​Seperti hari-hari biasanya. Aku bersama para dokter berangkat ke kamp pengungsian tanah terjajah itu. Tanah yang kering sebab reruntuhan bangunan. Tanah yang hancur sebab serangan peledak dari darat pun udara. Tanah yang menjerit isakkan anak-anak kehilangan Ayah, Ibu. Hingga bebatuan menjadi saksi atas setiap darah yang tertumpah.

.
Dari kejauhan sudah terlihat anak-anak berlarian menjemputku dan para dokter. Sudah terlihat pula tenda kecil tertulis Kamp Pengungsian Ummahaatul Mu’minin, tempat mengungsinya para janda syuhada dan anak-anaknya.
Para dokter mulai memasuki tenda-tenda dan menjalani pengobatan. Tapi tidak denganku. Aku lebih senang di luar, mengumpulkan anak-anak dan membagikan biskuit yang sudah kusediakan dalam ransel berukuran 15 kilo.

.
“Ayyuhal athfaal, ta’aal huna!” seruku memanggil anak-anak. Kalau diterjemahkan kira-kira seperti ini artinya, ayo anak-anak, ke sini.
“Siapa yang bisa membacakan Al Quran atau hadis, nanti Paman kasih biskuit!” tawarku seraya mengeluarkan bungkusan biskuit.

.
Siapa sangka mereka berebut unjuk diri. Satu persatu meminta pertanyaan. Ada yang lancar membacakan Al Quran, ada pula yang masih terbata-bata.

.


Bagiku tak masalah. Sebungkus biskuit yang di Indonesia mungkin hanya berharga dua ribu, tapi di sini itu sungguh berarti bagi mereka. Bagiku, langkah ke Negeri Syam ini adalah hadiah terindah yang Allah berikan. Setidaknya aku bisa menyeka air mata dan kesedihan anak-anak ini. Setidaknya, aku merasa lebih bermanusia di sini.

.
Seusai jalani pengobatan, sesaat kukemas alat-alat ke dalam mobil, tiga anak perempuan menghampiriku malu-malu. Mereka saling bersikut meminta satu dengan yang lainnya untuk memulai pembicaraan. Lucu sekali. Anak berusia sekitaran 8 sampai 9 tahun ini masih menunduk menyembunyikan wajahnya.

.
“Ada apa?” tanyaku seraya memposisikan diri di hadapan mereka.

.
“Paman …,” masih malu-malu rupanya anak itu menyampaikan keinginannya.

.
“Kenapa? Tadi belum dapat biskuit ya? Atau mau permen?” tawarku bertubi-tubi. Pikirku anak-anak yatim ini menginginkan mainan atau barang-barang semacamnya yang bisa menghibur mereka.

.
“Paman punya mushaf Al Quran, tidak?” tanya satu di antara mereka yang kemudian disusul anggukan kawan lainnya.

.
Aku terdiam. Hatiku terguncang mendengar pertanyaan anak-anak ini. Seketika aku jatuh cinta secinta-cintanya pada mereka. Allah, masih Kau temukan hamba dengan anak-anak sholih sholihah seperti ini?

.
Ketakjubanku tak mampu terbendung. Ku dekatkan posisi, dan kudekap mereka satu persatu.

.
“Untuk apa Al Quran, Nak? Paman saat ini tidak membawa. Tapi besok, in syaaAllah akan Paman bawa Al Quran untuk kalian,” kataku terbata menahan sekatnya kerongkongan.

.
“Kami ingin menghapal Al Quran, Paman,” tulus sekali mereka mengungkapkannya.

.
“Kami ingin mengahapal Al Quran, tapi di kamp pengungsian tak tersedia Al Quran,” sambung mereka.

.
Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Hanya mampu mendekap mereka lebih erat, dan kudapati wajah ini membasah. Allah, aku tak ingin kehilangan mereka.

.
Di perjalanan pulang aku hanya bisa menangis. Bukan, bukan menangisi anak-anak itu. Tapi menangisi diri sendiri.

.
Di tanah tak aman seperti Syam ini masih kutemukan semangat menghapal Al Quran. Seperti masjid di samping markaz ku. Setiap hari anak-anak memenuhi masjid tuk hadiri halaqoh Quran. Menghapal ayat-ayat yang kata mereka, di sanalah kekuatan mereka. Subhanallah.

.
Pernah di waktu halaqoh Quran, jet tempur menjatuhkan bom birmil tepat di samping masjid. Sebagian masjid hancur dan kaca-kaca pecah! Waktu itu syukur tak memakan korban jiwa. Namun pecahan-pecahan kaca melukai anak-anak pejuang Al Quran itu. Mereka menghapal dalam keadaan berdarah-darah.

.
Dan di Sya’ban ini, tepatnya di Dar’aa, lagi-lagi jet tempur jatuhkan serangan jelaja. Tanpa muqoddimah apapun. Tak ada suara, tak ada tanda-tanda. Tiba-tiba, DUARRR! Seketika 23 anak penghapal Al Quran syahid menemui Rabb nya.

.
Allah, aku malu. Aku malu pada diri yang masih bermalas mempelajari Al Quran, berlalai menghapal dan mengamalkan ayat-ayat-Mu.

.
Sungguh kusadari tanah ini bukanlah tanah terjajah, tapi ini tanah yang mulia. Bukan pula tanah kering karena reruntuhan puing, tapi tanah ini sejuk dengan iman-iman pejuangnya. Ya, tanah ini bukan tanah yang hancur dan penuh jeritan, tapi tanah ini tanah saksi sebuah keteguhan dan kesabaran, tanah bergemanya takbir meski tumpahan air mata dan darah menjadi tebusannya. 

Note: kisah ini terinspirasi dari video Darul Arqom Studio (Uncle, do You Have Al Quran?)

Advertisements