Perjanjian Hudaibiyah adalah perjanjian antara Muslim Madinah dengan Musyrikin Makkah (Quraisy). Saat itu, tepatnya di tahun ke enam setelah hijrah atau 628 M, kaum muslimin hendak melaksanakan thawaf di Baitullah Al-Haram. Bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam sekitar 1400 orang dan 70 ekor unta yang dijadikan sebagai hadyu (hewan yang disembelih dalam rangka ibadah haji atau umrah). Namun di pertengahan jalan, Quraisy menghalang-halangi Rasulullah beserta sahabatnya untuk masuk ke Makkah. Melihat demikian, Rasulullah bernegosiasi dan tertulis lah Perjanjian Hudaibiyah yang isinya:

  1. Gencatan senjata antara Makkah dan Madinah selama 10 tahun
  2. Warga Makkah yang menyebrang ke Madinah tanpa izin walinya harus dikembalikan ke Makkah
  3. Warga Madinah yang menyebrang ke Makkah tidak boleh kembali ke Madinah
  4. Warga selain Makkah dan Madinah dibebaskan memilih untuk berpihak ke Makkah atau Madinah
  5. Pada saat itu, Rasulullah dan pengikutnya harus meninggalkan Mekah, namun diperbolehkan kembali lagi ke Mekah setahun setelah perjanjian itu, dan akan dipersilahkan tinggal selama 3 hari dengan syarat hanya membawa pedang dalam sarungnya (maksudnya membawa pedang hanya untuk berjaga- jaga, bukan digunakan untuk menyerang)

Singkat kisah, bila kita melihat isi Perjanjian Hudaibiyah, keberuntungan lebih berpihak kepada Quraisy sedang Muslimin kala itu dibiarkan tidak berangkat thawaf. Saat itu, setelah Rasulullah menandatangani perjanjian, Rasulullah memerintahkan para sahabatnya untuk menyembelih hadyu sebagai pengganti kewajiban haji yang ditinggalkan dan bertahalul dari ihram mereka.

Akan tetapi semangat Diin para sahabat masih menyala hebat dalam diri. Perjanjian menghalangi mereka dari thawaf ke Baitullah. Kerinduan dan semangat itu memudarkan penglihatan mereka akan hikmah di balik perjanjian ini; yakni bagaimana Allah menjadikan perjanjian ini isyarat kemenangan Islam dan pembebasan kota Makkah. Melihat para sahabat yang tidak melaksanakan perintahnya, Rasulullah masuk ke tenda menemui istri beliau, Ummu Salamah.

Ummu Salamah paham bagaimana kondisi Rasulullah yang selama ia diutus, tidak ada sahabat yang tidak mendengarkan apa yang beliau perintahkan. Dan kali itu, kesabaran Rasulullah diuji dengan sikap sahabat-sahabatnya. Bukan sebab bangkang atas titah Rasulullah, tetapi dari sini tercermin bagaimana iman akan kebenaran Islam yang mereka yakini menancap kuat di jiwa mereka.

“Wahai Rasulullah,” sapa Ummu Salamah, “janganlah engkau menyalahkan mereka, perjanjian itu begitu besar menghujam sanubari mereka. Mereka keberatan dengan perjanjian itu dan keberatan juga kembali pulang ke Madinah tanpa memasuki Makkah sama sekali,”

“Wahai Nabi Allah, keluarlah, jangan bicara kepada seorang pun di antara mereka, lalu sembelih lah binatang hadyu-mu, serta cukurlah rambutmu,” usul Ummu Salamah. Rasulullah pun melaksanakan saran Ummu Salamah, lantas kaum muslimin bergegas mengikuti beliau. Mereka menyembelih binatang hadyu dan mencukur rambut mereka.

Melihat kejadian ini, teringat akan hadits Nabi dalam riwayat Bukhori dan Muslim, Rasulullah bersabda,

مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَغلَبُ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ. فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا نُقْصَانُ عَقْلِهَا؟ قاَلَ: أَلَيْسَتْ شَهَادَةُ الْمَرْأَتَيْنِ بِشَهَادَةِ رَجُلٍ؟ قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا نُقصَانُ دِينِهَا؟ قَالَ: أَلَيْسَتْ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ

“Aku tidak pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya paling bisa mengalahkan akal lelaki yang kokoh daripada salah seorang kalian (kaum wanita).” Maka ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa maksudnya kurang akalnya wanita?” Beliau menjawab, “Bukankah persaksian dua orang wanita sama dengan persaksian seorang lelaki?” Ditanyakan lagi, “Ya Rasulullah, apa maksudnya wanita kurang agamanya?” “Bukankah bila si wanita haid ia tidak shalat dan tidak pula puasa?”, jawab beliau. (Muttafaqun ‘alaih, HR. Bukhari no. 1462 dan Muslim no. 79)

Sebagian kalangan menganggap hadist tersebut mengandung penghinaan terhadap perempuan. Akan tetapi sejatinya justru hadist itu menjelaskan kepada kita kepribadian perempuan dari sudut pandang penciptaannya. Perempuan biasanya dikuasai perasaan. Ini bukan lah suatu aib. Melainkan keadaan khas yang sesuai dengan fungsinya dalam kehidupan. Perempuan cenderung mencurahkan kasih sayang dan empati ketimbang mengeksplorasi otak dan kecerdasan akalnya. Bisa dilihat dari upaya-upaya kesehariannya, misal tulisannya, perempuan lebih suka membahas perasaan daripada teori atau hukum suatu ilmu. Perempuan punya potensi besar untuk mengusap keletihan dan kesedihan anggota keluarganya. Semua tugas yang tidak bisa dikerjakan sempurna dengan kecerdasan akal tetapi hanya bisa dituntaskan dengan perasaan.

Dan sejarah Perjanjian Hudaibiyah turut mengabarkan, jika kecerdasan akal Ummu Salamah dianggap kurang (artinya akalnya tidak dapat berpikir secara sempurna), niscaya Rasulullah tidak menerima sarannya dalam urusan yang sedemikian berat dan krusial.

Dengan demikian, kurang akal dalam hadist itu memiliki makna bahwa perempuan mengerjakan banyak hal yang akal tak mampu melakukannya, karena ia mengerjakannya dengan perasaan. Andaikata perasaan perempuan tidak lebih kuat daripada akalnya, mungkin ia tidak akan sanggup berjaga sepanjang malam ketika anaknya sakit. Andaikata perasaan perempuan tidak lebih kuat daripada akalnya, mungkin ia takkan mampu bertahan menanggung hidup bersama suami dan anak-anaknya kala ujian menerpa, belum lagi memanggul ‘beban’ mendidik anak dengan segala kesulitannya.

Maka dari kisah Ummu Salamah di Perjanjian Hudaibiyah, kita mengerti, ada peran perempuan cerdas di dalamnya. Menenangkan, memenangkan, menunjukkan, dan mempertahankan.

Pada akhirnya, kita terus meminta petunjuk pada Allah atas segala karunia-Nya yang tak pernah habis. Dalam penciptaan langit-bumi nya, siang-malam nya, susah-mudah nya, pria-perempuan nya, dengan segenap hikmah yang menjadi penambah iman pada-Nya.

Allahu ta’aala a’lam.

Advertisements