‘Amm Ramadhan 

“Aku mau baju koko itu, Bu!”

.

“Tunggu Ramadhan datang, ya, Nak,”

.

Wajah Kholid seketika murung. Sang ibu tak pernah penuhi permintaannya membeli apa pun. Koko, sarung, manisan, bahkan es cendol di pinggir jalan tidak dibelikan. Jawaban ibu selalu sama, ‘tunggu Ramadhan, ya’.

.

Dari luar pasar, Kholid memandangi teman-teman seusianya menggenggam es krim, coklat, permen jumbo. Ada juga yang menangis menunjuk-nunjuk toko permainan. Demi mendiamkan si anak, sang ibu menggendongnya lantas masuk ke toko tersebut.

.

Anak berusia lima tahun itu tidak pernah menangis agar keinginannya tercapai. Yang dia tahu hanya sabar menunggu Ramadhan dan menuruti apa kata sang ibu.

.

***

.

“’Am Ramadhan! ‘Am Ramadhan …!”

.

Kholid tersentak mendengar seruan tersebut, ‘Ramadhan?’. Segera ia berlari ke arah suara bersumber.

.

“Saya hampir lupa di mana memarkir mobil. Terimakasih sudah dipanggil.” Lelaki bertubuh besar terlihat menenteng banyak bawaan. Hendak menghampiri supir dan mobilnya.

.

“Apa Tuan yang bernama Ramadhan?” Tiba-tiba suara Kholid bertanya seraya menarik pelan gamis lelaki besar itu.

.

“Iya, saya Ramadhan. Ada apa, Nak?”

.

“Aku dan ibu menunggumu lama, Tuan. Setiap kali aku minta dibelikan sesuatu, ibu selalu berkata tunggu Ramadhan datang. Apa Tuan di sini untuk menemuiku?” tanya Kholid lugu.

.

“Maa syaa Allah … di mana rumahmu, Nak?”

.

“Tepat di samping pasar, Tuan.” Masih dengan bahagia yang tak bisa disembunyikan, Kholid tersenyum rekah.

.

“Kalau begitu, ambil semua barang ini, Nak. Semoga kau suka. Sampai jumpa lain waktu.” Sambil mengelus kepala Kholid, lelaki bergamis itu membalas senyumnya.

.

Berkali-kali Kholid mengucapkan terimakasih atas kehadiran dan pemberian ‘Am Ramadhan. Ia terus melambai seiring mobil menjauh.

.

***

.

“Ibu … ibu …!”

.

“Ada apa, Nak, teriak-teriak? Maa syaa Allah, kamu dapat barang sebanyak itu dari mana?”

.

“Aku bertemu ‘Am Ramadhan di pasar, Bu. Aku cerita, udah menunggunya lama. Lalu dia memberikan semua ini padaku. ‘Am Ramadhan baik, ya, Bu!” 

.

“…”

.

Note: kisah ini terinspirasi dari kisah Arab dalam kitab Fahmul Masmuu’ 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: