Al Qur’an dan Napas Nusantara 

Indonesia bukan bangsa yang seketika merdeka. Ada pergolakan melawan dominasi dan kesewenangan kolonial Belanda, yang jika sejarahnya kembali diteropong, banyak perlawanan yang dimotori para tokoh negara, ulama dan santri, serta kaum pembelajar. Hal yang demikian menjadi sebab mereka mempunyai ruh juang yang tinggi;  memerdekakan Indonesia dari kuasa kafir. Yang demikian itu disebut dalam agama islam sebagai bentuk jihad. Melepasbebaskan Tanah Air dari kebengisan penjajah nan zalim adalah darah dan nyawa taruhannya.

.

Sebutlah Pangeran Diponegoro. Ia syahid saat meninggalkan Al-quran yang  ditulis ulang oleh tangan pengikutnya dengan pena berlidi aren. Yang kelak adanya (Al-quran) pelan-pelan mengajarkan ilmu Allah di masyarakat sekitar. Dikisahkan pula julukan ‘Ibu Suci’ bagi Cut Nyak Dien kala Belanda mengasingkannya ke tanah Sumedang. Ya, warga Sumedang kala itu memanggilnya ‘Ibu Suci’ karena Ibunda Perjuangan ini konon tamat menghapal Al Quran. 

.

Pertempuran bulan November 1945 di Surabaya yang dipimpin oleh KH. Hasyim Asy’ari yang disebut revolusi jihad, mengerahkan seluruh pesantren dan para santri yang ada waktu itu untuk bertindak. Terkisah pada waktu itu, kalangan santri merupakan bagian terbesar dalam barisan pemuda revolusioner. Apa pedoman para santri hingga gigih menjunjung perjuangan bela Indonesia? Al-quran.

.

Maka, jika hari ini ada yang berkata masyarakat Indonesia dibohongi dengan ayat Al-quran, hukum saja! Alquran sejatinya sudah digunakan sebagai pedoman hidup dari dulu.

.

Sejarah kembali mencatat prestasi-prestasi ulama Nusantara. Kita kenal Tafsir Annur karangan Prof. Dr. Tengku Muhammad Hasbi asal Aceh, Mahmud Yunus dari Minangkabau, Tafsir Al Azhar karya  Buya Hamka; pemikir muslim progresif dari tanah Sumatra. Bertumpuk karya yang lagi-lagi mengajarkan bangsanya untuk mempelajari dan mengambil keutamaan serta memuliakan Al-quran.

.


Maka, jika hari ini ada yang berpikir Al-quran bisa membohongi masyarakat Indonesia, hukum saja! Al-quran sejatinya sudah digunakan sebagai pedoman hidup dari dulu.

.

Pernah tingkat buta baca Al-quran warga Indonesia mencapai 56%. Namun hal demikian tidak dibiarkan lama begitu saja. Selalu ada, dan selalu hadir ide-ide serta terobosan untuk menanggulangi hal itu. Maka, di tahun 1988, istilah Taman Kanak-kanak Al-quran (TKA) dan Taman Pendidikan Al-quran (TPA) rasanya sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat. Metode Iqro KH. As’ad Humam begitu membantu para pelajar membaca Al-quran.

.


Lalu, jika hari ini kamu diam ketika Al-quran dianggap membohongi masyarakat, tanyakan pada hatimu, apakah kehadirannya belum memenuhi di relung hati mereka.

Kita mengenal KH. Ahmad Dahlan sebagai Menteri Agama RI periode 1967-1971. Tindakan apa yang beliau hadiahkan agar anak-anak dan remaja Indonesia semakin mencintai Al-quran? Jika Agustus kemarin baru saja diadakan MTQ Nasional XXVI di NTB, maka beliaulah pemrakasa perdana penyelenggaraan MTQN tersebut. Yang kemudian bersama para ulama lainnya membangun Yayasan Ihya Ulumuddin dan bercabang Pendidikan Tinggi Ilmu Al-quran (PTIQ).

.

Lalu jika hari ini Al-quran dipandang nista, siapa yang berani menutup mata dari sejarah Al-quran di Indonesia? Mungkin ia belum benar-benar mencintai Indonesia.

.

Hafidz Indonesia, adalah program acara televisi terbaik yang belum lama ini sukses meningkatkan antusias para orang tua ‘tuk fokus mendidik anak menghafal Al-quran sejak usia dini. One Day One Juz (ODOJ), adalah komunitas dengan massa puluhan ribuannya yang tengah merancang agenda Akbar Olimpiade Pecinta Quran. Menghadirkan jiwa-jiwa semangat semarakkan Al-quran di Tanah Air. Aceh hingga Papua, semua turut berkontribusi.

.

Maka, jika hari ini muslim Nusantara kembali bergolak hatinya atas penghinaan Al-quran, mengerahkan upaya tindakan ataupun perkataan ‘tuk melawan kesemenaan, itulah bukti hidupnya iman dan ghiroh di hati.


Maka, jika hari ini Al-quran ternodai dengan ucapan atau kelakuan para kafir, sungguh dengannyalah Nusantara bernapas. Sesungguhnya ia tetap mulia. Sesungguhnya ia selalu terjaga.

“Sesungguhnya  Kami-lah yang  menurunkan  Al-quran,  dan sesungguhnya Kami benar-benar  memeliharanya.” (Al Hijr: 9)

.

Tulisan ini juga dimuat di  <a href=”https://www.islampos.com/al-quran-dan-napas-nusantara-313223/&#8221; target=”_blank”>https://www.islampos.com/al-quran-dan-napas-nusantara-313223/</a&gt; dengan judul yang berbeda

.

Salam Santun 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: