Seindah Kisah Musa & Shafura

After reading Musa and Shafura’s love story though, I learned to love my husband for the right reason; for his supports, his strengths, and his sense of responsibility for the sake of Allah. After ten years, he still makes my heart flutter.

.

Potongan ungkap seorang wanita bernama Hena Zuberi yang saya baca dari blog nya ini, kembali mengingatkan akan secercah ingin; menulis ajar kisah cinta Musa dan Shafura.

.

Hal ini berangkat dari bahagianya hati ketika mendengar atau membaca keutamaan Al Qur’an. Di dalamnya ada kisah-kisah menyentuh dasar akal dan sanubari. Menjadi titik terang dalam gulita, penentram dalam hampa. Pun beranjak pula dari banyaknya persoalan cinta dari yang membutakan sampai yang menyadarkan.

.

Bila Hena Zuberi merasa kisah Musa dan Shafura sebagai pembaik cinta dan pandangnya terhadap pasangan, moga coretan sederhana ini mampu mengajak sahabat semua kembali menyelami hati, adakah ia sedang terkubur rasa pada seseorang? Lalu bagaimana agar harap yang tertanam tak tumbuh menjulang lebihi rindangnya cinta pada Yang menaungi cinta?

.

***

.

Lihatlah pada kisah Shafura dan saudarinya yang keluar rumah demi mengembala hewan ternak. Mereka melakukan itu sebab ayahnya sudah lagi tak mampu mengembala. Usia sang ayah yang berlanjut tua mengundang simpati kedua bersaudara ini, bahwa mereka harus mengambil alih pekerjaannya.

.

Jikalah hati terpaut pada seorang, coba sejenak mengingat orang tua, adakah cukup rasa cinta kita pada mereka sehingga hadir sosok yang lebih mengundang hati mengaguminya dibanding mengharukan perjuangan orang tua kita? 

.

Shafura berjumpa Musa dalam ketaatannya pada Rabb, kepatuhannya pada orang tua untuk mengembala, maka alangkah indah bila bertemu jodoh ketika diri diridhoi orang tua yang juga ridho Ilahi, toh itu ‘kan memudahkan kita yakinkan orang tua kalau dialah jawaban istikharah selama ini, hehe.

.

Lihatlah pada kisah Musa menolong kedua bersaudara itu meminumkan hewan ternaknya. Dalam kondisi lelah lagi haus, Musa tetap meringankan tangannya. 

.

Hal ini bukan seperti anak muda zaman sekarang yang mengahampiri perempuan dengan beribu modusnya, menawarkan goncengan, mengajak kenalan dan sebagianya. Tapi memanglah pribadi Musa yang tumbuh di kerajaan, telah mendidiknya setangguh panglima perang, sepeduli pengorbanan ratu pada putra mahkotanya, dan sebijak-lembut hati penasehat raja.Maka tanpa kenal siapa kedua gadis yang terlihat kesulitan itu, yang Musa paham hanya menolongnya selagi mampu.Pertemuan yang indah, bukan?

.

Jikalah hati tertuju pada seorang, terus perbaiki pribadi. Sebaik Musa mempersiapkan dirinya pada ketangguhan, kepedulian, dan kebijakan hadapi berbagai persoalan hidup. Hingga nantinya, tidak hanya dia yang kita cintai sebagai pelengkap kita, tapi kita pun jadi penyempurnanya.

.

Lihatlah pada kisah Shafura yang berjalan malu menghampiri Musa ‘tuk sampaikan pesan sang ayah; bahwa dirinya diminta ke rumah. 

.

Malu, menjadi sifat perempuan yang menginginkan dirinya tetap dalam kebaikan. “Al Hayaau,” begitu sabda Nabi dalam riwayat Muslim, “khoirun kulluhu”. Malu itu baik. Baik di kesemuanya.

.

Dengan malu, seorang wanita mampu menundukkan hatinya. Dengan malu, seorang wanita bisa merendahkan suaranya. Dengan malu, wanita pasti menutup auratnya. Dengan malu, wanita tak akan berani menjalin keakraban pada lelaki yang bukan sesiapanya.

.

Dengan malu, wanita yang jatuh cinta ‘kan cukupkan doa sebagai ungkap rindu harapnya. Dengan malu pula ia meminta pada Allah diberi sebaik lelaki pilihan-Nya. Bahkan masih dengan malu, ia sembunyikan debar kejut-haru kala pria baik mendatangi walinya.

.

Lihatlah pada kisah Musa meminta Shafura berjalan di belakangnya. Padahal Musa tidak tahu menahu arah jalan menuju rumah ayah Shafura. Demi menjaga pandangan dari terjerumusnya, pun dari sikap Musa kita memahami, bahwa ada ajar tanggung jawab lelaki untuk melindungi wanita. 

.

Bagaimanapun, laki-laki lah yang memimpin. Dalam kepengurusan, rumah tangga, sampai pada perjalanan pun demikian. Maka cukup bagi Musa meminta Shafura melemparkan kerikil dari belakang ‘tuk mengabarkan ke arah mana menuju rumahnya. 

.

Mengenai pandangan, “Ketahuilah,” kabar Ibnu Al Jauzi dalam kitabnya Ahkaamun Nisaa, “bahwa cinta itu berawal dari pandangan mata yang dituruti.

.

Jikalah hati mencintai seorang, cobalah tundukkan pandangan dari segala yang mengingatnya. Benarkah rasa itu mewujud fitrah yang Allah titipkan, atau semata fitnah pada rupa, harta, dan kelebihan lainnya? Cobalah khusyukkan hati sepasrah diri kembalikan harap, benarkah ingin membersamainya sebaik tuju menggapai ridho Allah, atau sebatas pengisi sepi yang berlanjut tiada pasti?

.

Dari kisah indah Musa dan Shafura, tersimpan makna agar cinta kita terjaga. Agar bagaimana berlaku pada lawan jenis dengan adab Islam yang tentram lagi memudahkan. 

.

Dari kisah cinta Musa dan Shafura, kita simak bahasa kasih sayang Allah kepada hamba-hamba yang saling mencintai karena-Nya.

.

Sangat berlapang hati kiranya sahabat memberi kritik dan masukan atas dasar pikir saya yang masih faqir ini. Allahu ta’aala a’lam. Billahi taufiiq wal hidaayah, astaghfirullaha ‘adziim. 

.

|| Jakarta, 211115

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: