa depan kita akan baik-baik saja dengan senantiasa merencanakan yang baik pula”.

.

 
Apakah Menikah Sebagai Pelarian dari Penderitaan & Kesepian?
Jangan salah, kadang kita merasa kesepian ketika kita tidak sedang sendiri. Kadang pula ada kebahagiaan dan harapan untuk kembali menjadi gadis. Ada banyak perempuan di luar sana yang ingin beralih posisi ke masa sebelum menikah, mendapatkan kembali kesempatan untuk memperbaiki diri dan memoles kepribadian.  Atau setidaknya memiliki kontribusi untuk melawan penderitaan dan kesepian tersebut. Baik bagi diri sendiri pun orang lain. Dengan demikian, jiwa akan terlatih untuk menghadapi tantangan-tantangan di masa datang.

.
Menikah memang membahagiakan. Bahkan bahagianya tidak hanya berhenti pada pasangan yang merayakannya. Namun bukan hal yang tepat ketika kita menjadikan menikah solusi permasalahan hidup. Apalagi jika kita mengkhayal kehidupan berumah tangga seperti akhir pada dongeng-dongeng; dan mereka hidup bahagia selama-lamanya.

.
Menikah adalah tentang kesiapan menerima kekurangan. Karena bagaimanapun, manusia tidak senantiasa lepas dari kealpaan. Maka yang terpenting bukan hanya mengharap pasangan begini dan begitu, tapi juga persiapan bagaimana jika pasangan begini dan begitu. Toh, menikah merupakan satu pintu menuju ridho Allah. Jika kita mengawalinya dengan niat bukan karena-Nya, bagaimana pintu itu terbuka?

.
Permasalahan apa pun, coba diatasi terlebih dahulu. Pusing skripsi, bosan kuliah, lelah mengerjakan tugas-tugas harian, mengerjar mimpi yang semakin dikejar semakin menjauh, komunikasi dengan orang tua yang sering berujung ketidaksepakatan, masa depan yang masih samar, berbagai kesulitan, harusnya kita bisa melaluinya terlebih dahulu sebelum beranjak kepada tingkat yang lebih tinggi yang sepaket dengan ujian-ujiannya. 

.
Seperti pepatah Arab, “Siapa yang tidak memiliki, tidak bisa memberikan”. Kita tidak pernah bisa mencintai dan merawat orang lain jika kita tidak mencintai dan merawat diri kita terlebih dahulu. Bagaimana bisa membantu keluarga menyelesaikan persoalan jika untuk sekarang saja kita putus asa? Bagaimana kita berharap keindahan dan kedamaian di keluarga kelak, sedang kita tidak membawa kedamaian itu dari kita sendiri? 

.
Belajar Cara Memegang Kunci Kebahagiaan
Sudah menikah atau belum, menempatkan kunci kebahagiaan kita di saku orang lain tidak tampak seperti ide yang cerdas, bukan? Kita tidak bisa bergantung pada suami, atau bahkan daging dan darah kita sendiri (baik itu orang tua, saudara atau anak-anak) untuk membuat kita bahagia.
Jelas sudah Allah berfirman,

.
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” [QS. 14:7]



Mungkin itulah inti dari masalah; kita biasa memiliki pandangan “Jika saya memiliki ini, saya akan senang”. Bagaimana jika kita balik, “Jika saya senang, saya akan memiliki ini”? 

.
Bagaimanapun orang-orang terkasih kita berada di sisi, bagaimanapun mereka menghadirkan kebahagiaan kita, tetap sejatinya tidak ada yang benar-benar bisa membuat kita bahagia kecuali diri kita sendiri; ketika kita memiliki sikap indah terima kasih kepada Allah, Rabb segalanya. 

.
Kita mencari kebahagiaan di langit, padahal langit tidak memiliki ujung. Kita ingin seperti dia yang memiki pasangan seperti ini. Kita mau pasangan kita bisa ini itu. Kenapa yang datang kepada saya dia? Dia tidak lebih baik dari yang saya harapkan, dan perbandingan-perbandingan lainnya. Maka menyelamlah ke lautan, karena ia memiliki dasar. Tengoklah apa yang kita dapati berupa nikmat-nikmat Allah. Dan temukanlah bahwa kita sudah mempunyai segalanya.

.
Syukur, akan kesempatan yang masih Allah bentangkan agar kita senantiasa mempersiapkan bekal menuju hari esok, entah pernikahan, ataupun kematian. Syukur, akan kesempatan berkeluarga yang Allah anugerahkan, tak lain agar kita kerap meninggikan cinta dan amal sholih kepada-Nya lebih semangat lagi.

 
Maka di penghujung tulisan ini, saya mengajak para perempuan di mana pun berada, jika kekhawatiran menghampiri, mari coba pahamkan diri sendiri dengan apa yang telah tersampaikan di atas. Memulai dari memahami fitrah perasaan wanita dalam mencintai dan merindu. Lalu beranjak pada pemahaman tujuan mengapa kekhawatiran itu datang, kemudian berakhir pada kebahagiaan yang mampu kita hadirkan dengan mensyukuri nikmat Allah yang melimpah atas apa pun peran kita sebagai perempuan. Salam hangat.

Note: artikel ini diambil dari tulisan berjudul All The Single Ladies: An Exclusive Love Talk For You dengan penerjemahan bebas ala penulis, dan beberapa poin-poin tambahan secukupnya.

Perjanjian Hudaibiyah dan Peran Perempuan

Perjanjian Hudaibiyah adalah perjanjian antara Muslim Madinah dengan Musyrikin Makkah (Quraisy). Saat itu, tepatnya di tahun ke enam setelah hijrah atau 628 M, kaum muslimin hendak melaksanakan thawaf di Baitullah Al-Haram. Bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam sekitar 1400 orang dan 70 ekor unta yang dijadikan sebagai hadyu (hewan yang disembelih dalam rangka ibadah haji atau umrah). Namun di pertengahan jalan, Quraisy menghalang-halangi Rasulullah beserta sahabatnya untuk masuk ke Makkah. Melihat demikian, Rasulullah bernegosiasi dan tertulis lah Perjanjian Hudaibiyah yang isinya:

  1. Gencatan senjata antara Makkah dan Madinah selama 10 tahun
  2. Warga Makkah yang menyebrang ke Madinah tanpa izin walinya harus dikembalikan ke Makkah
  3. Warga Madinah yang menyebrang ke Makkah tidak boleh kembali ke Madinah
  4. Warga selain Makkah dan Madinah dibebaskan memilih untuk berpihak ke Makkah atau Madinah
  5. Pada saat itu, Rasulullah dan pengikutnya harus meninggalkan Mekah, namun diperbolehkan kembali lagi ke Mekah setahun setelah perjanjian itu, dan akan dipersilahkan tinggal selama 3 hari dengan syarat hanya membawa pedang dalam sarungnya (maksudnya membawa pedang hanya untuk berjaga- jaga, bukan digunakan untuk menyerang)

Singkat kisah, bila kita melihat isi Perjanjian Hudaibiyah, keberuntungan lebih berpihak kepada Quraisy sedang Muslimin kala itu dibiarkan tidak berangkat thawaf. Saat itu, setelah Rasulullah menandatangani perjanjian, Rasulullah memerintahkan para sahabatnya untuk menyembelih hadyu sebagai pengganti kewajiban haji yang ditinggalkan dan bertahalul dari ihram mereka.

Akan tetapi semangat Diin para sahabat masih menyala hebat dalam diri. Perjanjian menghalangi mereka dari thawaf ke Baitullah. Kerinduan dan semangat itu memudarkan penglihatan mereka akan hikmah di balik perjanjian ini; yakni bagaimana Allah menjadikan perjanjian ini isyarat kemenangan Islam dan pembebasan kota Makkah. Melihat para sahabat yang tidak melaksanakan perintahnya, Rasulullah masuk ke tenda menemui istri beliau, Ummu Salamah.

Ummu Salamah paham bagaimana kondisi Rasulullah yang selama ia diutus, tidak ada sahabat yang tidak mendengarkan apa yang beliau perintahkan. Dan kali itu, kesabaran Rasulullah diuji dengan sikap sahabat-sahabatnya. Bukan sebab bangkang atas titah Rasulullah, tetapi dari sini tercermin bagaimana iman akan kebenaran Islam yang mereka yakini menancap kuat di jiwa mereka.

“Wahai Rasulullah,” sapa Ummu Salamah, “janganlah engkau menyalahkan mereka, perjanjian itu begitu besar menghujam sanubari mereka. Mereka keberatan dengan perjanjian itu dan keberatan juga kembali pulang ke Madinah tanpa memasuki Makkah sama sekali,”

“Wahai Nabi Allah, keluarlah, jangan bicara kepada seorang pun di antara mereka, lalu sembelih lah binatang hadyu-mu, serta cukurlah rambutmu,” usul Ummu Salamah. Rasulullah pun melaksanakan saran Ummu Salamah, lantas kaum muslimin bergegas mengikuti beliau. Mereka menyembelih binatang hadyu dan mencukur rambut mereka.

Melihat kejadian ini, teringat akan hadits Nabi dalam riwayat Bukhori dan Muslim, Rasulullah bersabda,

مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَغلَبُ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ. فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا نُقْصَانُ عَقْلِهَا؟ قاَلَ: أَلَيْسَتْ شَهَادَةُ الْمَرْأَتَيْنِ بِشَهَادَةِ رَجُلٍ؟ قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا نُقصَانُ دِينِهَا؟ قَالَ: أَلَيْسَتْ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ

“Aku tidak pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya paling bisa mengalahkan akal lelaki yang kokoh daripada salah seorang kalian (kaum wanita).” Maka ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa maksudnya kurang akalnya wanita?” Beliau menjawab, “Bukankah persaksian dua orang wanita sama dengan persaksian seorang lelaki?” Ditanyakan lagi, “Ya Rasulullah, apa maksudnya wanita kurang agamanya?” “Bukankah bila si wanita haid ia tidak shalat dan tidak pula puasa?”, jawab beliau. (Muttafaqun ‘alaih, HR. Bukhari no. 1462 dan Muslim no. 79)

Sebagian kalangan menganggap hadist tersebut mengandung penghinaan terhadap perempuan. Akan tetapi sejatinya justru hadist itu menjelaskan kepada kita kepribadian perempuan dari sudut pandang penciptaannya. Perempuan biasanya dikuasai perasaan. Ini bukan lah suatu aib. Melainkan keadaan khas yang sesuai dengan fungsinya dalam kehidupan. Perempuan cenderung mencurahkan kasih sayang dan empati ketimbang mengeksplorasi otak dan kecerdasan akalnya. Bisa dilihat dari upaya-upaya kesehariannya, misal tulisannya, perempuan lebih suka membahas perasaan daripada teori atau hukum suatu ilmu. Perempuan punya potensi besar untuk mengusap keletihan dan kesedihan anggota keluarganya. Semua tugas yang tidak bisa dikerjakan sempurna dengan kecerdasan akal tetapi hanya bisa dituntaskan dengan perasaan.

Dan sejarah Perjanjian Hudaibiyah turut mengabarkan, jika kecerdasan akal Ummu Salamah dianggap kurang (artinya akalnya tidak dapat berpikir secara sempurna), niscaya Rasulullah tidak menerima sarannya dalam urusan yang sedemikian berat dan krusial.

Dengan demikian, kurang akal dalam hadist itu memiliki makna bahwa perempuan mengerjakan banyak hal yang akal tak mampu melakukannya, karena ia mengerjakannya dengan perasaan. Andaikata perasaan perempuan tidak lebih kuat daripada akalnya, mungkin ia tidak akan sanggup berjaga sepanjang malam ketika anaknya sakit. Andaikata perasaan perempuan tidak lebih kuat daripada akalnya, mungkin ia takkan mampu bertahan menanggung hidup bersama suami dan anak-anaknya kala ujian menerpa, belum lagi memanggul ‘beban’ mendidik anak dengan segala kesulitannya.

Maka dari kisah Ummu Salamah di Perjanjian Hudaibiyah, kita mengerti, ada peran perempuan cerdas di dalamnya. Menenangkan, memenangkan, menunjukkan, dan mempertahankan.

Pada akhirnya, kita terus meminta petunjuk pada Allah atas segala karunia-Nya yang tak pernah habis. Dalam penciptaan langit-bumi nya, siang-malam nya, susah-mudah nya, pria-perempuan nya, dengan segenap hikmah yang menjadi penambah iman pada-Nya.

Allahu ta’aala a’lam.

Memahami Tujuan Surat Al Kahfi (3) 

C. PESAN INDAH DARI SURAT AL KAHFI 

.
Setelah membahas macam-macam ujian kehidupan; mulai dari ujian kepercayaan, harta, ilmu dan kekuasaan, Allah gambarkan bagaimana agar terjaga dari ujian-ujian tersebut. 

.
1. Al Quran dan penjagaannya

Sebagaimana surat Al Kahfi yang diawali dengan pujian bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Quran dan Dia tidak mengadakan di dalamnya kebengkokan. 

.
Lalu surat ini juga ditutup (ayat kedua dari terakhir) dengan permisalan Kalimat-Nya. Bahwa sekiranya lautan menjadi tinta untuk menuliskan Kalimat-kalimat Allah, maka itu tidak akan cukup meski didatangkan tambahan sebanyak (lautan) itu pula.
Sungguh besar mukjizat yang satu ini. Segala kabar yang disampaikan tentangnya cukuplah menjadikan ia pedoman dan penjagaan bagi hidup kita.

.
2. Bersahabat dengan orang-orang sholih
“Dan bersabarlah kamu bersama orang-orang yang menyeru Rabb-mu di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhoan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (sebab) mengharapkan perhiasan dunia; dan janganlah kamu mengikuti mereka yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya, sedang keadaan mereka melampaui batas.” 

.
Saya rasa ayat ke 28 dari surat Al Kahfi ini sangat cukup menjelaskan kita agar membersamai kawan yang senantiasa melabuhkan hati dan tindaknya kepada Allah. 

.
3. Mengingat hakikat dunia yang sementara

Di dalam ayat ke 45, Allah perumpamakan kehidupan dunia ini sebagaimana air yang Ia turunkan dari langit. Lalu tumbuhan-tumbuhan di muka bumi karenanya menjadi subur. Ini terjadi begitu cepat. Lihatlah apa yang kemudian Allah sampaikan setelah itu? 

.
“Maka tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu.” 

.
Ya, hidup ternyata sesingkat ini. Dalam kitab Khowathir Quraniyah dijelaskan bahwa penggunaan huruf penghubung (ف) pada ayat ini berartikan kata sambung yang menunjukkan urutan yang cepat. 

.
4. Mengingat keadaan di akhirat kelak

“Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalanakan gunung-gunung, dan kamu dapat melihat bumi itu datar dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan Kami tidak tinggalkan seorang pun dari mereka. 

.
Dan mereka akan dibawa ke hadapan Rabb-mu dengan berbaris. (Allah berfirman), ‘Sesungguhnya kamu datang kepada Kami, sebagaimana Kami menciptakan kamu pada pertama kali; bahkan kamu menganggap bahwa Kami tidak akan menetapkan bagi kamu (waktu berbangkit untuk memenuhi) perjanjian’.

.

Dan diletakkan kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan berkata, ‘Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal yang kecil dan yang besar melainkan tercatat semuanya,’ dan mereka dapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Dan Rabb-mu tidak mendzolimi seorang jua pun.” 

.
5. Bersikap tawadhu dan sabar terhadap ilmu

Sebagaimana kisah Musa bersama Khidir. Tatkala Musa mengira dirinya yang lebih mengetahui soal ilmu, Allah pertemukan ia dengan Khidir. 

.
Meski berstatus Nabi, Ulul Azmi, bahkan memiliki julukan Kalimullah (orang yang diajak bicara langsung oleh Allah), Musa tetap merendahkan hati di hadapan Khidir. Serta ingin mengikuti dan belajar dari ilmu-ilmu yang Khidir ahlikan. 

.
“Musa berkata, ‘In syaAllah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun.’” 

.
6. Senantiasa perbaiki niat.

Di paling akhir surat Al Kahfi, Allah mengingatkan kepada hamba-Nya,

.
“Maka barang siapa mengharap pertemuan dengan Rabb-nya, hendaklah mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada-nya.” 

.
Dari ayat ini, juga kembali kita ingat akan syarat diterimanya sebuah amal, yaitu yang ‘benar’ sesuai dengan petunjuk Nabi lagi tidak menyekutukan-Nya (ikhlas). 

.

Semoga Allah mudahkan kita berbuat kebajikan-kebajikan di hidup ini, yang membuah Jannah serta bahagia berjumpa dengan-Nya. Aamiin.

.
Demikian rangkaian catatan Memahami Tujuan Surat Al Kahfi. Tiada penutup lebih indah selain perbanyak istighfar. Mari berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tak pernah kenyang, dan dari doa yang tak berjawab.

Memahami Tujuan Surat Al Kahfi (2) 

B. KETERKAITAN ANTARA EMPAT KISAH

.
Jika kita mengingat catatan sebelumnya, kita temukan empat kisah dalam surat Al Kahfi serentak menceritakan tentang peran iman. Ashabul Kahfi yang sebab imannya, mereka teguh memegang prinsip ketauhidan. Pemilik dua kebun yang sebab tidak berimannya, ia berbangga diri dan menafikan hari akhir. Khidir yang bersama imannya, ia tunduk atas perintah Allah. Serta Raja timur dan barat, sebab imannya, kekuasaan pun jabatan memberkah bagi kaumnya.

.
Beginilah jelitanya Al Quran. Ia tidak mengungkap kisah secara terpisah-pisah tanpa ada keterkaitan antara satu dengan yang lainnya. Dalam kitab Khowathir Qur’aniyah karangan Amru Kholid berbeda lagi. Kali ini, benang merah dari keempat kisah yang menjadi penghubung ialah gambaran fitnah (ujian) utama yang dihadapi manusia.


1. Fitnah agama
, di mana seseorang mendapatkan ujian baik siksaan atau gangguan sebab berpegang teguh dengan apa yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya. Banyak sekali di kehidupan kini yang menjadi fitnah agama kita. Pun fitnah inilah yang menimpa Ashabul Kahfi dahulu, dan sejarah mengisah-indahkan mereka selamat dari fitnah ini.

.
2. Fitnah kekayaan, fitnah inilah yang menimpa pemilik dua kebun. Ia tertipu kekayaan, hingga menyeretnya pada kufur terhadap hari akhir. Teringat satu kisah, kala itu Rasulullah memerintahkan sahabatnya agar turut berperang, karena darinya akan ada ghanimah yang banyak. Lalu sahabat itu berkata bahwa ia mengikuti perang bukan karena ghanimah, tapi karena Allah dan Rasul-Nya. Dan bagaimana Rasulullah menjawab? Ketahuilah kekayaan (harta) akan menjadi baik bila dipegang oleh orang sholih. Sebaliknya, akan celaka bila digunakan ‘tuk berbuat nista.

3. Fitnah ilmu, di mana seseorang terkagum dengan ilmunya sendiri, dan menyangka tidak ada seorang pun yang mengetahui seperti yang ia ketahui. Dikisahkan dalam shahihain, dari Ubay bin Ka’ab, tatkala Musa tengah berkhutbah di depan kaum israil, ia ditanya tentang siapakah manusia yang paling pandai. 

.

Dan Musa menjawab, ‘anaa’, ya, saya manusia paling pandai.
Maka Allah mewahyukan kepadanya agar berjumpa dengan seorang hamba yang lebih mengetahui, ialah Khidir. Lantas ketika Musa menemukannya, apakah ia enggan belajar lagi berbangga diri akan ilmunya? Tidak. Tapi Musa lantas  berucap tunduk lagi tawadhu’, bolehkan saya mengikutimu agar kamu mengajarkan kepadaku ilmu? Lagi-lagi, Allah kisahkan pemeran selamat dari fitnah. 

.
4. Fitnah kekuasaan, di mana seseorang yang dikaruniai kemampuan hebat, pengaruh yang luas, kekuasaan yang besar terkadang malah mengantarkannya pada kebanggaan. Kufur terhadap nikmat Rabb nya, dan menganggap remeh sesama. Maka kisah Dzul Qornain hadir menggambarkan sebaliknya. Ia sebagai pemimpin yang adil, menyandarkan keutamaan dan kekuatannya hanya kepada Allah.
Demikian gambaran umum fitnah dari surat Al Kahfi yang bisa kita cermati. Dalam suatu hadits dikatakan bahwa fitnah terbesar dari segala fitbah ialah Dajjal. 

.
“Tidak ada fitnah terdahsyat,” begitu sabda Baginda shallallahu ‘alaihi wa sallam, “sejak diciptakannya Adam hingga terjadinya kiamat, yang melebihi Dajjal,” lanjutnya dalam riwayat Al Hakim.

.
Lalu apa hubungannya Dajjal dengan keempat fitnah di atas? Dijelaskan bahwa Dajjal akan muncul sebelum terjadinya hari kiamat dengan menebarkan fitnah-fitnah yang antara lain; ia mampu menghidupkan orang mati setelah ia membunuhnya. Ia mampu memerintahkan langit untuk turunkan hujan. Harta mengikutinya selayak sekelompok lebah. Bahkan air dan api ada di tangannya. 

.
Bila hati kosong tanpa iman, mudah saja ia terpeleset pada fitnah agama, lantas menyekutukan Allah dengan Dajjal. Atau terperangkap pada fitnah kekayaan dan kekuasaan sebab tak kuasa menahan diri. Terjerumus fitnah ilmu dengan bangkang terhadap kebenaran dan petunjuk-petunjuk Allah.

.

Dari sini tampak sudah tujuan surat Al Kahfi  yaitu memelihara manusia dari fitnah. Kewaspadaan akan fitnah-fitnah bisa dibangun dengan membaca surat Al Kahfi lagi mentadaburi maknanya. Maka benarlah sabda Rasul tentang keutamaan surat ini,

.
“Barangsiapa yang menghafal sepuluh ayat pertama dari surat Al Kahfi, niscaya dia akan terlindungi dari (fitnah) Dajjal. Dan di dalam riwayat lain disebutkan: “(sepuluh ayat terakhir) dari surat Al-Kahfi.”

(Diriwayatkan oleh Muslim I/555 no.809, Ahmad V/196 no.21760, Ibnu Hibban III/366 no.786, Al-Hakim II/399 no.3391, dan Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman V/453 no.2344. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani).

.
Allahu ta’ala a’lam. 
Sumber gagasan

Al Quran Al Karim

At Tafsirul Muyassar

Khowathir Qur’aniyah

Shofwatut Tafasir 

Artikel Akhir Zaman 
*** 

Pada dasarnya menulis sembari belajar, menulis sebagai pengingat pribadi. Maka bila didapati salah dan keliru mohon diingatkan. Bila ditemui benar dan manfaat tak lain merupakan fadhilah Allah subhaanahu wa ta’aala. 🙂 

.

Semoga menyusul catatan Memahami Tujuan Surat Al Kahfi (3), in syaaAllah 🙂

A. KISAH-KISAH

Dalam surat Al Kahfi, Allah ceritakan empat kisah yang menyimpan ajar di setiapnya.

.
Tentang sekelompok pemuda yang teguh mengatakan Rabb kami adalah Rabb seluruh langit dan bumi. Tidak akan pernah sekali-kali kami mengabdi kepada selain-Nya. Namun pengakuan itu berbalas murka. Oleh Raja berhati jemawa. Pemburuan mulai dikerahkan. Dan sipakah Penepat janji bagi hamba yang menolong agama Allah?

.
Maka saat itu pula Allah perintahkan, carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Allah akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepada mereka, dan menyediakan sesuatu yang berguna bagi urusan mereka.

.
Kisah kedua tentang seorang laki-laki pemilik dua kebun. Allah memberikan nikmat yang tertulis dalam ayat-Nya, nikmat itu berupa dua buah kebun anggur lagi dikelilingi pepohonan kurma. Di antara kedua kebunnya terdapat ladang dan mengalir sungai di celah-celah keduanya.

.

 
Namun sayang ia terpedaya oleh kekayaan. Hingga lupa bahwa segala nikmat tak lain berupa titipan. Ia berbangga atas apa yang didapati lalu berkata pada kawan mu’min bahwa harta dan pengikutnya lebih banyak.

.
Saking terlenanya, pemilik kebun itu inkar akan hari kiamat di mana semua akan binasa. 

.
“Dan aku kira hari kiamat itu tidak akan datang. Dan sekiranya aku dikembalikan kepada Rabb ku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada ini,”

.

 
Yaitu dengan kealpaan ia atas kekuasaan Allah yang mampu berbuat segala, mudah saja laki-laki tersebut mengira kebun-kebunnya tidak akan pernah bisa binasa. Sungguh yang demikian tak lain perbuatan dzolim kepada dirinya sendiri. 

Maka Allah binasakan nikmat itu. Ia kirimkan petir lantas tanah kebun menjadi licin dan sungai menyurut tak lagi mengeluarkan airnya. Lalu berkata si laki-laki penuh kesesalan, aduhai kiranya dulu ia tidak mempersekutukan seorang pun dengan Rabb nya. Kiranya dulu ia tidak mengkufuri nikmat-Nya. 

Kisah ketiga tentang Musa yang berguru pada Khidir. Allah pertemukan Musa dengan lelaki sholih lagi memiliki ilmu penting. Yaitu ke-tsiqohan (kepercayaan) pada ketentuan Allah yang selalu membuah hikmah. Dalam riwayat dijelaskan maksud ilmu di situ adalah ilmu ghuyub. Dan berkata ulama tentangnya; yaitu ilmu Rabbani, adalah buah dari keikhlasan dan taqwa. Ilmu khusus yang tidak didapati melainkan karena taufiq Allah. Dengan keutamaannya itu, lalu Musa berkata,

.
هل أتبعك على أن تعلمني مما علمت رشدا 

.
“Bolehkah aku mengikutimu agar kiranya engkau ajarkan padaku (ilmu yang benar) yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk?”

.
Sungguh, kau tidak akan sanggup bersabar bersamaku, balas Khidir mengingatkan Musa. Sebab bisa jadi apa yang dilakukan Khidir tampak sebuah kezaliman namun nyatanya ia mengandung makna dan merupakan bentuk ketaatan ia pada Rabb nya. Musa lalu berjanji akan bersabar dan tidak akan menentangnya dalam urusan apapun.

.
Lalu Khidir mengingatkan kembali,

.
فإن اتبعتني فلا تسئلني عن شيء حتى أحدث لك منه ذكرا

.

 
“Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau bertanya tentang sesuatu apapun sampai aku menerangkannya kepadamu,”

.
Lantas berlalu lah keduanya menyisiri tepian pantai. Beberapa ajar yang didapati Musa kala perjalanannya bersama Khidir; tentang perahu yang dilubangi karena terdapat penguasa zalim berupaya merampas perahu baik yang dilihatnya. Tentang anak yang dibunuh karena khawatir menjatuhkan kedua orang tua yang mukmin dengan kedurhakaannya (kekafirannya). Tentang tembok yang diperbaiki tanpa imbalan karena di dibawahnya terdapat kekayaan anak yatim. 

Kisah keempat adalah kisah Dzul Qornain. Raja adil lagi menebar kebaikan di muka bumi. Raja timur dan barat. Sampai Allah kisahkan tentang nikmat yang dianugerahkan padanya,

.
إنا مكنا له في الأرض و ءاتيناه من كل شيء سببا

.
“Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu,”
Sempurna. Raja yang diminta suatu kaum ‘tuk membangun dinding antara mereka dan perusak bumi; Ya’juj dan Ma’juj. 

.
“Dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?” 

.
Tak ingin serakah, meski memiliki kekuasaan dan kemampuan untuk membangun dinding tersebut, Dzul Qornain tetap meminta bantuan kepada mereka. Bukan agar mereka turut berlelah. Melainkan ini isyarat ia tak berbangga atas kemampuan dan kekuasaannya.

.
Pun pada usainya pembangunan dinding pemisah tersebut, ia berkata,

.
“Dinding ini adalah rahmat dari Rabb ku.” 

.
Jika kita cermati, kisah-kisah dalam surat Al Kahfi ini mengajarkan satu makna tentang peran kekuatan iman. Bagaimana ancaman raja zalim tak meluputkan Ashabul Kahfi dari mempertahankan keimanan mereka. Bagaimana sebab tak beriman pada kekuasaan Allah atas segala, pemilik dua kebun itu akhirnya berbangga dan menafikan adanya hari akhir. 

.
Bagaimana iman Khidir kepada Allah menyibak hikmah ‘ajiibah di setiap kejadian yang secara kasat mata ia merupa kezaliman. Bagaimana iman seorang raja Dzul Qornain menundukkan ia di hadapan Rabb nya meski ilmu, kuasa, harta lengkap sudah didapatinya. 

.
Allahu a’lam bis showab.

.
Sumber gagasan:

Al Quran Al Kariim

Khowathir Quraniyah

Shofwatut Tafasir

Fii Dzilaalil Quran

.
Pada dasarnya menulis sembari belajar, menulis sebagai pengingat pribadi. Maka bila didapati salah dan keliru mohon diingatkan. Bila ditemui benar dan manfaat tak lain merupakan fadhilah Allah subhaanahu wa ta’aala. 🙂 
Semoga menyusul catatan Memahami Tujuan Surat Al Kahfi (2), in syaaAllah 🙂

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑