Menyiapkan Hati 

Khadijah tak pernah tau, apa yang akan Allah hadirkan untuknya setelah mimpi matahari jatuh di langit Makkah dan bertahta di rumahnya. Saudah juga tak pernah menyangka, apa yang akan Allah datangkan sebagai pengganti kesedihannya atas kesyahidan sang suami, Sakran ibn Amr. Aisyah tak pernah mampu menerka, bagaimana ia akan melewati masa remaja dan dewasanya.

Terkadang jiwa tak pandai memompa langkah-langkah menuju cita agar semangat. Pun tak cakap melapangkan hati kala mimpi belum bertepi. Padahal sunnatullah, belum tentu apa yang kita rencanakan berjalan sesuai. Sebagaimana yang disampaikan Mutanabi dalam syair-nya, kapal yang berlayar, tak menjadikan ia selamat dari badai hingga harus berbelok arah bahkan terbentur karang.

Ini tentang kekhawatiran, kawan. Tentang kekhawatiran yang belum berujung. Tentang masa depan yang melambai, sayang mata dan hati terlalu takut untuk melihat.

Bukan hanya perihal jodoh, tapi juga bagaimana keluarga beserta keturunan menjadi sebenar penyejuk mata dan satu jalan mencapai ridho-Nya. Bukan hanya perihal lolos melanjutkan kuliah atau tidak, tapi juga kelayakan sebagai hamba yang diridhoi faqih dalam agamanya. Bukan hanya perihal tercapai mimpi atau malah semakin jauh, tapi tentang akankah masih ada yang bisa disumbangsihkan? Menjadi bermanfaat bagi sesama?

Menyiapkan hati untuk esok. Mungkin menjadi satu langkah agar ia berani menatap masa depan. Menyiapkan hati berarti bersiap atas resiko yang akan terjadi. Bersiap menghadapi kesukaran-kesukaran yang mungkin dihadapi. Dan tentunya, bersiap meyakini ketentuan Allah yang terbaik.

Memang belum tersingkap siapa pelengkap usia kelak. Dan bukan tugas diri menerka apalagi jika hati ikut-ikutan memaksa. Melainkan siapkan hati untuk esok; menjernihkannya dari segala rasa serta lapang atas pilihan Allah semata.

Memang belum terbukti bagaimana nasib perjalanan menuntut ilmu di sebuah lembaga. Dan bukan tugas diri berputus asa apalagi jika hati turut berburuk sangka. Melainkan siapkan hati untuk esok; terus berupaya merajuk damba serta mulai jadikan ilmu napas keseharian, bukan musiman.

Memang belum tercapai segala cita dan mimpi. Dan bukan tugas diri menyalahkan kondisi apalagi jika hati memandang sekitar dengan iri. Melainkan siapkan hati untuk esok; aturlah kembali tahap-tahap pencapaian serta perbarui i’tikad, mungkin selama ini belum bertuju pada akhir-Nya.

Wahai hati yang khawatir. Jadikan rasa resah itu perenungan agar engkau bertambah harap, cinta dan takut pada Pemilik jiwa dan hidup ini.

“Saya meminta sesuatu kepada Allah, jika Allah mengabulkan, saya gembira sekali. Jika Allah tidak mengabulkan, saya gembira sepuluh kali lipat. Sebab yang pertama pilihan saya, dan kedua pilihan Allah.” (Ali ibn Abi Thalib)

|| Jakarta, 190117

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: