Bukan Hanya Perihal Rindu

Berjumpa karib lama adalah satu kebahagiaan tersendiri. Meski melewati berkali-kali purnama tak bersua, rasa aman itu selalu ada. Rasa asik itu selalu menyapa. 

Segala puji bagi Allah, Semaha pemelihara ikatan persaudaraan ini. 

Adalah pribadi, yang entah mengapa sulit sekali mengekspresikan suara hati. Bagiku, menghadiri acara dan melihat wajah teman satu per satu mungkin ‘cukup’ mengobati segala rindu. Cukup heboh sesaat sembari mengeratkan jabatan.

Tapi ternyata ada yang kurang …

Melihat wajah sekawan yang dulunya tempat menumpah tangis, rasanya belum cukup kalau aku belum menceritakan duka luka ku selama berpisah ini. 

Bertemu dengan sekarib yang biasanya tempat berbagi pikiran-pikiran dan celoteh-celoteh aneh diri, rasanya belum asik kalau aku tak bercakap panjang tentang ceritaku menelusuri mimpi di dua tahun ini. 

Ya, menyapa jajaran guru yang dahulu kerap kujadikan inspirasi, rasanya belum puas kalau aku hanya mencium tangannya saja. Padahal, aku masih butuh nasehat-nasehat teduh mereka. 

Namun apalah daya segala ingin yang tak bernapas pada waktu. Pertemuan yang begitu singkat. Pun entah harus kata dan sikap bagaimana aku mengungkap kekurangan itu semua. 

Yang kupahami hanya pasti ada satu pesan tersirat dari perjumpaan ini. Dan benar, ini bukan hanya soal mengobati atau melepas rindu. Sebab rindu itu hakikatnya tak pernah menyakiti, dan ia selalu ada. Bahkan ada titik di mana rindu menjadi satu kekuatan. 

Aku mengenang bagaimana aku menangis, lalu menyadari atas banyaknya kelemahan diri dan bagaimana Allah selalu kirimkan alasan agar aku tetap tegar dan tersenyum. 


Aku mengenang bagaimana aku tertawa dan menikmati apa-apa yang aku suka, lalu menyadari betapa ini karunia Allah, hingga aku malu dan bertanya pada diriku sendiri, nikmat Allah yang manakah yang didustakan? 


Aku mengenang bagaimana hati bisa mudah menerima nasihat-nasihat baik, lalu mencoba meraba kabarnya kini, ah, ia bernoda. 

Bagaimana bisa ia tumbuh subur merekahkan kenyamanan jika menyiraminya dengan hal-hal baik saja aku menunda. Bagaimana bisa ia kokoh megakar tanamkan kepribadian ihsan bila memupuknya dengan suara-suara Rabbani saja aku abai? 

Di lain sisi, berpisah, atau selesai dari ikatan pendidikan berbasis Boarding School ada ajar tersendiri yang perlu kupahami baik. Satu di antaranya adalah tentang sebuah kejujuran. 

Ya, jujur terhadap ilmu yang pernah dipelajari. Jujur akan potensi yang pernah digali. Jujur akan cita-cita yang pernah diterbangkan tinggi. Jujur akan kasih dan sayang dalam mencintai sesama. Jujur akan segala upaya, tak lain bertuju pada Allah semata.

Hingga pada akhirnya aku menyadari, masa lalu adalah amanah yang Allah titipkan, agar bisa kuambil hikmah serta ajarnya. 

Dan yang perlu dipahami adalah, ‘menyadari’ saja tidak cukup untuk memasuki sebutan Ulil Albab. Semua butuh langkah dan perjuangan yang tak mudah.

Selamat bangkit wahai diri! 🙂 

Benar adanya, ini bukan hanya karena rindu. Ini tentang penyatuan langkah dan perekatan ukhuwah.
|| Surakarta, 13 Juli 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: