Sehakiki Cita yang Hilang 

“Tapi kesungguhan mereka mencintai Al Quran lah yang membuat hati ini menderas tumpahkan berjuta sesal. Kemana saja aku selama ini?”

.
***

.
Penuh guncangan hari ini. Entah mudah sekali mata (lagi-lagi) melinangkan hangat air di pelupuknya. Perih. Seluka hati kala meneropong perjalanan setahun ini.

.

***
Dari dulu, kalo ditanya pelajaran apa yang paling disuka, atau bidang apa yang paling ingin kutekuni, jawabannya selalu senada; Al Quran.

.
Akar mula mewujudnya cita penulis, dan tentu, memahami Al Quran lah yang mendasari ku tekuni bahasa Arab.

.

Hampir 10 tahun kumengenal bahasa Arab. Itu tandanya keinginan memahami Al Quran jauh sudah kurencanakan.
Kalau bukan sebab ingin kusampaikan bahagianya memahami Al Quran, mungkin menulis sudah kutinggalkan dan beralih ke yang lain. Tapi seiring berkurangnya umur, semakin mendorong diri ini untuk berbagi.

.
Berbagi bahwa ini lho, Al Quran yang Allah lindungi sampai hari akhir nanti. Ini lho, Al Quran yang ungkapan sastra bahasanya tiada bandingan. Ini lho, Al Quran yang menaikkan derajat siapa saja yang berusaha memuliakan dan menjaganya. 

.
Tapi cukup sampai sini dulu. Semua harapan itu tak teraba adanya. Keinginan miliki Mushaf dengan terjemah Arab, sampai sekarang belum ada. Keinginan membaca tafsir setiap harinya tidak berjalan. Keinginan menyelesaikan hapalan pun tak tercapai. 

.
Allah … 

.
Tahun ini, sengaja mengeluarkan diri dari Roudhotul Hufadz (Taman Penghapal Al Qur’an) dengan beribu alasan. Dan bergabung dengan komunitas One Day One Juz (ODOJ) sebagai pengganti RH. Setidaknya, tak ingin ku tinggalkan Al Quran dalam seharinya. Harus selalu ada interaksi dengan ayat-ayat Allah ini.

.
Tapi jujur dari hati terdalam, membaca berbeda dengan menghapal. Betul. Serius. Membaca sekedar membaca; kadang pikiran ke mana-mana. Membaca sekedar membaca; yang penting laporan ceklist di grup kalo udah baca satu juz. 

.
Hampa. Kering. Kuakui menghapal Al Quran berpengaruh lebih dari sekedar membacanya. Jika dalam menghapal aku memahami isi suatu ayat atau surat, tapi tidak dengan sekedar membaca. Jika bersama hapalan aku bisa menambah daftar bacaan untuk sholat, tapi tidak dengan hanya membaca. Jika dalam menghapal Al Quran cenderung membantu dalam menyusun karangan dan tugas-tugas kampus lainnya, dan itu tidak kudapati ketika berbatas pada membaca. 

.
Allah …

.
Dan hari ini, aku hanya bisa menangis melihat para pejuang Al Quran. Teman-teman sekitarku, di dekatku, mereka berhasil meninggikan Al Quran di hati mereka dengan menambah hapalan, lantas menguji kemampuan, dan berakhir pada prestasi cemerlang. 

Dan apa yang mereka dapat? Bertumpuk hadiah dan berkali-kali doa terlontar dari para dosen pun mahasiswi yang hadir. Yang paling  mengejutkan adalah hadiah Mushaf ‘Arabi serta catatan kecil dari seorang dosen bagi para pemenang. Tidak hanya pemenang. Tapi juga untuk peserta ajang uji hapalan tersebut. 

Hati siapa yang tidak tertampar menghadapi kejadian itu? Bukan, bukan aku tak bahagia melihat gemilang teman-teman. Sungguh haru menyaksikan kesuksesan mereka. 30 orang menyempatkan dirinya untuk menambah/mengulang hapalan. Allah, syukurku miliki sahabat-sahabat seperti mereka.  

Tapi masih saja ada perih di hati ini. Bukan, bukan prestasi yang kuirikan. Tapi kesungguhan mereka mencintai Al Quran lah yang membuat hati ini menderas tumpahkan berjuta sesal. Kemana saja aku selama ini? 

.

Bahkan niat menambah hapalan saja (waktu itu) tidak ada. Kalaupun ada ia samar meragu akan aktifitas-aktifitas lain yang sedang kuprioritaskankan kemarin. Dan adakah perkara yang lebih penting dibanding lebih dekat dengan Al Quran? Tidak 😥 

.
Kemana sekumpulan asa yang pernah kurajut dulu? Kemana cintaku untuk Al Quran? 

.
Allah …

.
Sehina diri aku meminta, berikan kesempatan memahami Al Quran Mu. Tegarkan diri menetap pada juang menghapal ayat-ayat-Mu. Izinkan aku memasangkan mahkota untuk kedua orang tuaku kelak. Layakkan cinta kagumku pada mereka pejuang Kalam-Mu. Layakkan mimpiku menebar kemuliaan Kitab-Mu. Tetapkan hati ini tunduk pada indah bahasa cinta-Mu.

.
Allah …

.
Mudahkan aku membersamai Al Quran …

.



Serembas tangis temani ketikan hati siang ini, 

|| Jakarta, 080416

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: