Jakarta Merindu Hikmah 

Ini tentang kebermanfaatan yang sempurna. Bermanfaat yang meluas. Bermanfaat yang menoreh ketenangan.  Bermanfaat yang melahirkan kebaikan-kebaikan lagi setelahnya. Bahwa di sekitar kita banyak perihal yang tidak sempurna perannya kecuali dengan adanya hal yang lain.

Penyair Persia, Ibn al-Muqoffa’ pernah menyampaikan, tidaklah akal itu bermanfaat tanpa adanya wara‘ (ketakutan akan dosa), keindahan tanpa kenikmatan, nasab tanpa adab, kesenangan tanpa rasa aman, kaya tanpa berderma, kemuliaan tanpa penundukan sikap, dan kesungguhan tanpa adanya pertolongan Allah. 

Seorang yang dianugerahkan akal cemerlang, namun berbuat tanpa Ihsan, bagaimana manfaat? Keindahan lampu-lampu malam Jakarta, namun membias oleh padat lalu lintas dan lelah yang tak jarang menimbulkan emosi, bagaimana elok? Keturunan Pejabat Negara, namun enggan pada kebenaran serta meremehkan sesama, bagaimana hormat? 

Membangun sarana hiburan tapi menghimpit tanah sekitar, bagaimana tenang? Menaikkan gaji atasan tapi membatasi lapangan kerja pedagang jalanan, bagaimana adil? Pemimpin wilayah, namun berbuat sesuka kata tanpa santun, bagaimana agung? Upaya-upaya sterilisasi tindakan kriminal tapi mendakwa ahli ilmu yang justru rujukan masyarakat, bagaimana selamat? 

Jakarta merindu hikmah; merindu akan cerdas yang berlandas ketaqwaan. Merindu sikap yang bekerja dengan sabar dan keikhlasan. 

Dalam catatannya, Dr. Hamid Fahmi menjelaskan bagaimana filosof terdahulu menjabarkan makna hikmah. Bahwa ia, adalah bagaimana meletakkan sesuatu pada tempatnya. Ia dalah ilmu tentang segala sesuatu, sifat-sifatnya, kekhususannya, hukum-hukumnya, hubungan sebab-akibat dan mengamalkan sesuai yang dibutuhkan. Orang yang memiliki hikmah atau hakim, masih pada penjelasannya, adalah yang perbuatannya dapat dipertanggungjawabkan; kerjanya tekun, perkataannya benar, moralnya baik, pendapatnya betul, amalnya bersih dan ilmunya benar. 

Sehingga disimpulkan dengan perkataan al-Ghazali, ialah jiwa yang memiliki kekuatan mengontrol dirinya sendiri (tamakkun) dalam soal keimanan, akhlak dan dalam berbicara. Jika kekuatan ini terbentuk maka akan diperoleh buah dari hikmah, sebab hikmah itu adalah inti dari akhlak mulia. 

Jakarta merindu hikmah; merindu akan persatuan yang tak pernah luput dari sejarah saat memadu kesetiaan cinta akan Kalam suci-Nya. Merindu akan kemajuan praja lagi bahagia warganya. Merindu akan sila keempat, “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawarahan/perwakilan”.

Merindu akan firman, “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar. Mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS.32:24)

|| Jakarta, 050217 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: