Sepanjang usia ini, cukup banyak perempuan yang saya temukan memiliki minat mendalami kepenulisan. Kenalan, kawan nyata pun maya, saudara, keluarga, sampai menunjuk ke saya sendiri. Pula ketika menghadiri workshop serta agenda semisalnya yang membahas dunia literasi, tak jarang didapati jumlah peserta perempuan lebih banyak dibanding laki-laki. Di samping kenyataan ini, saya bertanya-tanya, mengapa selama itu pula beberapa mereka saya temukan mati di tengah jalan? Lagi-lagi, pertanyaan ini sebagai tamparan untuk pribadi. 

Sudah menjadi tabiat perempuan mencintai kata-kata. Perasaannya yang ‘aneh’ seringkali menuntun agar menumpahkan apa-apa yang dirasa cukup melalui dua cara; menulis dan menangis. Ya, perempuan terbiasa menulis untuk mencari kebahagiaannya, ketenangannya, dan hampir sering menulis untuk menemukan solusi permasalahannya. Di samping fakta ini, saya bertanya-tanya, mengapa justru yang tampil sebagai penulis lebih banyak laki-laki? Di Indonesia saja bisa diperhatikan, siapa-siapa yang menguasai pekerjaan mulia satu ini.

Hal ini, (sebagaimana tulisan Mas Ma’mun yang pernah saya share) bukan masalah tidak bagusnya tulisan perempuan. Bagus atau tidaknya tulisan sangat subjektif di mata pembaca. Bahkan, tulisan guyon saja memiliki power tersendiri. Lalu apa demikian?

Sensitivitas yang terlalu tinggi. Ya, persoalan perempuan untuk bertahan di dunia kepenulisan ini adalah tentang bagaimana ia menghadapi kritikan (yang sudah pasti) menjadi bumbu-bumbu kehidupan. Benar, perempuan lebih mudah ‘jatuh’ menghadapi jawaban-jawaban atas upayanya. Baru mencoba menulis artikel yang menghabiskan waktu berjam-jam, setelah di-publish, beragam kritikan datang, atau bisa jadi tak ada penghargaan sekecil pun. Hati perempuan mana yang tidak khawatir? :’)

Di sisi lain, perempuan memiliki rasa malu yang lebih anggun dibanding laki-laki. Menulis, tapi tidak untuk di-publish. Padahal disebut penulis ketika sebuah tulisan dibaca. Dan banyak perempuan yang memilih untuk menjadi penulis bagi dirinya sendiri.

Maka banyak perempuan yang kemudian hilang dari permukaan, mengendur pula syiar kebaikan dan peradaban gemilang pelan-pelan memudar. Sebab sebagian manusia cenderung menerima pesan-pesan kebaikan melalui curahan hati perempuan. Contoh kisah yang belum lama ini dimuat oleh salah seorang jurnalis perempuan tentang keadaan keluarga aktivis yang dikriminalisasi. Tidak lama kemudian, pesan pribadi berdatangan mewakili keterharuan dan menghibahkan hartanya. 

Juga, seimbangnya peradaban adalah tugas dua insan; laki-laki dan perempuan. Allah memberikan kewajiban sesuai tabiat masing-masing lantas memudahkan jalannya. Maka tidak heran jika kemudian kita butuh pengetahuan dari sudut pandang perempuan, bukan?

Dengan demikikan, peran perempuan dalam dunia literasi tidak lagi diragukan. Jangankan teori yang ia pahami, perasaannya saja mampu cukup baik teraba dan menjadi sebuah gagasan. Apa pun latar belakang, kesempatan membangun karya bisa saja terwujud.

Kembali pada buah pikir yang disampaikan Mas Ma’mun, bahwa perempuan juga lebih memiliki ketelitian, ketekunan, dan kerapian yang seringkali melebihi laki-laki. Artinya ketika mampu mendobrak rasa mudah ‘jatuh’, akan lebih banyak manfaat yang tersebar dengan rangkaian kata-kata. Semoga. 

Oleh sebab itu langkah paling penting bagi perempuan untuk menjadi penulis bukanlah belajar menulis, tapi menyingkirkan rasa khawatir dan membangun rasa percaya diri yang kuat. 

Mari sama-sama terus perbarui tekad. 🙂
Allahumma a’innaa ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatika. 

Advertisements